Metaverse World

Metaverse World
Biro Finansial


__ADS_3

Antarmuka teritori di tingkat dusun memiliki beberapa perubahan yang sangat menarik dibandingkan dengan tingkatan teritori sebelumnya.


Perubahan terbesar adalah membagi bangunan dasar, yang sebelumnya ditempatkan dalam satu kolom, menjadi lima kategori, yaitu bangunan dasar, arsitektur agrikultur, arsitektur bisnis, arsitektur budaya, dan arsitektur militer.


Maka berdasarkan penilain di atas, wilayah perlu untuk secara jelas memisahkan berbagai industri seperti agrikultur, bisnis, industri, budaya dan militer untuk rancangan yang lebih teratur. Tujuannya, bahwa penguasa wilayah perlu mengembangkan peraturan manajemen industri yang lebih mendetail dan menyempurnakan sistem administrasi wilayah.


Pada langkah ini, Heru Cokro mulai menerapkan fase selanjutnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa struktur administrasi Jawa Dwipa saat ini cukup untuk menangani seluruh tahap desa.


Tidak semua teritori, aneh seperti Jawa Dwipa. Pada tahap pemukiman, telah mengembangkan industri yang relatif lengkap, seperti industri garam, perikanan, peternakan, bisnis dan lain sebagainya. Sebagian besar penguasa yang bisa mendapatkan bangunan dasar yang dibutuhkan untuk promosi teritori, kebanyakan telah mengeringkan keringat dan dompetnya. Di mana mereka menghabiskan banyak sumber daya finansial dan material tambahan.


Inilah alasan, kenapa Heru Cokro menyiapkan dari awal atas pengembangan indeks ekonomi, indeks politik, indeks budaya dan indeks militer di Jawa Dwipa. Karena empat indeks tersebut akan menjadi persyaratan yang harus dipenuhi untuk mempromosikan teritori, mulai dari tingkat dusun.


Perubahan lainnya terdapat pada kolom sumber daya teritori yang menghilangkan statistik unit sumber daya tertentu dan menggantinya dengan berbagai jenis pengumpulan sumber daya.


Ini merupakan tanda penting untuk penguasa agar memutakhirkan wilayah dari pemukiman ke tingkat dusun. Ini juga mengingatkan mereka, bahwa mereka harus memperhatikan berapa banyak jumlah kayu yang dimiliki teritori, berapa banyak jumlah batu, berapa banyak jumlah bijih besi dan informasi lainnya. Jika tidak, maka kalian bukanlah orang yang memenuhi syarat untuk menjadi penguasa.


Penguasa tentu harus memiliki pandangan yang lebih luas atas situasi keseluruhan. Selain itu, kalian perlu memperhatikan penyimpanan dan pengelolaan sumber daya, serta membuat perencanaan jangka panjang.


Ambil Jawa Dwipa sebagai contoh. Lingkungan disini terdapat pegunungan, hutan, sungai, laut dan tanah yang subur. Jadi tidak perlu khawatir tentang kekurangan sumber daya dalam waktu singkat. Karena didalamnya kaya akan sumber daya, seperti kayu, batu, bijih besi, ikan dan sebagainya.

__ADS_1


Selain memperhatikan perubahan ini, Heru Cokro berfokus pada bangunan dasar baru. Meskipun tingkat dusun memiliki persyaratan untuk membuat delapan bangunan baru, dia telah membuat bangunan-bangunan tersebut di tingkat RW. Sekarang, tinggal dua bangunan pemakaman dan kebun agar dapat memenuhi kondisi untuk mempromosikan teritori.


Setelah melihat properti teritori, Heru Cokro akhir punya waktu untuk melihat perubahan kediaman penguasa.


Kediaman penguasa berubah menjadi rumah depan dan belakang. Rumah depan adalah tempat di mana pejabat administratif bekerja, sedangkan rumah belakang adalah tempat penguasa dan anggota keluarganya untuk tinggal.


Perabotan seluruh rumah telah ditingkatkan ke tingkat yang lebih baik, terlihat seperti rumah milik orang kaya. Selain itu, kediaman penguasa yang baru tidak lagi menggunakan kayu, melainkan menggunakan bata.


Tata letak rumah depan pada dasarnya setara dengan kediaman penguasa ketika teritori berada pada tingkat RW, yaitu terdapat aula utama dan dua kantor besar di setiap sisi aula utama. Bagian barat, merupakan kantor pegawai sipil Divisi Finansial. Sedangkan pada bagian timur adalah kantor Biro Administrasi dan Biro Cadangan Material.


Pada kedua sisi rumah depan, selain ruangan untuk tempat makan, ada lima ruang hunian untuk setiap kepala divisi beristirahat. Pintu masuk menjadi lebih mewah, di kedua sisinya terdapat ruang utilitas, dapur, dan tempat tinggal pekerja sampingan.


Setelah melihat-lihat, Heru Cokro kembali ke aula diskusi. Ternyata pejabat inti setiap divisi telah tiba dan siap untuk mendiskusikan ekspansi perdana Jawa Dwipa.


Heru Cokro tersenyum dan menyapa semua orang. Setelah duduk, dia berkata, “Tema diskusi hari ini, telah saya sebutkan kemarin. Bahwa setelah teritori telah sampai di tingkat dusun, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Saya percaya bahwa semua orang yang ada di sini, memiliki beberapa ide dan rencana. Kali ini saya hanya akan menjadi pendengar. Silahkan Divisi Finansial melaporkan terlebih dahulu!”


Siti Fatimah menyortir idenya dan berkata tanpa ragu-ragu: “Saat ini, penghasilan finansial teritori terutama didapatkan dari penjualan real estat, dan perpajakan. Pendapatan atas penjualan real estat telah digunakan untuk pinjaman berbunga rendah dan kupon. Ini merupakan proses mengumpulkan bunga dengan aliran yang panjang. Maka dapat disimpulkan, bahwa tidak ada pemasukan yang jelas.”


“Sebagai industri keemasan dari wilayah, Gudang Garam dan peternakan ikan hanya menghasilkan sekali kemarin dan tidak menghasilkan dalam waktu singkat. Terkahir adalah perpajakan. Hal ini baru saja dimulai, bersamaan dengan diresmikannya privatisasi. Maka pendapatan dari pajak, tidaklah cukup. Karena pengeluaran teritori sangatlah besar, yang diantaranya terdiri atas pengeluaran gaji, pengeluaran konstruksi, pengeluaran dukungan industri serta pengeluaran militer. Pengeluaran gaji termasuk gaji pejabat pemerintah dan gaji pekerja sipil pemerintah. Ini adalah pengeluaran tetap.”

__ADS_1


“Biaya konstruksi, membutuhkan dana yang besar, baik dari pengeluaran gaji tenaga kerja dan biaya material. Selain itu, masih ada pengeluaran untuk dukungan industri yang terdiri dari bengkel senjata, kilang anggur atau tempat pembuatan bir dan peternakan, masih berada dalam tahap penetasan. Terkahir adalah pengeluaran militer yang juga menelan biaya yang besar. Jadi saat ini, kami dari Divisi Finansial tidak melihat adanya keuntungan. Maka dari itu, teritori perlu terus untuk berinvestasi.”


“Hal ini dapat dengan mudah kalian simpulkan sendiri, bahwa situasi keuangan teritori tidakla optimis dan jelas tidak dapat memenuhi pengeluaran. Alasan mengapa hal itu dapat didukung sampai sekarang adalah karena bergantung pada hadiah sistem dan jarahan atas pemusnahan batalion raider.”


“Maka, tujuan kerja Divisi Finansial selanjutnya adalah untuk membalikkan tren ini dan memastikan bahwa keuangan teritori dapat beroperasi secara normal, serta menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.”


“Untuk menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran, tidak mungkin memotong biaya pengeluaran. Maka, satu-satunya solusi adalah dengan meningkatkan pendapatan fiskal. Untuk mencapai tujuan ini, Divisi Finansial berencana untuk memperluas skala Gudang Garam, penakaran ikan dan merangsang bisnis teritori.”


“Gudang Garam dan penakaran ikan yang merupakan pilar keuangan teritori, jika skalanya diperluas, tentu dapat dengan cepat meningkatkan pendapatan fiskal secara langsung. Namun, hal ini masih terdapat kekurangan dan kelebihan. Karena pendapatan fiskal tunggal tidak kondusif untuk kesehatan finansial teritori.”


“Maka, tujuan lain dari Divisi Finansial adalah untuk mendorong bisnis teritori. Berdasarkan ini, Divisi Finansial mengusulkan akan menyediakan dana untuk mendorong lebih banyak orang dengan talenta agar membuka toko atau bengkel. Selain itu, bengkel pandai besi, toko penjahit atau bengkel kayu, tidak dapat lagi memenuhi permintaan teritori saat ini.”


Setelah mendengarkan dengan seksama laporan Divisi Finansial, Heru Cokro mengangguk puas, tersenyum dan berkata: “Sangat bagus, sepertinya ide kerja Divisi Finansial masih sangat jelas. Untuk laporan sebelumnya, saya menyetujuinya. Namun, jika anda ingin merangsang ekonomi, perlu untuk merubah sistemnya terlebih dahulu.”


“Untuk itu, saya memutuskan untuk meningkatkan Divisi Finansial menjadi Biro Finansial yang mengelola Divisi Perpajakan dan Divisi Bisnis. Direktur Divisi Finansial sebelumnya, yaitu Siti Fatimah dipromosikan sebagai Eksekutif Biro Finansial, bersamaan dengan menjabat sebagai Direktur Divisi Bisnis. Sedangkan Asisten Direktur Divisi Finansial, Havy Wardana dipromosikan menjadi Direktur Divisi Perpajakan. Kebijakan spesifik tentang merangsang ekonomi, akan dibentuk dan di eksekusi oleh Divisi Bisnis.”


Ini merupakan langkah yang sangat bermanfaat untuk Biro Finansial dalam mengerjakan fungsinya. Selain itu juga memiliki tingkat administrasi yang sama dengan Biro Administrasi dan Biro Cadangan Material.


Havy Wardana, magang dari Siti Fatimah telah naik dua level hanya dalam rentang waktu beberapa hari. Dari pegawai biasa, menjadi asisten direktur, dan sekarang menjadi Direktur Divisi Perpajakan. Ini dapat disimpulkan bahwa Jawa Dwipa kekurangan orang dengan talenta.

__ADS_1


Tentu saja, ini juga terkait dengan ambisi Heru Cokro. Harus diketahui bahwa struktur administrasi seperti itu cukup untuk mendukung teritori hingga tingkat desa lanjutan.


__ADS_2