
Heru Cokro menepuk dahi, Divisi Cadangan Material ini membuatnya sakit kepala. Sejak Siti Fatimah pergi, Divisi Cadangan Material telah melakukan kesalahan satu demi satu. Tampaknya benar-benar perlu untuk memperbaiki departemen ini dengan benar. Sayangnya, Tuan Ainun Najib menolak usulannya. Untuk sementara, dia benar-benar tidak dapat menemukan orang yang cocok untuk mengambil alih Divisi Cadangan Material.
Di hadapan De Chandra, Heru Cokro tidak pantas untuk langsung mengkritik pekerjaan Divisi Cadangan Material. Sebaliknya, ia bertanya: “Apakah Master Chandra pernah mendengar tentang tuak?”
“Ya?” Jawab De Chandra.
“Ya. Apakah Master Chandra berpikir itu bisa diseduh dengan kondisi Jawa Dwipa saat ini?”
Tentang Tuak, De Chandra jelas sangat mengerti, dengan yakin mengatakan: “Tuak adalah sejenis minuman beralkohol yang dihasilkan dari fermentasi nira, beras, atau bahan minuman/buah yang mengandung gula. Bahan baku yang biasa dipakai adalah beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti legen dari pohon siwalan, atau bahan lain yang mengandul kadar gula.”
“Tuak bisa dikategorikan dalam dua jenis, yaitu tuak beras dan tuak nira.”
“Tuak beras, biasanya diolah dari beras ketan. Proses fermentasi akan memakan waktu setidaknya dua minggu sebelum dapat diminum. Selain itu, beras tersebut juga bisa menjadi makanan yang disebut tape. Sedangkan tuak nira biasanya dihasilkan dari air nira atau legen. Proses fermentasinya memakan waktu beberapa hari.”
“Berdasarkan pada kondisi Jawa Dwipa saat ini. Kita bisa membuat tuak beras. Sedangkan pembuatan tuak nira, teritori belum ada bahan terkait.”
“Bagus, bagus, bagus!” Heru Cokro berkata dengan senyum lebar: “Karena anda memiliki keyakinan, tentu teritori secara alami akan memberikan dukungan. Saya akan pergi ke pasar untuk membeli “panduan tehnik pembuatan tuak“. Perihal makanan tidak perlu khawatir, saya secara pribadi akan memberitahu Divisi Cadangan Material untuk bekerja sama sepenuhnya. Selain itu semoga ada kabar dari Jendral Giri dan Komandan Wirama, saya sudah mengistruksikan mereka untuk mencari pohon siwalan.”
__ADS_1
De Chandra mendengar berita gembira ini, berkata dengan semangat: “Terimaksih banyak, Yang Mulia!”
Heru Cokro mengangguk dan berjalan ke pasar. Membutuhkan 20 koin emas untuk membeli panduan tehnik pembuatan tuak. Kembali ke kilang anggur untuk memberikan panduan tehnik pembuatan tersebut kepada De Chandra. Heru Cokro tidak mengatakan apa-apa lagi, langsung pergi dan kembali ke kediaman penguasa untuk makan.
Laxmi, gadis kecil ini berulah lagi, mengetuk meja, tertawa dan berkata: “Dang ~ dang ~ dang, semua orang diam, saya ingin mengumumkan kabar baik!”
Siti Fatimah yang sangat menyukai gadis kecil ini, dengan sangat kooperatif bertanya: “Laxmi punya kabar baik tentang untuk diumumkan! Tentu, saya mendengarkan.”
“Hei, ini berita yang sangat bagus! Dalam pertempuran melawan invasi kawanan binatang liar terakhir. Serigala liar, sapi liar, dan kerbau liar telah menjatuhkan banyak kulit sempurna. Aku sudah menjahitnya, membuatnya menjadi zirah kulit. Tanpa diduga, ketika zirah kulit terakhir selesai pagi ini, Laxmi dipromosikan menjadi master penjahit, hehe~he! “Laxmi sangat bersemangat dan bangga dengan prestasinya.
Heru Cokro kaget, menatap Laxmi dengan tatapan tertegun, terheran-heran. Kali ini, dia benar-benar terkejut. Dia yakin Laxmi akan dipromosikan ke master penjahit suatu hari nanti, namun dia tidak pernah berpikir bahwa hari itu akan datang begitu cepat.
Laxmi segera merespon penuh drama, merangkul lengan Siti Fatimah dengan manja, berkata: “Kak Fatimah, bagaimana anda bisa mengatakan ini! Monster kecil apanya, sangat tidak nyaman didengarkan!” Suara itu, seperti anak kecil yang dipuji oleh orang tuanya.
Heru Cokro mencoba tenang, berkata: “Ya, Laxmi kali ini benar-benar memberi kami kejutan besar. Hei, master penjahit yang berusia 18 tahun! Mengatakan hal seperti itu pasti akan menakut-nakuti banyak orang. Untuk mengapreasiasi prestasi Laxmi, kakak berjanji akan memuaskan satu keinginan yang Laxmi minta. Katakan, apa yang Laxmi inginkan, selama itu bisa kakak wujudkan, kakak pasti akan memberikannya kepada Laxmi.”
Laxmi tidak mengatakan apa-apa, namun Siti Fatimah mengatakan dengan canggung: “Hei, kakak telah menjanjikan sesuatu yang merupakan hal langka sekali, Laxmi anda harus meminta sesuatu yang paling anda butuhkan, sedot darah kakak hingga tetes terakhir.”
__ADS_1
Laxmi menunduk, malu-malu, memandang Heru Cokro dengan waja polos, seperti kucing yang manis, berkata: “Kakak, saya telah mendengar bahwa ada peralatan penjahit pangkat emas hitam yang legendaris di pasar. Selain itu, dikatakan dapat meningkatkan skill!”
Mata Heru Cokro membesar, gadis kecil ini benar-benar berani merampok di siang hari. Meskipun dia tidak tahu harga item tersebut, tapi peralatan kelas emas hitan itu bukan hemat bahan bakar. Selain itu juga merupakan peralatan yang sangat langka.
Melihat Laxmi, Heru Cokro tersenyum dan berkata: “Ya, kakak akan membelikan peralatan penjahit kelas emas hitam. Tapi, jika uang yang dimiliki saat ini belum mencukupi, maka tunggulah seminggu.”
Laxmi awalnya tidak memilik banyak harapan, itu hanyalah godaan. Dia tidak berharap bisa membuat mimpinya menjadi kenyataan. Laxmi segera bersorak, bangkit dan berlari ke Heru Cokro, memberinya pelukan dan berkata sambil tersenyum: “Terima kasih kakak!”
Heru Cokro mengklik kepala kecilnya dan memintanya untuk menjaga citra wanita, selain itu juga tidak boleh sombong.
Tak lama, setelah istirahat di siang hari, Heru Cokro langsung menuju ke pasar dasar. Dia ingin memeriksa berapa banyak uang yang akan dia belanjakan untuk membeli peralatan penjahit kelas emas hitam.
Dalam kabin kayu, klik kolom platform perdagangan barang spesial dan pilih peralatan penjahit. Perlatan dari pangkat besi hingga pangkat perak, banyak jumlahnya. Sedangkan pangkat emas memiliki jumlah kurang dari sepuluh. Pangkat emas hitam yang diperlukan oleh Laxmi hanya memiliki satu set dan masih terpampang jelas pada hasil pencarian, mungkin tidak ada yang peduli ataupun tidak ada yang mampu membeli.
Heru Cokro takut melihat harganya. Peralatan ini di jual dengan harga 120 koin emas, dia sendiri tidak pernah membeli barang semahal itu. Sekarang dia tidak mampu membelinya dan hanya bisa menunggu seminggu kemudian. Semoga hasil panen Gudang Garam dan peternakan ikan sesuai dengan yang telah diestimasikan oleh Heru Cokro.
Setelah meninggalkan pasar, Heru Cokro melanjutkan keliling pagi yang sebelumnya telah tertunda. Dalam perhentian selanjutnya, dia akan mengunjungi bengkel senjata, menyapa Empu Supo Madrangi yang merupakan seorang pandai besi lanjutan.
__ADS_1
Berbeda dengan bengkel pandai besi menengah yang di kelola oleh Juyono. Bengkel senjata secara khusus digunakan oleh militer, tidak terbuka untuk umum. Maka, ia tidak berada dalam lingkup privatisasi yang akan diberlakukan teritori.
Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Setelah privatisasi, bengkel pandai besi bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugiannya sendiri. Saat pesanan yang mencukupi, dapat memiliki laba yang sangat besar. Maka pendapatan secara alami tidak sebanding dengan imbalan tetap yang ada di bengkel senjata. Sedangkan keuntungan bengkel senjata, biaya di tanggung oleh teritori dan bijih besi juga dipasok oleh teritori dalam jumlah yang tidak terbatas.