
Di antara banyak orang yang hadir, Laxmi adalah yang paling bahagia. Tentu Heru Cokro tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah kali ini, berkata dengan keras: “Selain itu, saya akan mengumumkan kabar baik! Sekarang, kita memiliki seorang talenta tingkat master di teritori. Siapa dia?”
“Dia adalah Laxmi dari toko penjahit. Untuk memberikan apresiasi atas prestasinya, saya memutuskan untuk memberinya kupon secara pribadi. Selain itu, ada tambahan hadiah lain berupa 1 koin emas.” Heru Cokro mengambil koin emas dari tas penyimpanan dan berkata sambil tersenyum.
“Wow O ~ wow ~ ~” suara seruan kerumunan.
Ketika Biro Administrasi mengeluarkan semua jenis harga dari real estat, material, dan upah. Tentu mereka akan sangat gembira, penuh harap dan kekaguman. Karena mereka sangat mengetahui seberapa kuat daya beli dari 1 koin emas.
Wajah Laxmi merah merona mendengar seruan ramai kerumunan. Dia awalnya berpikir bahwa Heru Cokro sedang mencoba menggodanya. Ketika dia memikirkannya kembali, tentu tidak akan mungkin pada momen seperti ini Heru Cokro akan berani membuat lelucon. Kemudian Laxmi berjalan ke arah Heru Cokro.
Heru Cokro menyerahkan kupon dan koin emas kepada Laxmi, menepuk kepala kecilnya dan berkata dengan senyuman: “Semuanya tidak perlu iri hati. Aku berjanji, bahwa semua warga Jawa Dwipa yang telah dipromosikan atau membuat terobosan akan diberikan hadiah. Magang yang dipromosikan menjadi tingkat dasar akan mendapat hadiah 1 koin perak, bakat yang menerobos ke tingkat menengah akan mendapatkan hadiah 10 koin perak, sedangkan yang menerobos ke tingkat lanjutan akan mendapatkan hadiah 50 koin perak, terakhir, ketika sampai pada tingkat master akan diberikan hadiah sebesar 1 koin emas. Lainnya, jika ada yang sudah memenuhi kriteria tersebut, bisa pergi ke Divisi Finansial untuk mendapatkan hadiahnya.”
Semua orang yang mendengarnya bersorak ria. Terutama orang dengan talenta spesial yang menerima manfaat dari kebijakan ini secara langsung.
Ini adalah tujuan utama Heru Cokro, mengambil keuntungan dari waktu privatisasi, membuat semua orang menyadari nilai uang. Pengumuman penghargaan atas promosi yang begitu murah hati ini, akan semakin merangsang antusiasme orang dengan talenta spesial. Selain itu, mencerminkan betapa pentingnya orang dengan talenta tersebut untuk teritori.
Hanya Siti Fatimah yang berdiri di samping, menepuk dahi. Kakak benar-benar mengeringkan dompet teritori. Dia juga dengan santai menambahkan beberapa tugas kepada Divisi Finansial. Meskipun mengeluh, Siti Fatimah masih mencatat dengan serius atas kebijakan yang diumumkan Heru Cokro.
Setelah upacara pembukaan selesai, semua orang bubar dengan harap-harap cemas.
Laxmi tidak ikut pergi. Dia menarik Heru Cokro dan bergegas memasuki Bank Nusantara. Sesampainya di konter, Laxmi menyerahkan kupon yang baru saja didapatkan, berkata dengan bangga: “Saya ingin menukarnya menjadi uang tunai.”
Staf konter tersebut adalah seorang pria muda. Dia berpikir ini sangat aneh, karena padaringan baru saja dibuka dan tiba-tiba sudah ada seseorang yang akan melakukan transaksi penukaran uang. Stok koin padaringan yang dimasukkan Heru Cokro sebelumnya masih segar terbaring di lemari besi, sehingga belum ada uang receh di konter, bagaimana dia akan melakukan penukaran? Pemuda itu bingun bagaimana harus memberikan respon kepada Laxmi, wajahnya mulai kemerahan, dia merasa sangat malu.
__ADS_1
Sedangkan Heru Cokro yang berada di sebelah, dengan sengaja tidak mencegah tindakan Laxmi ini. Dia ingin melihat bagaimana staf padaringan atau Bank Nusantara ini memberikan pelayanan.
Siti Fatimah yang melihat Heru Cokro hanya diam, segera dapat memahami niatnya. Terlepas dari hal-hal lain, anggota staf itu masih harus bekerja secara profesional, maka dia langsung menuju brankas perak yang berada di halaman belakang untuk mengambil uang tunai.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Laxmi telah mendapatkan 20 koin perak. Dia tersenyum dan memasukkannya ke dalam dompet kecil yang lucu. Jika ditambahkan dengan koin emas yang dihadiahkan Heru Cokro secara pribadi sebelumnya, dia cukup layak di sebut gadis kecil yang kaya.
Heru Cokro yang berdiri di samping, mengangguk puas melihat efisiensi padaringan yang sangat tinggi.
Kembali ke kediaman penguasa, Laxmi dengan senang hati menyerahkan kupon makanan dan kupon daging yang sebelumnya diperoleh kepada Renata. Karena setelah privatisasi, semua orang yang tinggal di kediaman penguasa, tentu saja harus membayar makanan. Namun ini tidak berlaku untu Heru Cokro.
Bahkan Renata yang merupakan seorang koki kediaman penguasa, mulai besok dan seterusnya, harus pergi ke luar toko makanan atau toko daging untuk membeli makanan, tidak lagi diekstraksi dari gudang seperti sebelumnya. Dengan ini, Heru Cokro berharap dapat memberikan contoh kepada semua pejabat Jawa Dwipa.
Sekarang divisi-divisi tersebut terkonsentrasi di kantor kediaman penguasa. Setelah perluasan teritori, divisi-divisi tersebut secara alami akan bekerja secara mandiri. Kecuali untuk Wiji, semua biaya seperti makanannya dan makanan hewan peliharaannya akan di tanggung oleh Siti Fatimah. Selain itu, dia juga memiliki gaji yang sangat kaya.
Bagaimanapun, ini masih merupakan masyarakat kuno, dia harus mengalir mengikuti aturan dasar permainan. Selain itu, Heru Cokro tidak terlalu bodoh untuk memainkan sistem demokrasi masyarakat modern, kecuali otaknya telah jatuh ke dengkul.
Renata telah menerima instruksi dari Heru Cokro sebelumnya, dia tidak peduli, hanya mengambil kupon dari Laxmi dan berkata dengan menggoda: “Gadis kecil saya yang manis, dimana sisanya!”
Laxmi dan Renata memiliki hubungan yang sangat dekat, layaknya hubungan adik dan kakak. Ini juga berlaku untuk Siti Fatimah. Laxmi memegang lengan Renata, mengayun-ayukannya dan berkata dengan manja: “kak Renata tidak perlu mengolok-olok saya, Laxmi tidak pelit.”
Heru Cokro yang menatap tingkah manja Laxmi, menggelengkan kepalanya. Berkata dengan canda: “Laxmi, kamu baru saja mendapatkan banyak uang, apakah kamu tidak akan membeli toko penjahit? Jangan berharap kakak akan iba, jika uang yang kamu memiliki ini habis!”
“Ya, aku lupa, cepat, cepat cepat!” Jawab Laxmi, buru-buru bergegas ke kantor administrasi yang berada di sebelah, untuk menemui Buminegoro yang merupakan direktur Divisi Konstruksi.
__ADS_1
Heru Cokro yang memandang tingkah lucu gadis ini, bagaimana mungkin dia tidak melahirkan perasaan kasih dan sayang. Dia menggelengkan kepalanya tak berdaya dan berjalan ke kantor administrasi, menyusul Laxmi bersama dengan Siti Fatimah.
Di kantor Divisi Konstruksi, Buminegoro memperkenalkan harga toko kepada Laxmi. “Sesuai dengan harga yang telah ditentukan Divisi Konstruksi, harga toko penjahit adalah 56 koin perak. Itu dapat dibayar sekaligus, atau dapat melakukan pinjaman dari Bank Nusantara.”
“Ooooh ~ mahal sekali!” Gumam Laxmi.
Dia dengan enggan mengeluarkan koin emas yang diperoleh sebelumnya dari dompet kecil lucunya, dengan sopan menyerahkannya kepada Buminegoro, berkata dengan sombong: “Tentu, saya akan membayar sekaligus, tunai tanpa kredit!”
Buminegoro menatap koin emas, menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Dia tidak dapat melakukan hal yang sama seperti Heru Cokro yang dapat langsung merubah koin emas menjadi koin perak atau koin tembaga. Maka dengan hormat, Buminegoro meminta bantuan kepada Heru Cokro.
Heru Cokro mengambil koin emas, memasukkannya ke dalam tas penyimpanan dan ketika dikeluarkan lagi, itu telah menjadi 100 koin perak.
Buminegoro mengambil 56 koin perak, sedangkan sisanya dikembalikan kepada Laxmi. Kemudian mengambil akta kosong dari meja yang telah memiliki segel penguasa di atasnya. Dia dengan hati-hati mengisi informasi properti dan informasi pemilik properti. Sekarang Buminegoro sudah bisa menulis dengan baik, berkat pelatihan kelas aksara sebelumnya.
Laxmi tersenyum dan mempamerkan akta properti tersebut kepada Heru Cokro. Tanpa sadar, dia mengetuk kepalanya yang kecil tanpa emosi dan berkata: “Tidak perlu pamer, jangan sampai kehilangan akta tersebut. Itu merupakan surat yang sangat berharga.”
Menyadari bahwa Heru Cokro tidak bisa di goda, Laxmi tersenyum dan berlari ke arah Siti Fatimah untuk pamer prestasinya.
Heru Cokro melihat Buminegoro, berkata: “Bagus, sepertinya Divisi Konstruksi telah membuat banyak persiapan atas konektivitasnya dengan Bank Nusantara. Dalam hal ini, penduduk Jawa Dwipa dapat membuat pembelian dan pinjaman di saat yang bersamaan. Selain itu, layanan ini dapat memudahkan pembeli dan divisi terkait dalam prosesnya.”
“Ini bukan pemikiran yang hebat. Yang Mulia tidak perlu memuji! Selain itu, ini memang merupakan tugas yang harus saya kerjakan sebagai Direktur Divisi Konstruksi.” Jawab Buminegoro dengan rendah hati.
Heru Cokro mengangguk dan keluar dari kantor Divisi Konstruksi.
__ADS_1