
Heru Cokro tahu bahwa dari tingkat dusun, itu merupakan lompatan besar untuk teritori. Karena selain tiga kondisi konstruksi dasar sebelumnya, ada kondisi lain yang harus dipenuhi, yaitu, indeks politik, indeks ekonomi, indeks budaya dan indeks militer. Keempat indikator tersebut minimal harus mencapai 30 poin. Jika tidak, teritori tidak akan bisa dipromosikan.
Setelah memeriksa atribut teritori, Heru Cokro memerintahkan Notonegoro untuk memangggil semua pejabat inti Jawa Dwipa agar segera datang ke aula diskusi. Dalam pertemuan kali ini, dia akan membahas persiapan untuk melakukan ekspansi. Para peserta yang hadir dalam pertemuan ini, selain pejabat inti dan para deputinya, juga terdapat lima komandan regu kavaleri dan semua warga Jawa Dwipa yang memiliki talenta tingkat lanjutan.
Begitu Notonegoro pergi, Heru Cokro datang ke kantor administrasi. Banyak ide Heru Cokro yang perlu diwujudkan oleh Biro Administrasi. Karena itu, sebelum memulai proses musyawarah, ia akan berkomunikasi dengan Kawis Guwa terlebih dahulu.
Kedua orang tersebutpun melakukan komunikasi dengan baik perihal hal-hal penting seperti reformasi militer dan privatisasi atau kepemilikan pribadi warga. Heru Cokro sangat mengagumi Tuan Kawis Guwa dalam menangani urusan pemerintahan. Banyak detail dari kebijakan yang telah dia buat sebelumnya, ditambahkan dengan sedikit arahan dari Heru Cokro, menghasilkan yang relatif lebih sempurna.
Setelah setengah jam, semua personil yang mengikuti pertemuan kali ini telah duduk di aula diskusi yang baru. Setelah Jawa Dwipa dipromosikan ke tingkat RW, tempat duduk Heru Cokro sekarang dipusatkan.
“Setelah promosi wilayah, lebih banyak tantangan yang menunggu kami. Untuk memastikan keamanan dan ketertiban teritori, misi selanjutnya adalah perluasan teritori. Dalam pertempuran melawan invasi binatang liar kemarin, regu kavaleri memainkan peran penting sebagai kartu as. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memperluas tentara kavaleri menjadi 100 prajurit secara total. Tentara tersebut, kemudian dibagi menjadi dua peleton yang masing-masing peleton terdiri dari 50 prajurit kavaleri. Peleton pertama akan di pimpin langsung oleh Jendral Giri. Sedangkan peleton kavaleri ke dua akan berada di bawah komando Wirama yang sebelumnya menjabat sebagai komandan regu ketiga, hal ini didasarkan pada kinerja baiknya selama pertempuran dengan invasi binatang liar sebelumnya.”
Wirama segera bangkit dan membungkuk, “Terimakasih atas rahmat Yang Mulia, saya tidak akan mengecewakan rahmat dan kepercayaan Yang Mulia terhadap hamba!”
Heru Cokro mengangguk. “Tim kavaleri akan terdiri dari anggota regu kavaleri aktif sebelumnya. Sedangkan sisanya, silahkan melakukan perekrutan lagi. Pekerjaan rekrutmen saya serahkan kepada Jendral Giri dan Komandan Peleton baru kita Wirama. Saran saya untuk penilaian dalam perekrutan peleton kavaleri harus didasarkan pada kinerja individu selama peperangan dengan invasi binatang liar sebelumnya, dan prioritaskan tim cadangan militer sementara.”
__ADS_1
“Berdasarkan kondisi militer yang baru, beberapa komandan regu sebelumnya akan dilakukan reshuffle. Komandan regu ke empat Dudung, ditransfer ke peleton kavaleri kedua menjadi komandan regu pertama. Komandan Ghozi yang sebelumnya menjadi komandan regu kavaleri kedua akan dicopot. Maka komandan regu kavaleri kelima Agus Bhakti, ditransfer ke peleton kavaleri kedua menggantikan Komandan Ghozi.”
Heru Cokro berkata kepada Jendral Giri: “Tujuh komandan regu yang kosong di peleton kavaleri akan langsung ditunjuk oleh Jendral Giri dan dilaporkan kepada saya untuk disetujui. Sedangkan untuk kandidat komandan regu kosong yang berada dibawah kekuasaan peleton kavaleri kedua, Komandan Wirama berhak untuk merekomendasikan.”
Jendral Giri mengangguk dan berkata bahwa dia mengerti apa yang Heru Cokro maksudkan.
“Mengingat misi ekspansi teritori, situasi eksternal akan menjadi lebih rumit. Agar tidak ada mata dibalik kegelapan yang mengawasi kita, saya pikir perlu untuk membentuk pasukan intelijen khusus. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membuat Divisi Intelijen Militer, yang akan dipimpin oleh Komandan Ghozi. “
Ghozi yang masih canggung. Berpikir bahwa Yang Mulia telah mengabaikan kerja kerasnya selama ini. Sekarang setelah Komandan Ghozi mendengar ultimatum baru Heru Cokro, akhirnya bahagia dan menghela nafas lega. “Terimakasih atas rahmat Yang Mulia, Ghozi tidak akan mengecewakan rahmat dan kepercayaan Yang Mulia terhadap hamba!!”
Jendral Giri berdiri dan berkata: “Yang Mulia, saya memiliki sesuatu untuk dikatakan. Perihal perluasan tentara, secara alami saya sangat mendukung. Isu yang ingin saya katakan adalah perihal tingkat kamp tentara dan tindak lanjut perekrutan. Bedasarkan pada perkataan Yang Mulia sebelumnya, jumlah pasukan akan mencapai 120 prajurit. Tingkat kamp tentara saat ini, tidak akan bisa menampung jumlah pasukan tersebut. Selain itu, hanya ada 53 sisa untuk perubahan profesi, yang tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan tentara yang telah disebutkan Yang Mulia sebelumnya.”
Heru Cokro dengan tenang tersenyum, “Jendral sangat masuk akal. Untuk menyelesaikan kedua permasalahan ini secara bersamaan, saya akan mempromosikan kamp tentara ke tingkat menengah.”
Jendral Giri tertawa, “Itu akan bagus, saya tidak lagi memiliki kekhawatiran lain.”
__ADS_1
Ketika tiba membahas permasalahan dalam militer, personil yang ada dalam aula diskusi selain Jendral Giri tidak akan mengungkapkan pendapat mereka.
“Ya, masalah reformasi militer akan saya tutup sampai di sini. Diskusi berikutnya adalah inti dari pertemuan kali ini. Mengingat teritori yang telah dipromosikan ke tingkat RW, saya akan menerapkan privatisasi di teritori Jawa Dwipa. Perihal isu ini, saya akan mempersilahkan Tuan Kawis Guwa untuk memberikan mukaddimah kepada semua orang. “
Perihal privastisasi ini, Heru Cokro telah berkomunikasi dengan Tuan Kawis Guwa sebelumnya. Kali ini ia bermaksud memperkenalkan rancangan privatisasi melalui Tuan Kawis Guwa, sekaligus secara resmi mendorongnya ke meja depan, biarkan dengan alami pejabat inti Jawa Dwipa secara perlahan menerima kepemimpinannya.
Kawis Guwa yang ditunjuk oleh Heru Cokro. Berdiri, membungkuk menyapa Heru Cokro, dan berkata perlahan: “Dengan izin Yang Mulia, saya akan memperkenalkan konten utama pertemuan ini mengenai privatisasi di teritori. Setelah pertempuran dengan invasi binatang liar kemarin, teritori memiliki material dan dana yang cukup melimpah. Sehingga dapat memenuhi kondisi dasar privatisasi.”
“Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi produksi, kita harus mengaktifkan ekonomi teritori, dan yang lebih penting lagi adalah memenuhi kebutuhan dasar warga serta menanggapi harapan penduduk Jawa Dwipa. Yang Mulia telah secara resmi meluncurkan proses privatisasi teritori. Singkatnya, ini adalah untuk mengakhiri konsep murah hati saat ini dan beralih ke distribusi tenaga kerja. Patuhi prinsip, warga yang bekerja akan makmur, dan warga yang menganggur hanya bisa memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya.”
“Secara khusus, teritori tidak akan lagi bertanggung jawab atas pasokan makanan penduduk Jawa Dwipa. Sejalan dengan itu, teritori akan membayar kompensasi yang wajar untuk tenaga kerja atau pendapatan tenaga kerja Warga Jawa Dwipa. Pada saat yang sama, toko-toko, rumah kayu warga, tanah pertanian, kapal nelayan dan produk umum lainnya akan diberikan kepada warga yang telah bekerja sebelumnya dan diizinkan untuk dijual ataupun disewakan. Tentu saja, sumber daya strategis seperti penebangan, penggalian, penambangan, Gudang Garam dan peternakan ikan masih dikontrol langsung oleh teritori.”
“Untuk melindungi kebutuhan dasar penduduk Jawa Dwipa, bantu semua orang dengan lancar dalam menyelesaikan proses transisi ke konsep swasembada. Ini juga merupakan pengembalian tenaga kerja warga Jawa Dwipa selama kurun waktu ini. Yang Mulia juga telah menyiapkan paket kesejahteraan dasar untuk setiap penduduk. Sedangkan manfaat dasar yang diterima adalah 100 unit makanan, 20 unit daging, sepotong kulit binatang, satu set pakaian linen biasa dan 20 koin perak.”
Seluruh proses privatisasi secara resmi akan direalisasikan bersamaan dengan pendirian Padaringan. Padaringan memberikan pinjaman berbunga rendah, terbuka untuk semua penduduk Jawa Dwipa yang telah memenuhi persyaratan. Sedangkan aturan pinjaman khusus perlu menunggu hingga Padaringan telah ditetapkan secara resmi.”
__ADS_1
Ketika Kawis Guwa baru saja selesai bicara. Semua orang berbisik dan berbicara dengan antusias tentang program besar ini.