
Memang benar bahwa Wisnu tidak mungkin mengaplikasikan cerita itu sesuai dengan aslinnya, karena itu tidak adil untuk para pemain dan tidak akan ada pembelajaran didalamnya. Namun, cerita ini terlalu jauh berbeda dengan versi aslinya.
Berbeda dengan reaksi Heru Cokro, para penguasa yang sedang mengantri sangat gembira setelah mendengar pernyataan letnan. Mereka merasa telah memilih kubu yang tepat dan meraih kemenangan mudah.
Heru Cokro menggelengkan kepalanya dengan geli, meninggalkan tempat pendaftaran dan mencari sekutunya.
Dari sekutu, Hesty Purwadinata dan Maria Bhakti keduanya adalah Camat II dan bisa membawa 3000 pasukan. Sisanya, selain Aryasatya Wijaya, adalah Kepala Desa III dan bisa membawa 1000. Oleh karena itu, total kekuatan Aliansi Jawa Dwipa adalah 20.500 orang dan mereka semua adalah pasukan kavaleri.
Dari mereka, kavaleri dari Desa Redho dan Habibi City adalah yang paling elit, komandan mereka adalah Gajayana dan Danang Sutawijaya. Bagaimanapun juga, mereka tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan Jawa Dwipa.
Dari semua jenderal, Jenderal Giri adalah yang paling berpengalaman menunggang kuda dan juga yang tertua. Karena itu, dia diangkat menjadi komandan. Gajayana adalah wakilnya, dan Danang Sutawijaya serta Raden Syarifudin satu tingkat lebih rendah.
Jika menghitung Gayatri Rajapatni, kekuatan utama Aliansi Jawa Dwipa benar-benar mewah.
Untuk memudahkan komando, aliansi telah berdiskusi, sehingga Heru Cokro membagi pasukan menjadi regu yang terdiri dari 10 ribu orang. 10 ribu kavaleri Jawa Dwipa membentuk tim dengan Jayakalana sebagai jenderal, dengan Raden Syarifudin dan Wirama sebagai wakilnya. 10.500 sisanya berada di regu lain dengan Gajayana sebagai jenderal, Gayatri Rajapatni dan Danang Sutawijaya sebagai wakilnya. Jenderal Giri akan menjadi komandan untuk membantu memimpin dan memimpin kedua regu.
Adapun Hesty Purwadinata dan para penguasa lainnya, mereka tidak perlu pergi ke medan perang. Adapun Heru Cokro, setelah mendapatkan Tombak Narakasura, dia bersemangat untuk mencobanya. Dengan kekuatannya saat ini, itu pasti cukup untuk melindungi dirinya sendiri dalam pertempuran.
Saat Aliansi Jawa Dwipa sibuk berorganisasi, laporan pertempuran terdengar.
“Laporan Pertempuran: Perang Gojalisuta, 100 penguasa berpartisipasi, total kekuatan 73 ribu orang. Dwarawati memiliki 28 penguasa, dan 31 ribu orang; Trajutresna memiliki 72 penguasa, dan 42 ribu orang.”
Dalam pertempuran ini, 100 penguasa yang mencapai persyaratan telah bergabung, dan tidak ada yang ketinggalan. Dari semua raja ini, 80% ke atas semuanya adalah Kepala Desa III dan hanya bisa membawa 500 pasukan. Yang tersisa sebagian besar adalah Camat I dan dapat membawa 1000 pasukan. Adapun peringkat yang lebih tinggi, hanya ada Heru Cokro, Hesty Purwadinata, dan Maria Bhakti.
Roberto dan yang lainnya memanfaatkan koneksi mereka untuk berhasil menepikan 2/3 dari para penguasa ke pihak mereka.
__ADS_1
Sayangnya, peringkat Heru Cokro, Hesty Purwadinata dan Maria Bhakti benar-benar menutupi perbedaan jumlah, dan kekuatan kedua belah pihak tidak terlalu jauh.
“Laporan Pertempuran: Kamp Dwarawati berada pada posisi yang tidak menguntungkan secara numerik. Berdasarkan aturan pertempuran, pasukan Dwarawati telah menerima buff kecepatan gerakan 20%.”
Itu sebenarnya adalah peningkatan kecepatan gerakan! Bagi Aliansi Jawa Dwipa yang semuanya kavaleri, ini jelas merupakan hal yang baik.
“Laporan Pertempuran: Berdasarkan hasil dari peringkat dan poin prestasi, perwakilan pemain Dwarawati adalah Jendra, Bupati I. Sedangkan perwakilan Trajutresna adalah Roberto, Camat I.”
Posisi Heru Cokro sebagai perwakilan pemain adalah posisi yang tidak dapat disentuh oleh siapa pun. Di sisi lain, Roberto, setelah Kangsa Takon Bapa telah melampaui Wijiono Manto dan menjadi perwakilan Trajutresna.
30 ribu pasukan Dwarawati semuanya dikirim ke barak Ibukota Mandura. Setelah menangani masalah militer, Heru Cokro dan sekutunya bergegas ke tendanya untuk rapat.
Heru Cokro memberi tahu mereka semua tentang apa yang telah dia dengar dan pelajari.
Kemudian Arya Setyaki yang di kirim Prabu Kresna berhadapan dengan Ditya Yayahgriwa, yang saat itu memimpin 200 ribu anak buahnya berkemah di Bukit Gandamana.
Pelindung Ibukota Mandura, Raden Wisata, memimpin 150 ribu orang untuk membangun kamp garis selatan untuk menghalangi pasukan Trajutresna pergi ke selatan menyusuri sungai Gandamana.
Resi Gunadewa dan Arya Prabawa, dua unit rahasia, telah dikirim untuk bermain.
Resi Gunadewa memimpin 25 ribu kavaleri dan 30 ribu infanteri untuk mendirikan kemah untuk menghalangi pasukan Trajutresna dari perbekalan mereka.
Arya Prabawa memimpin 25 ribu kavaleri dan 10 ribu infanteri untuk mendirikan kemah di timur laut untuk menghalangi jalan keluar.
Terakhir adalah 50 ribu kavaleri yang dipimpin oleh Patih Pragota, masih bernegosiasi dengan Ditya Yayahgriwa.
__ADS_1
Mirip dengan tentara aliansi Mandura dan Dwarawati, tentara Trajutresna juga memiliki 500 ribu orang, 400 ribu di antaranya terjebak di Astana Gandamana. 100 ribu sisanya berada di luar Astana Gandamana, tempat lumbung utama pasukan Trajutresna.
Situasi sepihak seperti itu adalah sesuatu yang Hesty Purwadinata dan yang lainnya tidak bisa mengerti.
“Apakah Wisnu main-main? Dengan situasi seperti itu, Dwarawati pasti akan menang. Perang macam apa ini? Ini hanya poin kontribusi gratis yang menunggu kami untuk mendapatkannya.” kata Genkpocker terlebih dahulu.
“Berhentilah bermain-main. Wisnu pasti punya alasan untuk mengatur hal-hal seperti ini.” balas Habibi.
"Janc*k!"
"Oke, berhenti berkelahi." Maria Bhakti menyela keduanya. “Bahkan jika Wisnu bermain-main, Roberto tidak akan sebodoh itu untuk kalah dan bahkan langsung menantang kita.”
"Ki Ageng Pemanahan, jika pasukan Trajutresna ingin menghancurkan situasi ini, apa yang bisa mereka lakukan?" Hesty Purwadinata tidak ikut berdebat dan ingin melihat apa yang ada dalam pikiran Ki Ageng Pemanahan. Dia mirip dengan Heru Cokro dan mempercayai penasihat profesional.
“Berdasarkan situasi saat ini dan apa yang terjadi dalam sejarah, langkah selanjutnya adalah bertempur sampai mati dan menyerang kamp Resi Gunadewa untuk bertemu dengan pasukannya, dan mendapatkan perbekalan mereka.” Ki Ageng Pemanahan tidak segera mengungkapkan pendapatnya dan hanya menganalisis situasi saat ini terlebih dahulu.
“Oleh karena itu, aku merasa bahwa peluang terbesar mereka masih akan mencoba dan keluar. Saat ini, mereka memiliki biji-bijian selama beberapa hari dan juga bersandar ke tembok, semangat mereka adalah yang tertinggi dan mirip dengan pertempuran di puncaknya. Sekarang dengan tambahan 40 ribu pasukan pemain, mereka mungkin memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.”
Heru Cokro mengerutkan kening dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Berdasarkan apa yang kamu katakan, meskipun mereka memiliki 40 ribu lebih orang, kami juga memiliki 30 ribu lebih. Berdasarkan kekuatan, aku rasa kami tidak akan kalah dari 40 ribu pasukan pemain mereka.”
“Itu benar, belum lagi kavaleri elit yang dibawa kakak, dengan kerja sama dan kekuatan kita, perbedaan 10 ribu orang tidak akan cukup untuk mengubah arah perang.” Habibi ragu.
“Selain itu, dengan karakter kehati-hatian Roberto dan sekutunya, mereka tidak akan mengambil risiko sebesar itu hanya dengan keuntungan sekecil itu. Pasti ada faktor lain.” kata Maria Bhakti.
"Bagaimana jika mereka membawa Pil Ransum Militer dalam jumlah besar untuk pasukan Trajutresna?" Abraham Moses mengajukan tebakan yang berani.
__ADS_1