
Heru Cokro sangat menyadari akan pentingnya memiliki lebih banyak prajurit infanteri, berkata langsung ke intinya: “Untuk perluasan pasukan berikutnya, kavaleri tidak perlu diperbanyak. Kita akan fokus pada perluasan prajurit infanteri. Saya siap untuk langsung mengembangkan infanteri menjadi satu peleton infanteri penuh.”
Jenderal Giri mengangguk setuju, bertanya: “Menurut Yang Mulia, siapa yang akan bertanggung jawab atas peleton infanteri yang baru dibentuk?”
Sersan tim pertama, selain Wirama, semuanya adalah elit tingkat ketujuh. Yang tertinggi dari mereka hanya bisa menjadi letnan, mereka tidak memenuhi syarat untuk memimpin peleton.
“Infanteri yang baru dibuat akan dibentuk oleh Jenderal Giri dan ditempatkan di bawah komandonya. Sedangkan peleton kavaleri sebelumnya akan dipimpin oleh Kapten Wirama.” Heru Cokro mengumumkan penunjukan baru dengan tenang.
Wirama yang baru berusia belasan tahun, berkepala dingin, memiliki pemikiran yang fleksibel, dan memiliki potensi yang baik. Hanya dalam waktu satu bulan, dia telah berubah dari sersan menjadi letnan, dan sekarang dipromosikan menjadi komandan peleton. Sangat mudah untuk melihat penghargaan dan kepercayaan Heru Cokro padanya.
Atas restu Heru Cokro, Wirama secara alami berterima kasih, dengan bersemangat berkata, "Saya sangat berterima kasih kepada Yang Mulia atas promosi ini, saya tidak akan mengecewakan anda!"
Heru Cokro melambaikan tangannya, melihat ke samping pada tatapan iri Andika, Dudung dan yang lainnya. Dia tersenyum dan berkata, “Kamu tidak perlu iri padanya. Saya menjamin bahwa siapa pun yang pertama di antara kalian dapat menerobos menjadi elit tingkat sembilan, akan langsung dipromosikan untuk memimpin peleton infanteri.”
Ini adalah kejutan tanpa peringatan. Heru Cokro berhasil mengejutkan mereka, membuat semuanya semakin antusias untuk menjadi yang pertama menerobos ke elit tingkat sembilan.
__ADS_1
Ada tiga orang yang bisa bersaing untuk itu, Andika, Dudung dan Agus Bhakti. Ketiganya bisa menerobos kapan saja ke elit tingkat kesembilan. Andika dan Dudung adalah orang-orang yang agresif dan pesaing alami. Sedangkan Agus Bhakti lebih berpuas diri, hanya bisa diberikan nilai sedikit lebih rendah daripada mereka. Adapun Agus Fadjari dan Agus Subiyanto, mereka adalah dua sersan baru yang masih menjadi tentara tingkat enam. Oleh karena itu, kemungkinan besar komandan peleton infanteri akan diputuskan antara Andika, Dudung dan Agus Bhakti.
Adapun dua posisi kosong peleton kavaleri, Heru Cokro tidak terburu-buru untuk menunjuk seseorang. Dia akan menunggu hingga komandan infanteri terisi.
Ketika masalah tentang ekspansi militer selesai, Heru Cokro menuju ke pasar untuk membeli cetak biru arsitektur.
Kali ini ada empat bangunan yang akan ditingkatkan ke tingkat desa. Di antara mereka, kamar mandi umum adalah bangunan umum, oleh karena itu peningkatan level berikutnya membutuhkan biaya sebesar 20 koin emas. Ini juga merupakan tingkat kamar mandi umum tertinggi.
Sedangkan untuk lumbung, aula leluhur, dan sekolah swasta, cetak biru arsitektur tingkat desa tersebut menelan biaya 150 koin emas, setiap cetak biru arsitektur tersebut memiliki harga sebesar 50 koin emas. Lumbung dan sekolah swasta dapat ditingkatkan hingga ke tingkat desa, sedangkan balai leluhur dapat dijadikan sebagai kuil.
Selain itu, Heru Cokro menghabiskan 20 koin emas untuk membeli cetak biru arsitektur pasar tingkat menengah, agar dapat membuka fungsi platform lelang lebih awal. Maka dengan cara ini, kantong emas Heru Cokro telah berkurang 190 emas untuk membeli lima cetak biru arsitektur tersebut.
Setelah berbagai perdagangan, emas yang dihasilkan sebelumnya telah turun menjadi 756 koin emas.
Selain rencana pembangunan, Heru Cokro juga akan membeli barang lain yang cocok untuk ditanam di Jawa Dwipa. Maka, dia mencari benih atau bibit buah-buahan untuk dibudidayakan. Akhirnya, untuk sementara dia hanya memilih buah mangga.
__ADS_1
Faktanya, tempat ini juga kaya akan leci, kelengkeng, kesemek, dan buah-buahan lainnya, tetapi buah-buahan tersebut membutuhkan bibit yang dibudidayakan secara khusus agar bisa ditanam. Selain itu, jika menggunakan biji dari buah secara langsung untuk ditanam, itu akan benar-benar sulit berbuah, bahkan buahnya tidak begitu enak.
Setelah menyelesaikan perdagangan, Heru Cokro meninggalkan pasar dan kembali ke manor, di mana ada banyak hal yang telah menunggunya untuk ditangani.
Sesampainya di manor, Heru Cokro menuju kantor administrasi yang berada di sisi timur. Dia pertama kali menyerahkan lima cetak biru arsitektur yang baru saja dibelinya kepada Buminegoro di Divisi Konstruksi. Dia mengatakan kepadanya untuk sementara mengalihkan beberapa tenaga kerja yang berada di lokasi konstruksi pagar, agar pergi dan meningkatkan lima bangunan ini.
Kemudian, dia mencari Notonegoro, memintanya untuk datang ke kantornya, karena dia harus mengatur sesuatu.
Notonegoro yang baru saja diberi tahu bahwa dia dipindahkan dari Kantor Pencatatan Sipil pagi ini. Mendengar Heru Cokro memanggilnya, dia tahu bahwa dia akan diberikan tugas baru.
Di kantor penguasa, Heru Cokro menyuruh Notonegoro duduk dan tersenyum kepadanya. “Notonegoro, kamu memiliki kinerja yang sangat baik selama masa sulit ini. Saya telah melihat semuanya! Sekarang saya memiliki tugas yang lebih sulit untuk diberikan kepada anda, apakah anda masih memiliki kepercayaan diri?”
"Apa pun yang diperintahkan Yang Mulia, aku akan senantiasa menerimanya!"
Heru Cokro mengangguk puas dan berkata, “Ya, keberanian seperti itu yang sangat saya butuhkan! Karena sekarang teritori telah ditingkatkan menjadi dusun, kita dapat membangun wilayah afiliasi. Selain itu, wilayah telah cukup banyak meluas, sehingga ladang garam dan penakaran ikan secara resmi menjadi bagian dari wilayah Jawa Dwipa. Hal ini, tentu bisa menjadi tempat yang aman bagi para pekerja Gudang Garam dan penakaran ikan, serta dapat menghemat waktu mereka bolak-balik diantara Jawa Dwipa dan ladang. Maka, saya memutuskan bahwa anak wilayah pertama ini akan dibangun di antara lokasi ladang garam dan lahan penakaran ikan.”
__ADS_1
"Yang Mulia sangat murah hati! Selain itu, keputusan ini juga dapat menjadi solusi atas banyak keluhan pekerja garam dan pekerja budidaya ikan selama ini!" Notonegoro berkata dengan sungguh-sungguh.
Heru Cokro melambaikan tangannya. “Gudang Garam dan penakaran ikan akan menjadi industri emas teritori Jawa Dwipa untuk waktu yang sangat lama. Para pekerja garam dan pekerja budidaya ikan telah menghabiskan sepanjang hari di bawah angin dan matahari, juga terus menciptakan keuntungan bagi wilayah yang memberi mereka tempat tinggal yang stabil. Inilah arti dari wilayah baru ini! Maka, saya membutuhkan kepala RW yang dapat di percaya untuk bertanggung jawab atas wilayah baru ini. Jika saya menunjuk anda sebagai kepala RW wilayah baru tersebut, apakah anda bersedia menerimanya?”