
Di bawah perintah ketat Heru Cokro, pria kecil itu hanya bisa mendengarkan dan pergi untuk membersihkan diri di kamar mandi. Adapun Hanoman, dia juga mengikutinya ke toilet. Dia baru saja menghina tuan kecilnya dan dia sekarang mencoba membujuk dan menghibur tuan kecilnya.
Ketika dia mendengar bahwa Heru Cokro membawa Rama untuk jogging, Dia Ayu juga tertarik. Oleh karena itu, ketiganya tampil bersama berdampingan di lintasan lari. Dua orang dewasa muda dan seorang anak kecil, mereka yang tidak tahu mungkin mengira mereka adalah keluarga kecil. Oh, dan peri AI kecil lainnya yang berlari mengelilingi ketiganya, sungguh pemandangan yang hangat.
Karena ini akhir pekan, Heru Cokro membatalkan undangan Maharani, mengubah tanggalnya menjadi Senin berikutnya. Selama satu hari, dia menghabiskan pagi hari menonton televisi dengan Rama, dan menemaninya saat dia mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sudah lama sejak dia menghabiskan waktu menemaninya saat mengerjakan pekerjaan rumah, jadi dia merasa sedikit bersalah di hatinya.
Pada tanggal 26 Maret, Heru Cokro memasuki permainan tepat waktu. Seperti biasa, dia berlatih keras selama 2 jam dalam keahlian pedang, tombak, kapak dan senjata lainnya, bersamaan dengan seni beladiri Sundang Majapahit, serta Delapan Tinju Wiro Sableng, lalu beristirahat sebelum memasuki kantornya.
Di atas mejanya, dia meletakkan surat dari Kebonagung yang telah tiba di pagi hari.
Dia membuka surat itu dan membacanya. Itu ditulis oleh jenderal garnisun Kebonagung Andika, sehubungan dengan permintaan ekspansi militer Kebonagung.
Andika menulis dalam surat itu bahwa karena peningkatan Kebonagung menjadi dusun, dia meminta untuk memperluas kompi garnisun menjadi 200 orang untuk mengatasi sistem pertahanan dusun yang sangat kompleks.
Heru Cokro mengangguk, karena permintaan itu masuk akal dan adil, dia tidak punya alasan untuk menolak. Oleh karena itu, dia menyetujui permintaan tersebut dan menulis catatan dalam surat tersebut. Bahwa “Permintaan diizinkan, Kebonagung diberikan wewenang untuk membentuk kompi kavaleri lain. Serahkan calon kapten kepada Biro Urusan Militer untuk disetujui. Namun, Kebonagung harus menyediakan dananya sendiri.”
Setelah selesai, dia memanggil petugas dan memerintahkannya untuk mengirim surat ke Biro Urusan Militer. Selama proses penanganan urusan pemerintahan, semakin hari jumlah dokumen dan kertas kerja yang ada di mejanya semakin bertambah. Dia menyadari bahwa sudah waktunya dia merekrut seorang juru tulis untuk membantunya dalam hal-hal seperti itu.
Heru Cokro segera memanggil Direktur Divisi Pencatatan Sipil, Gilang Ramadhan. Dia membutuhkan direktur tersebut untuk merekomendasikan seorang juru tulis.
Ini bukan hanya tugas sederhana untuk memilih pegawai, itu juga merupakan ujian bagi wawasan dan persepsi direktur. Gilang Ramadhan mengetahui tentang ujian tersebut dan telah berjanji bahwa hanya kandidat terbaik yang akan diajukan kepada Heru Cokro.
Pekerjaan juru tulis adalah bekerja di kantor untuk menyimpan catatan dan dan melakukan tugas administrasi rutin lainnya. Mungkin tugas tersebut terlihat sangat tidak penting bahkan terkadang tidak perlu, tetapi itu adalah salah satu posisi yang paling diinginkan. Karena pekerjaan juru tulis adalah menangani sebagian besar urusan inti teritori, dan itu adalah posisi yang bagus untuk mendapatkan pengalaman.
__ADS_1
Maka, kandidat harus memiliki keterampilan komunikasi yang kuat, keterampilan manajemen yang sangat baik, dan kemahiran dalam strategi sampai batas tertentu untuk memberikan saran yang diarahkan dengan baik serta nasihat yang ditargetkan saat menjalankan tugas administratifnya, sehingga tuannya dapat memberikan pertimbangan yang tinggi atas tulisan mereka.
Sebagian besar perdana menteri dan kanselir terkenal dari sejarah kuno memulai karir politik mereka sebagai juru tulis atau yang serupa.
Petugas pertama Jawa Dwipa, Notonegoro telah melakukan pekerjaan dengan sempurna. Bahkan setelah dia dipindahkan ke Kantor Pencatatan Sipil, dia masih memegang jabatan merangkap sebagai juru tulis, dan kualitas pelayanannya tidak menurun, dan Heru Cokro masih puas dengan kinerjanya. Namun, sejak Notonegoro dikirim untuk mendirikan Pantura, Heru Cokro telah kehilangan tangan kanannya yang berharga.
Keesokan harinya, Gilang Ramadhan keluar dengan kandidat yang cocok, dan keduanya masuk ke kantor Heru Cokro di kediaman penguasa.
Gilang Ramadhan membungkuk, menyapa Heru Cokro, dan berbicara dengan gembira. “Paduka, dari para imigran yang datang hari ini, aku telah menemukan seorang sarjana muda. Aku secara pribadi telah memeriksanya, dan aku yakin dia akan melakukan pekerjaan dengan baik sebagai juru tulis. Oleh karena itu, aku telah membawanya ke sini secara pribadi kepada Yang Mulia, sehingga kamu dapat menilainya secara pribadi.”
Saat Gilang Ramadhan menyelesaikan kalimatnya, cendekiawan itu maju, membungkuk dan menyapa Heru Cokro, dengan hormat berkata: "Manguri Rajaswa, salam Paduka!"
Dia memiliki penampilan seorang pemuda berusia 24 atau 25 tahun, mengenakan jubah sarjana lajang keputihan, rambutnya hitam dan rapi, matanya cerah dan tajam, seorang pemuda dengan tampilan sarjana yang sopan dan khas.
[Nama]: Manguri Rajaswa (golongan V)
[Status]: Pegawai Jawa Dwipa
[Profesi]: Pejabat sipil
[Loyalitas]: 75
[Komando]: 25
__ADS_1
[Kekuatan]: 15
[Inteligensi]: 55
[Politik]: 50
[Spesialisasi]: Terpelajar\, banyak membaca\, dan berpengetahuan luas (meningkatkan efisiensi administrasi wilayah sebesar 5%)\, membaca dengan teliti (meningkatkan kecepatan penanganan dokumen sebesar 15%)
[Evaluasi]: Sarjana dari keluarga miskin yang banyak membaca\, dan berpengetahuan luas\, serta terampil dengan strategi dan taktik\, layak disebut sebagai seorang pria sejati.
Memang, dia berbakat dan sangat cocok untuk seorang juru tulis, Heru Cokro mengangguk setuju dan berkata, "Baiklah, dengan ini aku menunjukmu sebagai juru tulis Jawa Dwipa, kamu akan membantuku dalam mengatur urusan kepemerintahan."
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Paduka!"
Selama 3 hari berikutnya, wilayah itu sangat tenang dan sunyi. Dalam sekejap mata, waktu lelang dari sistem sudah dekat dan Heru Cokro mulai mengumpulkan dana di wilayahnya.
********
29 Maret, penjualan kedua garam laut Jawa Dwipa.
Ladang Gudang Garam telah diperluas dua kali sejak penjualan terakhir. Ekspansi ketiga dari Gudang Garam pada bulan kedua tanggal 26, skalanya adalah 2000 hektar. Ekspansi pada bulan maret hari ketiga memperluas ladang garam menjadi 5000 hektar. Dengan rata-rata 500 unit garam per hektar, dikurangi waktu yang dibutuhkan untuk membangun dan memperluas ladang garam, produksi garam telah mencapai 3,5 juta unit.
Pasar menjual setiap unit dengan 20 tembaga jadi 3,5 juta unit garam laut akan dijual seharga 7000 emas, dengan pajak perdagangan 20%, dia akan menerima pendapatan bersih sebesar 5600 emas. Selanjutnya dikurangi biaya menjalankan Gudang Garam, penghasilannya adalah 5.000 emas. Heru Cokro memikirkan tentang pajak yang tinggi, membuat hatinya berdarah. Jika ditambahkan dengan penghasilan dari Tempat Pelelangan Ikan, total secara keseluhuran sejumlah 10.000 koin emas.
__ADS_1