Metaverse World

Metaverse World
Perang Gojalisuta Part 5


__ADS_3

Dalam perjalanan itu, Prabu Boma melihat Arya Wrekodara seorang diri. Setelah mendengar cerita Prabu Boma tentang perselingkuhan Raden Samba dengan Dewi Agnyanawati, juga tentang Raden Arjuna yang menantang perang dirinya, Arya Wrekodara merasa sangat terkejut. Dasar watak Arya Wrekodara yang selalu bersikap adil, ia pun ikut bergabung di pihak Prabu Boma untuk menemani keponakannya itu menuntut keadilan. Prabu Boma Narakasura dan pasukannya telah sampai di wilayah Kerajaan Dwarawati.


Kebetulan mereka bertemu Prabu Baladewa yang memimpin pasukan Mandura untuk meminta pertanggungjawaban atas kematian Raden Wisata. Tadinya Prabu Baladewa hendak membicarakan hal ini dengan Prabu Kresna. Namun, karena bertemu dengan Prabu Boma, amarahnya pun meluap seketika. Prabu Baladewa memaki Prabu Boma tidak tahu diri.


Prabu Boma memohon maaf atas kematian Raden Wisata. Namun, Prabu Baladewa tetap menuntut nyawa dibayar nyawa. Prabu Baladewa tidak peduli dan menuduh Ditya Yayahgriwa tentu mendapat perintah dari rajanya. Prabu Baladewa yang semakin marah berniat hendak membunuh Prabu Boma.


Dalam kekacauan itu, Prabu Boma tidak ingin terlibat lebih jauh. Prabu Boma pun turun mendarat di hadapan mereka. Prabu Boma berusaha ikhlas melihatnya, namun pikirannya terbayang betapa selama ini ia berusaha untuk bisa mendapatkan perhatian Dewi Agnyanawati, ternyata semuanya sia-sia belaka. Ia pun berbisik agar Prabu Boma memantapkan hati.


Prabu Boma termakan ucapan Paksi Wilmuna. Rupanya kedua lengannya telah putus akibat tarikan Prabu Boma yang terlalu keras. Paksi Wilmuna kembali berbisik kepada Prabu Boma, bahwa mata Raden Samba yang melotot itu pernah melihat tubuh Dewi Agnyanawati telanjang tanpa busana. Prabu Boma sebenarnya menyesal telah menarik putus lengan Raden Samba.


Dalam amarahnya itu, jari tangan Prabu Boma bergerak kejam mencongkel kedua bola mata Raden Samba hingga terjulur keluar, bergantung-gantung di pipi kiri dan kanan. Sebaliknya, Prabu Boma justru menangis tersedu-sedu karena telah berbuat sedemikian kejam kepada sang adik. Prabu Boma kembali terbakar amarah dan tangannya pun merobek mulut Raden Samba hingga menganga lebar. Prabu Boma tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Prabu Boma berdiri menghampirinya dan mengajak Dewi Agnyanawati pulang ke Kerajaan Trajutresna.

__ADS_1


Prabu Boma terkesima menyaksikan Raden Samba dan Dewi Agnyanawati telah mati bersama. Ia juga tidak menyalahkan Paksi Wilmuna yang telah menghasut dirinya, karena yang salah adalah ia sendiri yang tidak dapat mengendalikan diri.


Tiba-tiba datang Prabu Kresna di tempat itu sambil menggendong seorang bayi. Ia terkejut melihat Prabu Boma telah membunuh Raden Samba dengan kejam, serta Dewi Agnyanawati pun bunuh diri menusuk leher sendiri. Prabu Kresna tidak menyalahkan Prabu Boma, tetapi justru menyalahkan diri sendiri yang terlalu memanjakan Raden Samba sejak kecil, sehingga kini mendatangkan aib bagi Kerajaan Dwarawati. Jika memang Raden Samba harus mati seperti ini, mungkin memang ini sudah menjadi hukum karma baginya.


Prabu Boma tetap merasa bersalah meskipun Prabu Kresna tidak menyalahkan dirinya. Ia pun mohon pamit untuk terjun ke dalam peperangan yang sedang berkecamuk di luar supaya bisa mati sebagai kesatria. Prabu Kresna berkata, silakan Prabu Boma bertarung melawan siapa saja, asal jangan menyakiti Raden Arjuna.


Prabu Boma mematuhi pesan tersebut. Ketika hendak berangkat, ia lebih dulu bertanya siapa bayi yang sedang digendong Prabu Kresna. Prabu Kresna menjawab, bayi laki-laki dalam gendongannya adalah putra Raden Samba yang lahir dari Dewi Sugatawati. Dengan disaksikan Prabu Boma, Prabu Kresna pun memberinya nama Raden Dwara yang bermakna «pintu». Raden Partajumena kembali menyerang Prabu Boma dengan panah-panahnya. Prabu Boma berkali-kali tewas, namun selalu saja hidup kembali ketika menyentuh tanah. Pertarungan ini membuat Raden Partajumena letih dan ganti dirinya yang terdesak oleh serangan Prabu Boma. Namun, tiba-tiba Raden Setyaka muncul menyambar tubuh kakaknya itu dan membawanya kabur. Raden Partajumena marah karena ia merasa lebih baik mati daripada meninggalkan pertempuran seperti ini. Raden Setyaka menjawab dirinya sudah kehilangan Resi Gunadewa, Raden Wisata, dan Raden Samba, maka tidak ingin kehilangan satu orang saudara lagi. Raden Partajumena pun terkejut mendengar Raden Samba sudah meninggal pula.


Prabu Boma bertanya mengapa Raden Arjuna diistimewakan, tidak boleh diserang olehnya. Prabu Kresna berkata bahwa Prabu Boma sesungguhnya adalah putra Batara Wisnu yang lahir dari Batari Pretiwi. Adapun Batara Wisnu telah membelah penitisannya, yang setengah menitis kepada Prabu Kresna, sedangkan yang setengah menitis kepada Raden Arjuna. Dengan demikian, apabila Prabu Boma menyerang Raden Arjuna itu sama saja durhaka kepada ayah sendiri.


Prabu Boma kesal mengapa tidak dijelaskan dari awal. Ia merasa ini semua sudah kepalang tanggung. Perang ini telah merenggut banyak nyawa. Patih Pancadnyana dan semua punggawa raksasa Trajutresna yang selama ini menemani dirinya berjuang telah tewas. Tidak ada lagi gunanya hidup di dunia jika tanpa teman di sampingnya. Prabu Boma pun berniat mencari mati di tangan Batara Wisnu, ayahnya sendiri. Ia lalu mengarahkan Paksi Wilmuna terbang ke angkasa, kemudian meluncur turun menerjang Prabu Kresna.


Prabu Kresna paham maksud Prabu Boma. Ia pun melepaskan senjata Cakra untuk menjemput serangan Prabu Boma. Senjata Cakra melesat memotong leher Paksi Wilmuna dan menembus dada Prabu Boma. Tubuh Prabu Boma pun melayang jatuh ke tanah.

__ADS_1


****


Heru Cokro berteleportasi ke Ibukota Mandura. Apa yang dia tidak tahu adalah di tahap mana Wisnu menempatkan mereka.


Ada juga tempat pendaftaran yang didirikan di Ibukota Mandura, dengan seorang letnan Tentara Dwarawati yang bertanggung jawab atas pendaftaran tersebut.


Setelah Heru Cokro mendaftar, dia tidak segera pergi tetapi bertanya, "Jenderal, bagaimana pertempuran hari ini?"


Ketika letnan membantu mereka mendaftar, dia tahu bahwa Heru Cokro membawa 10 ribu pasukan, maka dia menjawab pertanyaannya dengan sederhana, “400 ribu tentara Trajutresna yang berada di bawah komando Ditya Yayahgriwa terjebak di dataran tinggi Astana Gandamana, bersikukuh dengan Resi Gunadewa.”


"Apa?" Heru Cokro tercengang. Dia tidak menyangka bahwa Wisnu akan benar-benar menempatkan mereka pada titik seperti itu. Berdasarkan logika normal, ketika mencapai langkah seperti itu, tentara Trajutresna ditakdirkan untuk kalah, dengan datangnya Arya Satyaki.


Ada yang salah, pasti ada yang salah! Karena Wisnu pasti tidak akan melakukan pencarian pertempuran seperti itu. Jika seseorang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan terjadi, Heru Cokro tidak akan mempercayainya.

__ADS_1


__ADS_2