Metaverse World

Metaverse World
Perang Gojalisuta Part 4


__ADS_3

Raden Wisata putra mahkota Kerajaan Mandura yang sedang berpatroli bersama Patih Pragota dan Arya Prabawa, heran melihat ada banyak raksasa berkeliaran di dekat Astana Gandamadana. Raden Wisata yang mengetahui sepupunya, Resi Gunadewa tewas. Dia mengerahkan pasukan Mandura untuk mengusir Ditya Yayahgriwa dan prajurit raksasanya tersebut.


Ketika peperangn tidak bisa dihindari lagi, Ditya Yayahgriwa membunuh Raden Wisata selaku pemimpin pasukan Mandura. Pada saat itulah Arya Setyaki datang, dan membunuh Ditya Yayahgriwa. Kemudian, Arya Setyaki menghentikan pertempuran, dan mengatakan agar urusan ini diselesaikan antara para raja tiga kerajaan, yaitu Prabu Kresna, Prabu Baladewa, dan Prabu Boma.


Pada akhirnya, semuanya pun setuju karena sudah jatuh korban jiwa dari masing-masing pihak. Ditya Mahodara dan Ditya Amisunda menggotong mayat Ditya Yayahgriwa dan membawa pasukannya kembali ke Kerajaan Trajutresna. Arya Setyaki membawa jasad Resi Gunadewa ke Kerajaan Dwarawati, sedangkan Patih Pragota dan Arya Prabawa membawa jasad Raden Wisata ke Kerajaan Mandura.


Sementara itu, Raden Samba sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Trajutresna. Di tengah jalan ia berjumpa Raden Arjuna dan Arya Gatutkaca yang sedang dalam perjalanan ke Kerajaan Dwarawati karena ada kabar bahwa Dewi Sugatawati hendak melahirkan. Raden Arjuna bertanya ada keperluan apa Raden Samba hendak pergi ke Kerajaan Trajutresna. Raden Samba dengan malu-malu menjawab bahwa ia hendak menemui Dewi Agnyanawati karena jatuh cinta kepada kakak iparnya tersebut.


Raden Arjuna marah karena Dewi Sugatawati hendak melahirkan, tapi justru Raden Samba pergi menemui wanita lain. Raden Samba menjawab, dirinya ingin menjemput Dewi Agnyanawati untuk hidup berkumpul dengan Dewi Sugatawati. Raden Arjuna semakin marah tidak rela putrinya dimadu dengan wanita lain, apalagi wanita ini sudah punya suami. Raden Samba menjawab, cinta harus diperjuangkan apa pun rintangannya. Bukankah dulu Raden Arjuna sudah menikah dengan Dewi Sumbadra, juga menikahi Dewi Srikandi serta banyak wanita lainnya? Raden Samba pun bersumpah, apabila berhasil menikahi Dewi Agnyanawati, maka ia tidak akan mengurangi kasih sayangnya kepada Dewi Sugatawati. Untuk itu, ia memohon restu dan bantuan kepada Raden Arjuna.

__ADS_1


Raden Arjuna tersentuh hatinya. Ia menyadari bahwa dirinya pun memiliki banyak istri, sehingga tidak bisa menyalahkan Raden Samba apabila ingin menikah lagi. Ia pun berkata bahwa dirinya tidak merestui perbuatan Raden Samba yang hendak merebut istri Prabu Boma, namun ia bersedia membantu mencarikan jalan saja. Mereka pun pergi melapor kepada Patih Pancadnyana. Mendengar laporan ini, Patih Pancadnyana segera membawa pasukan raksasa mengepung puri tempat tinggal Dewi Agnyanawati. Raden Samba gugup dan gemetar sehingga lupa bacaan mantra Aji Panglimunan yang bisa membuatnya tidak terlihat. Tidak lama kemudian, Patih Pancadnyana dan para prajurit sudah datang hendak menangkap dirinya.


Patih Pancadnyana menyebut Raden Samba pangeran tidak tahu diri, berani menggoda kakak iparnya sendiri. Raden Samba berteriak minta tolong ketika hendak diseret oleh Patih Pancadnyana. Suara teriakannya terdengar oleh Arya Gatutkaca yang masih menunggu di luar istana. Arya Gatutkaca pun melesat terbang lalu menerjang turun untuk menolong Raden Samba. Patih Pancadnyana ditendangnya hingga jatuh terjungkal. Sejumlah prajurit raksasa pun tewas oleh amukan Arya Gatutkaca. Namun, Arya Gatutkaca tidak mau memperpanjang masalah. Ia mengajak Raden Samba untuk segera pulang ke Kerajaan Dwarawati. Dewi Agnyanawati ingin ikut serta karena ia merasa dirinya sudah menjadi milik Raden Samba. Raden Samba juga tidak mau pulang apabila tidak bersama kekasihnya tersebut. Ia lalu mohon pamit kembali ke Kerajaan Trajutresna untuk menceraikan Dewi Agnyanawati dan menyerahkannya kepada Raden Samba.


Prabu Boma telah sampai dan ia heran melihat istana Trajutresna kacau balau. Patih Pancadnyana melaporkan bahwa Dewi Agnyanawati telah berselingkuh dengan Raden Samba. Prabu Boma menjawab dirinya sudah tahu dan merestui hubungan mereka. Istri yang mencintai laki-laki lain, untuk apa dipertahankan?


Patih Pancadnyana heran, mengapa watak rajanya yang biasanya pemarah kini berubah menjadi sabar seperti ini. Prabu Boma tidak mau memperpanjang masalah. Ia memerintahkan Patih Pancadnyana untuk menyusul Raden Samba dan Dewi Agnyanawati, karena mereka akan dinikahkan di Kerajaan Trajutresna oleh Prabu Boma sendiri. Patih Pancadnyana merasa heran, namun tidak berani membantah. Setelah menerima surat dari rajanya, barulah ia berangkat menuju Kerajaan Dwarawati.


Raden Samba dan Dewi Agnyanawati telah diturunkan oleh Arya Gatutkaca di Kerajaan Dwarawati dan mereka langsung menghadap Prabu Kresna. Tampak Prabu Kresna sangat marah melihat ulah Raden Samba.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, datanglah Patih Pancadnyana menghadap Prabu Kresna. Setelah menghaturkan sembah, ia pun menyerahkan surat dari rajanya kepada Prabu Kresna. Prabu Kresna membaca surat itu dan ternyata benar tulisan tangan Prabu Boma. Isinya ialah permohonan maaf karena Prabu Boma tidak bisa melanjutkan rumah tangga dengan Dewi Agnyanawati karena istrinya itu lebih mencintai Raden Samba.


Dalam hal ini Prabu Boma lebih mementingkan persaudaraan daripada perkawinan yang tidak sepenuh hati. Maka, Prabu Boma pun berniat menikahkan Raden Samba dan Dewi Agnyanawati di Kerajaan Trajutresna, karena Dewi Agnyanawati sudah menjadi warga negara di sana. Hendaknya mereka berdua diizinkan ikut pergi bersama Patih Pancadnyana yang memang dikirim Prabu Boma untuk menjemput. Prabu Kresna terharu membaca isi surat Prabu Boma.


Ia pun memanggil Raden Samba dan Dewi Agnyanawati untuk menjelaskan kehendak Prabu Boma kepada mereka. Raden Samba dan Dewi Agnyanawati merasa takut apabila kembali ke Kerajaan Trajutresna, namun Prabu Kresna menjamin mereka akan baik-baik saja. Prabu Kresna menjawab bahwa Raden Samba baru saja berangkat bersama Dewi Agnyanawati karena dijemput Patih Pancadnyana. Rencananya, mereka berdua akan dinikahkan oleh Prabu Boma di Kerajaan Trajutresna.


Ia heran mengapa Prabu Kresna begitu polos, membiarkan Raden Samba pergi ke tempat Prabu Boma Narakasura. Ia merasa dipermainkan oleh Prabu Boma dan Raden Arjuna. Sesampainya di Kerajaan Trajutresna, Patih Pancadnyana meraung-raung di hadapan Prabu Boma. Prabu Boma lalu mengambil surat yang menempel pada sisi kepala Patih Pancadnyana yang sudah kehilangan sebelah telinga.


Surat berlumuran darah itu seolah ditulis Raden Arjuna yang berisi tantangan, bahwa Prabu Boma harus merebut Raden Samba dan Dewi Agnyanawati melalui peperangan apabila memang benar-benar jantan. Prabu Boma marah dan merobek-robek surat itu. Prabu Boma pun memerintahkan Patih Pancadnyana untuk mempersiapkan semua pasukan Trajutresna. Prabu Boma tampak gagah duduk di atas kendaraannya yang berwujud burung garuda berkepala raksasa, bernama Paksi Wilmuna.

__ADS_1


__ADS_2