
Heru Cokro berjalan menjemputnya, dengan senyum cerah, dia berkata, "Keberadaanmu di Jawa Dwipa, itu bernilai lebih dari jutaan tentara."
Setelah membujuk Joko Tingkir untuk bergabung dengannya, Heru Cokro melihat statistiknya.
[Nama]: Joko Tingkir (golongan VI)
[Gelar]: Sultan Hadiwijaya
[Kerajaan]: Pajang
[Status]: Laksamana Jawa Dwipa
[Profesi]: Laksamana
[Loyalitas]: 80
[Komando]: 75
[Kekuatan]: 65
[Inteligensi]: 60
[Politik]: 55
[Spesialisasi]: Penakluk buaya (meningkatkan kecepatan pergerakan pasukan di air dan darat sebesar 10%)\, raja buaya (saat kemampuan ini diaktifkan\, kekuatan tempur sebesar 20% akan ditingkatkan selama 20 menit.)
[Meritokrasi]: Lembu Sekilan (18 jurus)
[Perlengkapan]: Timang Kiai Bajulgiling dan Keris Luk Tujuh
__ADS_1
[Evaluasi]: Seorang jenderal yang menjadi bandit untuk membalas budi penyelamatnya. Hebat dalam perang di laut maupun di darat serta bagus dalam melatih pasukan.
Dari statistik Joko Tingkir, statistik komandonya sudah setinggi 75 dengan kekuatan 65. Ini berarti dia cocok menjadi sosok seorang jenderal. Ini juga sesuai dengan profesi yang diberikan Heru cokro yaitu seorang laksamana angkatan laut. Selain itu, bahkan dia dievaluasi hebat berperang di darat ataupun di laut. Ini benar-benar gila.
Sepertinya tebakan Heru Cokro sebelumnya benar, bahwa Joko Tingkir ini adalah Mas Karebet dalam sejarah besar Kerajaan Pajang. Hal ini dipertegas pada statistik gelar yang menyebutkan Sultan Hadiwijaya, statistik kerajaan yang menyebutkan Pajang dan statistik perlengkapan Timang Kiai Bajulgiling dan Keris Luk Tujuh yang menjadi harta pusaka Joko Tingkir dalam cerita.
Sekali lagi, Heru Cokro mendapatkan rejeki nomplok.
Pada saat Heru Cokro menerima Joko Tingkir, pekerjaan pascaperang sudah mulai berjalan. Non-kombatan di benteng air sudah berkumpul di alun-alun depan Aula Persaudaraan, semuanya gemetar ketakutan. Penangkapan para tahanan telah selesai dan diserahkan kepada Heru Cokro.
Laporan setelah pertempuran termasuk tawanan perang yang tetap tinggal untuk mempertahankan Aula Persaudaraan, memiliki total 308 bandit, termasuk 48 elit dan sisanya adalah bandit air biasa.
Heru Cokro tertawa dan berkata kepada Joko Tingkir, “Laksamana Joko Tingkir, rekomendasi perlakuan seperti apa yang anda miliki atas para tahanan ini?”
“Segalanya bisa diputuskan oleh Yang Mulia.” Joko Tingkir masih baru di sini dan sangat berhati-hati, tidak ingin mengungkapkan pandangannya. Apalagi berurusan dengan para tahanan tersebut.
“Aiisshh, laksamana tidak perlu terlalu berhati-hati. Bagaimana jika begini? Kumpulan tahanan ini, kami bagi menjadi tiga metode. Pertama, para pelaku kejahatan akan dieksekusi di tempat. Kedua, orang-orang dengan moral buruk akan dikirim ke tambang selama satu tahun, setelah itu orang-orang yang berperilaku baik selama proses ini akan diberikan identitas sebagai warga Jawa Dwipa. Terakhir, mereka akan dikirim ke angkatan laut Jawa Dwipa dan dilatih oleh laksamana. Karena semua pengikut laksamana adalah orang baik, sehingga dapat langsung dimasukkan ke angkatan laut Jawa Dwipa. Moral dan perilaku kelompok tahanan ini, saya pikir sang laksamana memiliki pandangan yang lebih jelas daripada saya. Oleh karena itu, kewenangan penanganan mereka akan saya berikan kepada anda.”
Setelah menyerahkan hak menangani tawanan perang kepada Joko Tingkir, Heru Cokro mulai menangani warga biasa yang berkumpul di alun-alun.
Berdasarkan laporan, ada 435 warga biasa, kebanyakan dari mereka adalah seorang nelayan dan pelaut.
Tentu saja, Heru Cokro memperlakukan mereka dengan murah hati. Keluarga Ulo Sowo dan para pemimpin lainnya diberikan status budak, sedangkan sisanya diberi identitas warga Jawa Dwipa.
Heru Cokro menginstruksikan Wirama agar memimpin peleton kavaleri untuk membawa kembali para tahanan dan warga biasa kembali ke Jawa Dwipa. Pada saat yang sama, dia mengatur beberapa kuda cepat untuk memberi tahu Biro Cadangan Material dan Biro Finansial untuk datang dan membersihkan jarahan, dan mengirimnya kembali ke Jawa Dwipa.
Setelah Joko Tingkir memberi tahu Heru Cokro tempat persembunyian semua harta dan barang di benteng air, dia pergi dengan peleton kavaleri untuk memeriksanya.
Pada siang hari, Biro Cadangan Material dan Biro Finansial membawa serta sejumlah besar cikar dan delman berjalan ke benteng air. Dengan saran Joko Tingkir sebelumnya, pengangkutan barang berjalan dengan sangat baik.
__ADS_1
Terakhir, dia memasuki aula persaudaraan. Setelah melihat prasasti batu yang muncul, dia meletakkan tangannya di atasnya tanpa ragu untuk memicu notifikasi sistem.
“Pemberitahuan sistem: Selamat pemain Jendra karena telah menghancurkan benteng air tingkat lanjut. Silakan pilih metode pembuangan: menduduki, mentransfer kekuasaan, atau menghancurkan?”
"Saya memilih untuk menghancurkan!" Heru Cokro tidak ingin meninggalkan harapan apapun untuk para bandit air dan langsung memilih untuk menghancurkan.
“Pemberitahuan sistem: Pemain Jendra memilih untuk menghancurkan benteng air tingkat lanjut, mendapatkan 20% cetak biru arsitekturnya dan 20% bahan bangunannya.”
“Pemberitahuan sistem: Selamat pemain Jendra karena mendapatkan cetak biru pelabuhan, cetak biru padepokan, cetak biru apotek, dan cetak biru estafet. Selain itu ada 8000 unit kayu dan 2000 unit batu.”
“Pemberitahuan sistem: selamat kepada pemain Jendra karena berhasil menghancurkan benteng air bermutu tinggi, mendapatkan 500 poin prestasi, dan 1000 poin prestise.
Itu tidak buruk, dari 4 cetak biru, apotek dan estafet adalah persyaratan bangunan dasar dari desa dasar. Sehingga dapat menghemat dana 100 emas.
Setelah menghancurkan benteng air, Heru Cokro meninggalkan Dudung untuk bekerja dengan Biro Cadangan Material dan Biro Finansial untuk mengangkut material dan berangkat lebih dulu dengan kudanya.
Pada tanggal 28 Februari tahun pertama Wisnu, Aula Diskusi Jawa Dwipa.
Heru Cokro memimpin pertemuan tersebut, musyawarah kali ini dihadiri oleh Kawis Guwa, Witana Sideng Rana dan Siti Fatimah, sebagai direktur biro. Notonegoro dan Agus Subiyanto dari Pantura, serta pihak militer yang diwakili oleh Jenderal Giri, Wirama, Joko Tingkir dan Dudung.
Witana Sideng Rana berbicara lebih dulu. “Pertempuran di benteng air, kami memperoleh sumber daya dalam jumlah besar. Seperti yang telang Yang Mulia instruksikan, saya akan membuat laporan. Ada 728 emas, 57 perak, dan 49 tembaga, 12 cetak biru, gulungan khusus wilayah, 4 token perubahan profesi (pejabat pemerintah) dan panduan teknologi manufaktur armor krewaja. Sedangkan bahan dan peralatan, tidak termasuk dalam cakupan laporan sebelumnya.”
Mengenai materi ini, Heru Cokro sudah memiliki rencananya. Dia mengambil 700 Emas dan memberikan sisanya kepada Biro Finansial untuk meringankan beban keuangan mereka. 12 cetak biru selain bengkel estafet, apotek, dan alkimia, yang tidak dapat digunakan di tingkat desa dasar, dijual ke pasar menengah. Dikurangi 20% atas biaya transaksi, dia masih mendapatkan 40 emas.
Adapun item khusus, dia langsung menggunakan gulungan khusus wilayah dan menyerahkan panduannya kepada pembuat senjata.
[Gulungan khusus wilayah]: Setelah digunakan\, kecepatan pelatihan keterampilan warga yang bakatnya berspesialisasi produksi meningkat sebesar 5%.
[Panduan teknologi manufaktur armor krewaja]: Setelah digunakan\, akan mendapatkan pengetahuan tentang pembuatan armor krewaja.
__ADS_1
Armor krewaja adalah zirah besi tanpa lengan yang digunakan oleh kaum elit militer dari zaman Kerajaan Demak hingga Kerajaan Mataram Islam.
Terakhir adalah token perubahan profesi, secara khusus diperuntukkan untuk menjadi pejabat pemerintah. Heru Cokro memandang ke arah 3 direktur biro. “Perihal empat token perubahan profesi pejabat pemerintah, masing-masing dari kalian harus merekomendasikan seseorang untuk menggunakannya. Sedangkan token terakhir akan kita putuskan nanti.”