
Pada waktu yang bersamaan, Heru Cokro mengaktifkan token mesias yang memiliki aura magis sang juru selamat. Token ini sendiri memiliki fungsi untuk orang lain percaya tehadap perkataan dan perbuatan penggunanya.
Token mesias didapatkan dari Candi Brobudur pada bulan Mei. Akhirnya token ini bisa digunakan dengan maksimal. Karena jika tanpa token ini, Heru Cokro tidak akan dengan bodohnya memilih Fraksi Magada.
Prabu Wrehadrata adalah putra sulung Prabu Wasupati, yang merupakan raja Wirata terdahulu. Ketika Prabu Wasupati mendapatkan petunjuk dari dewata bahwa Raden Wrehadrata akan menurunkan raja angkara murka yang ingin menguasai dunia.
Raden Wrehadrata yang mendengarnya merasa prihatin dan menyerahkan jabatannya sebagai putra mahkota kepada sang adik, yaitu Raden Durgandana. Kemudian Raden Wrehadrata keluar dari wilayah Kerajaan Wirata untuk selamanya agar ramalan dewata tersebut tidak pernah terjadi.
Prabu Wasupati yang melihatnya, terharu akan ketulusan putra sulungnya itu, dan sebagai apresiasinya, dia memberikan Hutan Magada di kaki Gunung Cetiyaka kepada Raden Wrehadrata untuk direklamasi menjadi kerajaan baru.
Dari sini, Raden Wrehadrata membuka Hutan Magada menjadi sebuah negeri baru bernama Kerajaan Magada, dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja di sana dengan gelar Prabu Wrehadrata.
Prabu Wrehadrata memiliki dua orang istri yang bernama Dewi Wikasi dan Dewi Warnasi. Keduanya bersedih karena dalam waktu yang lama belum juga memiliki putra. Lalu, Prabu Wrehadrata bertapa di sanggar pemujaan selama berbulan-bulan agar bisa memiliki keturunan.
Lantas, pada suatu hari Batara Narada turun dari kahyangan dan menyerahkan sebutir buah Mangga Pertanggajiwa sebagai sarana untuknya mendapatkan putra. Karena rasa keadilannya, Prabu Wrehadrata pun membelah mangga tersebut menjadi dua, untuk diberikan kepada Dewi Wikasi dan Dewi Warnasi.
Setelah itu, Prabu Wrehadrata pun berhubungan badan dengan kedua istrinya, hingga keduanya sama-sama mengandung. Sungguh ajaib, setelah sembilan bulan berlalu, kedua istri tersebut melahirkan bayi laki-laki yang hanya setengah badan. Dewi Wikasi melahirkan potongan kiri, sedangkan Dewi Warnasi melahirkan potongan sebelah kanan. Keduanya pun menjerit ngeri ketakutan melihat apa yang telah mereka lahirkan sendiri.
Prabu Wrehadrata merasa sangat sedih, dan membuang dua potongan bayi tersebut ke hutan. Kedua potongan bayi itulah yang kemudian dipungut oleh Nyai Jara dan disatukan menjadi bayi laki-laki utuh, bernama Jaka Slewah.
Otak Prabu Wrehadrata membeku, "Apakah ini suatu keharusan?"
“Ya, benar,” Heru Cokro berkata dengan penuh percaya diri.
Prabu Wrehadrata yang terpengaruh oleh token mesias berkata, “Baiklah, aku berjanji padamu. Tapi, jika rencanamu tidak berjalan seperti yang kamu katakan, kamu tahu konsekuensi apa yang akan menimpamu,” raja kerajaan tidak akan pernah bisa diprovokasi. Bagaimanapun juga, token mesias tidak memiliki efek mutlak untuk memaksa orang mempercayainya secara membabi buta. Ini bergantung pada tingkat kesadaran pihak lain dan statistik penggunanya. Jika bukan karena statistik dan gelar Heru Cokro yang tinggi, mungkin token ini tidak akan dapat mempengaruhi kesadaran Prabu Wrehadrata.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan raja, Heru Cokro merinci rencananya.
“Memenangkan perang tidak lebih dari memperkuat diri kita sendiri sambil melemahkan musuh.”
"Bisakah kamu menjelaskannya?"
“Seperti yang dikatakan Patih Jayakalana, sebagian besar rakyat tidak memiliki kemampuan untuk memegang senjata. Oleh karena itu, raja dapat memilih 100 ribu rakyat terbaik dan berikan mereka makanan. Lengkapi mereka dengan busur dan berikan beberapa pelatihan kecil. Dengan cara ini, mereka akan menjadi pasukan baru. Sementara kereta perang adalah kekuatan terbesar Guagra, kita dapat meminta 600 ribu sisanya untuk menggali parit dalam dan besar di sekitar medan perang untuk melawannya.”
Heru Cokro menggambarkan strategi elit yang biasa digunakan dalam masyarakat modern. Daripada mengirim 700 ribu rakyat ke medan perang dan menjadikan umpan, mengapa tidak memanfaatkan tenaga dan sedikit menggunakan otak? Selain itu, busur panah adalah senjata yang paling mudah untuk dipahami, jadi hanya membutuhkan dua hingga tiga hari.
Prabu Wrehadrata gemetar. Kegembiraan memenuhi wajahnya, tetapi dengan cepat memudar. Dia mengerutkan kening, "Ini telah direncanakan dengan baik, tetapi kerajaan tidak memiliki stok busur yang begitu besar."
Heru Cokro tersenyum, "Apakah ada busur silang?"
“Bagian tersulit dalam membuat busur silang adalah bagian yang berisi mekanismenya. Aku bisa memecahkan masalah ini untuk raja. Raja hanya perlu mengumpulkan pengrajin di kota untuk membuat badan panah sebanyak mungkin dan merakitnya bersama dengan mekanisme busur silang. Dari sini, kita dapat memproduksi 100 ribu busur.”
"Bagus! Jika kami memenangkan perang ini, kamu akan menjadi pahlawan Magada, dan aku akan memberimu banyak hadiah.”
Heru Cokro senang di dalam hatinya, dan dia dengan cepat berkata, "Jika pertempuran dimenangkan, aku hanya menginginkan seorang pria."
"Oh? Siapa ini?" Prabu Wrehadrata penasaran ingin tahu.
Heru Cokro berbalik dan menatap Jayakalana. Dia tersenyum dan berkata, “Patih Jayakalana.”
Bahkan sebelum Prabu Wrehadrata dapat menjawab, Jayakalana telah memberikan jawaban, "Jika kamu dapat mengalahkan pasukan Guagra, aku akan mengikutimu."
__ADS_1
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra karena telah menerima misi penaklukan untuk tokoh historis golongan VII, Jayakalana. Tugas misi: Bantu Kerajaan Magada dan kalahkan tentara raksasa Guagra. Batas waktu misi: Sebelum akhir Kangsa Takon Bapa.”
Heru Cokro sangat gembira, "Kalau begitu, aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan."
*****
Heru Cokro mengikuti punggung Jayakalana, dan mereka berjalan keluar istana menuju bengkel senjata di Kota Giribajra.
Setelah mereka sampai di bengkel, Heru Cokro melepas 100 ribu bagian mekanisme panah. Divisi Panah dan Busur silang membuat semua bagian ini. Sekarang, mereka semua akhirnya berguna. Heru Cokro benar-benar telah menghabiskan banyak uang dan sumber daya untuk memenangkan perang ini.
100 ribu potongan mekanisme panah ini berharga 10 ribu koin emas. Untungnya, wilayah itu menggali sendiri bijih besi, dan upah para pekerjanya tetap. Kalau tidak, Heru Cokro harus menghabiskan lebih banyak lagi.
Kerajaan Magada akan merakit busur, sementara Jayakalana akan bertanggung jawab atas 100 ribu pasukan. Heru Cokro dibebaskan dari dua tugas yang dia sarankan.
Heru Cokro perlu mengumpulkan para pemain dan menyatukan mereka semua sekarang. Dia tidak berharap bahwa mereka dapat memenangkan pertempuran hanya dengan 100 ribu busur silang, karena akan membutuhkan lebih dari itu. Hanya koordinasi antara pasukan garda depan dan kedua sayap yang dapat membantu mereka memenangkan perang ini.
Sudah jam 5 sore ketika Heru Cokro kembali ke kamp militer. Kamp militer sebesar itu masih tampak sedikit kecil ketika dipadati oleh 42 ribu orang yang terdiri dari pasukan para pemain.
Dibandingkan dengan Perang Pamuksa, jauh lebih mudah ketika Hesty Purwadinata dan Maria Bhakti merekrut pemain penguasa lainnya. Para penguasa tahu bahwa di faksi Kerajaan Magada, lebih dari 15% pasukannya adalah milik Aliansi Jawa Dwipa, dan mereka juga pasukan elit. Oleh karena itu, jika mereka ingin mendapatkan poin kontribusi pertempuran dalam jumlah yang layak, bergabung dengan Aliansi Jawa Dwipa akan menjadi pilihan terbaik. Karena jika bertindak sendirian hanya akan membuat diri mereka menjadi umpan meriam.
Selain beberapa pemain keras kepala, kebanyakan dari mereka bersedia menerima persyaratan Aliansi Jawa Dwipa.
Pengaturan Heru Cokro masih sama. Gajayana adalah jenderal kavaleri utama dan Danang Sutawijaya serta Wirama adalah tangan kanannya, Jenderal Giri adalah komandan infanteri perisai pedang, dan Gayatri Rajapatni adalah jenderal pemanah.
Keesokan harinya, reorganisasi resmi pasukan dimulai.
__ADS_1