Metaverse World

Metaverse World
Pengembangan Budidaya Binatang


__ADS_3

Keesokan paginya, Heru Cokro pertama kali mengunjungi kamp tentara. Peperangan dengan batalion raider kali ini, memiliki banyak kerugian, tetapi tentu saja bukan tanpa keuntungan. Banyak sekali peralatan dan senjata yang didapatkan, sehingga dapat memastikan bahwa peleton kavaleri memiliki cadangan peralatan yang cukup.


Yang lebih penting adalah bahwa setelah pertempuran, sebagian besar dari 50 veteran telah dipromosikan ke pangkat koptu. Sedangkan lima komandan regu tentara, seperti Andika dan Dudung, dipromosikan menjadi pangkat letda.


Secara instan, rekrutan baru juga dipromosikan ke pangkat praka. kecuali individu yang luar biasa, itu langsung dipromosikan menjadi kopda dalam satu gerakan. Maka rekrutan baru yang luar biasa ini secara alami ditetapkan sebagai komandan regu oleh Jendral Giri. sehingga setelah pertempuran ini, semua tujuh komandan regu yang kosong sebelumnya telah terisi.


Di antara ketujuh komandan regu, dua dari mereka sangat istimewa. Jendral Giri memperkenalkan mereka kepada Heru Cokro. Satu di sebut sebagai Agus Subianto yang berumur 23 tahun, ditunjuk sebagai komandan regu kedua dari peleton kavaleri kedua. Sedangkan lainnya disebut Agus Fadjari yang berumur 25 tahun, ditunjuk sebagai komandan regu ketiga dari peleton kavaleri kedua.


Ketika Heru Cokro telah kembali ke kediaman penguasa, Witana Sideng Rana telah menunggunya di kantor. Heru Cokro pertama-tama menuangkan secangkir teh untuk dirinya dan Witana Sideng Rana, berkata sambil tersenyum: “Tuan, apa yang anda perlukan?”


Witana Sideng Rana tanpa ekspresi, mengatakan: “Yang Mulia, kemarin saya memeriksa peternakan teritori. Sekarang, wilayah hanya memiliki sapi liar dan kerbau.”


“Itu benar, saya tidak tahu apa yang anda maksudkan?”


“Pada kenyataannya, kecuali untuk peternak berukuran besar seperti peternakan sapi , kuda, dan domba. Peternakan unggas yang berskala kecil seperti ayam, bebek, dan angsa juga dapat diternakkan. Saya tidak tahu apa pendapat Yang Mulia terkait hal ini?” Kata Witana Sideng Rana.


Heru Cokro menepuk-nepuk kepalanya dengan keras, dengan wajah frustrasi. “Oh, saya benar-benar melupakannya. Saya terlalu fokus berpikir tentang bagaimana menjinakkan hewan-hewan dari alam, hingga mengabaikan peternakan unggas ini. Sekarang anda telah mengingatkannya, atau itu akan menjadi dosa besar bagi saya. Apakah anda pikir unggas jenis ini dapat dibudidayakan oleh teritori dalam skala besar? Atau didistribusikan secara langsung ke setiap rumah tangga?”


“Pada akhirnya, wilayah masih merupakan lingkaran yang relatif tertutup. Jika dibudidayakan dalam skala besar, sulit untuk menemukan pasar, selain itu akan berpengaruh pada harga jual yang tidak tinggi. Menurut saya, lebih baik didistribusikan langsung ke setiap rumah tangga dan dibudidayakan secara bebas oleh penduduk Jawa Dwipa. Hal ini juga bagus untuk memperkaya meja makan penduduk, serta meningkatkan kesejahteraan para warga.” Witana Sideng Rana berkata dengan tenang.


Witana Sideng Rana tidak tanpa pengalaman, hanya dengan mengambil alih Biro Cadangan Material, dia dapat memeriksa potongan puzzle yang hilang dan mengambil inisiatif untuk memberikan solusi. Sehingga dengan adanya Witana Sideng Rana dalam Biro Cadangan Material, Heru Cokro dapat sepenuhnya merasa santai.


“Ya, itu akan dilakukan sesuai dengan pendapatmu. Maka sekarang ikutlah denganku ke pasar. Aku akan pergi membeli ayam, bebek, angsa dan berbagai telur lainnya, sehingga Biro Cadangan Material dapat menjualnya di toko makanan.” Jawab Heru Cokro.

__ADS_1


Witana Sideng Rana mengangguk dan keluar bersama Heru Cokro.


Heru Cokro yang belanja di pasar, menghabiskan 19 koin emas. Dia membeli satu telur ayam yang memiliki harga 3 koin tembaga, 4 koin tembaga untuk membeli telur bebek dan 5 koin tembaga untuk membeli telur angsa. Secara jumlah, Heru Cokro membeli 20.000 telur ayam, 20.000 telur bebek, dan 10.000 telur angsa dalam satu gerakan.


Kemudian memberikan instruksi kepada staf Biro Cadangan Material untuk memberi tahu mereka bahwa harga semua jenis telur, akan di jual dengan setengah harga dari harga beli kepada penduduk Jawa Dwipa. Selanjutnya, Heru Cokro mengingatkan staf Biro Cadangan Material, tentang larangan menaikkan harga secara pribadi.


Kembali ke kediaman penguasa, Heru Cokro tidak pergi ke mana pun, dan berkonsentrasi membaca di kantornya.


Renata berkata dari luar: “Yang Mulia, ada seorang pria bernama Paijo Caleb Hanan yang ingin bertemu dengan anda!”


“Paijo Caleb Hanan?” Heru Cokro bingung.


“Ya, dia adalah tukang batu, dia mengatakan bahwa memiliki perjanjian dengan Yang Mulia sebelumnya.”


“Aku tahu, persilahkan dia masuk!” Heru Cokro memberi tahu Renata.


“Oke!”


Dalam waktu singkat, Paijo Caleb Hanan mengikuti Renata memasuki kantor, dengan hormat berkata: “Paijo Caleb Hanan, menyapa Yang Mulia!”


Heru Cokro mengangguk, tersenyum dan berkata: “Niat anda kemari, saya sudah mengetahuinya. Maka biarkan saya bertanya tentang kapan resepsi atau upacara pernikahan akan diadakan?”


“Saya akan mengadakan pernikahan besok malam,” kata Paijo Caleb Hanan dengan hati-hati.

__ADS_1


“Baiklah, besok malam, aku akan pergi secepat yang aku bisa. Sedangkan biaya upacara pernikahan, biarkan saya membayar semuanya sesuai dengan janji yang telah saya sebutkan sebelumnya. Ini kabar yang sangat menggembirakan!”


Ketika dia mendengar Heru Cokro berjanji, Paijo Caleb Hanan dengan senang hati, berkata: “Terima kasih banyak Yang Mulia! Terima kasih atas rahmat Yang Mulia!”


Heru Cokro mengayunkan tangannya, mengambil buku dan melanjutkan bacaannya. Melihat ini, Renata dan Paijo Caleb Hanan pamit undur diri untuk meninggalkan kantor.


Pada malam hari, Ghozi yang merupakan kepala dari Divisi Intelijen Militer membawa kabar baik.


“Yang Mulia, Divisi Intelijen Militer akhirnya menemukan bibit murbei dan bibit pohon siwalan di luar teritori.” Ghozi berjalan ke kantor, buru-buru berkata.


Heru Cokro sangat gembira dan berkata: “Ya, akhirnya ada hasilnya juga. Ini adalah syarat untuk mempromosikan teritori ke tingkat Dusun. Jika anda masih tidak menemukan, saya akan menekan Divisi Intelijen Militer. Selain itu, dengan ditemukannya pohon siwalan, indeks ekonomi teritori akan membawa lompatan lain.”


Ghozi tersenyum, “Yang Mulia, ada kabar yang lebih baik daripada ini. Ketika kami dalam penyelidikan, di dekat bibit pohon murbai, kami menemukan jejak kambing liar. Pada saat yang sama, Jendral Giri telah memberikan perintah kepada peleton kavaleri untuk menginap semalam, agar tidak kehilangan kambing liar lagi.”


“Oh, hal-hal baik datang bertubi-tubi. Untuk bibit pohon murbai dan bibit pohon siwalan, cepat serahkan mereka kepada Divisi Pertanian!” Heru Cokro tersenyum, memerintahkan.


Sedangkan untuk aksi malam peleton kavaleri, Heru Cokro tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena Divisi Intelijen Militer telah melakukan penyelidikan secara menyeluruh di area sekitar teritori. Kecuali batalion raider yang telah dimusnahkan sebelumnya, tidak ditemukan ancaman lain.


Pada pukul 10 pagi, tanggal 13 Februari. Peleton kavaleri kembali dengan muatan penuh. Ratusan Kavaleri, menggiring 50 ekor kambing liar dan membawanya kembali ke Jawa Dwipa.


Melihat kambing liar ini, Buminegoro merasa cemas. Bagaimana tidak cemas, dia adalah Direktur Divisi Konstruksi yang bertanggung jawab atas konstruksi bangunan. Sekarang Divisi Konstruksi telah sibuk dengan pembangunan pagar, jika ditambahkan dengan beban membangun kandang peternakan kambing liar. Buminegoro merasa pusing harus mencari kemana lagi tenaga kerjanya. Karena tidak mungkin pembangunan pagar ini di tunda.


Kambing liar merupakan hewan yang relatif jinak, tidak tersebar ke mana-mana dan secara alami berkumpul bersama. Melihat peristiwa ini, Puspita Wardani membawa pakan ternak dari gudang dan memberi makan semua kambing liar. Untungnya, sejak domestikasi kerbau di mulia, Divisi Komoditas telah secara sadar memesan sejumlah besar pakan, sehingga pemberian makanan kepada kambing dapat tercukupi.

__ADS_1


__ADS_2