Metaverse World

Metaverse World
Enam Ritual Upacara Pernikahan


__ADS_3

Sedangkan ritual pernikahan terdiri dari enam prosedur yang di mulai dari ritual pernikahan. Pada momen ini, kedua pengantin akan berhadapan dengan penghulu, orang tua, wali, dan tamu undangan untuk mengucapkan sumpah serta janji pernikahan.


Ritual kedua adalah upacara panggih, kedua pengantin dapat dianggap telah menikah secara resmi. Selain itu, upacara panggih terdiri dari beberapa ritual yang diantaranya adalah (Balangan gantal); kedua pasangan akan saling melemparkan gantal dengan sirih yang diikat benang putih. Mempelai pria melemparkan gantal, mengenai dada mempelai wanita sebagai simbol bahwa dia telah menaklukan hati sang pasangan. Lalu mempelai wanita melemparkan gantal, mengenai lutut mempelai pria sebagai simbol bahwa ia akan berbakti kepada sang suami. Selain itu, Kedua pengantin akan mengenakan pakaian berwarna putih sebagai lambang kesucian.


(Injak telur); merupakan prosesi dimana mempelai pria menginjak telur mentah, lalu mempelai wanita membersihkan kaki mempelai pria dalam posisi berlutut. Ini mengartikan kesopanan seorang istri kepada suaminya. Setelah itu, mempelai pria membantu mempelai wanita berdiri, yang memiliki makna penghargaan terhadap istri.


(Sinduran); mengenakan kain sindur kepada kedua pengantin yang akan berjalan menuju pelaminan sambil bergandengan tangan. Kain sindur yang digunakan biasanya berwarna putih dan terdapat renda merah di dalamnya. Kedua warna ini melambangkan keberanian dan gairah dalam bahtera rumah tangga.


(Bobot timbang); ketika sampai di kursi pelaminan, kedua mempelai akan diarahkan untuk duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita. Lalu sang ibu naik ke atas panggung untuk bertanya siapa yang lebih berat di antara kedua pasangan tersebut. Lantas, sang ayah akan menjawab bahwa keduanya sama saja. Dialog ini menandakan bahwa tidak ada perbedaan kasih sayang kepada kedua pengantin.


(Minum air degan); Air degan disimbolkan sebagai air suci dan air kehidupan. Air degan yang diminum bersumber dari satu gelas, untuk seluruh keluarga. Sang ayah dari pengantin wanita akan menjadi yang pertama meminum air tersebut, kemudian diteruskan kepada sang ibu hingga di minum kedua pengantin.


(Kacar kucur); dimana pengantin pria menjatuhkan banyak uang receh dan banyak biji-bijian kepada pengantin wanita, ini sebagai tanda bahwa mempelai pria akan bertanggung jawab atas nafkah keluarganya, serta menjadi tanggung jawab mempelai istri untuk mengelolanya.


(Dulangan); kedua mempelai saling menyuapi sebanyak tiga kali. Prosesi ini diharapkan agar kedua pasangan bisa senantiasa saling rukun, pengertian, dan tolong-menolong dalam menjalani bahtera rumah tangga.


Selanjutnya adalah ritual ketiga, yaitu bubak kawah. Bubak kawah ini hanya dilakukan pada saat mantu pertama, menunjukkan rasa syukur orang tua atas pernikahan anak pertamanya.


Ritual keempat adalah tumplek punjen, dimana keluarga akan mengadakan prosesi tersebut, ketika seluruh anaknya sudah menikah, sehingga tidak akan bermenantu lagi. Tumplek punjen bisa diartikan sebagai melepas darma orang tua kepada anak.

__ADS_1


Ritual kelima adalah sungkeman, dimana kedua mempelai berlutut di hadapan orang tua dari kedua belah pihak, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas jasa orang tua yang telah membesarkan mereka hingga menikah.


Sedangkan ritual terakhir adalah kirab pengantin, dimana pengantin pria maupun wanita meninggalkan panggung pelaminan untuk berganti pakaian.


Karena sebagian besar penduduk Jawa Dwipa tidak memiliki orang tua, kerabat dan teman. Maka, seluruh upacara pernikahan dirancang relatif sederhana dan tidak secara ketat mengikuti sembilan proses hajatan serta enam ritual upacara pernikahan.


Untungnya, Biro Cadangan Material telah diperintahkan Heru Cokro. Kemarin sore, mereka telah mengirim kain sutra merah, beras, buah dan item lain yang dibutuhkan dalam acara resepsi pernikahan. Sehingga dapat memeriahkan suasana.


Ketika Heru Cokro bergegas ke Kuil Anala, Paijo Caleb Hanan telah menunggunya di depan gerbang.


Melihat kedatangan Heru Cokro, dia bergegas menyapa dan berkata dengan datar: “Yang Mulia datang ke sini, itu kehormatan yang tidak mungkin bisa saya balas.”


Kali ini, Heru Cokro tidak datang bersama para pejabat inti Jawa Dwipa. Bahkan gadis kecil Laxmi, berteriak-teriak untuk ikut bersenang-senang, namun tidak disetujui Heru Cokro. Maka, hanya dia dan Wiji yang datang menemui pengantin pria ini.


Paijo Caleb Hanan secara pribadi memimpin Heru Cokro dan datang ke halaman untuk duduk. Wiji yang pintar membaca situasi, tidak mengikuti mereka, melainkan mengambil inisiatif untuk berlari ke tempat lain untuk mencari tempat duduk.


Melihat Heru Cokro, langkah pertama Buminegoro adalah dengan cepat bangkit dan menyapa. Paijo Caleb Hanan adalah pekerja yang berada di bawah yurisdiksi Divisi Konstruksi. sehingga dia mengundang Direktur Divisi Konstruksi untuk menghadiri pernikahan.


Sebelum datang, Buminegoro tidak mengharapkan bahwa Yang Mulia akan datang ke acara resepsi pernikahan. Jadi dia sangat terkejut. Dalam hati berkata: “ini pilihan yang benar. Karena ketika Yang Mulia melihat dirinya peduli dengan bawahan mereka, mungkin dapat meningkat prestisenya.”

__ADS_1


Hal yang sama juga berlaku untuk Heru Cokro, dalam hati berkata: “untungnya ada teman lain yang dapat di ajak mengobrol. Jadi tidak terlalu membosankan.”


Kemudian, Paijo Caleb Hanan memimpin Dewi Gendhis yang merupakan pengantin wanitanya untuk datang dan menyapa Heru Cokro. Heru Cokro mengucapkan beberapa kata keberuntungan dan mendoakan mereka para mempelai agar pengantin wanita segera kembali. Karena dia tahu bahwa pengantin wanita di zaman kuno tidak boleh keluar menyambut para tamu. Dia datang hanya untuk menunnjukkan kehormatan atas kedatangan penguasanya.


Setelah pembukaan, Heru Cokro secara simbolis memakan sesuatu, bangkit dan pergi. Dia juga tahu bahwa jika dia ada di sana terlalu lama, para tamu lain tidak akan berani membuat keributan. Maka lebih baik baginya untuk pergi lebih awal dan meninggalkan mereka dengan sukacita.


Pagi hari berikutnya, Divisi Nelayan mulai mengatur penjualan garam dan ikan.


Sepersepuluh garam dan ikan diangkut dari Gudang Garam ke dermaga dengan 20 kapal nelayan. Penduduk meletakkan pekerjaan mereka dan membantu memindahkan garam laut dari dermaga ke alun-alun pasar.


Setelah lebih dari sebulan, Gudang Garam telah menghasilkan 240.000 unit garam. Jumlah garam ini sangat besar sehingga butuh waktu lama untuk memindahkannya. Apalagi, masih ada ikan yang dihasilkan dari penakaran ikan yang memiliki jumlah setengah dari total garam.


Akhirnya, ketika jam 5 sore, semua garam dan ikan telah selesai dikirim ke pasar.


Harga garam per unit adalah 20 koin tembaga, jika dikalikan dengan 240.000 unit garam, maka menghasilkan 480 koin emas. Kemudian dikurangi 20% atas pajak transaksi, pendapatan bersihnya adalah 384 koin emas.


Sedangkan harga ikan per unitnya adalah 40 koin tembaga, maka jika dikalikan dengan 120.000 unit ikan, menghasilkan 480 koin emas. Kemudian dikurangi 20% atas pajak transaksi, pendapatan bersihnya adalah 384 koin emas. Sehingga total pendapatan bersih atas penjualan ikan dan garam adalah 768 koin emas.


Ditambah dengan penyimpanan sebelumnya, maka Heru Cokro sekarang memiliki 894 koin emas dalam tas penyimpanannya. Uang ini, dia tidak rela untuk menggunakan terlalu banyak. Karena satu setengah bulan kemudian, sistem akan mengadakan pelelangan perdananya. Maka dana harus diakumulasikan mulai sekarang.

__ADS_1


Hasil garam dan ikan berikutnya, Heru Cokro akan menjualnya lagi pada akhir Maret.


__ADS_2