Metaverse World

Metaverse World
Pemotongan Pita Bank Nusantara


__ADS_3

Setelah upacara pembukaan tersebut, Heru Cokro mengendarai Tetsu untuk pergi mengunjungi bengkel tembikar yang berada di luar desa.


Bengkel tembikar menjadi tanggung jawab Gundi Yumnan, yang terletak di sudut barat daya teritori. Alasan mengapa bangunan tersebut terletak di sini adalah karena tembikar tanah liat di sana memiliki kualitas tinggi. Tanah liat merahnya cukup lunak dan keras. Sehingga produk akhir tidak akan mudah retak dan dapat bertahan lama, sangat cocok untuk memproduksi tembikar.


Gundi Yumnan menguleni tanah liat dengan tiga magang barunya. Ketika dia melihat Heru Cokro, dia menghentikan pekerjaannya dan menyapa. Heru Cokro berbicara dengan Gundi Yumnan selama kurang lebih satu jam lamanya, mendiskusikan rencana untuk masa depan bengkel tembikar, serta memberikan perhatian atas kondisi kehidupan mereka dan perhatian atas mata pencaharian mereka setelah privatisasi.


Heru Cokro kembali ke kediaman penguasa pada jam empat sore, dia membaca buku, kemudian offline.


Hari ini Dia Ayu Heryamin akan pergi ke lokasi praktik kerja lapangan, maka Heru Cokro membuat persiapan untuk mengantarnya. Sehingga dia keluar dari permainan lebih awal daripada biasanya. Setelah dia keluar dari kapsul metaland, Heru Cokro berlari beberapa putaran di lingkungan seperti biasa, serta membeli makanan dan minuman.


Ketika Heru Cokro sampai di rumah, ternyata dua bersaudara ini telah bangun. Rama Heryamin yang mengetahui kakaknya akan pergi hari ini, matanya memerah.


Setelah sarapan, Dia Ayu Heryamin pergi ke stasiun, di antar oleh Heru Cokro dan Rama Heryamin. Ketika kembali dari stasiun, Rama Heryamin masih merasa sedih. Maka Heru Cokro hanya bisa mencoba menghibur dan menenangkannya.


Sampai jam 10 malam, Heru Cokro menemani Rama Heryamin hingga tertidur pulas dan bergegas memainkan The Metaverse World.


Berdasarkan rencana sebelumnya, hari ini Jendral Giri akan mengerahkan peleton kavaleri untuk memusnahkan batalion raider.


Ketika Heru Cokro duduk, Siti Fatimah datang ke kantornya, tersenyum dan berkata: “Kakak, Bank Nusantara telah siap dioperasikan. Upacara pembukaan akan diadakan pagi ini, apakah anda tidak ingin menghadirinya?”

__ADS_1


“Ini sangat cepat, tentu aku harus menghadirinya.” Jawab Heru Cokro dengan heran. Lanjut bertanya: “Terkait persyaratan pinjaman khusus, bagaimana Divisi Finansial menyusunnya?”


Siti Fatimah menatap Heru Cokro dengan mata yang tajam, berkata dengan napas lega: “Berdasarkan pada ide anda, suku bunga utamanya adalah pinjaman berbunga rendah. Maka suku bunga bulanan dicatat pada suku bunga majemuk 2 %, yang terbatas hanya pada pembelian real estat.”


Heru Cokro mengangguk. “Layanan pinjaman untuk privatisasi hanya bagian kecil dari fungsi Bank Nusantara. Sedangkan yang lebih penting adalah memberikan pinjaman bisnis kepada pemilik usaha. Bagaimana Divisi Finansial mempertimbangkan hal ini?”


“Perihal pinjaman bisnis, tingkat bunga bulanan dicatat pada suku bunga majemuk 3%. Sedangkan jumlah pinjaman akan ditentukan berdasarkan pada nilai aset dan jumlah kredit dari kreditur tersebut. Seperti bengkel kayu yang akan menandatangani perjanjian kerjasama dengan Divisi Cadangan Material, maka Divisi Cadangan Material berfungsi sebagai penjamin. Dari sini, Bank Nusantara dapat memberikan sejumlah besar pinjaman. “Siti Fatimah menjawab dengan sederhana dan rapi.


“Bagaimana cara kreditur memberikan setoran kepada Bank Nusantara?” Heru Cokro kemudian bertanya.


“Berdasarkan pada praktik konvensional, Bank Nusantara telah membuat sistem tabungan. Kemudian untuk setoran dengan jumlah besar, akan dikenakan biaya penyimpanan tertentu. Namun, untuk revitalisasi stok dana Bank Nusantara, itu masih bergantung pada kebijakan ekonomi yang akan kakak putuskan. Divisi Finansial telah menetapkan bahwa tingkat bunga bulanan dicatat pada bunga tunggal satu persen, untuk deposito.”


“Ini hanya tiga hari. Memang tidak salah memberikan Divisi Finansial kepada Fatimah!” kata Heru Cokro dengan rasa terima kasih.


Dia cukup banyak memberi tekanan pada Siti Fatimah yang menjabat sebagai Direktur Divisi Finansial dan pejabat inti Bank Nusantara. Sejujurnya, Heru Cokro masih memiliki beberapa kekhawatiran sebelumnya. Lagipula, Siti Fatimah tidak memiliki pengalaman dalam manajerial keuangan sebelumnya. Seperti kata pepatah, di bawa ke mana pun, emas selalu berharga.


Mendengar afirmasi Heru Cokro, Siti Fatimah sangat senang, berkata dengan agak malu: “Kakak tidak perlu memberikan saya pujian! Waktunya sudah mepet, mari kita segera pergi ke upacara pembukaan!”


Heru Cokro mengangguk dengan senyuman, bangkit dan berjalan keluar dari kantor bersamanya. Pada saat yang sama Tuan Kawis Guwa beserta pegawai Biro Administrasi juga keluar dari kantornya untuk pergi ke upacara pembukaan Bank Nusantara.

__ADS_1


Maka Heru Cokro menyapa semua orang dan memimpin mereka menuju Bank Nusantara. Padaringan ini terletak di sisi barat alun-alun, persis di sebelah jalan bisnis, kira-kira memiliki jarak hampir seratus meter dari lokasi kediaman penguasa.


Bank Nusantara adalah bangunan kecil kayu satu lantai. Jika dibandingkan dengan toko-toko yang berada di sekitarnya, tidak terlalu menonjol. Aula depan adalah konter untuk melayani penyetoran dan peminjaman. Sedangkan di halaman belakang adalah lemari besi dengan penjagaan ketat. Sebelum upacara pembukaan, Heru Cokro mengikuti Siti Fatimah ke ruang kosong.


Pemain menyimpan koin emas dalam tas penyimpanan. Saat dikeluarkan, koin tersebut dapat dengan bebas beralih ke koin tembaga, koin perak dan koin emas.


Untuk memfasilitasi bisnis padaringan ini, Heru Cokro mengubah 200 koin emas menjadi beberapa jenis koin yang terdiri dari 20 koin emas, 15.000 koin perak dan 30.000.000 koin tembaga. Tiba-tiba, ruang kosong tersebut terisi penuh. Dari sini, Heru Cokro menjadi miskin kembali, karena hanya ada 3 koin emas yang tersisa dalam tas penyimpanan.


Jika perilaku Heru Cokro ini diketahui oleh pemain papan atas lainnya, mungkin mereka akan memuntahkan darah. Karena sebagian besar dari mereka belum pernah melihat koin emas sampai hari ini. Selain itu, pada tahap ini masih didominasi oleh koin perak.


Kembali ke ruang depan, upacara pembukaan telah siap dilaksanakan. Pada pintu masuk utama Bank Nusantara, ditutup dengan pita merah. Ketika waktunya tiba, Heru Cokro memotong pita sebagai tanda resmi dibukanya Bank Nusantara.


Pada peresmian padaringan ini, penduduk Jawa Dwipa berkumpul bersama menonton acara akbar tersebut. Semua orang tahu bahwa ketika padaringan secara resmi dibuka, mengartikan bahwa privatisasi yang ditunggu-tunggu secara resmi diberlakukan.


Heru Cokro mengeluarkan tiga kupon dari tas penyimpanan yang terdiri dari 100 unit makanan, 20 unit daging, dan 20 koin perak kupon.


Dia mengangkat kupon di tangannya dan berkata dengan keras: “Semua orang harap diam dan dengarkan aku! Ini adalah kupon kesejahteraan dasar yang dibuat oleh Divisi Cadangan Material. Kupon ini dapat dibuat oleh teritori kapan saja. Kupon ini bisa ditukarkan menjadi makanan, daging dan koin melalui padaringan.”


“Silahkan ambil besok pada jam 9 pagi di alun-alun depan kediaman penguasa. Saat itu, Divisi Cadangan Material akan membagikan kupon untuk semua orang. Selain itu, teritori juga telah menyiapkan sepotong kulit dan pakaian linen biasa untuk setiap penduduk Jawa Dwipa.”

__ADS_1


Ini adalah pengungkapan lengkap tentang kesejahteraan dasar warga Jawa Dwipa. Kesejahteraan yang begitu kaya, mungkin saat ini hanya di Indonesia yang bisa menerapkannya. Setelah semua orang mendengarkan perkataan Heru Cokro, mereka bertepuk tangan dan memuji kebaikannya. Banyak penduduk Jawa Dwipa yang sangat emosional sampai bersujud syukur. Bahkan ada beberapa yang berjongkok di depan Heru Cokro sebagai ungkapan terima kasih atas rahmatnya, maka dia segera menghentikannya.


__ADS_2