
Divisi Finansial, yang sekarang menjadi Biro Finansial, telah menyelesaikan laporannya.
Kawis Guwa, angkat bicara: “Biro Administrasi saat ini memegang yurisdiksi atas Divisi Pertanian, Divisi Konstruksi, Gudang Garam dan Peternakan Ikan, serta Kantor Pencatatan Sipil. Untuk memperjelas kewenangan Biro Administrasi, ada usulan penyesuaian perihal kelembagaan, mohon Yang Mulia memperkenankan saya untuk melaporkan.”
"Silahkan!"
“Garam dan ikan adalah sumber daya strategis, dan harus tunduk pada yurisdiksi Biro Cadangan Material. Merupakan suatu kehormatan bagi saya, telah Yang Mulia berikan kepercayaan untuk menangani Gudang Garam dan peternakan ikan. Namun, sekarang merupakan saat yang tepat untuk mengembalikan Gudang Garam dan penakaran ikan ke tempatnya semula. Mohon Yang Mulia dapat menyetujui proposal saya!” Kawis Guwa dengan tenang berkata, seolah-olah dia sedang membuang hal sepele.
Sebagai salah satu divisi kelas berat terpenting di wilayah Jawa Dwipa, yang bertanggung jawab atas jalur kehidupan ekonomi wilayah tersebut, pentingnya Gudang Garam dan Peternakan Ikan tidak perlu dipertanyakan. Kawis Guwa sekarang telah menawarkannya, untuk diserahkan kepada Biro Cadangan Material, yang pada dasarnya memberi mereka tugas terbesar dari Biro Administrasi.
Sehari sebelum Divisi Pertanian diambil dari Biro Cadangan Material, mengambil yurisdiksi pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Apakah konsesi ini bersifat timbal balik? Kapan Kawis Guwa dan Witana Sideng Rana membentuk pemahaman diam-diam seperti itu?
Ini adalah pertanyaan sebagian besar orang yang berada di sini. Heru Cokro tidak percaya bahwa kebenaran akan sesederhana itu.
Sebagai pejabat inti Jawa Dwipa nomor satu, Kawis Guwa menunjukkan ambisi politiknya dengan memilah hubungan antara biro. Ini adalah langkah pertamanya. Karena kedatangan Witana Sideng Rana membuatnya merasa terdesak. Oleh karena itu, ia mengambil inisiatif untuk mempercepat laju penyesuaian kelembagaan.
Untuk kompetisi yang ramah seperti itu, Heru Cokro tentu saja memberikan merespon positif, jadi dia setuju atas proposal tersebut: "Saya menyetujuinya!"
__ADS_1
Kawis Guwa tampaknya yakin bahwa proposalnya akan disetujui oleh Heru Cokro, dan melanjutkan. “Selain itu, dengan pesatnya peningkatan jumlah warga di Jawa Dwipa, pekerjaan Pencatatan Sipil menjadi semakin berat. Oleh karena itu, saya merekomendasikan agar Kantor Pencatatan Sipil dinaikkan statusnya menjadi Divisi Pencatatan Sipil.”
Heru Cokro menjawab tanpa ekspresi, “saya setuju! Selain itu, Biro Administrasi juga yang akan merekomendasikan petugas Divisi Pencatatan Sipil yang baru. Laporkan kandidat yang memenuhi syarat kepada saya. Adapun Direktur Pencatatan Sipil sebelumnya, Notonegoro, akan diberikan pengaturan lain.”
Ini bertentangan dengan harapan Kawis Guwa, membuatnya terkejut. Notonegoro bisa dikatakan sebagai asisten terpenting dalam Biro Administrasi. Maka, ketika mendengarkan keputusan dari Heru Cokro atas pemindahannya dari Biro Administrasi, membuat Kawis Guwa bingung. Karena menemukan seseorang untuk menggantikan Notonegoro akan sangat sulit dilakukan saat ini, apalagi dia akan menjabat sebagai direktur.
Untuk sementara, Kawus Guwa menekan keraguan di dalam hatinya dan melakukan penyesuaian institusional terakhir yang diusulkannya. “Melihat bahwa administrasi teritorial yang terus ditingkatkan dan diperluas, sistem layanan sipil menjadi semakin besar. Apalagi dengan gelombang privatisasi, segala macam godaan akan mengikuti. Maka dari itu, sudah saatnya kita membentuk biro khusus untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap tugas-tugas kepegawaian.”
Heru Cokro mengangguk setuju, ini adalah salah satu masalah besar yang menjadi perhatiannya. Karena setelah privatisasi, dia tidak boleh berpikir optimis dan membabi buta, bahwa semua pejabat pemerintah tetap akan bersih dan taat kepada tugas utamanya. Jika Heru Cokro tidak memiliki pemikiran seperti itu, ini merupakan ketidakdewasaan seorang politisi. Maka, untuk mencegah kesalahan seperti ini, itu harus datang dan mengakar dalam sistemnya. Sehingga dapat menjaga agar pejabat pemerintah tetap bekerja keras dan jujur, atau mengambil risiko hukuman. Itu akan menjadi cara terbaik untuk menanganinya.
“Saya sangat mendukung usulan Tuan Kawis Guwa, dan saya juga sangat setuju untuk mendirikan Divisi Layanan Terpadu. Itu akan bertanggung jawab atas penanganan layanan sipil dan pengawas kinerja pejabah pemerintah. Divisi ini akan berada di bawah yurisdiksi Biro Administrasi.”
Pada titik ini, Kawis Guwa telah memebuat tiga langkah sederhana dalam mewujudkan ambisi politiknya. Divisi Layanan Terpadu yang baru dibentuk merupakan pedang yang menggantung di atas kepala para pejabat pemerintah. Sehingga mereka harus berpikir dua kali jika mau melalaikan tugasnya. Kalau tidak, yang menunggu mereka adalah penurunan pangkat, pemecatan, bahkan sanksi yang lebih berat.
Perihal pengaturan kerja Divisi Layanan Terpadu, tidak cocok untuk dibahas dalam rapat, karena terlalu rumit. Setelah pertemuan tersebut, Heru Cokro secara pribadi akan menemui kepala biro tersebut dan mendiskusikannya secara terpisah.
Setelah Biro Administrasi menyelesaikan laporannya, kini giliran Divisi Cadangan Material yang melaporkan.
__ADS_1
Witana Sideng Rana masih dengan wajah datarnya, berkata dengan tenang: “Hanya ada 1 proposal. Saat ini tersedia 200 kuda yang digunakan untuk memperluas prajurit kavaleri. Menurut saya, ini perlu untuk ditingkatkan lebih lanjut. Maka, sangat perlu untuk mendirikan peternakan kuda, dan menemukan kuda yang tepat untuk membudidayakan kuda yang lebih unggul.”
Proposal Witana Sideng Rana membuat Heru Cokro berpikir dan mengingatkan, bahwa dalam kehidupan sebelumnya telah menemukan tunggangan yang bagus di Gresik, yaitu barong.
Menurut legenda, barong digambarkan dalam berbagai bentuk, kebanyakan digambarkan sebagai makhluk yang memiliki empat kaki dengan kepala singa. Barong juga merupakan pemimpin pasukan di pihak kebaikan, dia bertempur melawan ratu iblis, Rangda. Jadi, barong itu memiliki garis keturunan dewa. Dia dapat berlari seperti angin dan memiliki kekuatan yang sangat kuat. Itu akan menjadi tunggangan yang sangat cocok.
“Ada seekor tunggangan yang sangat luar biasa di dekat Jawa Dwipa. Sejauh yang saya tahu, sebagian besar dari mereka tinggal di pusat Gresik. Namun, anda harus terlebih dulu menyeberangi Sungai Bengawan Solo untuk menemukannya.”
“Namun!” Heru Cokro berhenti sejenak dan melanjutkan perkataannya: “area tengah Gresik telah dihuni oleh sekelompok suku nomaden yang kuat. Pengembara ini semuanya memiliki kekuatan dan keterampilan seperti tentara, serta sangat pandai berkuda dan menembak. Mereka bukan sasaran empuk. Sebelum menangkap barong, anda harus terlebih dulu berurusan dengan mereka.”
Saat ini, Komandan Ghozi dari Divisi Intelijen militer berinisiatif untuk berdiri, dengan lantang berkata: "Yang Mulia, biarkan pasukan dari Divisi Intelijen militer yang bertanggung jawab atas masalah ini!"
Heru Cokro mengangguk, berkata dengan sungguh-sungguh, “Saya setuju dengan keterlibatan Divisi Intelijen Militer. Aku juga punya permintaan. Prioritas utama kalian kali ini adalah mencari tahu area spesifik barong, tidak untuk bentrok dengan pengembara!”
Ghozi mengangguk keras dan berkata: “Perintah di terima! Yang Mulia dapat yakin!
Pada titik ini, rapat ekspansi pertama Jawa Dwipa telah berakhir. Setelah pertemuan berakhir, Heru Cokro bertemu dengan para perwira militer, mempelajari rencana perluasan tentara untuk langkah berikutnya.
__ADS_1