
“Apa yang kalian semua rasakan?” Heru Cokro tidak membuat keputusan sendiri.
“Aku pikir situasi ini semua sukarela. Kedua belah pihak telah memperjelas kamp mana yang kami pilih, tim mana yang mereka dukung, dan masing-masing penguasa akan memiliki pertimbangannya sendiri. Jika mereka mempercayai kami, mereka pasti akan bergabung dengan kamp Kerajaan Dwarawati.” Habibi melihatnya dengan sangat jelas.
"Betul sekali." Genkpocker setuju.
Hesty Purwadinata tidak keberatan. Lagi pula, setiap orang memiliki harga diri dan tidak ingin mengemis kepada orang lain.
Heru Cokro sendiri punya ide dan berseru, “Bagus, kalau begitu sudah beres. Kami akan siap menghadapi segala situasi. Aku ingin melihat seberapa besar pengaruh Aliansi Jawa Dwipa terhadap semua pemain.”
Setelah mengirim pergi anggota Aliansi Jawa Dwipa, Heru Cokro mulai membuat beberapa persiapan terakhir untuk pasukannya.
Pasukan yang dia kirim termasuk Resimen Paspam yang dipimpin oleh Mahesa Boma, resimen ke-2 yang dipimpin oleh Wirama, resimen ke-4 kavaleri lapis baja ringan yang dipimpin oleh Raden Syarifudin, serta kavaleri lapis baja ringan resimen independen yang dipimpin oleh Sakera.
Resimen 1 menjaga Kamp Pamong Kulon, resimen 3 menjaga Kamp Pamong Wetan. Bagaskara memimpin resimen ke-5 untuk menjaga Kamp Pamong Lor, dan 500 kavaleri yang tersisa dari resimen independen menjaga Kamp Pamong Lor.
Tentu saja kedua Jenderal Giri dan Jenderal Jayakalana akan mengikuti mereka ke dalam medan perang. Karena mereka semua kavaleri, mereka semua bisa berkumpul di kamp utama dalam sehari. Sedangkan untuk logistik, Heru Cokro mengambil 200 ribu Pil Ransum Militer yang akan bertahan selama 20 hari. Jika seseorang menghitung tunggangan perang, maka itu akan bertahan 10 hari.
__ADS_1
Heru Cokro ingin membawa lebih banyak, tetapi pertama, tas penyimpanan memiliki ruang terbatas, dan kedua, kecepatan produksi pabrik militer terbatas. 200 ribu pil ini adalah kerja keras selama 1,5 bulan. Oleh karena itu, kecuali Dwarawati tidak memiliki cukup makanan, Heru Cokro tidak akan memanfaatkannya.
Berdasarkan perhitungan satu butir pil militer menjadi 1 tembaga, 200 ribu sama dengan 2.000 emas. Menambahkan 10 ribu emas untuk biaya teleportasi, sebelum pertempuran dimulai, dia sudah menghabiskan 12 ribu. Jika dia tidak mendapatkan apa-apa dari pertempuran ini, dia akan kehilangan banyak.
9 pagi, tanggal 14 November
Notifikasi sistem terdengar tepat waktu.
“Pemberitahuan sistem: Pada zaman kuno, terjadi pertentangan antara bapak dan anak, Samba yang merupakan anak dari Prabu Kresna berselingkuh dengan Dewi Agnyanawati, istri dari Prabu Boma. Prabu Boma yang mengetahuinya tidak terima dan marah. Akibatnya, cinta buta antara Samba dan Dewi Agnyanawati menggiring ke jurang perpecahan antara dua kerajaan, sehingga perang antara Kerajaan Trajutisna dan Kerajaan Dwarawati, tidak bisa dihindari.”
“Pada puncak peperangan, Trajutesna mengirim pasukan besar untuk menyerang Dwarawati yang berkoalisi dengan Mandura. Prabu Boma yang dilalap api kemarahan melihat saudara dan rakyatnya mati, melanggar perjanjian Prabu Kresna agar Prabu Boma tidak menyerang Arjuna, sehingga Prabu Kresna memerintahkan Gatutkaca untuk mengambil Anjang-anjang Kencana. Dari sini, Prabu Boma tewas di tangan ayahnya sendiri Prabu Kresna yang merupakan inkarnasi dari Dewa Wisnu. Ini tanda kemenangan bagi Dwarawati, dan pertempuran bersejarah Perang Gojalisuta, secara resmi dimulai!”
Seperti biasa, dia harus memverifikasi persyaratan untuk bergabung dalam pertempuran, jumlah orang yang bergabung, dan memilih kamp.
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra karena telah mengaktifkan teleportasi pertempuran. Teleportasi 10 ribu orang, dikurangi biaya 10 ribu emas.”
"Pemberitahuan sistem: Memulai teleportasi!"
__ADS_1
Setelah distorsi singkat di luar angkasa, Heru Cokro dan pasukannya muncul di medan perang Gojalisuta.
“Pemberitahuan sistem: Selamat datang kepada pemain Jendra di pangkalan Ibukota Mandura.”
Di Kerajaan Trajutresna, Patih Pancadnyana dihadapkan pada para punggawa raksasa, yaitu Ditya Yayahgriwa, Ditya Ancakogra, Ditya Mahodara, dan Ditya Amisunda. Mereka membicarakan tentang masalah rumah tangga sang Prabu Boma Narakasura. Sejak menikah beberapa bulan yang lalu, Dewi Agnyanawati tidak pernah bersedia melayani Prabu Boma Narakasura. Pernah sekali, Dewi Agnyanawati meminta syarat untuk dimadu dengan Dewi Mustikawati dari Gunung Cakrawala. Prabu Boma Narakasura pun berangkat untuk meminang putri itu, namun kalah bersaing dengan Bambang Wisanggeni putra dari Raden Arjuna.
Prabu Boma kemudian meminta Dewi Agnyanawati agar mengajukan syarat yang lain saja. Dia tidak bersedia jika harus menikah dengan wanita lain karena yang dicintainya hanyalah Dewi Agnyanawati. Dewi Agnyanawati akhirnya mengajukan syarat bahwa akan bersedia melayani Prabu Boma apabila dibuatkan jalan lurus tanpa belok yang menghubungkan Kerajaan Trajutresna dengan Kerajaan Giyantipura. Dewi Agnyanawati sebagai anak tunggal Prabu Krentagnyana mengaku ingin setiap saat bisa mengunjungi ayah dan ibunya secara cepat dan lancar, tanpa ada belokan sama sekali.
Prabu Boma dilema menghadapi syarat ini karena jalan lurus tanpa belokan yang menghubungkan Kerajaan Trajutresna dengan Kerajaan Giyantipura akan melewati Astana Gandamadana, tempat para leluhur Kerajaan Mandura, Dwarawati, Kumbina, dan Lesanpura dicandikan. Kemudian, Prabu Boma pun pergi ke tempat ibunya, Batari Pretiwi untuk meminta saran atas permasalahan ini, dan menitipkan urusan Kerajaan Trajutresna kepada Patih Pancadnyana.
Patih Pancadnyana yakin Batari Pretiwi pasti merestui Prabu Boma untuk menggusur Astana Gandamadana, dengan alasan lebih baik mengorbankan yang sudah mati untuk kepentingan yang masih hidup. Maka, patih itu pun memerintahkan para punggawa untuk memulai pembangunan jalan lurus tersebut.
Karena Patih Pancadnyana sudah mendapatkan mandat untuk menangani urusan Kerajaan Trajutresna, maka dia pun memerintahkan Ditya Yayahgriwa untuk pergi ke Astana Gandamadana, dan berunding dengan Resi Gunadewa agar memindahkan candi para leluhur di sana. Lantas, Ditya Yayahgriwa mohon pamit ditemani Ditya Amisunda dan Ditya Mahodara.
Selanjutnya, Patih Pancadnyana lalu mengajak Ditya Ancakogra untuk memulai persiapan membangun jalan lurus dari Kerajaan Trajutresna menuju Kerajaan Giyantipura.
Singkat cerita, Ditya Yayahgriwa bersama rombongan sudah sampai di Astana Gandamadana. Lalu dia menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk menggusur Astana Gandamadana kepada Resi Gunadewa karena akan dibangun jalan lurus yang menghubungkan antara Kerajaan Trajutresna dan Kerajaan Giyantipura. Resi Gunadewa tidak terima, karena Astana Gandamadana adalah tempat para leluhur seperti Prabu Kuntiboja dan Prabu Basudewa beserta para istri masing-masing dicandikan. Lagipula, Resi Gunadewa hanyalah juru kunci astana, tentu saja dia tidak berani mengabulkan permintaan Ditya Yayahgriwa tanpa seizin Prabu Baladewa, karena Astana Gandamadana bagian dari wilayah Kerajaan Mandura.
__ADS_1
Ditya Yayahgriwa tidak peduli dengan penjelasannya, dan berkata tidak sudi jika harus pulang ke Kerajaan Trajutresna dengan tangan hampa. Maka, dia memaksa Resi Gunadewa untuk menandatangani nota kesepakatan bahwa Astana Gandamadana harus digusur demi pembangunan jalan tersebut.
Akhirnya, Resi Gunadewa di bunuh oleh Ditya Yayahgriwa karena menolak dan berkata “lebih baik mati daripada dipaksa mematuhi kesepakatan ini.”