
Tanggal 1 Maret tahun pertama Wisnu, pukul 09.00. Aula diskusi Jawa Dwipa.
Heru Cokro berada disini untuk menaikkan tingkat wilayahnya. Di tengah-tengah ruang aula diskusi, muncul cahaya warna-warni. Ketika cahaya tersebut mulai menghilang, terlihat jelas batu prasasti emas bangkit dari tanah. Dia meletakkan tangan kanannya di atasnya dan pemberitahuan sistem terdengar.
"Pemberitahuan sistem: Memeriksa persyaratan pemutakhiran Jawa Dwipa ..."
“Persyaratan 1: Populasi mencapai batas atas 2000, persyaratan terpenuhi!”
“Persyaratan 2: Semua struktur bangunan dasar sudah selesai, persyaratan terpenuhi!”
“Persyaratan 3: Penguasa setidaknya adalah Kepala Desa I, persyaratan terpenuhi!”
"Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah memenuhi semua persyaratan promosi Jawa Dwipa. Apakah anda ingin mempromosikannya?"
"Ya!"
Kemudian cahaya keemasan terbang dan meledak di udara, berubah menjadi kilau keemasan yang menyebar ke segala arah, membentang ke sudut wilayah sebelum menghilang.
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah menjadi pemain pertama di Indonesia yang naik dari dusun ke desa dasar, menghadiahkan 1.100 poin prestasi!”
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah menjadi pemain pertama di Indonesia yang naik dari dusun ke desa dasar, menghadiahkan 1.100 poin prestasi!”
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah menjadi pemain pertama di Indonesia yang naik dari dusun ke desa dasar, menghadiahkan 1.100 poin prestasi!”
Hanya lima hari setelah Hartono Brother menjadi dusun, Jawa Dwipa telah menjadi desa dasar. Pemain wilayah Indonesia mulai merasakan bahwa Jendra tidak akan tersentuh.
“Pemberitahuan sistem: Selamat pemain Jendra karena naik ke desa dasar. Kediaman penguasa telah ditingkatkan. Dipilih secara acak 3 bangunan dasar untuk desa dasar, pemain dapat memilih diantara satu bangunan tersebut.”
“Pemberitahuan sistem: Pemilihan acak selesai. Kebun sayur, pabrik tekstil, apotek, silakan pilih!”
“Saya memilih pabrik tekstil!”
“Pemberitahuan sistem: Bangunan dibuat secara otomatis, silahkan pemain untuk melihatnya sendiri.”
Batu prasasti emas perlahan tenggelam kembali ke dalam tanah. Heru Cokro memeriksa statistik Jawa Dwipa.
[Wilayah]: Jawa Dwipa (desa dasar)
[Penguasa]: Jendra (Kepala Desa III)
[Gelar]: Raja Dunia Pertama (meningkatkan popularitas teritori sebesar 20%)
__ADS_1
[Moral]: 90
[Keamanan publik]: 90
[Populasi wilayah]: 2000/5000
[Penyegaran populasi]: 50 * (1 + 60%) = 80 / hari
[Area wilayah]: 500 kilometer persegi
[Properti wilayah]: Daya tarik penghuni wilayah meningkat sebesar 60%\, daya tarik orang dengan talenta spesial dalam wilayah meningkat sebesar 20%\, hasil panen wilayah meningkat sebesar 50%\, kemahiran skil produksi wilayah meningkat sebesar 25%\, peningkatan promosi tentara meningkat sebesar 20%\, keberhasilan terobosan orang dengan talenta dalam wilayah meningkat sebesar 10%.
[Wilayah afiliasi]: Pantura (Tingkat RW)
[Perbendaharaan]: Bank Nusantara
[Sumber daya wilayah]: Penebangan dasar\, tambang batu menengah\, tambang bijih besi dasar
[Tentara wilayah]: Kompi kavaleri\, kompi infanteri\, kompi angkatan laut
[Industri Wilayah]: Gudang Garam (2000 hektar)\, penakaran ikan (2000 hektar)
[Indeks politik]: 45/100 (menentukan efisiensi administrasi dan hubungan dengan rakyat)
[Indeks budaya]: 35/100 (mewakili tingkat perkembangan pendidikan dan kualitas hidup penduduk)
[Militer]: 45/100 (menunjukkan kekuatan dan moral militer)
[Infrastruktur dasar]: Kediaman penguasa\, rumah kecil perumahan\, kamar mandi umum\, lumbung desa\, kuburan.
[Infrastruktur agrikultur]: Lahan pertanian sederhana\, kandang sapi\, kandang kerbau\, kandang kambing\, pabrik\, ladang murbei\, ladang siwalan\, kebun buah-buahan.
[Infrastruktur bisnis]: Pasar menengah\, pandai besi menengah\, toko kelontong dasar\, toko kayu lanjutan\, rumah sakit tingkat lanjut\, padepokan seni bela diri tingkat lanjut\, toko penjahit spesial\, bengkel tembikar dasar\, kilang anggur\, toko makanan\, toko daging\, toko pakaian.
[Infrastruktur budaya]: Balai leluhur desa dasar\, sekolah swasta desa dasar\, Akademi Kadewaguruan
[Infrastruktur militer]: Barak menengah\, menara pengawas\, istal\, bengkel senjata\, gudang senjata.
[Infrastruktur khusus]: Kapal\, terminal\, dermaga menengah
[Infrastruktur tersembunyi]: Kuil Dhruwa (segel)\, Kuil Anila (segel)\, Kuil Anala (segel)\, Kuil Pratyusa (segel)\, Kuil Soma (segel)\, Candi Borobudur dan Aula rekrutmen.
__ADS_1
Daftar bangunan dasar:
[Stasiun kuda]: Menyediakan tempat bagi pejabat atau utusan yang berkunjung untuk menginap\, mengisi kembali barang dan mengganti kudanya. Persyaratan konstruksi: Gamel dasar\, cetak biru arsitektur stasiun kuda\, 1500 kayu\, 800 batu. Waktu konstruksi: 3 hari.
[Kebun sayuran]: Tempat atau lahan menanam tanaman. Persyaratan konstruksi: bibit\, 400 kayu\, 200 batu. Waktu konstruksi: 2 hari.
[Kebun obat]: Tempat atau lahan menanam bahan obat-obatan. Persyaratan konstruksi: bibit herbal\, 400 kayu\, 200 batu. Waktu konstruksi: 2 hari.
[Apotek]: Tempat penjualan obat-obatan. Persyaratan konstruksi: cetak biru arsitektur apotek\, 800 kayu\, 200 batu. Waktu konstruksi: 2 hari
[Pabrik tekstil]: Tempat untuk memproduksi tekstil. Persyaratan konstruksi: cetak biru arsitektur pabrik tekstil\, 1800 kayu\, 600 batu. Waktu konstruksi: 3 hari.
[Bank]: Sebuah organisasi yang menyelesaikan masalah moneter. Persyaratan konstruksi: cetak biru arsitektur bank\, 2000 kayu\, 1000 batu. Waktu konstruksi: 3 hari
[Bengkel logam]: Lokakarya peleburan logam untuk memproduksi berbagai item logam dan perhiasan. Persyaratan konstruksi: Alkemis\, cetak biru arsitektur bengkel logam\, 1500 kayu\, 1800 batu. Waktu konstruksi: 3 Hari
Persyaratan dari tujuh bangunan dasar, kebun sayur dan kebun obat tidak membutuhkan cetak biru arsitektur. Sedangkan pabrik tekstil dan bank sudah dibangun. Cetak biru stasiun kuda, apotek, dan bengkel alkimia yang tersisa telah diperoleh ketika mereka menjarah benteng air, sehingga Heru Cokro tidak perlu lagi membeli cetak biru arsitektur.
Dari ketujuh bangunan dasar tersebut, yang paling menyebalkan adalah bengkel alkimia. Seorang alkemis adalah pekerjaan langka di Indonesia dan biasanya dilakukan oleh para pendeta, dukun dan tabib. Jadi sulit untuk menemukan alkemis professional di zaman modern ini.
Dalam kehidupan terakhirnya, ada sebuah wilayah yang terjebak di desa dasar selama tiga bulan karena penguasanya tidak dapat menemukan seorang alkemis profesional. Heru Cokro berharap bahwa dengan keistimewaan Jawa Dwipa, dia segera dapat memiliki seorang alkemis professional.
Tentu saja, sistem tidak akan terlalu buruk membuat pengaturan. Biasanya, jika persyaratan peningkatan lainnya telah dipenuhi dan hanya satu talenta khusus yang kurang, paling lama dalam sebulan dia akan muncul.
Pria sial di kehidupan sebelumnya telah menggunakan token bangunan desa tingkat terendah dan memiliki penyegaran populasi 50 orang dalam sehari, membutuhkan waktu hampir 2 bulan untuk mencapai 5.000 populasi penuh. Sehingga membutuhkan waktu satu bulan lagi untuk mendapatkan alkemis itu.
Bahkan wilayah seperti Jawa Dwipa yang memiliki tingkat imigran gila masih akan membutuhkan 30 hari lebih untuk mencapai populasi maksimal, ini waktu yang cukup lama bagi Heru Cokro.
Ketika Jawa Dwipa ditingkatkan, Hesty Purwadinata penguasa Redho dan Maya Estianti penguasa Le Moesiek Revole mengirimkan ucapan selamat kepada Heru Cokro.
Sejak membuat aliansi, Heru Cokro tetap berhubungan dengan mereka dan mendiskusikan metode penanganan wilayah dan metode perkembangan wilayah masing-masing.
Dia tahu bahwa sejak dia mengajari mereka metode untuk meningkatkan wilayahnya menjadi desa, Redho sekarang sangat dekat dengan peningkatan dan hanya dalam dua hari dapat melakukannya. Karena Le Moesiek Revole memiliki dasar yang lebih lemah, seperti relasi dan sumber dayanya. Maka, kemajuannya lebih lambat dan masih membutuhkan waktu sekitar setengah bulan.
Sejujurnya, peningkatan wilayah Jawa Dwipa saat ini hanya meningkatkan batas populasi dan memperluas lahan, tidak terlalu memengaruhi desa. Struktur administrasi sudah terbangun dan berbagai usaha mulai dibuka, yang dibutuhkan adalah kesabaran dan waktu.
Sebaliknya, bahaya yang lebih dalam berjalan selangkah demi selangkah menuju Jawa Dwipa. Seiring berkembangnya wilayah, kebutuhan akan emas dan sumber daya ikut meningkat. Pada tahap awal, Desa Jawa Dwipa bisa bertahan dengan mudah dengan dana 100 emas. Sekarang, ratusan dan ribuan emas akan dikonsumsi dalam waktu singkat.
Berbeda dengan dia, berbagai kekuatan dengan finansial yang besar telah melewati masa-masa sulit. Karena berbagai kelompok penambang emas mulai terbentuk dan berkembang di hutan belantara, sehingga kekayaan dapat menggunakan kripton untuk membeli koin emas guna membangun wilayah mereka.
Satu-satunya alasan mengapa tidak ada pemberitahuan adalah karena mereka dipengaruhi oleh persyaratan pemutakhiran wilayah mereka. Begitu mereka telah melewatinya, wilayah mereka akan berkembang dengan pesat. Heru Cokro menduga bahwa setelah tindakannya hari ini, Roberto mungkin akan secara paksa meningkatkan Hartono Brother menjadi desa dasar besok.
__ADS_1
Oleh karena itu, jika Jawa Dwipa ingin terus mempertahankan keunggulan ini, Jawa Dwipa perlu membuka jalan baru untuk menghasilkan uang. Tapi, tentu saja ini tidak mudah. Selain bandit dan perampok, bisnis dan bidang lainnya masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Selain itu, jumlah perampok dan bandit terbatas.
Menghadapi begitu banyak tantangan, Heru Cokro harus tetap tenang. Setelah meningkatkan wilayahnya, dia tidak mengadakan pertemuan dengan berbagai direktur, dan hanya duduk sendirian di kantornya memikirkan sebuah metode dan pengalaman epic isra’ mi’raj kemarin.