Metaverse World

Metaverse World
Semar, Kitab Epos Kakawin Ramayana dan Mahabharata


__ADS_3

Pada sore hari, Heru Cokro datang ke tenggara teritori, yang merupakan area budaya, pendidikan, pusat layanan medis yang baru selesai dibangun, balai leluhur serta sekolah swasta yang sedang dibangun, semuanya berada pada area ini.


Pertama-tama Heru Cokro pergi ke pusat layanan medis untuk melihat wajah luar biasa Dharmawan. Sejak percakapan terakhir kali, selama Heru Cokro punya waktu, dia akan meluangkan waktu ke pusat layanan medis untuk melihat kondisi kesehatan penduduk.


Pusat layanan medis dibagi menjadi dua bagian. Bagian depan adalah tempat untuk minum obat dan menemui dokter. Sedangkan bagian belakang adalah tempat inap. Ketika Heru Cokro masuk, Dharmawan sedang melakukan pemeriksaan kesehatan kepada seseorang. Dia tidak mau repot, setelah menyapa, dia berjalan keluar dari pusat layanan medis.


Masyarakat sangat bergembira atas layanan dan fasilitas pusat layanan medis ini. Mereka sangat akrab menyebut bangunan tersebut sebagai PUSKEMAS. Sehingga tidak terlalu panjang untuk disebutkan. Hal ini tentu diresmikan dan diberikan nama sendiri oleh Heru Cokro ketika pemotongan pita.


Selanjutnya, dia berjalan ke balai leluhur yang tepat berada di sebelahnya. Balai leluhur terbagi menjadi tiga ruang, bagian depan adalah pendopo, tengah adalah halaman, sedangkan bagian belakang adalah aula leluhur. Karena Jawa Dwipa adalah wilayah yang didirikan oleh pemain, maka tidak ada klan. Nama keluarga di wilayah juga berbeda-beda. Oleh karena itu, Heru Cokro memilih leluhur peradaban jawa yaitu Yai Semar.


Yai Semar adalah pamomong atau penggembala para ksatria leluhur tanah jawa sejak jaman dulu kala bahkan dari zaman kedewataan. Dulu ia dikenal dengan nama Sang Hyang Ismoyo Jati, kemudian Ki Lurah Semar Bodronoyo, dan sekarang di masa Majapahit saya lebih dikenal dengan nama Sabdo Palon.


Banyak sekali identitas yang dimiliki oleh Yai Semar, berdasarkan serat jangka Syekh Syubakir. Pada zaman keemasan suatu kerajaan yang ada di tanah jawa akan hadir pula Yai Semar dengan identitas baru, yang seringkali menjabat sebagai penasihat besar atau penasihat ekslusif raja. Baik secara kepemimpinan kerajaan ataupun personal raja.


Yai Semar sendiri memang banyak dipercayai oleh orang jawa sebagai leluhur utama. Tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti kapan Yai Semar lahir, ada yang percaya bahwa beliau adalah saudara Nabi Syits yang lahir dari benih “Ibu Hawa” (perempuan pertama) dengan “Bapa Ijajil” yang bisa disebut sebagai malaikat jatuh pertama kali. Hal ini juga dijelaskan sendiri oleh Yai Semar dalam serat jangka Syekh Syubakir, yang kala itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Hyang Sis. Membuat Syekh Syubakir terheran-heran, bertanya-tanya dalam hatinya apakah anda manusia atau makhluk yang bagaimana. Syetan bukan, jin apalagi! Manusia, tapi kok ya memiliki garis darah Ijajil.


Keluar dari balai leluhur, tidak jauh adalah Sekolah swasta yang sedang dalam pembangunan. Buminegoro secara pribadi melakukan pengawasan, Heru Cokro tidak pergi menyapa, tetapi kembali ke kediaman penguasa. Takut menggangu pekerjaan Buminegoro.


Tanggal 27 Januari tahun pertama Wisnu, sekolah swasta membuka ceramah perdananya. Sekolah swasta, terutama berdasarkan pada pendidikan. Mengajarkan semua orang agar melek huruf, setelah bisa membaca, lalu ajarkan Kakawin Ramayana, Mahabharata, dan Serat Jangka Jayabaya Syekh Bakir. Sehingga nilai-nilai luhur yang disampaikan pada empat kitab tersebut dapat diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan warga Jawa Dwipa.


Kakawin Ramayana dibagi menjadi tujuh Sapntakanda yang terdiri dari 24.000 sloka (bait). Pertama, kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata memiliki tiga istri, Kausalya, Keikayi dan Sumitra. Dari ketiga istrinya, Prabu Dasarata memiliki empat putra, Rama, Bharata, Lakshmana, dan Satrughna. Buku ini juga menceritakan kisah Sang Rama yang memenangkan sayembara dan menikahi Sita, putri Prabu Janaka.

__ADS_1


Kedua, kitab Ayodhyakanda, dikisahkan bahwa Rama adalah putra sulung Prabu Dasarata dengan Ratu Kausalya. Sedangkan Lakshmana dan Satrughna adalah anak dari Sumitra, dan Bharata adalah anak dari istri kesayangan raja, Keikayi. Prabu Dasarata yang sudah lanjut usia berniat menjadikan Rama sebagai putra mahkota dan penerusnya. Namun atas permintaan Keikayi, Rama diasingkan ke hutan selama 14 tahun dan Bharata naik tahta sebagai pewaris tahta. Sita dan Lakshmana meminta untuk pergi bersama Rama dan diizinkan. Ketika Prabu Dasarata wafat, Bharata menolak naik takhta dan mengikuti Rama untuk menuntutnya kembali. Setelah Bharata gagal meyakinkan Rama untuk kembali ke Ayodhya, dia memerintah kerajaan atas nama saudara perempuannya.


Ketiga, Kitab Aranyakanda menceritakan kisah Rama, Sita dan Lakshmana di tengah hutan pada masa pengasingan. Adik Rahwana Sarpanaka muncul dan hidungnya dipotong oleh Lakshmana. Sarpanaka melaporkan hal ini kepada Rahwana dan menasihatinya untuk menculik Sita. Kemudian ia ditempatkan di taman Asoka, taman sari Alengka. Keempat, Kitab Kiskindhakan berbicara tentang Rama, yang bersekutu dengan Sugriwa, yang diasingkan ke hutan oleh saudaranya, Subali. Rama juga membantu Sugriwa mendapatkan tahta di Kerajaan Kiskenda. Setelah itu, Sugriwa meminta Hanoman dan beberapa anak buahnya untuk mencari jejak Sita.


Kelima, dalam Kitab Sundarakanda, disebutkan bahwa Hanoman datang ke Alengka dengan dikelilingi para pengawal raksasa. Meski sempat bertemu Sita, Hanuman tetap ditangkap dan hampir dieksekusi. Akhirnya Hanoman berhasil kabur dan membakar sebagian besar Alengka. Hanoman dan teman-temannya kemudian kembali ke Rama untuk melaporkan kondisi Sita.


Keenam, Kitab Yuddhakanda menceritakan tentang pertempuran panjang antara pasukan Rama melawan pasukan Rahwana. Selama pertempuran ini, Rama dan Lakshmana dilukai oleh Indrajit dengan panah ularnya. Kumbakarna, adik Rahwana yang telah tidur selama enam bulan, dibangunkan dan pergi berperang, namun dibunuh oleh Rama. Pada akhirnya Rawana dibunuh oleh Rama dan Wibisana dinobatkan menjadi Raja Alengka. Namun, Rama sangat ingin meninggalkan Sita karena meragukan kepolosannya. Setelah Sita membuktikan kesuciannya, Rama membawanya kembali ke Ayodhya. Rama kemudian naik tahta Ayodhya dan memerintah selama 10.000 tahun.


Ketujuh, kitab Uttarakanda menceritakan bagaimana Sita diusir karena orang-orang menyesali Rama telah setuju untuk menikah setelah berada di tangan Rawana. Sita kemudian ditinggalkan oleh Laksmana di dekat pertapaan Walmiki dan di sana ia melahirkan anak kembar Kusa dan Lawa. Saat Rama melakukan persembahan, Walmiki hadir bersama Kusa dan Lawa. Kemudian si kembar menyanyikan cerita Ramayana di depan Rama dan para tamu. Kemudian, Rama meminta Walmiki untuk mengajak Sita membuktikan kesuciannya. Sita bersumpah di depan semua orang "Jika aku murni, Bumi akan menelanku" dan segera dia ditelan oleh Bumi. Akhirnya, Rama meninggalkan ibu kota dan menuju ke Sungai Sarayu, dimana dia meninggalkan tubuhnya dan naik ke surga.


Sedangkan Mahabharata adalah kisah epik yang dibagi menjadi 18 bagian yang disebut parwa. Delapan belas parwa ini disebut Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = buku).


Pertama adalah Adiparwa, Bagian ini menceritakan tentang silsilah dan masa kecil Pandawa dan Korawa. Karena kepribadian Korawa yang licik dan kejam, kedua belah pihak sering berselisih sejak kecil.


Ketiga, Wanaparwa menceritakan suka duka Pandawa selama 12 tahun hidup dalam pengasingan di hutan.


Keempat, Kitab Wirataparwa menceritakan bagaimana Pandawa menyamar selama setahun di Istana Wirata setelah menyelesaikan pengasingannya di hutan.


Kelima, Udyogaparwa menceritakan kembalinya Pandawa ke Indraprastha setelah melalui masa pengasingan. Rupanya Korawa tidak mau mengembalikan separuh kerajaan Hastinapura kepada Pandawa. Kedua belah pihak siap bertempur di Kuruksetra setelah upaya perdamaian yang diajukan Kresna gagal.


Keenam, Bhismaparwa menceritakan tentang Bhisma yang menjadi pemimpin perang Korawa, sedangkan Kresna menjadi penasehat dan ahli strategi perang Pandawa. Bagian ini juga menceritakan keberhasilan Srikandi dan Arjuna mengalahkan Bhisma.

__ADS_1


Ketujuh, Kitab Dronaparwa menceritakan tentang pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima Perang Kurawa. Drona gugur di medan perang dengan dipenggal kepalanya oleh Drestayumna ketika ia menundukkan kepala mendengar berita kematian putranya, Aswatama. Buku ini juga menceritakan kematian Abimanyu dan Gatotkaca.


Kedelapan, Karnaparwa menceritakan penunjukan Duryudhana atas Karna sebagai panglima perang. Dalam kitab ini juga dikisahkan saat Dursasana mati dan kematian Karna di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke 17.


Kesembilan, Salyaparwa ini berisi kisah penyesalan Duryudhana atas perbuatannya dan ingin berhenti melawan Pandawa. Hal ini kemudian menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodhana terprovokasi untuk melawan Bhima. Dalam pertarungan ini Duryudhana akhirnya gugur.


Kesepuluh, Sauptikaparwa menceritakan tentang balas dendam Aswatama terhadap pasukan Pandawa. Kejadian yang menyebabkan banyak prajurit Pandawa melakukan aborsi menyebabkan Aswatama menyesal dan memilih menjadi pertapa.


Kesebelas, Striparwa menceritakan tentang ratapan para wanita yang ditinggalkan suaminya untuk berperang di medan perang. Selain itu, Yudhistira konon pernah mengadakan ngaben dan mempersembahkan air suci kepada para leluhur.


Keduabelas, Dalam Santiparwa, diceritakan konflik batin Yudhistira karena membunuh saudara-saudaranya di medan perang. Akhirnya ia mendapat ajaran ketuhanan dari Rsi Byasa dan Sri Kresna yang menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudhistira dapat menunaikan tugasnya sebagai biksu bagaimana menjadi raja.


Ketigabelas, Anusasanaparwa menceritakan kisah Yudhistira yang pasrah kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan ajaran tentang Dharma, Artha, peraturan tentang berbagai ritual, tugas seorang raja dan banyak hal lainnya.


Keempatbelas, Aswamedhikaparwa berisi kisah Raja Yudhistira melakukan ritual Aswamedha. Selain itu, bagian ini juga menceritakan peperangan Arjuna dengan raja-raja dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula meninggal dalam kandungan akibat senjata sakti Aswatama, namun dibangkitkan oleh Sri Kresna.


Kelimabelas, Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarstra, Gandari, Kunti, Widura dan Sanjaya dari tengah hutan untuk meninggalkan dunia kartun. Mereka pun menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira.


Keenambeals, Mosalaparwa bercerita tentang Pandawa dan Dropadi, yang hidup sebagai "sanyasin" atau pengasingan dan meninggalkan dunia fana.


Ketujuhbelas, Prasthanikaparwa bercerita tentang perjalanan Pandawa dan Drupadi ke puncak Himalaya, saat tahta diberikan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Selama pengembaraannya, Dropadi dan Pandawa (kecuali Yudhistira) meninggal.

__ADS_1


Kedelapanbelas, Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudhistira yang mencapai puncak pegunungan Himalaya dan dijemput oleh Dewa Indra ke langit. Selama perjalanannya, ia ditemani seekor anjing yang sangat setia dan menolak masuk surga jika diminta meninggalkan hewan tersebut. Kemudian anjing itu menampakkan wujud aslinya, yaitu wujud dewa Dharma.


__ADS_2