
Dari luar, aula rekrutmen hanya bangunan kecil kayu biasa. Tidak ada hiasan lain, hanya kayu sederhana.
Heru Cokro mendorong pintu aula rekrutmen, ditengahnya terdapat patung bertubuh manusia, kepalanya seperti gajah, memiliki empat tangan yang masing-masing diantaranya membawa kapak, senjata trisula, patahan gading dan kudapan atau makanan. Ini merupakan potret dari Dewa Ganesa.
Ganesa adalah salah satu dewa Hindu yang terkenal dan dipuja secara luas oleh umat Hindu, yang memiliki gelar seperti dewa pengetahuan dan kecerdasan, dewa pelindung, dewa penolak bala/ bencana serta dewa kebijaksanaan.
Dibawah patung terdapat susunan transmisi. Heru Cokro menaruh telapak tangan dan menekannya, suara pemberitahuan sistempun berbunyi.
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah membuka aula rekrutmen, secara otomatis mendapat kesempatan untuk merekrut orang dengan talenta spesial dan karakter historis, apakah diaktifkan?”
“Rekrut orang dengan talenta spesial!” Jawab Heru Cokro.
“Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra berhasil merekrut orang dengan talenta spesial yaitu pembuat anggur lanjutan, secara otomatis mengurangi 10 koin emas.”
Lampu warna-warni menyala. Seorang pria paruh baya keluar dari susunan transmisi dan membungkuk ke Heru Cokro. Dia berkata dengan hormat: “De Chandra, menyapa Yang Mulia!”
“Master De, silahkan!” Heru Cokro menempatkan De Chandra di samping, dan menekan telapak tangan lagi dalam depresi.
“Pemberitahuan sistem: Kesempatan kali ini adalah untuk merekrut karakter historis, apakah melanjutkan pengaktifan?”
“Aktifkan!”
“Pemberitahuan sistem: selamat kepada pemain Jendra berhasil merekrut karakter historis golongan VI, Kawis Guwa dan secara otomatis mengurangi 100 koin emas.”
Lampu warna-warni menyala lagi. Seorang sarjana setengah baya keluar dari susunan transmisi. “Yang Mulia!”
Heru Cokro bergegas dan melangkah maju. Dia berkata dengan tulus: “Kalian berdua adalah harta bagi saya. Tidak perlu sungkan. Mari saya perkenalkan dengan penduduk lainnya!”
Dia mengajak keduanya keluar dari aula rekrutmen dan melihat properti Kawis Guwa.
__ADS_1
[Nama]: Kawis Guwa (golongan VI)
[Gelar]: Sultan Kedaton Giri
[Dinasti]: Kedaton Giri
[Status]: Penduduk Jawa Dwipa
[Profesi]: Pejabat sipil
[Loyalitas]: 75
[Komandan]: 45 [kekuatan militer]: 30
[Inteligensi]: 75 [Politik]: 80
[Spesialisasi]: Kebenaran absolut (meningkatkan integritas teritori sebesar 40 %)\, pelayanan prima (meningkatkan efisiensi layanan teritori sebesar 20 %)\, dan literatur (meningkatkan level penduduk teritori sebesar 15 %).
Kembali ke kediaman penguasa, Heru Cokro memanggil Wiji, memintanya untuk mengundang pejabat inti datang ke aula diskusi untuk mendiskusikan sesuatu. Heru Cokro secara pribadi memimpin Kawis Guwa memasuki aula diskusi.
Pejabat sipil seperti Kawis Guwa yang memiliki kesusastraan tinggi, seorang politisi ahli, dan memiliki intelektualitas yang tinggi. Karakternya bisa dikatakan agak bertentangan, dia orangnya cukup pendiam. Tidak seperti seorang publik figur yang banyak bicara dihadapan publik.
Kurang dari 20 menit setelah wiji menyampaikan pesan dari Heru Cokro. Pejabat inti atas semua divisi telah tiba. Bahkan Laxmi mengikuti Siti Fatimah untuk bergabung dalam kesenangan.
Heru Cokro mengawali pertemuan ini dengan berkata: “Perang mempertahankan wilayah baru saja berakhir. Saya juga tahu bahwa semua orang sangat sibuk dengan tugasnya masing-maisng. Maka, agar tidak menunda waktu semua orang, saya akan mempersingkatnya.”
Dia menunjuk ke Kawis Guwa. “Beliau adalah Kawis Guwa, seorang sarjana yang berbakat dalam bidang sastra, bidang politik serta memiliki sedikit pemahaman dalam urusan militer. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Saya berharap semua orang dapat segera mengakrabkan diri.”
“Selanjutnya saya memutuskan untuk membentuk Biro Administrasi, yang bertanggung jawab untuk semua urusan pemerintahan di teritori. Selain Divisi Cadangan Material yang masih beroperasi secara independen, Divisi Konstruksi, Divisi Petani, Divisi Nelayan, dan Kantor Pencatatan Sipil semuanya termasuk dalam yurisdiksi Biro Administrasi.
__ADS_1
“Saya menunjuk Tuan Kawis Guwa sebagai Eksekutif Biro Administrasi. Pada saat yang sama, saya secara resmi turun dari posisi Direktur Divisi Nelayan, untuk dialihkan kepada Tuan Kawis Guwa.”
Kawis Guwa, secara resmi bertanggung jawab untuk mengawasi pengelolaan dan penjualan sumber daya laut seperti garam, hasil peternakan ikan serta hasil pemancingan. Oleh karena itu, Heru Cokro merasa bebas dan tidak perlu merasa khawatir atas manajemen Divisi Nelayan lagi. Lagi pula, Heru Cokro tidak bisa meninggalkan kisaran teritori. Gudang Garam dan nelayan sendiri berada di luar kawasan teritori. Mengelolanya, dia benar-benar merasa tidak berdaya. Terlalu banyak batasan baginya untuk mengambil langkah.
Kawis Guwa segera bangkit, “Terimakasih atas rahmat Yang Mulia. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah diberikan!”
Heru Cokro merespon dengan sedikit anggukan, kemudian berkata: “Notonegoro yang sebelumnya menjabat di Kantor Pencatatan Sipil, saya mempromosikannya sebagai Asisten Eksekutif Biro Administrasi. Tanggung jawab utamanya adalah membantu Eksekutif Biro Administrasi untuk menangani urusan keseharian pemerintahan. Tentu, saya sangat berharap Notonegoro dapat bekerjasama dan belajar dibawah bimbingan Kawis Guwa, pelajari lebih lanjut tentang kemampuan dalam menangani urusan kepemerintahan dan perbanyaklah pengalaman.”
“Wakil Direktur Divisi Konstruksi Buminegoro, dalam pertempuran melawan infasi binatang liar ini, memiliki kinerja yang sangat luar biasa. Saat ini, secara resmi saya promosikan Buminegoro sebagai Direktur Divisi Konstruksi.”
Buminegoro dengan bersemangat melangkah maju dan mengucapkan terima kasih banyak kepadanya.
“Saya harap semua orang dapat membantu Tuan Kawis Guwa. Semua kinerja kalian akan tetap saya awasi. Bagi mereka yang memiliki prestasi, tentu saya akan sangat murah hati. Namun jika ada yang memiliki kinerja buruk, mohon maaf, saya tidak akan bermurah hati.”
Melihat kewibawaan Heru Cokro, Laxmi yang saat itu duduk di belakang Siti Fatimah, berjalan ke depan, dengan tenang berkata: “Melihat kakak yang menangani urusan pemerintah, itu terlihat sangat tampan.”
Siti Fatimah melirik, secara tidak sengaja melihat Heru Cokro, entah bagaimana, jantungnya tiba-tiba kacau, jejak memerah perlahan naik ke telinga. Untuk menyembunyikan kepanikannya, dia berbalik dan mengetuk kepala Laxmi, seraya berkata dengan senyum memaksa: “Hey, jangan membuat saya malu, kakak perempuan ini membawamu adalah untuk membiasakanmu dengan urusan kepemerintahan. Bukannya berbuat nakal, lihat dirimu terlihat begitu memalukan.”
Dia melihat Laxmi yang masih muda, dibekali kecerdasan dan ketekunan ketika mengerjakan sesuatu. Siti Fatimah ingin melatih Laxmi menjadi pejabat sipil yang baik dan kompeten, dia memiliki harapan yang tinggi kepadanya, biarkan dia melanjutkan pengelolaan Divisi Cadangan Material agar bisa membantunya di masa depan. Namun Laxmi yang notabene masih bocah tidak mengerti sama sekali.
“Mengurusi pemerintahan sangatlah membosankan, Laxmi tidak menyukainya, saya hanya ingin memjadi penjahit, hehe~heh!” Ini adalah cita-cita Laxmi. Pantas saja ia telah menjadi penjahit lanjutan di usianya yang masih belia.
Siti Fatimah yang mendengarkan, terdiam. Program pelatihan pejabat sipil yang telah dirancangnya menjadi tidak berguna.
Heru Cokro memperhatikan gerakan kecil para saudari dan melirik Laxmi dengan tatapan tajam. Laxmi yang melihatnya hanya bisa kincup, berubah menjadi bayi. Dia kembali duduk di belakang Siti Fatimah, tak bergerak, menutup mulut dengan tangan kecilnya. Memperlihatkan mata besarnya, dalam hati berkata: “hemm, aku hanya anak yang polos.”
Heru Cokro tersenyum tak berdaya, tidak lagi peduli kepadanya, kembali melihat kerumunan dan berkata: “Pertemuan berakhir di sini, silahkan semua orang kembali melakukan tugasnya masing-masing, segera selesaikan pembersihan, agar dapat dengan cepat melakukan pemulihan pasca perang.”
“Ketika populasi teritori telah mencapai jumlah persyaratan minimum. Maka saat iti juga Jawa Dwipa dapat secara resmi dipromosikan menjadi tingkat RW. Itu akan ada lebih banyak lagi pekerjaan yang harus dilakukan. Oleh karena itu, semua orang perlu melakukan pekerjaannya secepat mungkin. Tangani dengan baik, jangan tinggalkan sesuatu yang mungkin menjadi momok Jawa Dwipa di masa depan.”
__ADS_1
Semua orang menerima instruksi, bangun dari tempatnya dan kembali ke pos tugas masing-masing. Pada saat yang sama, Heru Cokro meminta Notonegoro untuk melakukan tur teritori dengan Tuan Kawis Guwa, dan memperkenalkan situasi dasar teritori untuk membantu Tuan Kawis Guwa agar dapat beradaptasi ke dalam keluarga besar Jawa Dwipa sesegera mungkin.