Metaverse World

Metaverse World
Angpao Tahun Baru Imlek


__ADS_3

Direktur Biro Cadangan Material Witana Sideng Rana juga khawatir. Dari tiga yang diberhentikan, dua dari mereka berada di bawah Biro Cadangan Material. Sebagai direktur mereka, pantas jika dia harus disalahkan.


Witana Sideng Rana bangkit, membungkuk dalam-dalam, dan berseru, “Yang Mulia, mohon maafkan kelalaian saya!”


Heru Cokro melambaikan tangannya. “Direktur Witana, kamu tidak ada di sini ketika keduanya ditunjuk. Tentu saya tidak akan memberikan hukuman kepada anda. Selain itu, saya berharap direktur dapat menerapkan aturan dan perilaku dengan benar, sehingga ini tidak akan terus terjadi.”


Witana Sideng Rana mengangguk dengan keras, berkata, “Terima kasih atas rahmat anda, Yang Mulia. Saya pasti akan bekerja keras untuk memperbaiki Biro Cadangan Material secara mendasar dan menyeluruh, saya tidak akan mengecewakan kepercayaan Yang Mulia!”


Heru Cokro melihat lagi ke Tuan Kawis Guwa, bertanya, "Siapa yang dinilai sangat baik?"


“Yang pertama dari empat orang itu berada di Divisi Pertanian, bernama Surya Prakasa. Dia bertanggung jawab atas proyek pemeliharaan air dan dipuji oleh para petani sebagai orang yang suka memimpin semua orang dalam proyek air. Selain itu, dia memiliki integritas politik yang baik.”


“Orang kedua adalah seorang desainer di Divisi Konstruksi bernama Hari Pranowo. Alasan mengapa proyek parit berjalan lancar adalah karena orang ini.”


“Orang ketiga ada di Bank Nusantara, seorang pegawai bernama Yani. Orang ini memberikan layanan yang bijaksana, hati-hati dan teliti.”


“Orang keempat ada di Gudang Garam, bernama Samudro. Dia memiliki pengetahuan mendalam tentang proses pembuatan garam.”


Komentar Tuan Kawis Guwa disempurnakan dan disajikan dengan tajam.


Heru Cokro perlahan tersenyum mendengar ini, dan berkata, “Nah, ini adalah bakat yang luar biasa dan harus dipromosikan. Seperti yang telah saya katakan, akan ada hukuman, tentu akan ada hadiah. Saya telah memutuskan untuk menunjuk Surya Prakasa sebagai Wakil Direktur Pertanian, Hari Pranowo sebagai Asisten Direktur Konstruksi, Yani sebagai Asisten Direktur Bank Nusantara dan Samudro sebagai Wakil Direktur Gudang Garam.”


Tuan Kawis Guwa agak kewalahan, ragu-ragu sejenak, dan pada akhirnya berbicara. “Yang Mulia, saya akui bahwa Surya Prakasa dan Samudro sangat bagus, tetapi mempromosikan dua orang langsung menjadi wakil direktur, bukankah itu sedikit berlebihan? Sepertinya penunjukan sebagai asisten direktur lebih tepat.”

__ADS_1


Heru Cokro menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Karena anak-anak muda ini sangat baik, mereka harus dipromosikan dengan berani untuk membangun platform yang lebih luas agar mereka dapat berkembang. Adapun alasan mengapa saya mempromosikan mereka adalah karena pertimbangan lain. Kemudian Heru Cokro menjelaskan, karena pejabatnya telah bertanya.


“Pertama, sejak pendirian Gudang Garam pertama kali, tidak ada yang mengawasinya secara menyeluruh. Selalu ada orang lain dari tingkat yang lebih tinggi yang memegang jabatan ini secara bersamaan. Oleh karena itu, saya telah memutuskan Samudro untuk mengelola divisi ini. Jika dia dapat mengambil api estafet dan menjalankannya dengan baik, tentu saya tidak akan ragu untuk mempromosikannya lagi.”


“Divisi Pertanian, menangani banyak urusan. seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan. Jelas sulit bagi Direktur Pusponegoro untuk menanganinya sendiri. Oleh karena itu, penunjukan wakil direktur sangat diperlukan. Bukan hanya divisi ini, tapi yang lainnya juga sama. Tentu, jika ada kandidat yang sesuai, kalian bertiga dapat merekomendasikannya kepada saya. Dengan perluasan wilayah yang terus menerus, upaya wilayah untuk melatih cadangan personel perlu ditingkatkan. Berikan pendatang baru kesempatan untuk menciptakan lebih banyak kemungkinan untuk wilayah tersebut.”


Ketiga pemimpin itu mengangguk, menerima penjelasan Heru Cokro. Heru Cokro telah meluangkan waktu untuk menjelaskan semua itu karena dia tidak ingin mereka ragu. Karena jika mereka tidak berkomunikasi dengan baik, ini akan menghasilkan bias ketika tiba waktunya untuk diimplementasikan.


Setelah berurusan dengan evaluasi, suasana di kantornya menjadi tidak terlalu tegang.


Siti Fatimah tertawa dan berkata, “Kakak, ini akan sedikit memeriahkan tahun baru. Semua orang telah menantikan imbalan atas kerja keras mereka selama ini. Saya berharap anda siap untuk mengeringkan dompet.”


Heru Cokro tersenyum dan berkata, “Tentu, saya akan memberi penghargaan kepada yang layak dihargai. Maka dari itu, setiap direktur divisi menerima 1 koin emas, masing-masing wakil direktur divisi menerima 80 koin perak, setiap asisten sebesar 50 koin perak. Untuk hasil evaluasi, pejabat pemerintah akan menerima 1 koin emas dengan evaluasi sangat bagus, dan 30 perak untuk evaluasi bagus. Hal ini akan langsung di kelola oleh Biro Finansial.”


"Kalian? Tentu tidak termasuk dalam ketentuan ini. Yakinlah bahwa saya sendiri yang telah menyiapkan hadiah. Adapun apa itu, tunggu sampai besok ketika saya mengumumkannya, ”gurau Heru Cokro.


Setelah menyelesaikan diskusi tentang evaluasi kinerja pejabat tingkat rendah, Heru Cokro tidak bermalas-malasan dan berjalan menuju pasar.


Jangan lihat bahwa dia sangat percaya diri di depan Fatimah, sebenarnya dia belum menyiapkan hadiah apapun untuk tiga direktur biro tersebut. Karena hadiah itu adalah hadiah untuk 3, tidak hanya tidak boleh lusuh, melainkan harus berkelas dan sesuai dengan minat mereka.


Karena Kawis Guwa dan Witana Sideng Rana adalah pejabat pemerintah tradisional, dengan memberi mereka empat pusaka sastra itu pasti cocok. Empat pusaka sastra tersebut adalah kertas, tinta, pena, dan lempengan tinta.


Satu set dari empat harta sastra ini tentu saja mahal. Nilai tertinggi bernilai beberapa ribu emas dan bukan sesuatu yang bisa dibeli oleh seorang bangsawan kecil. Bahkan set yang paling biasa memiliki harga 20 koin emas. Heru Cokro mengertakkan gigi dan menghabiskan 40 koin emas untuk dua set pusaka sasra tersebut.

__ADS_1


Sedangkan untuk Fatimah. Wanita ini memiliki kinerja terbaik diantara ketiga direktur dan juga saudara angkatnya. Jadi, hadiahnya akan sedikit lebih spesial.


Hadiah untuk Siti Fatimah adalah perhiasan, batu giok, riasan, dll. Beberapa jenis benda terbatas. Pada akhirnya, Heru Cokro memilih batu giok yang ringan dan halus yang terbuat dari batu giok putih, melambangkan kemakmuran. Selain itu, dia membelikan Laxmi sebuah batu giok yang menghabiskan 30 koin emas.


Setelah kembali ke kediaman penguasa, Jenderal Giri dan Wirama telah menunggunya di kantor, memberi sinyal buruk bagi Heru Cokro.


Benar saja, bahkan sebelum dia bisa duduk, Jenderal Giri berkata dengan lantang, “Hehe~e, kami mendengar bahwa Yang Mulia telah menyiapkan hadiah imlek untuk pejabat pemerintah, apakah anda akan memberikan hadiah kepada para prajurit di ketentaraan?”


Bahkan Wirama yang biasanya pendiam dan tenang menganggukkan kepalanya dengan keras, menunjukkan bahwa tentara telah mencapai konsensus terkait topik ini. Heru Cokro menampar dahinya, dia tahu bahwa dia pasti tidak bisa lepas dari ini. Untungnya dia telah bersiap untuk situasi ini dan berkata dengan menggoda, “Tidak buruk, kalian tahu bagaimana mengambil inisiatif. Katakanlah, hadiah apa yang kalian semua inginkan?”


Jenderal Giri tertawa malu, berkata, “Saya tahu bahwa misi terakhir untuk memusnahkan kamp raider tidak berhasil dilakukan dan membuat Yang Mulia kecewa. Saya tidak akan meminta imbalan apa pun untuk diri saya sendiri, cukup berikanlah para prajurit uang.”


Wirama mengikuti, "Kejadian itu, aku juga yang harus disalahkan, jadi aku tidak berani meminta hadiah dari Yang Mulia."


Heru Cokro mengangguk, “Tidak buruk, kalian masih memiliki kesadaran diri. Bagaimana jika seperti ini, 10 sersan dan Direktur Divisi Intelijen Militer masing-masing akan mendapatkan 1 koin emas. Para prajurit kavaleri dan Divisi Intelijen Militer semuanya mendapatkan 10 perak. Sedangkan para prajurit dari unit baru masing-masing mendapatkan 1 perak. Bagaimana menurutmu?"


Jenderal Giri dan Wirama menganggukkan kepala dengan gembira. Ini sudah dianggap sebagai hadiah besar, mereka tidak berani menggunakan lebih banyak waktu Heru Cokro dan meninggalkan kediaman penguasa dengan bersemangat, menyebarkan kabar baik tersebut ke kamp tentara.


Heru Cokro telah menghitung bahwa hadiah ini menghabiskan 120 koin emas. Menjadi bos yang baik bukanlah tugas yang mudah, karena banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum melakukan segala sesuatu.


Dia pergi ke kamar sebelah dan memanggil Fatimah, memberikan 50 koin emas kepadanya dan menginstruksikannya untuk memberikan angpao sesuai dengan standar hadiah yang telah ditetapkan.


Pukul 6 sore, persoalan hadiah telah terselesaikan, Heru Cokro keluar dari permainan.

__ADS_1


__ADS_2