Metaverse World

Metaverse World
Festival Tahun Baru Imlek


__ADS_3

Mendengar tentang hadiah, mata bocah kecil itu bersinar. Dia tidak peduli dengan lentera yang belum tergantung dengan benar, berlari ke arah Heru Cokro, menyanjungnya, "Tehe~ee, kakak sibuk dengan banyak pekerjaan, sesekali tidur lebih lama bisa menjaga kesehatan."


Heru Cokro menggelengkan kepalanya, tidak lagi repot-repot menggodanya, dia mengeluarkan batu giok dari tas penyimpanan dan menyerahkannya kepada Laxmi. “Ini adalah hadiah yang kakak berikan padamu. Selamat tahun baru imlek!"


Laxmi mengambil alih batu giok itu dengan senyum yang sangat cerah. Hal ini membuat dua pelayan wanita kembar Anindya dan Anindita yang baru saja dipekerjakan menjadi sangat iri padanya.


Heru Cokro melihat ke arah Anindita pelayan Fatimah dan bertanya, "Apakah kamu tahu di mana Fatimah berada?"


Anindita langsung membungkuk, berkata dengan hormat, “Dia ada di halaman depan membagikan angpao Yang Mulia!”


Heru Cokro menganggukkan kepalanya dan berbalik menuju halaman depan.


Seperti yang diharapkan, Biro Finansial membagikan angpao dan Fatimah berada di samping mengoordinasikan semuanya.


Ketika dia melihat Heru Cokro, Fatimah berjalan keluar dan tersenyum, "Kakak bangun sangat siang hari ini."


Heru Cokro tidak peduli dengan ejekannya dan bertanya, “Bagaimana distribusi angpao? Apakah berjalan dengan mulus?”


“Semuanya berjalan dengan baik. Hadiah untuk para prajurit telah dikirimkan ke kamp tentara. Jenderal Giri dan Wirama yang akan bertugas mendistribusikannya. Sedangkan untuk pejabat pemerintah hampir selesai.”

__ADS_1


"Bagus." Pada saat yang sama, Heru Cokro mengeluarkan sepotong giok lagi dan memberikannya pada Siti Fatimah, berkata, “Ini adalah hadiah yang disiapkan kakak untukmu. Selamat tahun baru imlek!"


Fatimah menerima batu giok itu, dengan tertawa berkata, "Terima kasih kakak! selamat tahun baru imlek!"


"Saya masih perlu memberi Tuan Kawis Guwa dan Tuan Winata Sideng Rana hadiah. Jadi saya tidak akan mengganggumu terlalu lama." Heru Cokro mengucapkan selamat tinggal dan pergi, dan berjalan menuju Biro Administrasi.


Dia menghadiahkan dua set empat pusaka sastra kepada Kawis Guwa dan Witana Sideng Rana, juga berdiskusi cukup dengan mereka. Tanpa sadar, hari sudah sore. Sehingga Heru Cokro pamit undur diri.


Mulia dari selesainya makan siang, Jawa Dwipa telah sibuk mempersiapkan makan malam tahun baru. Karena Direktur Biro Cadangan Material Puspita Wardani yang menangani perayaan malam tahun baru imlek perdana di Jawa Dwipa, maka persiapannya berjalan dengan baik lan lancar.


Seluruh makan malam didesain secara tradisional dengan tema guyub rukun. Terlihat meja pertama yang berada di aula diskusi kediaman penguasa terbentang dari halaman ke jalan bisnis hingga pintu masuk kota.


Pesta dimulai tepat waktu pada pukul 18.00 WIB. Di meja utama, telah duduk Heru Cokro, Kawis Guwa, Witana Sideng Rana, Jenderal Giri, Siti Fatimah, Laxmi, Wirama dan Ainun Najib.


Mereka menikmati minum bir, mengobrol dan bercanda saat pesta berlangsung hingga pukul 20:30. Sistem masih memiliki kemanusiaan karena tidak mengirim monster Nian Shou untuk mengacaukan segalanya selama makan malam berlansung.


Heru Cokro ingat bahwa monster Nian Shou akan menyerang setelah makan malam, maka dia hanya minum air. Dia juga memerintahkan semua personel militer tidak boleh menyentuh alcohol, apalagi meminumnya.


Karena dalam kehidupan sebelumnya, Heru Cokro ingat bahwa ada penguasa yang ceroboh, mabuk saat makan malam. Sehingga ketika monster Nian Shou datang, mereka tidak bisa melawan dan seluruh wilayahnya hancur. Peristiwa yang seharusnya menggembirakan menjadi peristiwa yang tragis.

__ADS_1


“Pemberitahuan sistem: Tanggal 19 Februari tahun pertama Wisnu, pukul 21.00 WIB, monster Nian Shou akan turun dan muncul ke hutan belantara. Semoga para penguasa telah bersiap sebelumnya!”


“Pemberitahuan sistem: Tanggal 19 Februari tahun pertama Wisnu, pukul 21.00 WIB, monster Nian Shou akan turun dan muncul ke hutan belantara. Semoga para penguasa telah bersiap sebelumnya!”


“Pemberitahuan sistem: Tanggal 19 Februari tahun pertama Wisnu, pukul 21.00 WIB, monster Nian Shou akan turun dan muncul ke hutan belantara. Semoga para penguasa telah bersiap sebelumnya!”


Berdasarkan pada kasus biasa dalam kehidupan sebelumnya, satu wilayah akan diberikan satu hingga dua monster Nian Shou. Monster Nian Shou di tahun pertama rata-rata akan memiliki level 30 dan setiap tahun setelahnya akan meningkat 10 level. Monster Nian Shou hanya akan menyerang wilayah utama, bukan markas sekunder.


Oleh karena itu, jika seorang penguasa telah membuat persiapan, biasanya tidak akan menyebabkan banyak kerusakan pada wilayahnya. Namun sebaliknya, jika seseorang berhasil melewati acara ini, maka akan mendapatkan hadiah yang besar. Lagi pula, ini adalah malam tahun baru imlek, tentu sistem tidak ingin merusak suasana meriah tersebut. Tepatnya, acara ini ada untuk meningkatkan kemeriahan peryaan malam tahu baru.


Mendengar ledakan pemberitahuan sistem, Heru Cokro memberi isyarat kepada Jenderal Giri dan Wirama untuk membawa para prajurit kembali ke kamp tentara dan menunggu perintahnya. Dia sendiri segera berbalik ke kamarnya untuk mengambil senjata, mengeluarkan Tetsu dari istal dan berlari kencang keluar menuju kamp tentara.


Berjalan memasuki kamp tentara, para prajurit sudah berpakaian rapi. Karena ini berbeda dari pertempuran yang biasa mereka lakukan, mereka merasa perlu bersiap-siap sebelumnya. “Teman-teman, santai saja. Metode menyerang monster Nian Shou adalah menyudutkan mereka, tidak untuk membunuhnya. Maka dari itu, setiap orang perlu menjaga diri mereka sendiri, saya tidak ingin ada yang terluka. Apalagi sampai jatuh korban.”


"Siap Yang Mulia!" Para prajurit berteriak dengan serempak.


"Ayo pergi!" Heru Cokro membalikkan kudanya dan bergegas keluar dari kamp tentara.


Heru Cokro mengambil alih gerbang utara dengan Wirama yang membawa 50 kavaleri di sisinya. Jenderal Giri membawa infanteri yang baru dibentuk ke gerbang barat. Sedangkan Dudung dan Agus Bhakti membawa 50 kavaleri yang tersisa ke gerbang utara. Selain itu, Divisi Intelijen Militer bertanggung jawab atas komunikasi diantara mereka. Mereka menggunakan kembang api sebagai sinyal. Maka, ketika mereka menemukan monster Nian Shou, mereka dapat segera berkumpul.

__ADS_1


Pukul 21:10, masih belum ada tanda-tanda kemunculan monster Nian Shou. Jadi, Heru Cokro menyuruh semua orang untuk santai dan bersabar.


Sepuluh menit kemudian, dua ekor monster Nian Shou bergegas menuju pintu selatan. Mereka melihat bahwa monster Nian Shou itu panjangnya lebih dari 3 meter dengan tubuh yang ditutupi sisik hijau muda. Leher dan ekornya memiliki beberapa bulu emas dan terdapat tanduk dikepalanya. Matanya seperti lonceng dengan gigi tajam. Tatapan monster Nian Shou ini terlihat sangat menakutkan.


__ADS_2