
Diskusi paling intens adalah untuk memprediksi berapa banyak orang di wilayah Indonesia yang bisa masuk dalam sepuluh besar di peringkat dunia. Tidak diragukan lagi, sebagai pemain paling berpengaruh dari wilayah Indonesia, Roberto dari Sembilan Naga Hitam adalah kandidat yang paling populer. Adapun orang lain, saya tidak yakin. Lagipula, dunia ini terlalu besar, banyak sekali jenius yang masih bersembunyi dalam kegelapan.
Sebagian besar orang memperkirakan bahwa menurut basis populasi wilayah Indonesia yang sangat besar, setidaknya dua orang akan dapat bergegas ke papan peringkat dunia.
Heru Cokro melihat tebakan pemain yang lucu ini, bukan kenapa-napa. Sejauh yang dia tahu, pada kehidupan sebelumnya, wilayah Indonesia hanya mendapat juara tiga di peringkat dunia yang diduduki oleh Roberto.
Orang lain tidak ada dalam daftar. Sembilan tempat lainnya ditempati oleh Amerika, Kanada, Rusia, China, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis dan India. Tidak ada negara yang dapat menempati dua tempat dengan kompetisi yang sangat ketat. Kali ini, dengan datangnya reinkarnator Heru Cokro, pasti meruntuhkan struktur sebelumnya.
Tanggal 2 Februari Tahun Pertama Wisnu. Tiga regu kavaleri keluar dari kamp tentara, langsung menuju menara yang berada di luar teritori Jawa Dwipa. Divisi konstruksi membangun tiga menara, masing-masing berjarak dua kilometer.
Pada saat yang sama, regu kavaleri panah pertama, regu ketiga dan kelima, di bawah pimpinan Komandan Wirama, keluar dari sisi tenggara, pergi ke arah lokasi penambangan dasar. Lokasi penambangan terletak di tepi hutan sebelah barat, hanya berjarak 300 meter dari hutan.
Menurut fitur topografi teritori Jawa Dwipa, sisi selatan wilayah terdapat pegunungan berbatu, tidak ada binatang liar. Tidak jauh dari timur, ada banyak sungai dan ngarai yang mengalir hingga utara wilayah. Maka dari itu, kawanan binatang liar yang paling banyak akan datang dari arah barat. Jadi, hutan disisi barat adalah objek pertahanan utama. Di dalam hutan, terdapat banyak binatang liar. Di sana, juga merupakan lokasi utama tentara untuk melakukan pelatihan.
Menurut fitur topografi seperti itu, Heru Cokro bersama dua regu tentara berada di gerbang utara, Jendral Giri dengan empat regu tentara berada di pintu wilayah bagian barat. Sedangkan untuk pintu sisi timur, Heru Cokro mempercayakannya kepada Kakak Wirama, seorang seniman beladiri lanjutan Wiro untuk memimpin 20 orang yang telah mempelajari seni beladiri di Padepokan.
__ADS_1
Untuk memperkuat pertahanan pintu sisi barat, divisi konstruksi membangun dua menara panah di kedua sisi pintu barat. Sedangkan formasi api ditempatkan di ruang terbuka di muka pintu bagian barat.
Seluruh susunan api terdiri dari banyak bujur sangkar dengan panjang 10 meter. Keempat sisi bujur sangkar digali menjadi parit yang memiliki lebar 2 meter dengan kedalaman 2 meter juga. Parit diisi dengan parrafin wax yang telah diencerkan dengan air, ditutup dengan papan kayu, selimuti dengan jerami. Dari permukaan, tidak mungkin untuk melihatnya, apalagi ketika pertempuran sengit berlangsung.
Parrafin wax yang tersisa ditempatkan di ruang terbuka di muka gerbang utara. Karena gerbang utara menggunakan strategi pertahanan pasif, hanya ada satu parit dengan panjang 200 meter. Untuk instalasi parrafin wax adalah sama dengan sebelumnya, parrafin wax yang telah diencerkan dengan air, ditutupi papan kayu, dan diselimuti dengan jerami.
Seluruh penduduk Jawa Dwipa, kecuali tim kavaleri panah, tidak ada yang keluar. Penyeberangan kapal, dermaga, Gudang Garam, lumbung kayu, tambang batu, tambang bijih besi dan mata pencaharian lainnya, telah berhenti beroperasi. Kali ini invasi binatang liar ditujukan pada wilayah kita. Binatang buas gila ini juga akan menghancurkan semua wilayah yang dibangun di alam liar. Sedangkan untuk wilayah orang lain, Heru Cokro tidak peduli.
Menurut strategi pertahanan yang diusulkan oleh Notonegoro, Heru Cokro cukup memiliki dua regu cadangan tentara. Semua personel dari tim cadangan tentara, telah dilatih oleh kavaleri panah sebelumnya. Sehingga masih bisa mengangkat senjata dalam medan perang.
Semua orang yang tersisa, kecuali lansia, wanita dan anak-anak, semuanya dimasukkan ke dalam departemen logistik selama masa perang. Seluruh departemen logistik, kurang lebih berjumlah 200 orang, dan Direktur Divisi Cadangan Material Siti Fatimah ditugaskan sebagai eksekutif sementara.
Logistik dibagi menjadi empat grup. Pertama adalah tim medis, yang dipimpin langsung oleh dokter lanjutan Dharmawan. Terdiri dari empat wanita magang dan 16 anggota, ia bertanggung jawab untuk perawatan orang yeng terluka. Kedua adalah tim penanganan material yang berjumlah total 60 orang, dipimpin oleh Joyonegoro, bertanggung jawab atas penanganan senjata. Ketiga adalah tim kolektor yang berjumlah total 80 orang, dipimpin oleh penjahit lanjutan Laxmi, bertanggung jawab atas pengumpulan mayat dan kulit binatang liar. Terakhir adalah tim memasak yang terdiri dari 20 orang, dipimpin langsung oleh koki Renata, yang bertanggung jawab atas pasokan makanan dan air minum untuk semua orang.
Dengan cara ini, sumber daya manusia yang ada di Jawa Dwipa dapat sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya Heru Cokro, hanya dengan membangun dan menyempurnakan sistem kepemimpinan yang efisien dan efektif, ditambah dengan sistem keamanan logistik yang ilmiah dan masuk akal, adalah kunci kemenangan dalam perang.
__ADS_1
Pada jam 07:30, semua warga Jawa Dwipa dengan cepat menghabiskan sarapan mereka dan pergi ke posisi masing-masing di bawah kepemimpinan kapten mereka.
Heru Cokro berdiri di atas menara panah di sisi kiri gerbang utara, di sebelahnya ada komandan regu kedua Ghozi.
“Yang Mulia, kapan dan bagaimana kawanan binatang liar muncul?” tanya Ghozi.
“Masih ada waktu setengah jam lagi, mereka akan muncul di tepi wilayah.”
Pada jam 8 pagi, suara nyaring pemberitahuan sistem terdengar tepat waktu!
“Pengumuman dunia: Misi mempertahankan wilayah dari invasi monster skala global, resmi dibuka! Pada saat yang sama, tiga daftar teratas papan peringkat regional, papan peringkat nasional dan papan peringkat dunia terbuka, saya berharap semua penguasa dapat mengibarkan bendera kemenangan!”
Di tepi wilayah, Heru Cokro melihat ribuan kelompok serigala liar berlari, berbaris di bawah komando raja serigala liar, bergegas cepat keluar dari hutan, mendekati wilayah Jawa Dwipa.
Serigala liar biasa memiliki Level 3, yang merupakan salah satu binatang liar terpadat di alam liar. Serigala liar elit memiliki level 5, sedangkan raja serigala liar adalah bos dengan level 8.
__ADS_1
Kelompok serigala liar yang perkasa, ketika memasuki kisaran wilayah tepi Jawa Dwipa, dilanda sakit kepala. Perangkap tak terlihat yang tak terhitung jumlahnya, berhasil membunuh banyak serigala liar. Setiap jebakan memiliki panjang tiga meter dan lebar satu meter, kedalamannya tiga meter dengan dasar lubang berisi potongan kayu yang tajam. Formasi yang padat membuat kelompok serigala liar merasakan rasa sakit. Seringkali lubang perangkap dapat mengubur 4 hingga 5 serigala liar.