
Heru Cokro masih belum menyadari rangkaian peristiwa yang akan datang. Baginya, yang dia tahu adalah bahwa setelah mencapai lapisan ke-8 dalam Teknik Kultivasi Batin Prabu Pandu, dia mampu meningkatkan energi primordialnya sebanyak lima siklus setiap hari. Dalam kecepatan kultivasinya yang normal, dia menyadari bahwa masih membutuhkan tiga ratus hari lagi untuk mencapai peningkatan berikutnya. Jalur kultivasinya terbukti panjang dan penuh tantangan!
Tiba pada tanggal 5 Juli di Prefektur Gili Raja. Setelah sepuluh hari masa reorganisasi, Divisi Keempat telah berhasil terbentuk, dan tiga divisi baru yang direncanakan telah selesai dibangun. Namun, pekerjaan selanjutnya adalah proses pelatihan yang memakan waktu dan penuh kesulitan.
Berdasarkan rencana dari Departemen Urusan Militer, Divisi Legiun Harimau, bersama dengan Divisi Keempat yang baru terbentuk, akan melakukan pelayaran dari Kecamatan Lombang kembali ke Kecamatan Al Shin. Setelah meredakan ketegangan dan mendapatkan dukungan dari suku-suku Ras Dayak di selatan, Heru Cokro memberikan perintah pribadi kepada Aswatama untuk menyerang wilayah tengah dan utara setelah pembentukan Divisi Ke-3. Ia berambisi untuk menaklukkan seluruh Kalimantan Selatan dalam waktu dua bulan.
Divisi Pengawal akan tetap berada di bawah komando Heru Cokro dan kembali ke Jawa Dwipa. Sementara itu, Divisi Kedua dan Divisi Keempat dari Legiun Naga, bersama dengan Divisi Independen, akan tetap berada di Prefektur Gili Raja.
Langkah selanjutnya adalah mendorong ketiga divisi ini untuk melanjutkan perjalanan ke utara guna menyerang Prefektur Pamekasan. Dalam pertempuran ini, Divisi Perlindungan Kecamatan dari wilayah affiliasi Kecamatan Indrayan akan memberikan dukungan.
Heru Cokro masih memberikan komando pasukan dalam Pertempuran Pamekasan kepada Partajumena. Situasi di Pamekasan dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan Prefektur Gili Raja. Pertama, dengan Prefektur Gili Raja sebagai basis logistik, pasukan mereka tidak menghadapi masalah pasokan dan sumber daya. Kedua, bantuan yang diberikan oleh Kecamatan Indrayan memberikan dukungan yang sangat berarti.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang akan terjadi dengan Pamekasan di masa depan setelah pertempuran selesai.
Aryasatya Wijaya, seorang individu yang cerdas, mengambil inisiatif untuk mengirimkan sebuah surat kepada Heru Cokro. Isi surat tersebut adalah sebuah proposal penting. Dia menyatakan bahwa setelah Pamekasan jatuh ke tangan mereka, Kecamatan Indrayan bersedia untuk mengikuti jejak Kecamatan Le Moesiek Revole dan bergabung ke dalam sistem Wilayah Jawa Dwipa.
__ADS_1
Heru Cokro merasa sangat gembira dan merespons proposal ini dengan penuh antusias. "Terima kasih, Aryasatya Wijaya, atas tawaran yang luar biasa ini. Saya yakin bahwa bergabungnya Kecamatan Indrayan akan memberikan manfaat besar bagi Wilayah Jawa Dwipa."
Setelah memeriksa dengan seksama tiga divisi yang baru saja dibangun, Heru Cokro melangkah kembali ke rumahnya. Pada titik ini, semua urusan militer dan administratif di Prefektur Gili Raja sudah dalam keadaan siap, dan Heru Cokro tidak lagi perlu memeriksanya secara pribadi.
Keesokan harinya, Heru Cokro meninggalkan Kecamatan Djate dan menaiki kapal perang dari Pelabuhan Tanggak, menuju kembali ke Jawa Dwipa. Pelabuhan Tanggak sendiri telah mengalami perubahan besar dalam sebulan terakhir, menjadi sebuah lokasi konstruksi besar yang penuh aktivitas.
Dalam waktu dekat, Pelabuhan Tanggak akan menjadi pelabuhan besar yang akan langsung terhubung dengan Pelabuhan Pantura. Ini akan menjadi jalur perdagangan penting antara dua wilayah ini. Prefektur Gili Raja, sebagai satu-satunya wilayah dengan akses langsung ke jalur laut, akan menjadikan perjalanan antara keduanya menjadi sangat nyaman. Bahkan kapal dagang biasa pun hanya akan memerlukan empat hari untuk menyelesaikan perjalanan ini.
Heru Cokro, yang melihat potensi besar dalam perkembangan ini, berkomentar kepada salah satu pejabat Prefektur Gili Raja, "Perkembangan ini akan membawa banyak manfaat bagi perdagangan dan pertumbuhan wilayah kita. Mari kita pastikan bahwa ini akan menjadi proyek yang sukses."
Pada tanggal 9 Juli, Heru Cokro kembali ke Jawa Dwipa setelah menjalankan tugasnya di Gili Raja. Divisi Pengawal dan empat direktur yang mendampinginya selama tugas tersebut juga kembali. Setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, mereka semua merasa lega untuk kembali ke Jawa Dwipa.
Sebagai tindak lanjut dari berdirinya Prefektur Gili Raja, Heru Cokro memutuskan untuk melakukan perubahan besar dalam struktur wilayah mereka. Ini juga mencakup peninjauan ulang personel yang ada. Seiring dengan pertumbuhan Prefektur Gili Raja, Heru Cokro merasa perlu untuk memikirkan masa depan Prefektur Banjarmasin dan Prefektur Pamekasan. Dia yakin bahwa saatnya telah tiba untuk memperkuat posisi Manor Penguasa Jawa Dwipa.
Langkah pertama yang diambilnya adalah mendirikan secara resmi Balai Prefektur Jawa TImur, yang akan berdiri sendiri dan terpisah dari Istana Penguasa Jawa Dwipa. Heru Cokro memilih Yudistira sebagai Prefek Jawa Timur, yang akan memimpin wilayah ini. Dia juga memutuskan untuk menjadikan Kecamatan Banyuwangi sebagai wilayah pemerintahan Prefektur Jawa Timur. Meskipun saat ini kecamatan tersebut masih dalam tahap pembangunan, Heru Cokro melihat potensi besar di wilayah ini.
__ADS_1
Ada dua alasan utama di balik pemilihan Kecamatan Banyuwangi sebagai wilayah pemerintahan. Pertama, letaknya yang strategis di tengah Prefektur Jawa Timur memudahkan akses dan koordinasi antara berbagai wilayah. Kedua, pemisahan ini akan memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan dan perkembangan Kecamatan Banyuwangi.
Tentu saja, penunjukan Yudistira sebagai Prefek Jawa Timur berarti bahwa dia harus meninggalkan Jawa Dwipa. Keputusan ini tidak hanya membantu meredakan rumor seputar hubungannya dengan Partajumena, tetapi juga dianggap sebagai berkah bagi perkembangan Prefektur Jawa Dwipa.
Dalam sebuah pertemuan dengan Yudistira, Heru Cokro berbicara dengan tulus, "Terima kasih atas komitmenmu dalam melayani Jawa Dwipa. Sekarang, tugasmu sebagai Prefek Jawa Timur akan menjadi kunci untuk mengawal masa depan wilayah ini. Saya yakin kau akan melakukan pekerjaan yang luar biasa."
Setelah pembentukan Prefektur Jawa Timur, tindakan selanjutnya adalah membangun divisi garnisun yang akan bertanggung jawab atas keamanan dan pertahanan harian prefektur tersebut. Sementara divisi perlindungan kota akan memiliki tugas khusus untuk menjaga keamanan di Jawa Timur.
Pembentukan divisi garnisun ini akan mirip dengan proses pembebasan Legiun Naga. Divisi pertama, yang bertugas melindungi prefektur, sekarang akan dipindahkan ke Benteng Le Moesiek Revole untuk memperkuat pertahanan wilayah tersebut. Namun, untuk mengisi anggota divisi garnisun, Heru Cokro memiliki rencana khusus yang melibatkan tahanan dari Prefektur Pamekasan. Oleh karena itu, pembentukan divisi garnisun Jawa Dwipa hanya dapat dilakukan setelah mereka berhasil menjatuhkan Prefektur Pamekasan.
Dalam peran penting ini, Heru Cokro memilih Humam untuk menjadi mayor jenderal divisi garnisun. Humam adalah seorang kolonel dari resimen ke-4 dalam divisi ke-3. Seperti Kaditula Negoro, Humam adalah seorang jenderal yang kuat dan berpengalaman yang telah berkembang di bawah naungan Jawa Dwipa. Meskipun mereka tidak akan menjadi jenderal utama dalam divisi pertempuran hutan belantara, mereka tetap memiliki kemampuan untuk mengelola divisi garnisun. Ini juga dianggap sebagai bantuan terakhir yang diberikan Heru Cokro kepada para jenderal yang telah mendampinginya sejak awal.
Heru Cokro memiliki visi jangka panjang untuk masa depan Jawa Dwipa setelah merdeka. Dia akan menjadi Kepala Jawa Dwipa yang pertama setelah kemerdekaan mereka. Untuk jabatan ini, Heru Cokro memilih Raden Asirudin, Prefek Manor Smelter yang baru saja diangkat. Raden Asirudin dikenal karena pemikirannya yang cemerlang dalam hal administrasi, dan dia memiliki identitas sebagai orang luar yang dapat membawa pandangan segar dalam pemerintahan.
Selanjutnya, jabatan Prefek Manor Smelter akan dipegang oleh Jaka Sembung, Kepala Wilayah Maspion yang selama ini menjadi sosok yang dihormati oleh Heru Cokro. Selama pertempuran, Jaka Sembung telah menunjukkan bakat luar biasa, dan Heru Cokro ingin memberinya kesempatan untuk berkembang lebih lanjut.
__ADS_1
Pada saat yang bersamaan, Heru Cokro secara resmi menunjuk Witana Sideng Rana sebagai Gubernur Kalimantan Selatan. Dengan ini, Manor Penguasa telah menguasai tiga prefektur secara resmi, dan masa depan mereka semakin terbentang luas.