
[Nama]: Notonegoro (golongan IV)
[Status]: Asisten Eksekutif Biro Administrasi dan Pejabat Inti Kantor Pencatatan Sipil (Jawa Dwipa)
[Profesi]: Pejabat sipil
[Loyalitas]: 85
[Komandan]: 25 [Kekuatan militer]: 15
[Inteligensi]: 45 [Politik]: 55
[Spesialisasi]: Sekretaris (meningkatkan efisiensi administrasi teritori sebesar 5 %)
[Evaluasi]: Seorang sarjana yang miskin\, namun pekerja keras\, suka membaca buku-buku puisi\, serta orang yang sederhana dan lembut.
Benar saja, Notonegoro juga telah dipromosikan menjadi Golongan IV. Bahkan sekarang dia mendapatkan spesialisasi sebagai sekretaris. Demikian pula, Pusponegoro dipromosikan dari Golongan II ke Golongan III. Sayangnya, ia tidak mendapatkan spesialisasi seperti Notonegoro.
[Nama]: Pusponegoro (Golongan III)
[Status]: Direktur Divisi Pertanian (Jawa Dwipa)
[Profesi]: Pejabat sipil
[Loyalitas]: 85
[Komandan]: 20 [Kekuatan militer]: 20
__ADS_1
[Inteligensi]: 30 [Politik]: 38
[Evaluasi]: Kepala Desa Grisse\, memiliki sikap yang baik\, menguasai desa\, dan bagus dalam pengelolaan agrikultur.
Periksa atribut keduanya, Heru Cokro menemukan Kawis Guwa dan melakukan komunikasi sederhana dengannya. Sebelum berbicara dengan Divisi Konstruksi dan Divisi Cadangan Material, Heru Cokro juga berkomunikasi dengan Kawis Guwa tentang kedua divisi tersebut untuk menunjukkan rasa hormat.
Heru Cokro dapat melewati Kawis Guwa, langsung ke Divisi Konstruksi dan tidak ada yang bisa mengatakan apa-apa. Namun, jika Heru Cokro tidak mengatakan apa-apa kepada atasan pejabat inti Divisi Konstruksi, itu akan menghancurkan aturan yang berlaku. Dalam jangka panjang, prestise Kawis Guwa akan menurun, yang tentunya tidak ingin dilihat oleh Heru Cokro.
Setelah meninggalkan kantor administrasi, Heru Cokro kembali ke kantornya. Selama sisa waktu ini, dia tidak membaca seperti biasanya. Melainkan menulis dan menggambar.
Menimbang bahwa Siti Fatimah tidak memiliki pengalaman dalam berpolitik, ada juga beberapa kekurangan dalam pemahaman tentang keuangan dan perpajakan. Tentu saja, Heru Cokro tidak akan melempar Divisi Finansial padanya seperti ini. Pada periode awal, tentu dia masih akan membantunya. Setelah Divisi Finansial mulai berada di jalur yang benar, dia dengan perlahan-lahan akan melepaskannya.
Oleh karena itu, menggunakan waktu luang yang langka di sore hari ini, Heru Cokro siap untuk menuliskan pengetahuannya tentang keuangan dan perpajakan. Hal ini bersumber dari penggabungan antara sistem fiskal dan perpajakan canggih di dunia nyata dengan sistem fiskal dan perpajakan berbagai generasi di zaman kuno.
Dalam panduan kerja ini, terdapat definisi dan peran fiskal ataupun perpajakan, bagaimana cara melakukan pekerjaan fiskal dan perpajakan serta pertimbangannya, dan bagaimana membangun sistem keuangan dan perpajakan yang baik. Ketiga poin tersebut di tulis dengan penjelasan yang mendalam.
Heru Cokro menulis dalam panduan kerja. Keuangan merupakan perilaku ekonomi dengan wilayah sebagai badan utamanya. Pendapatan wilayah dapat digunakan untuk memenuhi permintaan publik dan pengeluaran teritori untuk mencapai tujuan pengoptimalan alokasi sumber daya, stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Heru Cokro percaya bahwa dengan panduan kerja dan kebijaksanaan Siti Fatimah. Dia dapat menjalankan Divisi Finansial dengan baik, dan wajar apabila akan mengalami sedikit kendala dalam prosesnya. Ini tidak bisa dihindari. Sedangkan untuk pengoperasian Bank Nusantara, Siti Fatimah masih memiliki banyak pengalaman. Jadi Heru Cokro tidak perlu khawatir.
Selesai menuliskan panduan kerja, Heru Cokro offline.
Pada kenyataannya, ini masih merupakan akhir pekan. Hari ini Heru Cokro akan menemui Dia Ayu Heryamin dan Rama Heryamin untuk meminta maaf. Ternyata mereka berdua juga bermaksud meminta maaf kepada Heru Cokro juga. Sehingga persoalan sebelumnya berlalu bersama dengan angin.
Sebagai permintaan maaf, Heru Cokro mengajak mereka pergi berbelanja. Sesampainya di Surabaya Center Square mereka membeli makanan, minuman dan bersenang-senang di area bermain.
Bocah kecil yang berjalan keluar dari ruang pas, memandang Heru Cokro dengan mata besar yang menggemaskan, berkata: “Kakak, Apakah Rama Heryamin terlihat keren dengan baju ini?”
__ADS_1
Meskipun ini adalah baju keenam yang telah dicoba oleh Rama Heryamin, Heru Cokro masih berusaha memujinya. Faktanya, ia telah lama tersenyum kaku. Memuji: “Keren, sangat tampan! Ayo beli yang ini. Rama sudah seperti artis top Indonesia.”
Merasa senang dibanggakan oleh Heru Cokro. Bangkit dan melompat kembali ke ruang pas dan mencoba pakaian yang lain.
Pada saat ini, Dia Ayu Heryamin keluar mengenakan gaun sutra berlengan pendek. Menampilkan garis belahan yang cukup dalam. Menghadirkan nuansa menyegarkan dan elegan.
Dia Ayu Heryamin benar-benar membuat Heru Cokro takjub atas pesona dan keelokan lekuk tubugnya, dia berkata dengan tidak sadar: “Sangat cantik!”
Dia Ayu Heryamin yang sedang melihat dirinya di cermin, terkejut oleh pernyataan Heru Cokro, membuat wajahnya merah merona seperti senja. Heru Cokro sendiri merasa bahwa ada sesuatu yang telah berdiri di sela-sela.
Saat keluar dari toko pakaian, Heru Cokro memegang 6 tas ditangannya. Untuk mengekspresikan permintaan maafnya, kali ini Heru Cokro rela menguruskan dompetnya, membayar sejumlah 4 juta kripton untuk membeli semua pakaian yang telah mereka pilih sebelumnya.
Pada saat ini, ada dua mahasiswa cantik. Setelah melihat Dia Ayu Heryamin, mereka menjerit, berlari dan berkata dengan gembira: “Wow, Dia Ayu, anda berada di sini, ini sangat bagus!”
Dia Ayu Heryamin berkata dengan sedih: “Hei, kalian tega meninggalkan aku sendiri, hanya karena seorang pacar. Teman macam apa ini!”
Ternyata kedua mahasiswi cantik ini adalah teman serumah Dia Ayu Heryamin sebelumnya. Heru Cokro tidak menyangka akan bertemu dengan mereka disini. Ketiga wanita tersebut berkumpul dan mengobrol tanpa henti. Heru Cokro yang melihatnya merasa telah melihat adegan pada serial Drama Korea.
Dia Ayu Heryamin berbalik, tersenyum canggung dengan manis berkata: “Kakak Heru, izinkan saya memperkenalkannya, mereka berdua adalah teman sekamar saya sebelumnya.”
Mahasiswi imut di sebelah kiri, mengenakan sweater hitam dengan celana ketat ini bernama Eka Anggra Sari. Sedangkan yang di sebelah kanan, mengenakan kaos polos dengan celana jeans adalah Hayu Darmaning Astuti.
Bagi mereka yang baru saja bertemu, terlepas dari jenis kelamin, Heru Cokro tentu tidak terlalu banyak bicara. Setelah sedikit sapaan, dia berdiri diam dan menjadi pendengar.
Sedangkan Eka Anggra Sari dan Hayu Darmaning Astuti penuh rasa risih terhadap Heru Cokro. Hayu Darmaning Astuti berkata dengan sinis, memberikan tanda julid kepada Heru Cokro.
Eka Anggra Sari sedikit tidak bermoral, dengan mata agresif, memandang Heru Cokro dengan angkuh. Jika bukan karena kemampuan untuk menahan perasaannya, dia akan menyuruh Heru Cokro untuk menjauh.
__ADS_1
Dia Ayu Heryamin sekarang tidak punya pacar, ini terlalu aneh untuk Dia Ayu setuju berbagi rumah dengan seorang laki-laki. Dalam hal ini, hanya memiliki dua kemungkinan. Entah orang ini memang baik atau pesonanya, membuatnya jatuh cinta.
Heru Cokro yang berdiri satu meter didepannya, masih bersikap tenang. Meskipun dia bukan pria yang tampan, itu memang terlihat seperti orang baik-baik. Maka dari itu, hanya ada satu jawaban, yaitu musim panen Dia Ayu Heryamin mungkin telah datang.