Metaverse World

Metaverse World
Benteng Gresik: Penguasaan, Teguh, dan Perjuangan


__ADS_3

Saat ini, suku padang rumput tidak bisa melawannya, bahkan jika mereka mencobanya. Yang paling penting adalah bahwa Heru Cokro ingin mendapatkan dukungan dari suku padang rumput, dan untuk itu, dia harus memperlakukan keluarga bangsawan ini dengan baik. Jika tidak, banyak efek samping akan timbul dan menyulitkan pemerintahannya. Tujuannya adalah menguasai seluruh wilayah Gresik dan menjadikannya sebagai benteng yang kuat. Namun, Heru Cokro juga menyadari bahwa jika dia benar-benar membantai keluarga bangsawan padang rumput, itu tidak hanya akan mempengaruhi suku padang rumput, tetapi juga akan berdampak pada orang barbar gunung.


Para pemimpin suku saling memandang dengan wajah pucat dan gemetar karena menyaksikan situasi yang semakin melawan mereka. Mereka merasa terpanggil untuk tidak tinggal diam. Semua pemimpin suku berdiri dan berjanji setia kepada Heru Cokro. Namun, Junda, pemimpin Suku Pangkah, tidak bersedia untuk bergabung dengan mereka. Dia membenci dan mencemooh sikap pemimpin suku lainnya.


"Tindakannya hanya membuatnya menonjol. Dia mencoba menarik perhatian," pikir para pemimpin suku lainnya.


Heru Cokro memandang Junda dengan mata berbinar. Dia melihat kekuatan dan ketegasan dalam kata-kata Junda. Meskipun sikapnya mencerminkan kesombongan, Heru Cokro merasa kagum dengan ketegasan dan martabatnya. Dalam kalimat pendeknya, Junda telah menunjukkan karakter yang dalam dan kompleks. Heru Cokro menyadari bahwa Sajana telah membesarkan seorang putra yang baik.


"Dia memiliki pendirian yang kuat dan teguh," pikir Heru Cokro. "Sajana pasti bangga padanya."


Heru Cokro mengangguk, mengekspresikan penghargaan atas keberanian Junda.


"Bagus, kata yang bagus," kata Heru Cokro. Suaranya tenang, tetapi mengandung kemarahan dan provokasi.


Heru Cokro menunjukkan sikap yang kuat dan tegas sebagai penguasa. Dia menyatakan bahwa dia murah hati tetapi juga tegas dalam menjaga hukum dan ketertiban. Dia menegaskan bahwa dia tidak akan ragu-ragu untuk mengambil tindakan tegas jika ada yang mencoba mengganggu wilayah Gresik.


Kekuatan dan prestise Heru Cokro memenuhi seluruh aula. Dia memancarkan niat membunuh yang kuat dan kebanggaan yang tidak bisa diblokir. Para pemimpin suku berlutut sebagai bentuk kesetiaan mereka, bahkan Junda pun melakukan hal yang sama. Mereka semua terdiam dan tak berani mengeluarkan suara, membuat suasana aula menjadi sunyi.


Heru Cokro merasa puas melihat wajah ketakutan mereka. Mereka semua adalah pemimpin suku padang rumput yang menguasai puncak kekuasaan di wilayah mereka. Namun, sekarang mereka semua berada di bawah kekuasaannya dan tidak berani melawan.


Sore itu, Heru Cokro membuat janji. Dia mengizinkan para pemimpin dan keluarga bangsawan untuk membawa aset mereka dan pindah ke Jawa Dwipa. Jawa Dwipa akan menyediakan wilayah di luar kota untuk mereka tinggali, dengan syarat bahwa mereka tidak boleh keluar dari rumah dan tidak boleh melakukan kontak dengan anggota suku lainnya.

__ADS_1


"Jika mereka melanggar peraturan ini, mereka akan dihukum berat, dan hukuman itu akan menyeret seluruh suku mereka," kata Heru Cokro dengan tegas.


Para pemimpin suku mengangguk, menerima janji dan peraturan ini dengan serius. Mereka menyadari bahwa Heru Cokro adalah seorang penguasa yang kuat dan tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas demi menjaga stabilitas dan keamanan wilayah Gresik.


Pada hari kedua tahun baru Imlek, suasana sibuk di wilayah Gresik. Heru Cokro mengalihkan seluruh perhatiannya dan bertemu dengan berbagai prefek dan camat di ruang bacaannya. Empat prefek dan satu camat dikirim olehnya untuk berdiskusi.


Heru Cokro dengan tulus menyambut para tamu. "Selamat datang, saudara-saudara. Ayo, duduklah dan ceritakan tujuan kalian datang ke sini," kata Heru Cokro dengan ramah.


Orang pertama yang ingin Heru Cokro temui adalah prefek Manor Smelter, Zudan Arif. Meskipun pasukan Smelter relatif kecil, wilayahnya memiliki pangkalan yang sangat kuat. Dari laporan yang diterimanya, populasi di Manor Smelter mencapai 210 ribu orang, menjadikannya daerah terpadat kedua setelah Manor Jawa Dwipa. Ladang Tambang Manyar, tambang emas besar yang menjadi kekayaan utama Manor Smelter, adalah keberhasilan besar setelah penerapan proyek serangga beracun oleh Heru Cokro.


"Manor Smelter memang sangat penting untuk memulihkan diri setelah era pemerintahan Sambari Hakim yang fokus pada militer," ujar Heru Cokro dengan bijaksana. "Tambang Manyar harus dijadikan aset Manor Smelter, dan saya berharap mereka dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki situasi keuangan mereka."


Heru Cokro juga menginstruksikan Ladang Tambang Serigala Putih untuk mengirim para ahli untuk mengajar di Tambang Manyar, agar tingkat keterampilan dan efisiensi tambang meningkat.


"Kedua, wilayah-wilayah di bawah Jawa Dwipa, terutama teritori tingkat dua, harus disingkirkan. Populasi mereka akan dipindahkan ke teritori utama untuk meningkatkan efisiensi administrasi," tambah Heru Cokro dengan tekad.


"Dan ketiga, rencana pembangunan tembok luar harus dipercepat. Saya ingin pembangunannya selesai sebelum musim tanam tiba. Jika terjadi keterlambatan, maka jadwalkan ulang hingga musim tanam berikutnya," lanjut Heru Cokro dengan tegas.


Selain itu, Heru Cokro juga telah memberikan instruksi ke Departemen Urusan Militer untuk bertanggung jawab atas pembentukan resimen perlindungan kota Smelter, yang akan berfungsi sebagai garis depan pertahanan melawan ancaman dari Prabu Temboko.


Para prefek menerima tuntutan dan instruksi Heru Cokro dengan penuh semangat. Mereka merasa bangga menjadi bagian dari upaya membangun dan memperkuat wilayah Gresik di bawah pemerintahan yang bijaksana ini.

__ADS_1


Setelah diskusi berakhir, para prefek dan camat berangkat ke wilayah pemerintahan mereka pada hari berikutnya, siap untuk menerapkan tuntutan dan instruksi yang telah diberikan oleh Heru Cokro. Mereka memiliki tekad yang kuat untuk bekerja bersama menuju masa depan yang lebih baik untuk wilayah Gresik.


Musim panas telah tiba, dan bagi Sailendra Maimun, prefek wilayah, tidak ada waktu untuk bersantai. Begitu pagi menyingsing, dia harus menghadapi tanggung jawabnya dengan serius. Sebelum meninggalkan wilayahnya, Sailendra Maimun melakukan pertemuan singkat dengan Siti Fatimah, salah satu stafnya.


"Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Sailendra Maimun dengan penuh perhatian.


Siti Fatimah mengangguk, "Ya, semuanya berjalan dengan baik, Tuan. Semua rencana telah diatur sesuai dengan petunjuk Anda."


Sailendra Maimun tersenyum puas, lalu bersiap-siap untuk bertemu dengan Zudan Arif, prefek Manor Smelter, yang akan segera pergi. Sebelum keberangkatan Zudan, Heru Cokro, penguasa wilayah, memberikan sebuah token kepadanya. Token ini adalah hadiah untuk membangun pemukiman yang dapat menghidupkan kembali Manor Smelter. Token ini sangat berharga dan berarti untuk Zudan, karena telah digunakan oleh Heru Cokro untuk penggabungan wilayah sebelumnya.


Setelah memberikan token tersebut, Heru Cokro masih menyimpan tiga token lainnya di dalam tas penyimpanannya. Token-token itu adalah alat kekuasaan yang penting dalam perencanaannya untuk mengembangkan wilayah Gresik.


Pada hari ketiga Tahun Baru Imlek, jadwal Heru Cokro sangat padat. Di pagi hari, dia telah mengatur pertemuan dengan tiga direktur dan Kepala Wilmar, Samudro.


Setelah suku padang rumput menyerah dan tunduk pada penguasaannya, Heru Cokro memiliki rencana ambisius untuk membangun kota di padang rumput. Langkah pertamanya adalah memanfaatkan tiga wilayah afiliasi tingkat 2 yang belum digunakan di Batih Ageng. Rencananya adalah membangun Kecamatan Banyuwangi di sebelah Danau Banyuwangi, serta dua kecamatan lainnya di sebelah timur dan barat.


"Manor Banyuwangi akan menjadi manor terbesar di seluruh Prefektur Gresik. Dengan basis tiga kecamatan, kita akan memperkuat kekuasaan kita atas wilayah ini," ucap Heru Cokro dengan penuh semangat ketika membicarakan rencananya kepada para direktur dan Samudro.


Para direktur dan Samudro menyambut rencana Heru Cokro dengan penuh antusiasme. Mereka yakin bahwa dengan kepemimpinan yang bijaksana dan ambisius, wilayah Gresik akan berkembang pesat di bawah penguasaan Heru Cokro.


"Saya percaya ini adalah langkah maju yang hebat untuk wilayah kita. Kita akan bekerja sama dengan penuh dedikasi untuk mewujudkan rencana ini," ujar Samudro dengan rasa hormat.

__ADS_1


Heru Cokro tersenyum puas. Dia merasa percaya diri bahwa rencananya akan memberikan hasil yang baik bagi wilayah Gresik. Pada hari itu, semangat untuk membangun dan mengembangkan wilayahnya semakin berkobar dalam hati Heru Cokro.


__ADS_2