Metaverse World

Metaverse World
Menginvasi Pulau Noko Part 4


__ADS_3

Prajurit itu tidak mengharapkan tanggapan apa pun dari Bupati agung, jadi gerakan kecil ini menghangatkan hatinya.


Heru Cokro mengangkat kepalanya dan mengamati bangunan tercanggih di pulau itu.


Sebuah halaman kecil yang sederhana terbentang di hadapannya. Itu menyentuh ingatan Heru Cokro. Dia mengingat kembali ketika Kecamatan Jawa Dwipa awalnya dibangun. Pada saat itu, kediaman penguasa dan halamannya sangat mirip.


Heru Cokro tiba di Ruang Dewan dan mulai dengan sabar menunggu informasi terbaru yang dikumpulkan para pengintai.


Jam 5 sore, Joko Tingkir mengumpulkan semua informasi dan melapor ke Heru Cokro.


Setelah Heru Cokro memberi isyarat, Joko Tingkir masuk dan duduk di bagian bawah ruangan. Dia berkata, “Melaporkan ke Bupati, kampanye berjalan lebih lancar dari yang dibayangkan. Armada kami hampir tidak memiliki korban jiwa. Kami hanya kehilangan 150 orang.”


Heru Cokro mengangguk. Kemajuan perang ini memang telah melampaui harapannya.


“Kampanye ini telah menangkap total lebih dari 1.650 perompak. Kami memusnahkan semua perompak yang tersisa. Kami pada dasarnya membakar semua kapal perompak menjadi abu atau menenggelamkannya ke laut. Hanya lima atau enam kapal yang selamat, kami telah menariknya kembali ke dermaga.”


Joko Tingkir melanjutkan, “Melalui penyitaan gudang dan rumah bajak laut, kami telah menjarah 12.500 emas dan sekotak perhiasan. Senjata, peralatan, dan bahan makanan yang disita relatif langka. Mereka tidak menyimpannya dalam jumlah besar.”


Heru Cokro mengangguk. Dia juga mengharapkan situasi ini. Para perompak mengandalkan jarahan untuk mencari nafkah. Pada saat kekurangan makanan, mereka hanya akan berburu, jadi mereka pasti tidak akan menyimpan banyak makanan.


Sebaliknya, para perompak telah menimbun semua emas dan permata yang telah mereka rampas dan kumpulkan karena kurangnya saluran penjualan. Untuk alasan ini, kelompok bajak laut yang terdiri lebih dari 3.000 orang memiliki kekayaan lebih dari 10.000 emas.


“Ambil 500 koin emas dari dana yang disita dan berikan hadiah kepada para prajurit,” kata Heru Cokro.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu kapan itu dimulai, tetapi Heru Cokro mulai memberi penghargaan kepada para prajurit sesuai dengan penampilan mereka. Dia melakukan ini untuk mendorong para prajurit untuk berperang dengan gagah berani.


"Terimakasih Paduka!" Joko Tingkir mewakili armada dan berterima kasih kepada Heru Cokro.


"Apakah kita menjarah sesuatu yang istimewa?" Heru Cokro bertanya. Heru Cokro merujuk pada item level khusus. Secara umum, ada kemungkinan besar untuk mendapatkan beberapa item aneh dari jarahan para perompak.


"Ya ada." Joko Tingkir tidak mengecewakan.


Para prajurit di luar menyeret sebuah kotak perhiasan dan emas, dan segala sesuatu yang telah mereka rampas dari para perompak. Mereka meninggalkannya di tanah agar Heru Cokro dapat memeriksa barang-barang itu.


Heru Cokro berdiri. Selain menyisihkan 500 emas, ia menyimpan barang-barang lainnya di tas penyimpanannya. Ruang yang penuh sesak sekali lagi menjadi kosong. Dia hanya meninggalkan dua barang di tanah, batu dan lukisan.


Heru Cokro mengambil batu hitam itu dan memeriksanya. Batu itu berukuran sedang, kira-kira seukuran dua kepalan tangan. Rasanya berat ketika seseorang mengambilnya di telapak tangan mereka.


Batu itu memiliki sifat sederhana, tetapi menimbulkan badai kegembiraan yang hebat di hati Heru Cokro. Bahan tempa tingkat platinum, Heru Cokro bisa melihat senjata eksklusif pribadinya melambai padanya.


Besi halus meteorit ini saja membuat Heru Cokro merasa bahwa perjalanan ini berharga.


Heru Cokro menduga bahwa satu-satunya alasan Kumis Keris tidak menempa besi halus meteorit ini adalah karena dia tidak dapat menemukan dirinya pandai besi yang layak. Hanya ahli pandai besi yang bisa memanfaatkan bijih langka ini dan mengubahnya menjadi sangat berguna.


Dengan hati-hati, dia meletakkan besi halus meteorit itu ke dalam tas penyimpanannya sebelum dia mengambil sebuah peta.


[Peta Harta Karun Nogo Ireng] (1/3): Menurut legenda, bajak laut Nogo Ireng pernah menguasai Samudra Hindia hingga Selat Malaka. Setelah kematian pemimpinnya, Chen Zuyi, kekayaan luar biasa yang diperolehnya dari penjarahan juga hilang.

__ADS_1


Pada awal abad ke-15, kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Tiongkok. Gerombolan bajak laut ‘Naga Hitam’ ini terkenal paling ditakuti di perairan Samudra Hindia hingga Selat Malaka.


Kehadiran Chen Zuyi di Palembang juga terkait dengan kondisi politik Sriwijaya yang meredup. Ia memerintah kota Palembang, dan menyerbu Selat Malaka untuk menguasai perkapalan dan menekan para pedagang asing dan penduduk asli selama beberapa tahun.


Akhirnya Kaisar Yongle memerintahkan kepada Laksamana Ceng Ho untuk melakukan ekpedisi pelayaran. Laksamana Cheng Ho bersama 27.000 tentaranya melakukan ekspedisi ke Samudra Hindia yang dimulai pada 1405 hingga 1433.


Salah satu tugas rahasia Laksamana Cheng Ho dalam ekspedisinya ialah memburu musuh negara. Sebagian di antara mereka ternyata lari ke Palembang dan menjadi bajak laut paling ditakuti. Jadilah pelayaran ke Bumi Sriwijaya itu sebagai misi penumpasan perampok yang juga buron kekaisaran.


Laksamana besar tersebut kemudian mampir ke Palembang, dan tentu saja kedatangannya itu membawa armada kapal harta yang banyak, hasil dari upeti yang diberikan negara-negara yang dikunjungi.


Itu membuat ngiler Cheng Zhuyi, gembong bajak laut yang telah malang melintang di Selat Malaka hingga perairan Palembang. Menurut pakar sejarah Cheng Ho asal Singapura, Tan Ta Sen, ketika datang Cheng Ho sudah membacakan maklumat kaisar agar Cheng Zhuyi menghentikan aksinya.


“Saat itu Cheng Zhuyi menyatakan tunduk dan hendak menemui Cheng Ho,” ujar Tan Ta Sen. Tapi, Cheng Zhuyi menyimpan niat jahat untuk merampok. Rencana itu tercium Shi Jinqing yang kemudian melaporkannya ke Cheng Ho. Cheng Ho pun se­gera memasang perangkap balasan.


Ketika kapal para bajak laut itu mendekat, tiba-tiba armada Cheng Ho bermanuver mengepung kapal Cheng Zhuyi dan anak buahnya. Panah-panah api dari tentara Cheng Ho langsung menerangi malam hari, begitu pula meriam Cheng Ho yang segera menyalak.


Maka, barisan penjahat berkekuatan 5.000 orang tersebut langsung lenyap dalam semalam. Sedangkan Chen Zhuyi ditangkap hidup-hidup. Bersama dua pembantu setianya, Cheng Zhuyi dibawa ke Tiongkok dan dihukum mati.


Perairan Selat Malaka sudah ramai sejak ribuan rahun silam. Kapal-kapal dagang dari India dan China sering melintasi jalur laut tersebut untuk perdagangan. Padatnya lalu lintas laut di Selat Malaka sejak lampau telah memicu perompakan berkali-kali.


Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Bahkan secara tidak langsung menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni India, Indonesia, dan Republik Rakyat Tiongkok (China).


Menurut sejarah, menjadi perompak di Selat Malaka tidak hanya menguntungkan jika dilihat dari segi material, tetapi aksi perompakan juga merupakan alat politik yang penting. Para penguasa mengandalkan para perompak untuk mempertahankan kekuasaan.

__ADS_1


__ADS_2