
Heru Cokro menganggukkan kepalanya dan kembali menuju pos komando. Dia tidak tahu, bahwa Nogo Sosro yang dia khawatirkan sudah mati di tangan Ulo Sowo. 10 menit kemudian, dia melihat sinyal dari Latansa.
Heru Cokro terkejut, dan segera menaiki kudanya, dengan nada rendah yang dalam, dia berkata, "Pergi!" Peleton infanteri di depan dan kavaleri di belakang, mereka bergerak menuju benteng.
Penjaga benteng yang ditempatkan disana tercengang melihat pasukan besar dan perkasa, tiba-tiba muncul di depan mata mereka. Mereka memiliki sedikit atau hanya beberapa penjaga di pos, sebagian besar pejuang telah terjerat dalam pertempuran antara tiga komandan, bagaimana mungkin mereka menahan militer Jawa Dwipa?
Butuh sedikit usaha untuk menduduki gerbang utama. Latansa datang bergegas dari samping, berkata dengan penuh semangat, "Selamat datang Yang Mulia!"
Heru Cokro menganggukkan kepalanya, dan dengan cepat berkata, "Bagaimana situasi di benteng?"
“Yang Mulia, semuanya berjalan persis seperti yang diharapkan. Ulo Sowo telah menduduki Aula Persaudaraan dan membunuh Nogo Sosro. Sekarang, Joko Tingkir dan pasukannya sedang terjerat dalam peperangan melawan Ulo Sowo, untuk membalaskan kematian Nogo Sosro.” Latansa dengan cepat merangkum situasinya.
Heru Cokro menghela napas lega ketika mendengar bahwa Nogo Sosro telah mati, "Bagus, peperangan ini seperti pertarungan kepiting dan udang yang kemudian di tangkap nelayan. Ayo pergi!" Kali ini, pasukan infanteri dan kavaleri bertukar posisi.
Ketika militer Jawa Dwipa mencapai Aula Persaudaraan, semua bandit terkejut, karena tidak ada diantara mereka yang melihatnya datang. Ulo Sowo, menyadari situasi semakin buruk, dia dengan tegas berteriak, "Saudaraku, musuh telah mengganggu kita, mari kita berhenti dan membela diri bersama!"
Para bandit, berlumuran darah dan bersemangat dengan kata-kata Ulo Sowo, berteriak tanpa rasa takut. Hanya Joko Tingkir sendiri yang terkejut dan curiga. Dia tidak menyangka bahwa pasukan Jawa Dwipa telah menunggu di luar benteng. Sepertinya, apa pun yang terjadi hari ini telah berada di bawah kendali dan pengawasan penguasa Jawa Dwipa.
Heru Cokro berkata sambil mencibir, "Menyerahlah, kalian akan selamat. Namun jika melawan, kalian hanya bisa mati!"
“Puiiih! Saudaraku, ikuti aku, mari bertarung hingga tetes darah terakhir!” Ulo Sowo meneriakkan seruan perang dan menyerang ke depan.
Melihat bahwa perang tidak dapat dihindari, darah Heru Cokro mendidih penuh kegembiraan, dia juga meneriakkan seruan perang, "Serang!"
Kapten Wirama memimpin peleton kavalerinya, mengikuti jejak Heru Cokro dan berteriak: "Lindungi Yang Mulia!"
Dari saat Ulo Sowo memutuskan untuk melawan, hasilnya sudah diputuskan. Bagaimanapun, mereka adalah bandit air, perang darat bukanlah medan perang utama mereka, selain itu juga mereka telah kelelahan karena pertempuran sebelumnya. Sedangkan militer Jawa Dwipa yang sudah siap, energik dan merupakan tentara darat, bagaimana para bandit ini bisa menandingi militer Jawa Dwipa?
Heru Cokro dan Wirama bertempur di garis depan, berfungsi sebagai ujung tombak, sedangkan seluruh peleton kavaleri dibelakangnya bertempur seperti pisau tajam, menembus dan membelah para bandit menjadi dua bagian. Kemudian di belakang punggung kavaleri adalah peleton infanteri perisai dan pedang, menuai para bandit seperti petani yang memanen tanamannya.
Formasi bandit hancur berkeping-keping, kemudian ketakutan segera melanda mereka semua. Heru Cokro memanfaatkan kesempatan itu dan berteriak lagi, "Menyerah dan kamu akan hidup, melawan dan kamu mati!"
"Menyerah dan kamu akan hidup, melawan dan kamu mati!" Pasukannya mengulangi perkataan Heru Cokro.
__ADS_1
“Klang!” Akhirnya, seseorang tidak bisa menahan tekanan, melemparkan senjatanya ke tanah dan menyerah. Itu seperti penyakit COVID-19 yang dapat dengan cepat dan mudah menular, begitu yang pertama menyerah, sisanya hanya bisa mengikuti.
Adapun komandan Ulo Sowo, dia telah ditembak mati dengan busur Kalamunyeng milik Jenderal Giri. Nogo Sosro sudah mati, dan sekarang Ulo Sowo mati di tangannya, Jenderal Giri menganggap dirinya telah cukup menyelesaikan misi rahasia yang diberikan Heru Cokro.
“Haha~ha~haaha, aku sekarang telah memasuki pangkat perwira Waha~haha, aku secara resmi menjadi letda” Tawa yang tidak pantas terdengar dari peleton kavaleri.
Heru Cokro menoleh, hanya untuk melihat Dudung yang tertawa terbahak-bahak, dengan Andika yang berada di sampingnya, menatap dengan cemburu. Siapa sangka Dudung berhasil menaikkan level pangkatnya lebih cepat dari Andika, mencapai letda dan memasuki pangkat perwira terlebih dahulu.
Heru Cokro memanggil keduanya, berkata sambil tertawa, “Bagus, akhirnya ada hasilnya. Dudung, selamat!”
"Ya!"
“Dengan ini, saya menunjuk anda sebagai kapten atau mayor infanteri. Namun, anda dapat secara resmi menjadi kapten setelah melakukan perubahan kelas atau perubahan profesi.”
"Terima kasih, Yang Mulia! Aku tidak akan mengecewakanmu!"
“Andika!”
"Ya!"
"Terima kasih, Yang Mulia! Aku tidak akan mengecewakanmu!"
Wirama berdiri di samping, tersenyum masam dan bertanya: "Yang Mulia, anda baru saja mengambil dua sersan terbaik dari peleton kavaleri, apa yang harus saya lakukan sekarang."
"Apa yang harus dilakukan? Tidur dan berdoa saja!” Setelah sedikit bercanda. Heru Cokro dengan nada tulus berkata, “Ada kebutuhan untuk fokus pada generasi berikutnya, sehingga dapat menumbuhkan lebih banyak talenta baru dan mempromosikannya secara tepat ke dalam posisi yang tepat.”
"Dipahami!"
Setelah selingan kecil, Heru Cokro mengatur pembersihan sisa pertempuran, "Agus Bhakti!"
"Siap Yang Mulia!"
"Pimpin tim, dan bawa bandit non-prajurit ke alun-alun depan Aula Persaudaraan."
__ADS_1
"Siap Yang Mulia!" Agus Bhakti pergi bersama dengan peleton kavaleri satu.
"Agus Fadjari!"
"Disini, Yang Mulia!"
"Pimpin peletonmu untuk tetap waspada dan awasi para tawanan."
"Siap, laksanakan Yang Mulia!"
"Dudung!"
"Siap Yang Mulia!"
“Bawa orang-orangmu dari peleton infanteri kedua untuk menutup gudang makanan, gudang senjata dan gerbang utama benteng. Basmi siapa saja yang mendekat.”
"Baik, Yang Mulia!" Dudung kemudian memimpin peleton infanteri kedua menuju gudang makanan, gudang senjata, dan gerbang utama.
“Andika!”
"Yang Mulia!"
“Pimpin peleton infanteri petama untuk menjaga dan mengawasi para tawanan, jangan sampai ada kesalahan!”
"Baik Yang Mulia!"
Setelah Heru Cokro selesai memberikan perintahnya, barulah dia memiliki waktu untuk mengunjungi Joko Tingkir, "Saya telah lama mendengar tentang kemampuan dan bakat dari Laksamana Joko Tingkir. Saya sangat senang dapat melihat anda secara langsung."
Joko Tingkir memegang wajah murungnya dan berkata dengan suara yang dalam, "Jenderal yang kalah, bagaimana bisa menerima pujian."
“Huh! Kekalahan pertempuran ini bukanlah kesalahanmu, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Ulo Sowo sekarang sudah mati, anda telah membalaskan dendam penyelamat anda, dan melunasi hutang anda. Anda sendiri juga telah melakukan semua yang anda bisa. Seorang pria terhormat seperti anda seharusnya melayani medan perang, tidak layak menghabiskan sisa hidupmu di benteng kecil ini. Saya berharap dapat merekrut anda sebagai pemimpin angkatan laut Jawa Dwipa, dengan gelar jenderal. Saya harap Anda akan mempertimbangkan dan menerima tawaran saya.” Heru Cokro membungkuk dalam-dalam saat dia menyelesaikan pidatonya yang tulus.
Joko Tingkir tergerak, dia dengan cepat meluncur ke samping menghindari rukuk penghormatan Heru Cokro. Kemudian dia berlutut dengan satu lutut di tanah, dan berseru gembira, "Yang Mulia sangat baik hati, saya akan bersumpah setia kepada anda!"
__ADS_1