Metaverse World

Metaverse World
Upacara Leluhur Yai Semar


__ADS_3

Setelah bangun, dia tidak mengenakan pakaian kulitnya yang biasa, melainkan mengenakan gaun tenun yang dibuat Laxmi untuknya. Alasannya karena ini adalah hari tahun baru, Jawa Dwipa akan mengadakan ritual pengorbanan.


Tepat jam 7 pagi, semua orang telah berkumpul di alun-alun depan aula leluhur. Bahkan penduduk Jawa Dwipa yang agak jauh seperti anak wilayah Pantura bangun pagi dan naik perahu untuk menghadiri upacara pengorbanan.


Direktur Biro Administrasi Kawis Guwa adalah pendeta dari ritual tersebut. Sedangkan direktur Witana Sideng Rana bertanggung jawab atas persembahan. Saat Heru Cokro tiba, ritual tersebut secara resmi dimulai.


Aula leluhur Jawa Dwipa memberikan penghormatan kepada Yai Semar. Tahap awal adalah menyalakan lilin dan menempatkannya di depan altar. Tahap kedua yaitu membakar dupa dengan jumlah 3 atau 9 batang dupa. Kemudian dupa tersebut dinaikkan sampai dahi sebanyak tiga kali dengan mengatakan; kehadiran Tuhan yang maha esa ditempat yang maha tinggi, dimuliakanlah! Kehadapan nabi Konghucu, pembimbing, dan penyadar hidup kami, di muliakanlah! Terkahir, mengatakan kehadapan para suci dan leluhur yang kami hormati, dimuliakanlah!


Langkah ketiga adalah meletakkan hio atau dupa pada youlu. Posisi peletakkan tiap dupa, harus diperhatikan dengan seksama. karena dupa pertama diletakkan di tengah, kemudian dupa kedua diletakkan di sebelah kanan, dan dupa terakhir diletakkan di bagian kiri.


Setelah meletakkan dupa pada youlu, adalah berdoa dengan sikap Pat Tik. Sikap Pat Tik merupakan sikap dalam peribadatan umat konghucu dimana di antara telapak tangan kanan dan kiri dalam posisi terbuka, kemudian bagian tangan kiri meraup punggung tangan kanan dan ibu jari tangan keduanya bertemu membentuk huruf Jien atau Ren, kemudian dekapkan ke dada, serta membaca doa; kehadirat Thian Yang Maha Besar, ditempat Yang Maha Tinggi, dengan mimbingan Nabi Konghucu, dipermuliakanlah! Diperkenan kiranya kami melakukan sujud, sebagai pernyataan bakti kepada leluhur kami, kami berdoa semoga Tuhan berkenan, bagi para arwah beliau, itu selalu didalam cahaya kemuliaan kebajikan Thian, sehingga damai dan tenteram Yang Abadi, boleh selalu padanya.


Setelah membaca doa, maka diakhiri dengan sikap Ting Lee, sikap ini digunakan untuk menyampaikan hormat setinggi-tingginya. Posisi sikapnya yaitu tangan dirangkapkan di ulu hati, kemudian diturunkan sampai bawah pusar, lalu dinaikkan sampai atas dahi.


5 langkah ini, semuanya berjalan dengan pengawasan yang ketat. Tak satu pun dari langkah-langkah tersebut dilakukan dengan sembarangan.


Pukup 08.00, seluruh proses telah selesai. Setelah berdoa kepada Yai Semar, semua orang pindah ke Kuil Dhruwa dan memulai ritual pengorbanan untuk Dhruwa. Begitu juga dengan kuil lainnya seperti Anila, Anala, Pratyusa dan Soma. Sebagai kepercayaan yang diakui di Jawa Dwipa, ritual itu agung dan sebanding dengan ritual yang dilakukan di kuil leluhur, Yai Semar.

__ADS_1


Setelah seluruh ritual selesai, waktu telah menunjukkan pukul 13.00. Heru Cokro melihat waktunya mencukupi, dia memanggil Notonegoro dan Agus Subiyanto agar datang ke kantornya.


Setelah mereka duduk, dia tersenyum dan bertanya, “Bagaimana kondisi di Pantura?”


“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Pantura berada di jalur yang benar. Kami berhasil mempromosikannya ke tingkat RT sebelum tahun baru. Desain wilayah mengikuti rencana awal Jawa Dwipa. Pada saat yang sama, kami juga membangun pelabuhan di dekat muara sungai.” Notonegoro melaporkan.


Heru Cokro menganggukkan kepalanya. “Bagus, perkembangan yang sangat cepat. Apa rencana kalian selanjutnya?”


“Kami akan sedikit melambat! Karena kami ingin memperkuat fondasi dan membangun struktur yang sempurna untuk Pantura.” Notonegoro berkata dengan hati-hati.


Heru Cokro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, itu terlalu konservatif. Saya berencana untuk meninggalkan para nelayan di bawah yurisdiksi Pantura. Selain itu, setelah pengaktifan perluasan fase ketiga Gudang Garam dan peternakan ikan, jumlah penduduk Pantura akan bertambah secara eksponensial. Maka dari itu, saya membutuhkan Pantura untuk segera mencapai tingkat RW. Jadi ketika Jawa Dwipa mencapai desa dasar, Pantura harus menjadi dusun saat itu.”


“Jawa Dwipa sudah naik level dengan cukup cepat, saatnya istirahat dan menjaga profil rendah untuk sementara waktu. Saya khawatir jika kita menyudutkan lawan kita terlalu keras, akan berdampak buruk bagi wilayah. Lebih baik manfaatkan waktu ini sebaik mungkin untuk memperkuat fondasi kita. Saat mereka masih terfokus pada pengembangan wilayah utama mereka, tidak ada yang akan menyangka bahwa wilayah kedua kita telah menjadi dusun.” Heru Cokro tersenyum sambil menjelaskan.


“Selain itu, aku ingin kamu mengkalkulasi. Tingkat penyegaran populasi Jawa Dwipa adalah 80 orang perhari, sedangkan Pantura hanya memiliki 14 orang perhari. Maka, ada baiknya mempertaruhkan sedikit kecepatan pertumbuhan Jawa Dwipa untuk meningkatkan level Pantura. Secara keseluruhan, ini akan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan wilayah keduanya.” Heru Cokro melanjutkan.


Metode ini telah dilakukan oleh pemain dalam kehidupan sebelumnya. Sekarang, diaplikasikan oleh Heru Cokro. Reinkarnator benar-benar neo plagiat. Orang lain hanya bisa menyebutnya pemain jenius.

__ADS_1


Notonegoro tiba-tiba menyadari dan berkata dengan penuh semangat, “Yang Mulia telah memikirkannya dengan baik, Notonegoro sangat terkesima. Ketika saya kembali, saya akan mengumpulkan orang-orang dan mengerahkan seluruh daya serta upaya kami untuk membangun bangunan dasar RW. Kami akan memastikan dalam seminggu, Pantura telah dipromosikan menjadi RW. Kami tidak akan mengecewakan Yang Mulia.”


Heru Cokro tersenyum dan berkata, “Tentu saja saya percaya dengan kemampuanmu, sehingga membuatku merasa nyaman menyerahkan sepenuhnya. Bagaimana pembentukan regu tentara di Pantura?” Kalimat ini untuk Agus Subiyanto yang selama ini diam.


Agus Subiyanto menganggukkan kepalanya dan berkata dengan tegas, “Yang Mulia, kami telah mengikuti perintah anda untuk membangun kamp tentara menengah dan memilih 20 tentara yang baik dari para pengungsi, mengubahnya menjadi milisi. Tahap selanjutnya adalah mempromosikan mereka ke level maksimal dan mengubahnya menjadi angkatan laut.”


“Apakah anda telah berhubungan dengan dermaga menengah? Bagaimana kabar pembangunan kapal perang kecil?” Heru Cokro bertanya.


"Ya! Manajer pabrik, mengatakan bahwa kapal perang berukuran kecil sudah mulai dibangun. Dengan kecepatan mereka saat ini, mereka dapat membangun satu kapal perang dalam 3 hari, cukup untuk memenuhi kebutuhan pelatihan angkatan laut saat ini.” Layak direkomendasikan oleh Wirama, Agus Subiyanto memiliki pemikiran yang jelas tentang gambaran besarnya, membuat Heru Cokro sangat senang.


“Bagus, kamu mungkin sudah menebak bahwa alasan mengapa aku mengirimmu ke Pantura bukan hanya untuk membangun regu tentara. Di masa depan, Pantura akan menjadi pangkalan dan kamp angkatan laut. Oleh karena itu, sejak awal membangun wilayah, anda harus berpikir dan bekerja keras berdasarkan tujuan tersebut.”


"Saya mengerti, saya akan bekerja keras untuk Yang Mulia dan tidak mengecewakan anda." Agus Subiyanto menjawab dengan sungguh-sungguh.


"Bagus. Memang ini adalah keputusan yang tepat untuk menugaskan kalian berdua ke Pantura. Mendengar kemajuan anak wilayah tersebut, saya sangat senang. Saya harap kalian berdua dapat terus bekerja keras dan menciptakan lebih banyak kejayaan di masa depan.” Heru Cokro menyimpulkan dan mengakhiri pembicaraan santai yang mencakup pelaporan pekerjaan.


"Kami tidak akan mengecewakan Yang Mulia!" Notonegoro dan Agus Subiyanto menjawab dengan serempak.

__ADS_1


Heru Cokro berkata dengan tertawa, “Oke, mari pergi untuk makan siang bersama.”


__ADS_2