Metaverse World

Metaverse World
Wacana Privatisasi Telah Membuat Gempar Warga Jawa Dwipa


__ADS_3

Begitu Heru Cokro membuka panel perdagangan, dia pertama kali menghabiskan 10 koin emas untuk membeli cetak biru bengkel tembikar, merupakan persyaratan dasar bangunan yang harus ada di teritori pada tingkat RW. Kemudian Heru Cokro membeli cetak biru kamp tentara tingkat menengah serta cetak biru dermaga tingkat menengah.


Harga cetak biru arsitektur yang memiliki tingkatan ini, akan menghabiskan 10 kali lipat dari harga tingkat terendah sebelumnya. Oleh karena itu, cetak biru kamp tentara tingkat menengah ini menghabiskan 20 koin emas, sedangkan cetak biru dermaga tingkat menengah, membutuhkan biaya sebesar 50 koin emas.


Setelah selesai membeli cetak biru arsitektur sebelumnya, Heru Cokro membeli tiga bangunan dasar tingkat Dusun, seperti cetak biru toko gandum, cetak biru toko daging dan cetak biru toko kain. Setiap bagian cetak biru tersebut dijual dengan harga 20 koin emas. Selain itu, ada cetak biru padaringan yang merupakan bangunan dasar dari teritori tingkat desa dasar, yang menghabiskan 50 koin emas lain.


Terakhir, yang dibeli Heru Cokro adalah cetak biru akademi. Akademi sendiri, merupakan bangunan dasar pada teritori tingkat desa menengah, dibanderol dengan harga 1000 koin emas. Saat ini, dia tidak mampu membelinya, jadi Heru Cokro membeli cetak biru kampus diploma dengan biaya sebesar 20 koin emas.


Pembelian cetak biru arsitektur menghabiskan 210 koin emas, sedangkan teritori hanya memiliki dana 490 koin emas untuk dibelanjakan. 200 koin emas akan digunakan sebagai modal awal operasi Bank Nusantara. Selain itu juga, masih ada kebutuhan untuk membiayai perubahan profesi tentara berikutnya, dana yang dapat digunakan tidak banyak.


Heru Cokro hanya bisa menghela nafas, siapapun orangnya ketika menyangkut masalah belanja, baik itu pria atau wanita, ia akan selalu merasa bahwa uang itu tidak cukup. Untungnya, selama kurun sepuluh hari ke depan, garam yang ada di Gudang Garam dan hasil budidaya ikan dapat dijual. Pada saat itu, saya akan dapat menikmati 900-1000 koin emas.


Gudang Garam membutuhkan terlalu banyak pekerja, rata-rata dua hektar ladang garam membutuhkan satu pekerja. Apalagi peternakan ikan yang membutuhkan satu pekerja untuk mengelola satu ladang ikan. Maka, pada tahap ini, Heru Cokro untuk sementara tidak berani berpikir untuk melakukan pengembangan. Untuk sementara waktu, itu akan tetap pada skala 500.


Heru Cokro membuka kolom item manuskrip tehnik manufaktur dan mencari salinan “manuskrip tehnik manufaktur cikar dan delman” yang dibanderol dengan harga 20 koin emas. Cikar dan delman adalah versi lanjutan dari gerobak kayu. Cikar dan delman memiliki ciri yang sama, yaitu sebuah kereta yang memiliki dua roda. Perbedaannya adalah bahwa cikar di tarik oleh sapi atau lembu, sedangkan delman di tarik oleh kuda.


Cikar dan delman merupakan alat transportasi praktis yang sangat dibutuhkan teritori. Hal ini diingatkan oleh secara tidak langsung oleh Siti Fatimah, bahwa dengan meningkatnya permintaan sumber daya seperti kayu, batu dan bijih besi, transportasi telah menjadi masalah besar. Tidak mudah mengangkut ratusan atau ribuan unit kayu, batu dan bijih besi dari lokasi penebangan atau penambangan ke teritori ataupun bahkan ke dermaga.


Maka cikar dan delman adalah solusi terbaik saat ini, sehingga pengangkutan kayu, batu dan bijih besi menjadi lebih efisien dan efektif. Selain itu, ada juga kebutuhan untuk mengangkuta garam dan hasil budidaya ikan. Itu juga merupakan sumber daya yang cukup besar.


Begitu Heru Cokro telah selesai membeli “manuskrip tehnik manufaktur cikar dan delman”, dia memeriksa properti dari cikar dan delman.


[Nama]: Cikar dan delman


[Konsumsi]: 20 Kayu

__ADS_1


[Berat]: 200 kg


[Judul]: Menyediakan transportasi sehari-hari dan dapat berjalan belasan mil.


[Evaluasi]: Cikar dan delman adalah sejenis alat transportasi yang sangat bagus\, dapat mengatasi medan yang rumit seperti lereng jalan gunung yang curam. Tentu dapat menghemat tenaga manusia.


Akhirnya, Heru Cokro beralih ke kolom item lainnya dari platform perdagangan barang spesial. Setelah menjelajah selama sepuluh menit, ia menemukan item spesial, yaitu token dengan properti yang sangat sederhana.


[Token perubahan profesi] (pejabat sipil): Setelah digunakan, anda dapat langsung merubah profesi seseorang menjadi pejabat sipil.


Dalam Jawa Dwipa, banyak pejabat inti yang tidak memliki profesi pejabat sipil. Misalnya seperti, Siti Fatimah dan Joyonegoro, meskipun mereka telah bertugas sebagai pejabat sipil, Profesi sebenarnya bukanlah pejabat sipil, meskipun tidak mempengaruhi jabatan mereka, tetapi akan sangat mempengaruhi efisiensi administrasinya.


Heru Cokro tidak ragu dan menghabiskan 20 koin emas untuk membeli token perubahan profesi ini. Token tersebut, akan dia gunakan untuk Siti Fatimah, yang saat ini memiliki profesi pedagang atau saudagar, tentu tidak cocok dengan posisinya sebagai Direktur Divisi Finansial. Meskipun ini agak tidak tepat, ada baiknya untuk membiarkan Siti Fatimah merubah profesunya ke pejabat sipil.


Dengan enggan melihat item spesial ini, Heru Cokro melihat sakunya sendiri, menempatkan item yang muncul dari susunan transmisi ke dalam tas penyimpanan, dan segera meninggalkan pasar dasar.


“Hei, pernahkah kau mendengarnya? Privatisasi seperti apa yang akan diterapkan di teritori kita!”


“Privatisasi, privatisasi apa maksudmu?”


“Privatisasi bukanlah hal biasa, melainkan peristiwa besar. Tuan Notonegoro mengatakan bahwa semua orang harus mandiri, saling membantu dan tidak hanya mengandalkan suapan nasi dari teritori!”


“Hey, kalau begitu apa yang bisa aku lakukan? Apakah Yang Mulia tidak menginginkan kita? Aku hanya memiliki empat keluarga, kecuali beberapa pakaian yang rusak, tidak ada yang lain. Jika ini benar-benar terjadi, bagaimana aku bisa hidup?”


“Kamu salah memahami maksud Yang Mulia. Bagaimana mungkin Yang Mulia tidak lagi peduli dengan kita? Aku mendengar bahwa setelah privatisasi diberlakukan, Yang Mulia akan memberi kita semua makanan, bahkan setiap orang akan mendapatkan satu set pakaian baru!”

__ADS_1


“Sepertinya bagus, setidaknya saya tidak takut kelaparan.”


“Oi, manfaatnya tentu saja lebih dari itu. Tuan Notonegoro mengatakan bahwa setelah privatisasi, Yang Mulia akan memberi kita gaji. Selama kamu bekerja keras dan dapat menghemat uang, kamu dapat membeli rumah sendiri. Selain itu, jika kamu sebelumnya adalah seorang petani, maka Yang Mulia akan memberikanmu tanah secara gratis. Ketika panen tiba, cukup hanya dengan membayar sedikit padi kepada Yang Mulia. Sejauh yang bisa saya amati, selama seseorang rajin, mungkin orang itu bisa hidup lebih baik daripada sebelumnya.”


“Dewa Dhruwa, Dewa Anila, Dewa Anala memberkati, ini benar-benar berita besar!”


“Di mana kamu mendengarnya, saya akan segera pergi ke sana.”


“Betul, betul sekali, Dewa Soma dan Dewa Pratysa juga memberkati!”


“Di alun-alun depan kediaman penguasa, Tuan Notonegoro telah memposting pemberitahuan tersebut di papan informasi!”


“Yah, aku akan mengajak keluargaku untuk memeriksanya.”


“Ayo, ayo segera pergi. Aku harus pulang terlebih dahulu dan mengajak istriku. Aku menerima berita bahwa toko-toko itu akan dijual!”


“Aku bahkan mendengar ada tempat dimana kita bisa meminjam uang?”


“Oh, iya aku juga sepertinya mendengar itu disebut sebagai Bank Nusantara!”


“Bagus, ayo segera ke sana tidak perlu berlama-lama lagi.”


“Baiklah!”


Mendengarkan argumen warga Jawa Dwipa, Heru Cokro tersenyum puas. Tindakan Biro Administrasi cukup cepat. Pertama-tama, sebarkan wacana, biarkan semua orang mendiskusikannya. Kedua, begitu wacana menjadi jenuh, kirim pemberitahuan resmi dan biarkan semua orang menikmati manfaatnya.

__ADS_1


Heru Cokro yang berjalan melewati jalan bisnis, melihat bengkel kayu. Tiba-tiba memikirkan Dom Kemambang sebelumnya, ia berjalan ke arah bangunan tersebut.


__ADS_2