
Bukannya Jack sendiri tidak tahu tentang lubang di pertahanannya. Namun, dia berharap para perampok tidak akan mengetahuinya.
Sayangnya, kelicikan dan kecerdasan mereka jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Pemimpin perampok sangat berani, dan ketika dia menemukan kelemahan dia akan menyerangnya, tidak memberi musuh waktu untuk mengatur napas.
Akhirnya, sebelum langit menjadi gelap, para perampok berhasil menerobos desa dan mengakhiri impian Desa Demokrat untuk menjadi Mahadesa.
Kemudian Heru Cokro melihat forum di saluran Cina yang ternyata masih meriah. Dia merasa canggung dan deg-degan melihatnya, karena waktu kurang sepuluh menit lagi agar Desa Jinlong menyelesaikannya. Namun, dalam tiga menit berikutnya, Huang Chengyang tidak bisa lagi mempertahankan dan dengan terpaksa gugur di menit-menit terakhir.
Keluar dari forum, Heru Cokro merasa beruntung tetapi juga bingung. Beruntung Jawa Dwipa memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan sebagai hitungan pertama, dan sekarang penghalang di depannya telah hilang.
Dia bingung bahwa pertahanan yang kuat seperti Desa Demokrat tidak bisa menghentikan para perampok. Apalagi Desa Jinlong yang tinggal bertahan hingga di menit-menit terakhir. Bisakah Jawa Dwipa berhasil besok? Persiapan yang menurutnya cukup ternyata tidak demikian. Melihat serangan di Desa Jinlong, Desa Demokrat dan Desa Vrindavan, para perampok itu terlalu licik dan tidak akan membuat langkah yang logis.
Setelah dia menenangkan diri, dia berjalan keluar dari kamarnya dan berlari.
Ketika dia membawa sarapan ke rumah, Dia Ayu Heryamin baru saja selesai mandi. Pertempuran Desa Demokrat begitu sengit bahkan kelas pekerja seperti Dia Ayu telah mendengar berita tentangnya.
Dia Ayu Heryamin berjalan ke meja makan dengan membawa laptop dan rambut yang berantakan, mengambil martabak dan menggigitnya. “Aku mendengar bahwa Desa Demokrat dari wilayah Amerika gagal. Bahkan Desa Jinlong dari wilayah Cina juga gagal, di menit-menit terakhir."
Heru Cokro yang tidak terlalu memperhatikan, mengangguk dan terus memakan martabaknya.
"Oi, aku sedang berbicara denganmu, apakah kamu mendengarku?" Dia Ayu Heryamin tidak senang dengan tanggapan Heru Cokro.
Heru Cokro mengangguk seperti anak ayam yang mematuk nasi dan berkata, "Aku mendengarkan, aku mendengarkan!"
"Bajingan, tidak ada ketulusan sama sekali!”
Heru Cokro tanpa daya mengangkat kepalanya. “Hey, wilayah Amerika dan wilayah Cina tidak ada hubungannya dengan kita, apa yang kamu ributkan? Jadi bagaimana jika mereka gagal?”
“Bukankah kamu juga seorang penguasa? Jika kamu bahkan tidak peduli tentang ini, apakah level kamu terlalu rendah dan kamu terlalu jauh untuk meningkatkan wilayahmu?” Dia Ayu Heryamin tidak mundur.
"Yup, aku jutaan mil jauhnya." Heru Cokro memutuskan untuk menyerah.
__ADS_1
“Kamu, As* tenan” Dia Ayu Heryamin sangat marah dan tidak tahu harus berkata apa.
Untungnya pada saat ini, Rama sudah bangun. Bocah kecil itu menggosok matanya dan bergumam, “Kakak nakal, apa yang kalian berdua bicarakan? Kamu membangunkanku."
Heru Cokro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Hey, saatnya bangun. Mandilah, dan aku akan mengantarmu ke sekolah setelah sarapan.”
"En." Bocah kecil itu mengangguk dan pergi ke kamar kecil.
Setelah pertengkaran itu, baik Heru Cokro dan Dia Ayu Heryamin tidak mengangkat topik itu lagi dan makan dengan tenang. Kemudian Dia Ayu meminta agar Heru Cokro mengantarkan Rama, karena tugas dari dosen harus dia kumpulkan pagi ini juga.
Sejak segala sesuatunya di tanggung kakeknya, mereka akan bergantian mengantarkan Rama pergi ke sekolah. Tidak seperti sebelumnya, hanya ketika Dia Ayu Heryamin kuliah pagi. Heru Cokro yang akan menemani Rama.
Dalam perjalanan ke sekolah, Rama tiba-tiba menarik tangan Heru Cokro dan bertanya, "Kakak, apakah kamu bertengkar dengan Kak Dia Ayu?"
Heru Cokro tertegun. Bocah cilik ini sangat peduli hingga menyentuhnya. Dia menggosok kepalanya dan berkata dengan penuh kasih, “Tidak apa-apa, aku hanya menggerutu. Ketika kembali, aku akan meminta maaf kepadanya.”
"En." Bocah kecil itu segera menjadi ceria dan berkata, “Kamu harus lebih murah hati.”
Bocah kecil itu terkikik dan tidak menjawab. Perasaan hangat memenuhi hatinya, dan tujuan mulia apa pun yang dia miliki tidak bisa dibandingkan dengan senyum bocah kecil yang bahkan bukan adik kandungnya ini.
Heru Cokro tiba-tiba membungkuk dan berkata, "Ayo, aku akan menggendongmu ke sekolah."
"Ya!" Rama tiba-tiba menjadi energik, melompat, dan meraih punggung Heru Cokro, pipinya merah merona penuh kebahagiaan.
Ketika Heru Cokro kembali ke rumah, dia melihat Dia Ayu Heryamin telah berbaring di sofa dan melihat-lihat majalah. Seperti di rumah, dia mengenakan pakaian yang sangat kasual, kaos putih dengan kartun dan celana pendek, memperlihatkan kaki putihnya yang panjang di depan Heru Cokro.
Heru Cokro sudah sering melihat pemandangan seperti ini dan itu sudah menjadi norma. Dia bertanya dengan santai, "Apakah tugasmu sudah selesai?"
Dia Ayu Heryamin masih tidak senang dan berkata dengan malas, "En, aku telah mengirimkannya beberapa menit yang lalu."
"Aku minta maaf untuk sebelumnya." Heru Cokro berinisiatif untuk meminta maaf.
__ADS_1
Dia Ayu Heryamin tercengang dan akhirnya mengangkat kepalanya, ekspresi wajahnya berubah hangat seketika. “Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu. Kamu sepertinya sedang banyak pikiran, apakah kamu baik-baik saja?”
Heru Cokro melambai dan berkata, "Tidak apa-apa, jangan khawatir, aku akan menanganinya."
Dia Ayu Heryamin tidak terus bertanya dan terus fokus pada majalahnya, bergumam, "Machismo."
Heru Cokro tidak peduli dengan gumaman Dia Ayu, kembali ke kamarnya, dan mulai mengembangkan Teknik Kultivasi Batin Prabu Pandu Dewanata.
Sore hari, untuk mengungkapkan permintaan maafnya, Heru Cokro secara khusus membuat beberapa hidangan enak. Dia Ayu Heryamin ditinggalkan dengan wajah penuh kepuasan, kemarahan dan ketidakbahagiaan sejak pagi terhapus, dan dia mengikuti pelajarannya.
Pada malam hari, ketika Rama melihat kakaknya dan Heru Cokro telah berbaikan, dia merasa senang. Saat makan malam, dia secara khusus membawa mangkuknya di samping Heru Cokro dan duduk di dekatnya.
Heru Cokro secara alami memahami tujuannya, bocah kecil ini menunjukkan dukungan untuk dirinya.
Heru Cokro mengambil sepotong iga dan meletakkannya di mangkuk Rama, dan tertawa. “Rama, makanlah lebih banyak.”
"En, terima kasih." Bocah kecil itu berkata dengan manis.
Pemahaman di antara keduanya tentu saja menjadi sasaran kecemburuan banyak orang.
Setelah makan malam, Heru Cokro tidak membuang waktu, kembali ke kamarnya, dan memasuki permainan.
Tanggal 20 Mei Tahun pertama Wisnu, Jawa Dwipa.
Ketika cahaya pertama di pagi hari menyinari Jawa Dwipa, monster perang yang tertidur telah terbangun dan memamerkan taringnya di hutan belantara yang sunyi.
Unit pertama dari armada angkatan laut Pantura telah berangkat ke titik di mana sungai pelindung desa dan Sungai Bengawan Solo bertemu, memblokir titik sungai yang penting ini untuk mencegah bandit air melakukan serangan diam-diam dari sungai.
Para prajurit dari berbagai unit di bawah pimpinan komandan mereka telah pergi ke berbagai wilayah pertahanan mereka. Mereka tahu bahwa perang yang sulit sedang menunggu mereka.
Di halaman belakang kediaman penguasa, Laxmi dengan cemas mondar-mandir, perbedaan besar dari ketenangannya yang biasa. "Kakak, apakah menurutmu kakak bisa menghentikan serangan perampok itu?"
__ADS_1