
Heru Cokro tersenyum, “Coba pikirkan! Sekarang teritori sedang dalam fase konstruksi. Sedangkan tenaga kerja yang dimiliki sangat minim. Dimana-mana, kekurangan banyak tenaga kerja. Memanfaatkan peluang ini, petani dapat pergi ke lokasi konstruksi untuk menjadi tenaga kerja!”
Pusponegoro tiba-tiba tersadar dan berkata dengan malu: “Yang Mulia benar. Sepertinya konsep pemikiran kita memang harus segera berubah. Kalau tidak, kita tidak akan bisa mengikuti kecepatan perkembangan teritori.”
Heru Cokro senang mendengarnya, lanjut berkata: “Privatisasi ini tidak hanya tentang membagikan kentang panas yang besar. Melainkan untuk mengenali keajaiban pasar dan merangsang semangat wirausaha dan wiraswasta semua orang. Sampai disini, kalian harus memiliki pemahaman yang benar.”
Kawis Guwa yang penuh dengan rasa malu, berkata: “Sebagai pejabat inti Biro Administrasi, saya tidak dapa memahami maksud Yang Mulia secara mendalam. Saya merasa sangat malu. Saya awalnya ingin melaporkan rencana privatisasi kepada Yang Mulia, tetapi setelah pelajaran yang diberikan oleh Yang Mulia, saya merasa banyak konten dalam program yang akan saya ajukan terlalu konservatif dan perlu pengaturan ulang. Dengan hormat, saya memohon maaf dan meminta Yang Mulia agar memberi saya waktu dua hari lagi.”
Heru Cokro berkata sambil tersenyum: “Tuan Kawis Guwa tidak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri, dalam menghadapi hal-hal baru, sedikit pemahaman tentang penyimpangan itu masihlah wajar. Selain itu, saya sangat mempercayai kemampuan anda.”
Kawis Guwa mengangguk, bangkit dan pergi bersama dengan Pusponegoro.
Pada pukul 14.00 WIB, Heru Cokro pergi ke kamp tentara dan menyerahkan panduan dasar yang telah ditulisnya kemarin kepada Jendral Giri. Selain itu, memeriksa perkembangan pelatihan prajurit yang telah di rekrut sebelumnya.
Sesaat ketika meninggalkan kamp tentara, Heru Cokro masih memikirkan berita yang disampaikan Jendral Giri kepadanya. Setelah dua hari penyelidikan, regu kavaleri akhirnya menemukan jejak batalion raider. Di sudut barat laut teritori, di tepi Sungai Bengawan Solo, ada batalion raider tingkat menengah.
Batalion raider menengah umumnya memiliki 300 orang, di mana kombatan ini mencakup lebih dari 60 %. Jika, dibandingkan dengan batalion raider dasar, telah meningkat cukup banyak. Rinciannya adalah raider biasa memiliki level 20, raider elit memiliki level 25, sedangkan bos setidaknya memiliki level 30.
Menurut Jendral Giri, setelah peleton kavaleri terbentuk, tidak akan menjadi masalah untuk memusnahkan batalion raider hingga akarnya dalam satu gerakan. Bagaimanapun, ini berbeda dengan masa lalu. Peleton kavaleri saat ini, tidak dapat dibandingkan dengan tim militer yang menghancurkan batalion raider dasar terakhir kali.
__ADS_1
Tentara dari peleton kavaleri saat ini tidak hanya memiliki peralatan yang lengkap, kuda yang baik, mahir dalam memanah, melainkan juga telah melewati baptisan medan perang. Kekuatan tempur individu telah melebihi raider elit. Secara khusus, sebagian besar veteran yang telah mengalami pertempuran melawan invasi binatang liar telah dipromosikan ke militer tahap IV. Baik itu kekuatan atau strategi perang, itu jauh lebih baik daripada raider.
Heru Cokro sependapat dengan penilaian Jendral Giri. Karena dia berada dalam keunggulan strategis, dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini. Kemudian Heru Cokro memerintahkan Jendral Giri, bahwa jika kondisinya memungkinkan, dapat langsung mengambil tindakan untuk memusnahkan raider.
Rencananya adalah merekrut dan melatih raider yang menyerah ke dalam militer. Selama mereka terikat dengan disiplin militer yang ketat, itu memenuhi syarat untuk mejadi tentara. Selain itu, hal ini juga bisa menjadi solusi praktis untuk perluasan tentara. Jika hanya menunggu penyegaran teritori, Heru Cokro mungkin memiliki jenggot panjang saat tentaranya besar.
Saat kembali ke kediaman penguasa, Heru Cokro menerima aplikasi aliansi dari Hesty Purwadinata. Dia mengambil manuskrip penguasa dari tas penyimpanan, membuka kolom teritori, dan mencari teritori Redho yang di pimpin oleh Hesty Purwadinata. Setelah konfirmasi, aplikasi aliansi muncul secara otomatis. Maka, tinggal Klik OK untuk memunculkan perjanjian tersebut.
Heru Cokro membaca dengan cermat dari bagian awal hingga bagian akhir, yang memiliki empat konten utama.
Satu, pihak mana pun yang ingin mengabaikan perjanjian harus mengajukan tiga hari sebelumnya. Aplikasi untuk pembatalan tidak memerlukan persetujuan dari pihak lain dan dapat dicabut secara sepihak.
Kedua, dapat melakukan perdagangan lintas regional melalui platform negosiasi dan kerjasama dari pasar lanjutan. Untuk mendorong perdagangan bebas antar sekutu, Sistem akan mengurangi pajak transaksi sebesar 10 %.
Keempat, setelah kampanye militer di dunia alternatif dibuka, sekutu dapat memilih peserta umum di muka, sehingga tim dapat menyelesaikan misi kampanye militer ini.
Setelah selesai membaca perjanjian tersebut, Heru Cokro mengambil segel resmi penguasa dari tas penyimpanan untuk meresmikan persetujuan atas perjanjian tersebut. Pada titik ini, Jawa Dwipa dan Redho secara resmi telah membentuk aliansi.
Pada saat yang sama, di kantor teritori Redho, Hesty Purwadinata, Wulan Guritno, Aril Tatum dan Chelsea Islan. Empat kembang Indonesia ini menatap perjanjian yang baru saja ditandatangani pada manuskrip penguasa, mulai bergosip.
__ADS_1
“Kakak, Jendra ini begitu baik, jadi sangat mudah untuk membentuk aliansi dengan kita.” Wulan Guritno yang paling aktif berkata terlebih dahulu.
“Ya, ya, sepertinya pesona Kak Hesty benar-benar luar biasa. Ketika dia bergerak, dia akan membuat penguasa dunia menjadi penurut, hehe!” Chelsea Islan menggoda.
“Sepertinya Kak Hesty memiliki rok yang menggiurkan.” Lanjut Aril Tatum menggoda.
Dalam menghadapi lelucon mereka, Hesty Purwadinata tidak tergoda dan berkata dengan samar: “Jendra dapat mencapai prestasi hari ini, itu tidaklah sederhana. Berdasarkan pada informasi yang aku terima sebelumnya, ia bahkan eufemistik menolak aplikasi aliansi dari Wijiono Manto dan Roberto.”
Chelsea Islan mengangguk. “Kakak mengatakan bahwa dia melakukan ini karena alasan tertentu. Dia tidak seperti rumor yang beredar internet, mungkinkah dia bukan keturunan keluarga besar, tetapi seorang pemain biasa yang sama seperti kita. Karena itu, ia menolak kekuatan besar seperti Wijiono Manto dan memilih kami Redho Studio. Selain itu, sepertinya dia memiliki ambisi sebesar Wijiono Manto.”
Aril Tatum mendengus dan bergumam: “Apa yang dimaksudkan adik Chelsea adalah Jendra merasa bisa memakan Redho kita. Apakah kamu pikir kekuatannya ada di atas kita?”
Chelsea Islan mengangguk, “Bagaimanapun, segala sesuatunya sangat mungkin, tidak ada yang tahu. Setidaknya, dibandingkan dengan kekuatan kita saat ini, inilah kebenarannya.”
Wulan Guritno tersenyum dan menyentuh Aril Tatum. Dia tersenyum dan berkata: “Mungkin itu tidak seburuk yang dipikirkan Chelsea. Dari penolakan eufemistiknya terhadap Wijiono Manto dan Roberto, Jendra tidak akan menjadi orang yang terlalu kuat.”
Chelsea Islan adalah orang yang banyak akal dan memiliki pemahaman yang lebih baik dari sifat manusia daripada Wulan Guritno. Oleh karena itu, untuk penilaian Wulan Guritno, Chelsea Islan mengangguk dan menyatakan persetujuan.
Hesty Purwadinata merasa bersyukur, “Kedua analisis Wulan dan Chelsea sangat masuk akal. Tidak peduli apa pun itu! Jendra yang adalah penerus keluarga besar dan apa ambisinya! Mulai hari ini, dia hanya memiliki satu status, yaitu sekutu kami Redho yang beraliansi dengan Jawa Dwipa. Informasi ini bersifat kerahasiaan sementara, yang cukup diketahui kami berempat. Jika tersebar, mungkin akan menyebabkan masalah yang tidak perlu.”
__ADS_1
Mereka mengangguk, menandakan bahwa mereka mengerti.
Heru Cokro tidak tahu bahwa sempoanya telah ditebak pihak lain.