
Dia melihat sekeliling dan berkata sambil tersenyum: “Musim penghujan belum berlalu, pembangunan teritori telah berakhir. Maka dengan ini saya memutuskan untuk memulai pembangunan skala besar. Tenaga kerja dan sumber daya material yang dikonsumsi dalam proyek ini akan luar biasa. Sampai di sini, mari kita diskusikan bersama."
Siti Fatimah berkata dengan bercanda: “Jika kakak memiliki sesuatu untuk dikatakan, tidak perlu membungkuk.”
Heru Cokro meliriknya dan berkata: “Pertahanan pagar teritori saat ini masih sangat rentan rusak dari serangan binatang. Maka, ketika teritori telah dipromosikan ke tingkat Dusun, itu harus ditingkatkan ke tahap selanjutnya.”
Buminegoro dan Pusponegoro mengangguk tanpa sadar. Karena pagar dibangun oleh mereka. Mereka mengingat tahun-tahun ketika Jawa Dwipa baru saja dimulai, mereka merasa sangat terkesan.
Direktur Divisi Konstruksi, Buminegoro yang pertama kali menanggapi: “Untuk mempromosikan pagar ke tahap selanjutnya, memiliki dua cara. Satu, menghapus pagar yang ada dan membangunnya kembali. Sedangkan yang kedua adalah mempertahankan pagar yang ada dan membangun sebuah pagar baru di pinggiran. Bagaimana pendapat Yang Mulia?”
“Pagar yang ada sekarang dibangun sesuai dengan standar teritori tingkat RW. Maka, jika berdasarkan pada promosi teritori, pagar tersebut tidak memenuhi syarat, tentu harus dibongkar. Ide saya adalah bahwa pagar harus dibangun sesuai dengan standar desa menengah.” Respons Heru Cokro.
“Dalam hal ini, bahan apa yang akan digunakan? Dinding beton, dinding bata, atau dinding hibrida, campuran dari bata dan beton?” Tanya Buminegoro telah lama bekerja di Divisi Konstruksi, yang tentunya memiliki wawasan cukup luas tentang konstruksi.
Heru Cokro menggelengkan kepalanya dan berkata: “Ketiga material itu bisa digunakan. Dinding ini harus dipertahankan secara permanen, bahkan jika teritori diperbesar di masa depan, itu dapat digunakan sebagai dinding dalam wilayah. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan batu murni untuk membangunnya. Sedangkan spesifikasi dinding harus setinggi sembilan meter, dengan lebar lima meter. Saya telah mengkalkulasi, bahwa dinding tersebut akan mengkonsumsi hampir 60.000 unit batu. Maka saya memberi Divisi Konstruksi satu bulan untuk menyelesaikannya. Apakah Divisi Konstruksi memiliki kepercayaan diri untuk menyelesaikan ini?”
Buminegoro dengan perlahan berkata: “Berdasarkan pada permintaan Yang Mulia, konsumsi harian rata-rata konstruksi dinding adalah 2000 unit batu. Sedangkan tambang hanya dapat memasok 400 unit batu dalam satu hari. Selain itu, Divisi Konstruksi minimal memerlukan 300 sampai 400 pekerja.”
Heru Cokro melihat Notonegoro dan bertanya: “Perihal pekerja yang dibicarakan oleh Buminegoro, apakah dapat ditangani oleh Kantor Pencatatan Sipil?”
“Berdasarkan populasi teritori saat ini, seharusnya dapat mencukupi kebutuhan pekerja atas pembangunan dinding tersebut. Selain itu, semua konstruksi bangunan sebelumnya telah selesai. Sehingga tidak akan ada kendala kekurangan tenaga kerja.” Notonegoro penuh percaya diri.
__ADS_1
“Itu bagus!”
“Kakak, sebagai pejabat inti Divisi Finansial, saya perlu mengingatkan anda. Terkait konsumsi tenaga kerja yang sangat besar, upah dan pengeluaran konstruksi pembangunan tembok akan sangat besar. Maka kakak harus siap secara psikologis,” kata Siti Fatimah.
“Alasan lain mengapa saya menyeret konstruksi dinding ini setelah privatisasi adalah untuk memberi penduduk Jawa Dwipa kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan. Perihal dana pembangunan tembok teritori, masih dapat di dukung dengan keuangan yang dimiliki wilayah saat ini.” Heru Cokro menjelaskan sambil tersenyum.
Siti Fatimah mengangguk, tidak lagi memberikan tambahan lain.
Pada saat ini, Kawis Guwa mengambil inisiatif untuk berdiri dan berkata: “Karena Yang Mulia memiliki ambisi seperti itu, mengapa tidak melakukannya lebih teliti dan terperinci. Saya menyarankan bahwa tembok teritori di bangun dengan tiga gerbang. Pada saat yang sama, setiap gerbang harus memiliki menara pengawas, di setiap empat sudut tembok wilayah. Sehingga dapat meningkatkan fungsi pertahanan tembok teritori menjadi lebih baik.”
“Ya! Selain itu, kita juga harus membuat parit. Alirkan air dari hulu Sungai Bengawan Solo, gali parit yang memiliki lebar delapan meter dan impor arus utama ngarai yang berada di sisi timur untuk membentuk sistem drainase yang sempurna. Ini sangat kondusif untuk meningkatkan pertahanan teritori dan juga nyaman bagi warga Jawa Dwipa untuk mengambil air. “Witana Sideng Rana tidak akan kalah.
Setelah mendengarkan saran dari kedua pejabat tersebut, Heru Cokro berkata: “Dua saran itu sangat bagus, jadi lakukan sesuai dengan rencana mereka. Ini akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Biro Administrasi yang bekerja sama dengan Biro Cadangan Material dan Divisi Finansial.”
Diskusi selesai dan semua orang kembali ke tempatnya masing-masing.
Pada jam 3 sore, semua orang berbakat diundang ke aula diskusi yang berada dalam kediaman penguasa untuk berpartisipasi dalam upacara penandatanganan perjanjian kerjasama toko atau bengkel dengan Biro Cadangan Material.
Upacara ini diundang oleh Eksekutif Biro Cadangan Material Witana Sideng Rana yang baru ditunjuk Heru Cokro.
Bengkel kayu lanjutan diwakili oleh Ghusun dan Master Laxmi mewakili toko penjahit. Jarwanto sebagai wakil dari Divisi Kendaraan dan Kuda untuk menandatangani perjanjian pembuatan cikar dan delman dengan bengkel kayu. Terakhir, Puspita Wardani yang menjadi representatif Divisi Komoditas akan menandatangani perjanjian pemrosesan garmen dengan toko penjahit.
__ADS_1
Mereka semua duduk berseberangan di barisan paling depan.
Untuk menyaksikan penandatanganan dua proyek kerjasama yang besar ini, banyak orang berbakat yang diundang untuk menghadiri pertemuan, menjadi sangat bersemangat dan ingin segera dapat melakukan pekerjaan besar ini.
Peran panutan sangat besar, Raden Masardi yang merupakan seorang nelayan lanjutan berkata di tempat, bahwa dia bersedia menjadi perwakilan dari nelayan untuk menandatangani perjanjian pembelian dengan Biro Cadangan Material. Sebelum privatisasi, para nelayan telah menyumbangkan hampir 20.000 unit ikan ke teritori dan masih disimpan di gudang teritori.
Setelah privatisasi, ikan yang diasinkan nelayan sebagian besar telah di ekspor melalui pasar dasar. Heru Cokro menyetujui perjanjian ini, karena teritori mendapat keuntungan dari pajak bisnis.
Ketika perjanjian pembelian dan penjualan telah ditandatangani, maka pertemuan kali ini dibubarkan.
Melihat peristiwa perjanjian dengan para nelayan, Heru Cokro menginstruksikan Biro Cadangan Material untuk mengangkut semua ikan sebelumnya ke pasar dasar yang terdiri dari 310.000 unit ikan dan 160.000 unit ikan asin. Selain menyisihkan 60.000 unit ikan asin, sisanya dijual bersama.
Seratus dua puluh ribu unit terjual dengan harga 15 koin tembaga per unit, maka uang yang diterima secara total adalah sebesar 180 koin emas, kemudian dikurangi 20% atas pajak transaksi, pendapatan bersih atas penjualan adalah 144 koin emas.
Ini bisa dikatakan bahwa pasar memberikan kenyamanan perdagangan dan penghisap darah penguasa teritori.
Sekarang, ada 246 koin emas dalam tas penyimpanan Heru Cokro. Dengan uang ini, dia menghabiskan 120 koin emas untuk membeli peralatan penjahit kelas emas hitam yang dia janjikan sebelumnya kepada Laxmi.
[Nama]: Perlatan penjahit (emas hitam)
[Properti]: Meningkatkan efisiensi kerja penjahit sebesar 25% dan meningkatkan kemampuan penjahit sebesar 15%.
__ADS_1
[Evaluasi]: Peralatan yang diimpikan para penjahit.
Saat memasuki toko penjahit, Heru Cokro hanya memberikan peralatan penjahit tersebut kepada Laxmi. Kemudian kembali ke kediaman penguasa yang ternyata sudah jam enam sore, sehingga Heru Cokro kembali ke kamarnya dan offline.