
“Mengenai staf lainnya, saya akan mencarinya perlahan-lahan. Prinsip saya, berikan suatu pekerjaan kepada yang profesional dan kompeten. Jika tidak memungkinkan, tunggu sampai Akademi Kadewaguruan didirikan. Setelah mahasiswa angkatan pertama lulus, pilih personil yang sesuai untuk ditambahkan ke dalam Divisi Finansial dan Bank Nusantara.”
“Ya, hanya itu yang bisa dilakukan!” Siti Fatimah berkata tanpa daya.
Setelah Siti Fatimah pergi, Notonegoro masuk.
Heru Cokro berkata sambil tersenyum: “Notonegoro, apakah anda telah menunggu di luar pintu? Sepertinya sangat tepat waktu.”
“Haha~haha, Yang Mulia suka bercanda. Saya memiliki kabar baik dan ingin melaporkan kepada Yang Mulia.”
“Oh, kabar baik apa?”
“Ini sesuai dengan perkiraan Yang Mulia sebelumnya. Jumlah orang yang telah disegarkan hari ini masih sangat banyak. Ada 63 orang. Kelompok imigran ini tidak hanya memiliki pengrajin tembikar dasar yang saat ini diperlukan oleh teritori, tetapi juga ada pandai besi lanjutan.” Kata Notonegoro sambil tersenyum.
“Oke. Siapa nama kedua orang ini dan darimana asalnya?”
“Nama pengrajin tembikar disebut Gundi Yumnan. Asalnya tidak diketahui. Sedangkan pandai besi lanjutan adalah Empu Supo Madrangi yang berasal dari Desa Sedayu. Dalam pertempuran melawan invasi binatang liar sebelumnya. Desanya hancur!”
Heru Cokro mengangguk: “Ini semua bangunan tingkat RW yang bisa dibangun. Setelah kembali, anda harus mendesak Divisi Konstruksi untuk menyelesaikan bangunan ini sesegera mungkin.”
Notonegoro mengangguk dan pamit undur diri.
Heru Cokro pergi ke kamp tentara dan melihat jalannya perekrutan tentara.
Ketika dia keluar, Heru Cokro melihat Maung Bodas telah tumbuh lebih besar. Maung Bodas yang melihat Heru Cokro dari sudut halaman, dia berjalan mengikuti Heru Cokro. Karena Wiji yang sibuk menempuh pendidikan sekolah swasta di siang hari. Maka tidak ada yang menemaninya bermain. Sehingga binatang kecil ini hanya bisa menyelinap, mengikuti Heru Cokro.
Sejak dapur kediaman penguasa di kelola oleh Renata, makanan Maung Bodas telah banyak berubah, tulang dan daging bernutrisi tidak pernah lagi kekurangan. Sehingga dalam waktu kurang dari sebulan, binatang kecil ini telah berkembang menjadi sangat kuat.
Heru Cokro, sang pemilik ini terlalu sibuk dengan urusan teritori sepanjang hari, bahkan jika kembali hanya bersembunyi di kantor untuk membaca buku. Mungkin kalau Maung Bodas bisa berbicara, ia akan berkata: “Tuan bajingan, selalu menyia-nyiakan saya.”
__ADS_1
Sehingga ketika menghadapi Heru Cokro, Maung Bodas tampaknya memiliki beberapa kebencian. Sekarang melihat dia akan pergi, tentu dia akan mengikuti Heru Cokro jalan-jalan.
Heru Cokro tidak terlalu peduli, biarkan saja Maung Bodas mengikuti, dan berjalan langsung keluar. Sepanjang jalan, berbagai konstruksi bangunan telah dibangun di mana-mana, sepanjang mata memandang, penuh kesibukan. Di jalan bisnis, toko biji-bijian, toko daging dan toko-toko lainnya sudah mulai dibangun.
Gelombang privatisasi semakin kuat, argumen terdengar di mana-mana. Di lokasi pembangunan toko gandum, dua laki-laki muda sedang membicarakan hal yang menggairahkan.
“Hei, sepertinya kau sangat bersemangat hari ini?”
“Haha, tentu saja. Kemarin malam, wanita yang saya sukai berkata kepada saya, bahwa selama saya dapat membeli rumah kayu kecil, dia bersedia menikah dan tinggal bersama.”
“Hei, nak, itu tidak mungkin. Biasanya kamu hanya diam membisu, tidak mungkin gadis cantik sepertinya mau menikah denganmu! Itu akan terlihat seperti kotoran yang bersanding dengan emas!”
“Apa, apaan dengan yang kamu katakan! Aku juga tidak sejelek itu. Ha~haa, kamu iri kan! kami berdua sudah pacaran, kamu yang masih jomlo tidak akan mengerti!”
“Hey, aku menjomblo karena pilihan, belum ada wanita disini yang sesuai dengan selera saya.”
“Aihhh, memang susah ngomong sama orang konyol yang penuh dengan iri dan dengki!”
“Jaga perkataanmu, mana ada teman yang seperti ini. Seharusnya seorang teman membantu temannya. Bukan, malah mendoakan agar hal buruk terjadi. Apalagi memberikan sumpah serapah keterlaluan seperti ini.”
“Jangan di ambil hati, saya cuma bercanda. Ini, saya dengan serius menyarankan, kenapa kamu tidak cari wanita lain? Sepertinya dia terlalu materialistis! Lagipula masih banyak wanita cantik lain di sekitar.”
“Ya, wajar saja. Mana mungkin ada orang yang tidak membutuhkan benda. Asal tidak keterlaluan, mampu dan mau. Tentu, sah-sah saja! lagipula kita sebagai seorang pria, tentu harus bisa mencukupi kebutuhan istrinya. Apalagi hal yang diminta adalah kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan dan papan. Itu kewajiban kita sebagai kepala rumah tangga!”
“Ya, betul juga! Mungkin saya salah mengartikan kata materialistis.”
“Eh, sepertinya akan bagus jika acara pernikahanmu dilaksanakan di Kuil Anala!”
“Brillian! Dewa anala merupakan pemimpin upacara, selain itu dia juga adalah duta para dewa. Bagus! Idemu benar-benar menakjubkan.”
__ADS_1
“Ya, mari kita atur dengan baik acara dipernikahanmu.”
“Ya, ayo kembali bekerja. Kerja, kerja, kerja! Beli rumah dan menikah.”
Heru Cokro mendengarkan olok-olok dua orang tersebut, menarik mereka ke samping, tersenyum dan bertanya: “Siapa namamu, dari mana?”
“Menjawab Yang Mulia, nama saya Paijo Caleb Hanan, seorang tukang batu.” Dua pemuda menjawab dengan hati-hati.
“Tukang batu, itu kerajinan yang bagus.” Dia menunjuk ke Paijo Caleb Hanan dan berkata sambil tersenyum: “Kamu tidak ingin menanyakan tentang harga rumah kayu kecil tersebut?”
“Berapa Yang Mulia?”
“Harganya 600 koin tembaga.”
“Terima kasih banyak Yang Mulia” Kata Paijo Caleb Hanan bersemangat.
“Jangan berterima kasih padaku, ini bukan apa-apa. Berdasarkan apa yang kamu katakan sebelumnya, ingin menikahi seorang wanita? Sangat bagus, wow, ini adalah acara yang sangat membahagiakan! Jadi, ketika kamu menikah, aku secara pribadi akan mengundang semua orang, menjadi saksi pernikahanmu dan membantu biaya pestanya.”
Paijo Caleb Hananxi yang sangat bersemangat, tidak bisa mengatakan apa pun lagi.
Heru Cokro menepuk pundaknya dan berkata sambil tersenyum: “Ingat kata-kataku, ketika kamu akan menikah, langsung pergi ke kediaman penguasa untuk menemukan saya.”
Paijo Caleb Hanan mengangguk dengan keras dan rombongan di sekitarnya iri hati.
Kemarin sore, Divisi Konstruksi telah memulai mempromosikan kamp tentara, mereka bekerja lembur dan berhasil menyelesaikannya pagi ini. Area kamp tentara baru telah diperluas lima kali lipat dengan fasilitas yang lebih lengkap daripada sebelumnya.
Pada pekarangan latihan, Jendral Giri bersama Komandan Wirama sangat sibuk memilih tentara. Perluasan pasukan kali ini adalah untuk merekrut 73 prajurit sekaligus, sehingga beban kerjanya sangat besar.
Kemarin mereka telah memposting pemberitahuan rekrutmen tentara. Karena pertempuran melawan invasi binatang liar sebelumnya, antusiasme orang-orang untuk bergabung dengan tentara sangat tinggi.
__ADS_1
Heru Cokro membuat perhitungan kasar, sepertinya ada 120 orang mendaftar rekrutmen kali ini. Kebanyakan dari mereka adalah anggota dari tim cadangan militer sementara yang telah dibubarkan.
Untuk mendapatkan benih prajurit yang baik. Maka Jendral Giri telah menetapkan empat persyaratan dasar seperti tinggi, postur tubuh, penglihatan, dan kebugaran fisik. Mereka harus dapat memenuhi empat persyaratan ini agar dapat diterima.