
Menanti hal yang tidak pasti, lebih baik melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan saat ini. Persyaratan pembangunan dasar dari tingkat RT membutuhkan cetak biru arsitektur balai leluhur dan cetak biru arsitektur sekolah swasta. Sekarang ada uang, Heru Cokro langsung lari ke pasar dasar dan menghabiskan 10 koin emas untuk membeli dua cetak biru arsitektur ini. Dengan cara ini, semua pembangunan dasar dari Tingkat RT, kecuali untuk sekolah swasta, yang masih membutuhkan seseorang dengan talenta khusus sebagai Guru, sehingga pembangunan belum bisa dimulai.
Lima hari sebelumnya, divisi konstruksi telah menyelesaikan pembangunan menara panah, pertambangan bijih besi dasar dan 15 rumah kayu dasar.
Kembali ke kantor administrasi. Hanya wakil direktur divisi konstruksi, Buminegoro yang ada di kantor, Heru Cokro menyerahkan semua cetak biru arsitektur serta memberikan instruksi untuk membangun lima bangunan ini sesegera mungkin. Selain itu, ia memberikan pesanan khusus kepada Buminegoro, perihal pembangunan istal Tetsu agar dibangun di sebelah halaman.
Pada sore hari, Heru Cokro mengunjungi dua tentara yang terluka parah kemarin. Setelah perawatan Dharmawan, keduanya telah diselamatkan dari keadaan kritis.
Salah satu pemuda berumur 20 tahun, disebut Soekanto. Dalam pertempuran itu, kedua jari tangan kirinya dipotong oleh penjarah, meninggalkan kecacatan seumur hidup. Ketika Heru Cokro pergi menemuinya, pria kecil itu tidak menahan diri dan menangis seperti anak kecil.
Lainnya adalah pria paruh baya berumur 30 tahun, yang disebut Hoegeng. Mata kanannya ditembak panah oleh penjarah dan benar-benar hancur.
Ini adalah pria sejati, ketika Heru Cokro menatapnya. Emosinya menjadi lebih stabil, berbicara dan tertawa dengannya. Dengan setengah bercanda berkata: “Penguasa, Hoegeng hanya memiliki satu mata, tentu masih bisa membunuh musuh dalam medan perang.”
Hati Heru Cokro terasa asam mendengarnya, “Yah, saya percaya anda. Namun, itu tidak lagi berada di garis depan. Segera, ketika teritori naik ke tingkat dusun, tim keamanan publik khusus akan didirikan. Pada saat itu, saya akan memasukkan anda dan Soekanto ke dalam divisi keamanan publik. Sekarang, tugas anda adalah sembuh dan beristirahat dengan baik. Namun setelah sembuh, jangan pernah lalai melatih keterampilan seni beladiri anda. Jika tidak, akan menjadi lelucon, karena anda tidak bisa menangkap penjahat.”
Hoegeng segera berkata dengan keras: “Penguasa, yakinlah. Ketika waktunya tiba, saya tidak akan pernah membuat anda kehilangan wajah dan tidak akan pernah sekalipun menodai almamater tentara.”
“Yah, aku percaya padamu. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi dalam pemulihan diri. Ingat kata-kataku, tidak perlu memikirkan hal-hal yang menunda kesembuhanmu. Prestasimu, aku sangat mengingatnya. Di waktu yang tepat, aku akan memberimu tugas dan terimalah dengan lapang dada.”
“Terimakasih banyak, penguasa telah peduli terhadap hamba.” Setelah mendengar perkata dan janji Heru Cokro, beban hati dan pikiran Hoegeng dan Soekanto terasa ringan.
__ADS_1
Kembali ke Kediaman penguasa, saya melihat dua wanita mengobrol di koridor sayap barat.
“Kakak, kita semua telah disini hampir seharian. Penguasa tidak sedikitpun menunjukkan batang hidungnya, kira-kira seperti apa tampangnya?” Yang berbicara adalah seorang wanita muda dan cantik. Pakaian yang dikenakan mengunakan bahan linen biasa, sangat halus dalam pengerjaan, meningkatkan pesona alaminya.”
“Aku mendengar bahwa dia adalah anak laki-laki yang tampan, mungkinkah kau mau merayunya” Yang lain adalah wanita paruh baya, mengenakan gaun yang sangat sederhana, tanpa bedak diwajahnya.
Wanita muda itu sangat disayangi oleh wanita paruh baya, segera menolak untuk melanjutkan pembicaraan. “Kakak tidak perlu mengolok-olok saya. Laxmi, meskipun muda, tahu kebenaran atas kata terimakasih. Penguasa telah menyelamatkan saya dari tangan penjarah. Laxmi sangat bersyukur, tidak berani memikirkan hal lain.”
“Siapa tahu, aku dulu di batalion raider, berpikir sepertimu. Itu benar-benar pengalaman menyedihkan dan tak tertahankan.” Wanita muda setengah baya itu jelas sangat tersentuh. “Namun, aku mendengar dalam Divisi Cadangan Material pejabat utamanya adalah Siti Fatimah, awalnya seperti kita, yang berasal dari alam liar. Penguasa merawat mereka dan menghargai bakatnya. Siti Fatimah tidak hanya menjadi saudara angkat saja, tetapi juga memikul tanggung jawab yang berat. Siti Fatimah tidak hidup dengan nikmat dari penguasa saja, melainkan mendapat rasa hormat dari suluruh penduduk karena pengelolaannya yang baik atas Divisi Cadangan Material.”
“Ya, Laxmi juga sedikit dengar. Kakak Fatimah tidak hanya cantik, tetapi juga sangat kompeten. Dia adalah idolaku.” Wanita muda itu jelas masih memiliki hati seorang gadis, dia langsung menjadikan Fatimah sebagai idolanya.
“Heissss, dasar bocah, tidak perlu menjadi rendah diri. Bakatmu adalah seorang penjahit, kakak tidak pernah mendengar di Jawa Dwipa ada bakat sepertimu. Prestasi masa depanmu sangat cemerlang, tidak akan berada di bawah direktur Fatimah.”
“Batuk!” Heru Cokro sengaja batuk, dan tetap berjalan perlahan memasuki halaman.
“Ya!” Berbalik untuk melihat Heru Cokro, Laxmi segera menjadi merah. Namun, wanita muda paruh baya itu tenang dan bertanya dengan santai: “Apakah penguasa telah kembali?” tanya Renata.
“Hormat saya kepada Yang Mulia!”
“Ini aku. Sebelumnya, mohon maaf atas keterlambatan menemui dua nona. Karena banyak sekali bisnis yang harus segera diselesaikan.”
__ADS_1
“Tidak perlu seperti itu. penguasa yang berkenan menyelamatkan kami adalah nikmat yang tidak mungkin bisa kami berdua bayar kembali. Kami sangat berterimakasih” Renata melirik adik kecil yang baru dikenal dan melihat bahwa dia telah berdiri disampingnya. Dengan wajah memerah, dia tidak bisa berbicara dan menarik lengan baju Renata.
Awalnya Laxmi bukan gadis pemalu, itu karena obrolan pribadi dengan Renata sebelumnya, membuatnya malu. Tidak tahu kapan penguasa datang dan seberapa banyak yang penguasa dengar.
Hati gelisah dan penuh rasa malu. Ketika Heru Cokro berbicara, moodnya belum stabil. Setelah ditarik oleh Renata, dia hanya bisa merespon dengan cara membungkuk. “Laxmi, menyapa Yang Mulia!”
Heru Cokro secara alami tidak akan membuat situasi menjadi sulit, berpura-pura tidak mendengar, dengan lembut berkata: “Gadis yang baik, apakah semuanya baik-baik saja?”
“Berkat perawatan Yang Mulia, semuanya baik-baik saja.” Laxmi mulai menstabilkan suasana hati, membuat gerakan dengan posisi rukuk, berkata “Laxmi sangat berterima kasih kepada penguasa atas bantuan dan perawatan yang telah diberikan.”
Heru Cokro bergegas ke depan dan berkata dengan sungguh-sungguh: “Tidak perlu seperti ini. Aku tidak tega melihat seorang gadis sepertimu merasa teraniaya, jika kamu berkenan, saya ingin memperlakukanmu seperti saudara.” Lihatlah, bocah sendirian yang baru berusia 18 tahun mengalami hal yang sangat menyedihkan, bagaimana bisa acuh melihatnya.
Wajah Laxmi langsung menjadi sedikit merah, berpikir bahwa Heru Cokro telah mendengarkan obrolan pribadi mereka, Laxmi buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata: “Laxmi hanya orang biasa dengan status rendah, saya bahkan tidak berani memikirkan kemewahan seperti itu!”
Heru Cokro melambaikan tangannya. “Ini adalah cerita yang berbeda. Semua penduduk Jawa Dwipa, siapa yang belum memiliki masa lalu yang menyakitkan. Tapi selama kamu bergabung dengan Jawa Dwipa, kita adalah keluarga, tidak ada perbedaan antara tinggi dan rendah. Semuanya, mengalir seperti air, jujur dan menenangkan. Semua orang di Jawa Dwipa, masing-masing memiliki keterampilannya sendiri, masing-masing dengan tugas mereka sendiri, saling bergotong royong. Oleh karena itu, tidak perlu repot-repot memikirkan hal yang sia-sia atau tidak ada manfaatnya. “Heru Cokro menggoda Laxmi.
Wajah bocah itu semakin dibuat kemerahan oleh Heru Cokro, berteriak, “Kakak!”
Heru Cokro berkata dengan gembira: “Nah, seperti ini lebih enak didengar. Di Jawa Dwipa, tidak perlu merasa sungkan. Kakak mendengar anda memliki keterampilan menjahit, yang telah lama kakak nantikan.”
Setelah berurusan dengan Laxmi, Heru Cokro beralih ke Renata dan berkata: “Nyonya, anda adalah seorang yang ahli memasak. Saya mendengarnya dari Notonegoro. Jadi, mohon bantuannya untuk sementara, nyonya bertanggung jawab atas persediaan makanan di kediaman penguasa. Setelah wilayah membangun restoran, maka nyonya yang akan memimpinnya.”
__ADS_1
Renata tersenyum, “Renata dengan bahagia menerima pengaturan Yang Mulia!”