
Kawis Guwa, sedikit memiliki pemahaman yang mendalam tentang meriam cetbang, berkata dengan cemas, “Ide Baginda bagus, tapi kita mungkin tidak punya cukup waktu dan cukup bubuk mesiu. Ini mungkin tidak berhasil.”
Heru Cokro mengangguk dan berkata, “Kamu benar. Aku tidak ingin membuat banyak dari mereka. Setelah pertemuan ini, aku akan membeli manual pembuatan meriam cetbang dari pasar, dan membuat bengkel senjata mempercepat produksinya. Mereka seharusnya bisa membuat dua darinya, sebelum perampok datang menginvasi wilayah kita. Untuk masalah bubuk mesiu, aku pikir Empu Supo atau Lambert akan punya ide bagaimana menyelesaikannya. Kita hanya perlu sedikit bubuk mesiu untuk menyalakannya, dan mereka harusnya bisa membuatnya.”
“Paduka telah memikirkan hal ini dengan matang. Aku mengagumi Yang Mulia.”
Memecahkan masalah dengan sumber daya perlindungan desa, Heru Cokro mulai membahas masalah dengan dukungan logistik.
Dalam melawan serangan perampok ini, mereka mengincar wilayah utama. Serangan mereka akan datang dari barat dan utara. Heru Cokro memperkirakan sebagian besar serangan akan datang dari barat, karena bagian utara ada perlindungan sungai. Di sebelah timur Jawa Dwipa terdapat banyak rumah, jadi mereka harus memindahkan penduduk ini sementara ke dalam desa untuk memastikan keselamatan mereka.
Heru Cokro menempatkan Biro Administrasi yang bertanggung jawab atas proyek besar ini.
Selain migrasi, memiliki tim sipil dan tim medis juga sangat penting. Membandingkan pengepungan binatang buas dengan serangan perampok ini seperti membandingkan setan kecil dengan setan besar. Tim sipil dan medis harus dibentuk lebih awal dan dilatih. Mereka juga harus naik ke tembok wilayah untuk berlatih, jadi latihan ini tidak bisa dilakukan sembarangan.
Tentu saja, proyek besar seperti ini diserahkan kepada Biro Cadangan Material.
Setelah semuanya diatur, Heru Cokro mengakhiri pertemuan. Adapun strategi khusus, mereka tidak cocok untuk diskusi dalam pertemuan itu, dan sebagai gantinya mereka perlu mengadakan pertemuan militer.
Setelah pertemuan, Heru Cokro memanggil Fatimah ke kantornya, dan menyuruhnya menghubungi Pantura untuk meminta mereka menjual garam mulai paruh pertama bulan kelima. Dia ingin mereka menggunakan sejumlah uang untuk mengubah kelas para prajurit.
Setelah membuka saluran aliansi, 4000 emas yang dia dapatkan dari Tambang Serigala Putih kini hanya tersisa 140 emas.
Untungnya setelah pembentukan Divisi Audit, garam dari Gudang Garam tidak memerlukan pengiriman ke kamp utama untuk dijual, dan dapat dijual di bawah pengawasan Divisi Audit dari pasar Pantura. Besok sore, kamp utama sudah bisa mendapatkan emas dari penjualan.
Setelah mengirim Fatimah pergi, Heru Cokro melakukan perjalanan ke pasar lanjutan, dan menghabiskan 20 emas untuk membeli manual pembuatan meriam cetbang.
Dia menghabiskan 20 emas untuk membeli meriam cetbang.
__ADS_1
Pukul 18.00, dia telah kembali ke kediaman penguasa. Dia menyerahkan manual pembuatan meriam cetbang kepada petugas, memintanya untuk membawanya ke bengkel senjata, dan menyuruhnya memberi tahu Empu Tumenggung Supodriyo dan Empu Supo untuk mempelajarinya dan mencoba memulai produksi besok.
Setelah memberikan perintahnya, Heru Cokro pergi ke halaman belakang dan keluar dari permainan untuk beristirahat.
********
Keesokan harinya ketika dia kembali memasuki permainan, Heru Cokro gugup dan tidak bisa menenangkan diri.
Pasalnya, Desa Vrindavan dari wilayah India sedang menjalani ujian hari ini. Semua pemain di dunia diam-diam memperhatikan notifikasi sistem.
Saat itu, yang paling gugup bukanlah Heru Cokro, melainkan Jack Rothschild dari wilayah Amerika dan Huang Chengyang dari wilayah Cina. Karena keduanya akan mengikuti ujian keesokan harinya, dan jika Desa Vrindavan berhasil, maka itu akan menjadi kehilangan besar baginya.
Meskipun Heru Cokro sangat cemas, dia menekannya dan duduk di kediaman penguasa dengan ekspresi tenang.
Mesin kekuatan tempur Jawa Dwipa telah dinyalakan dan mulai bekerja sesuai rencana.
Banyak kayu gelinding dan batu raksasa dikirim dari tambang dan kamp penebangan ke desa. Dengan bantuan tim sipil, mereka dibawa ke tembok wilayah.
5 kapal perang Jung Jawa dari unit pertama armada angkatan laut Pantura telah datang ke lembah, dan untuk sementara berlabuh di Pelabuhan Jawa Dwipa. Divisi Persiapan Perang ingin menggunakan waktu ini untuk memindahkan panah ke kapal.
Pada saat yang sama, anak panah juga dipindahkan ke tembok wilayah.
Arubalista tiga busur telah dipasang di kedua sisi menara gerbang barat. 4 arubalista biasa dipasang di menara gerbang utara. Adapun prajurit unit Pana Srikandi, di bawah kepemimpinan Sayakabumi, mereka mulai menyesuaikan konfigurasi setiap panah otomatis.
Jawa Dwipa telah menerbitkan peringatan bahwa setiap orang yang masuk akan diperiksa untuk mencegah perampok menyusup lebih awal. Besok, saat semua penduduk sudah bermigrasi ke desa, akan ada larangan bepergian dimana orang hanya bisa masuk dan tidak ada yang bisa keluar.
Divisi Keamanan, di bawah kepemimpinan Direktur Hoegeng, meningkatkan jumlah patroli dan mulai memeriksa semuanya.
__ADS_1
Sampai pukul 17.00, tidak ada notifikasi sistem. Heru Cokro tidak bisa menahan semua kegugupan ini, dan setelah menginstruksikan anak buahnya, dia keluar dari permainan lebih awal.
Setelah keluar dari permainan, Heru Cokro tidak meninggalkan ruangan dan malah memasuki ke forum.
Diharapkan, subforum India sangat riuh dengan berbagai rumor dan berita yang beredar.
“Desa Vrindavan akan segera berhasil, lambaikan tangan untuk memeriahkan suasananya.”
"Desa Vrindavan gagal dalam pertahanan, keluar dari perlombaan untuk desa pertama!"
“Perampok itu licin seperti ular. Apakah persiapan Asoka Bharata cukup!!!”
"Gelombang terakhir, apakah Desa Vrindavan dapat berhasil tergantung pada ini!"
“Raider terlalu licik, mereka benar-benar menggunakan terowongan untuk menembus garis pertahanan!!”
Pada saat itu, Heru Cokro bisa santai. Dia tidak mempedulikan semua berita ini dan mulai berlatih Teknik Kultivasi Batin Prabu Pandu Dewanata di kamarnya.
Setelah dua hari kultivasi, sudah ada 8 helai prana internal dicakranya. Ketika dia memasuki permainan, Heru Cokro membenarkan bahwa satu helai prana mewakili satu titik kekuatan internal.
Dia bisa mengolah sekali sehari, memutar 4 siklus, dan menghasilkan 4 helai prana. Jadi dalam keadaan normal dia membutuhkan 25 hari untuk mencapai maksimal 100 helai untuk lapisan pertama. Melalui ini, orang bisa melihat kesulitan teknik kultivasi tingkat kaisar. Kalian harus tahu bahwa ini hanya lapisan pertama.
2 jam kemudian, Heru Cokro akhirnya berhenti.
Saat ini, apakah Desa Vrindavan berhasil atau tidak seharusnya sudah ada berita yang pasti.
Heru Cokro masuk ke forum dan posting teratas di sub-forum India adalah judul merah raksasa: 'Desa Vrindavan gagal, impian Asoka Bharata untuk menjadi yang pertama telah hancur'.
__ADS_1
Heru Cokro menghela nafas lega. Jawa Dwipa akhirnya bisa membalikkan segalanya. Satu-satunya hal yang menghentikannya adalah Desa Demokrat dan Desa Jinlong, yang mengikuti ujian besok.
Di forum, detail spesifik pertahanan diungkapkan oleh para pemain.