Metaverse World

Metaverse World
Peningkatan Gaji


__ADS_3

Tentara beristirahat dan bersiap selama tiga hari lagi, dan setelah itu, Heru Cokro mulai mengatur ulang semua batalion. Unit pertahanan wilayah sendiri akan menduduki seluruh kamp militer lanjutan di wilayah, yang secara resmi mengambil alih tanggung jawab pertahanan wilayah. Sedangkan kamp militer canggih lainnya dibangun di suatu tempat dua puluh mil jauhnya di barat oleh Divisi Konstruksi dan diserahkan ke unit infanteri, dinamai sebagai Kamp Pamong Kulon yang terletak di suatu tempat antara perbatasan wilayah dan pangkalan utama, yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan wilayah barat. Tanggung jawabnya berat, karena properti utamanya banyak, seperti kawasan industri di luar kota, lapangan pertambangan, pabrik dan pemukiman di mana-mana.


Unit kavaleri dipindahkan ke Batih Ageng. Di utara kota, sebuah kamp militer canggih dibangun untuk kavaleri, bernama Kamp Pamong Lor. Perkemahan itu seperti paku yang ditancapkan jauh ke dalam padang rumput yang luas, menjaga dan mengawasi suku-suku pengembara.


Sebelum kavaleri berangkat, Heru Cokro memanggil Wirama ke kantornya dan mengadakan diskusi rahasia sepanjang sore dengan kehadiran Raden Said. Apapun yang dibicarakan tidak diketahui oleh orang lain kecuali mereka bertiga.


Pada malam harinya, Jawa Dwipa menyambut beberapa peristiwa bahagia.


Melalui aula perekrutan, muncul seorang resi tingkat lanjut, Arrya Bharad. Dia dikatakan sebagai pendeta sakti yang membelah tanah Jawa menjadi dua kerajaan dengan air ajaib dari kendinya, sehingga masing-masing belahan menjadi Janggala dan Pangjalu. Pembelahan tersebut dilakukan untuk menghindari perang saudara antara dua pangeran yang ingin berperang memperebutkan kekuasaan.


Arrya Bharad tidak memilih untuk membangun Sala Resi di desa, melainkan memilih untuk membangunnya di atas bukit di suatu tempat di barat desa setelah berkeliling ke seluruh wilayah selama lebih dari 3 hari. Pemandangan di sekitar bukit memang indah, menjadikannya tempat yang bagus. Primbon Jawa selalu misterius, Heru Cokro tidak menghentikannya karena alasan ini dan dia sangat percaya bahwa Arrya Bharad memilih lokasi itu memiliki alasan dan pertimbangannya sendiri. Karena dia adalah seseorang yang baik dengan Primbon Jawa.


Sala Resi termasuk dalam kategori struktur budaya, itu datang dengan keuntungan dalam mempromosikan indeks budaya wilayah tersebut. Karenanya, Heru Cokro tidak berharap mendapatkan penghasilan dari kuil tersebut. Dia juga memerintahkan Divisi Konstruksi untuk mengikuti tuntutan Arrya Bharad dalam pembangunan wihara. Setelah selesai, di bawah spesialisasi Arrya Bharad dan karakteristik unik kuil, indeks budaya seluruh wilayah meningkat 5 poin.


Kuil itu kemudian dinamai Kuil Wurare oleh Arrya Bharad dan dia mengambil 2 pelayan dan 4 anak yatim piatu sebagai murid.

__ADS_1


Dua bangunan lainnya di desa menengah, pegadaian dan penginapan, juga sudah selesai sekarang. Namun, kedua struktur ini belum dapat beroperasi, karena dengan adanya Bank Nusantara yang memberikan pinjaman berbunga rendah, pegadaian hanya menjadi hiasan. Selain itu, penduduk wilayah pada dasarnya adalah pengungsi dari tempat lain yang belum bisa menabung banyak uang atau barang berharga apapun. Maka dari itu, Biro Finansial hanya mempekerjakan satu penjaga toko untuk menjaga pegadaian.


Hal yang sama berlaku untuk penginapan. Jawa Dwipa saat ini merupakan wilayah tertutup dan hampir tidak ada orang luar. Secara alami penginapan tersebut tidak memiliki tamu sama sekali, oleh karena itu, tidak ada orang yang bersedia mengambil alih penginapan tersebut dan tanpa pilihan yang tersisa, penginapan tersebut hanya dapat dikelola sementara oleh Biro Finansial.


Sedangkan toko perhiasan, membuat Heru Cokro lengah atas bisnis ini. Setelah mengetahui hal ini, Heru Cokro secara khusus pergi untuk memahami situasinya. Namun kebenarannya, membuatnya bingung apakah harus tertawa atau menangis.


Alasannya bukan karena kekurangan pengrajin emas atau perak, masalahnya pengrajin ini memiliki keterampilan yang dibutuhkan tetapi tidak memiliki modal. Perhiasan pada zaman dahulu umumnya terbuat dari emas, perak, dan tembaga, serta membutuhkan bahan dengan kemurnian yang relatif lebih tinggi. Dengan kondisi Jawa Dwipa, tidak ada yang mampu menyediakan bahan yang dibutuhkan.


Heru Cokro dengan sengaja memutuskan bahwa pemerintah akan mengambil alih bisnis toko perhiasan dan keuntungannya akan digunakan untuk pengeluaran harian pemerintah. Dia segera memasukkan 100 koin emas dan mengubahnya menjadi batangan emas, perak, dan tembaga dengan kemurnian tinggi melalui fungsi magis dari tas penyimpanan barang.


Dengan pemerintah mengambil alih toko perhiasan sekarang, Heru Cokro harus memilih seorang penjaga toko untuk memelihara toko tersebut. Di bawah rekomendasi Fatimah, dia memilih pembantunya, Manjusha untuk bertanggung jawab atas toko tersebut. Manjusha telah mengikuti Fatimah selama beberapa waktu jadi dia juga belajar banyak pengetahuan bisnis. Oleh karena itu, Heru Cokro percaya bahwa dia mampu.


Karena barang langka secara alami mahal, harga Sutra Pelangi telah mencapai sepuluh koin emas, menjadi angsa ketiga yang bertelur emas di kota. Setelah mengetahui berita tersebut, Heru Cokro segera menuntut perluasan ladang penangkaran ulat sutera. Biro Finansial kemudian segera meminjamkan dua ratus koin emas dengan bunga rendah untuk peningkatan seluruh rantai industri tekstil. Di bawah proses ini, asosiasi tekstil mulai menghasilkan lebih banyak keuntungan bagi desa.


Tanggal 30 April. Sekali lagi saatnya menjual garam. Gudang Garam telah menghasilkan keuntungan bulanan sebesar 3600 emas. Sama halnya dengan Tempat Pelelangan Ikan.

__ADS_1


Di pilar bisnis lain di wilayah itu, ladang Tambang Serigala Putih, keuntungan bulanan mencapai 8500 emas karena jumlah penambang meningkat menjadi 5.000, melebihi Gudang Garam dengan selisih besar dan menjadi industri terbesar di wilayah tersebut.


Ditambah dengan 900 emas yang dimilikinya, sekarang Heru Cokro memiliki 16.600 emas. Jumlah ini terlihat sangat besar, tetapi dikurangi biaya harian, dana yang bisa digunakan tidak banyak. Kemudian Heru Cokro sekali lagi mengeluarkan 5.000 emas dan menyerahkannya ke Biro Finansial untuk digunakan sebagai pengeluaran keuangan wilayah.


Pertama adalah pengeluaran militer. Ketika militer berkembang, biaya akan meningkat. Biaya militer saja sudah sangat besar.


Sejak wilayah itu mandiri secara finansial, Heru Cokro meningkatkan gaji bulanan seorang tentara sebanyak 10 kali lipat. Prajurit tamtama, prada akan mendapatkan 15 koin perak sebulan, kopka mendapatkan 90 perak, serda satu emas, pelda 5 emas, dan seorang kapten akan mendapatkan 20 emas dalam sebulan.


Dengan unit kavaleri sebagai contoh, biaya prajurit pangkat tamtama adalah 180 emas, menambahkan 50 kopka, 5 pelda dan satu kapten, biaya unit mencapai 275 koin emas. Jika dikalikan 4 unit maka harga yang harus dikeluarkan adalah 1.100 emas. Belum lagi dengan biaya makanan, senjata, dan peralatan yang menghabiskan sekitar 1400 emas.


Kedua adalah pengeluaran pemerintah. Karena semua biro dan divisi terisi, biayanya juga sangat tinggi. Seorang pejabat sipil biasa dibayar 1 emas, direktur divisi 10 emas, dan direktur biro sebesar 25 emas. Menambahkan biaya tinta, kertas, dan biaya lainnya, pengeluaran bulanannya adalah sekitar 500 emas.


Ada juga pengeluaran publik, seperti mengumpulkan dana untuk lelang sistem, menyelesaikan tembok wilayah, sungai perlindungan wilayah, tembok wilayah Batih Ageng dan perbaikan jalan, serta gaji pekerja konstruksi, menghabiskan 1.000 emas lain. Tetapi pekerjaan ini, bukan bagian dari pengeluaran bulanan.


Selain itu, karena skala kamp penebangan, tambang, Divisi Persenjataan, Divisi Busur dan Panah, bengkel senjata dan industri terkait militer lainnya, tempat pembakaran batu bata, bengkel tembikar, galangan kapal, dan bisnis wilayah lainnya meningkat, biaya bulanan telah melebihi 1500 emas.

__ADS_1


Terutama bisnis militer seperti Divisi Persenjataan. Mempekerjakan semua talenta khusus, gaji mereka pasti tinggi. Seorang magang mendapatkan 30 perak sebulan, talenta dasar 1 emas, talenta menengah 5 emas, dan talenta lanjutan menghasilkan 10 emas sebulan.


Terakhir, ada program kesejahteraan dasar rakyat. Bahwa setiap orang yang memasuki kota akan diberikan sebuah paket yang harganya sekitar 15 perak. Setiap hari, wilayah utama mendapatkan 80 orang baru yang menambahkan hingga 360 koin emas dalam sebulan, ditambahkan dengan 3 wilayah afiliasi lainnya, ini mendekati 1.500 koin emas.


__ADS_2