Metaverse World

Metaverse World
Suku Seng


__ADS_3

Sekarang setelah galangan kapal ditingkatkan, mereka langsung mulai membangun kapal perang Jung Jawa. Hingga saat ini, sudah ada 2 unit kapal perang Jung Jawa yang dikirim ke satuan Angkatan Laut, dan rata-rata galangan kapal bisa mengirimkan 1 unit kapal perang per minggu. Kapasitas unit kapal perang Jung Jawa adalah satu kompi angkatan laut. Oleh karena itu, diperlukan 3 kapal perang lagi untuk memenuhi kebutuhan seluruh satuan angkatan laut.


Selain itu, tiga wilayah afiliasinya juga telah menyampaikan kabar baik. Wilayah Pantura sekarang resmi menjadi desa dasar dengan populasi maksimal 5.000 penduduk. Untuk ini, Heru Cokro telah menghabiskan 1.000 emas untuk cetak biru pembangunan pelabuhan lanjutan, dan telah memerintahkan dimulainya proyek Pelabuhan Pantura. Karena itu adalah proyek konstruksi besar-besaran, bahkan dengan Desa Pantura yang bekerja totalitas, itu masih membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.


Pelabuhan itu seperti dermaga dan terminal kapal. Mereka semua diklasifikasikan sebagai bangunan khusus. Cetak biru pembangunan pelabuhan dasar dihargai 10 emas, maka harga pelabuhan lanjutan akan menjadi 1.000 emas.


Agar Kebonagung ditingkatkan menjadi desa dasar, masih memerlukan waktu setengah bulan lagi.


Hal baiknya adalah perkebunan teh putih liar di Gunung Kowang diubah menjadi perkebunan teh seluas 5.000 hektar atas nama Dusun Kebonagung. Antara akhir Maret dan awal April adalah waktu untuk memanen teh putih. Sehingga Pusponegoro telah memerintahkan para petani teh untuk memanennya, dan mereka sekarang sudah hampir menyelesaikan panen.


Sama sekali tidak mengherankan ketika teh putih diakui sebagai produk lokal khusus wilayah oleh sistem. Karena Heru Cokro telah meninggalkan perkebunan teh di bawah yuridiksi Kebonagung, setiap keuntungan yang diperoleh dari penjualan teh putih melalui toko kelontong secara alami akan diakreditasi ke Dusun Kebonagung. Ini, pada gilirannya, akan dapat merangsang dan mempercepat perekonomian Kebonagung.


Pusponegoro membuktikan dirinya sebagai orang yang berakal, karena dia hanya mengamankan beberapa pohon teh putih dengan kualitas tertinggi, dan melabeli teh tersebut sebagai teh upeti. Teh upeti adalah yang terbaik dari the lainnya. Mereka tidak tersedia untuk dijual dan hanya akan secara khusus diberikan sebagai penghargaan kepada kediaman penguasa, yang secara khusus ditujukan kepada Heru Cokro.


Beralih ke dusun afiliasi terbaru, Batih Ageng, semua infrastruktur yang diperlukan telah dibangun. Sekarang fokus membangun paritnya, tetapi karena proyeknya berukuran besar, masih ada waktu lama sebelum selesai. Sampai sekarang, Batih Ageng masih belum bisa mandiri, dan terus-menerus membutuhkan dukungan dan dana dari wilayah utama.


*******


Pada tanggal 15 April, Ladang Tambang Serigala Putih mengirimkan berita penting, bahwa Suku Seng telah menyergap lokasi penambangan. Mereka menghancurkan beberapa fasilitas dan terlibat pertempuran dengan tim garnisun. Bentrokan itu berakhir dengan sejumlah korban luka, dan korban jiwa lebih dari 40 orang.

__ADS_1


Jam dua siang, aula diskusi Jawa Dwipa.


Heru Cokro memanggil Biro Urusan Militer dan 3 biro lainnya untuk mengadakan pertemuan darurat. Dia melihat ke sekeliling ruangan, dengan sungguh-sungguh berkata, “Aku yakin berita itu telah sampai kepada kalian semua. Ladang Tambang Serigala Putih telah di serang. Ini jelas merupakan provokasi bagi Jawa Dwipa. Maka, aku sebagai penguasanya akan membersihkan noda ini dengan darah mereka.”


“Paduka, tolong beri perintah. Kami akan menikam mereka tepat di jantung mereka dan menyerbu kamp suku mereka!” Jenderal Giri adalah orang pertama yang mengusulkan peperangan.


“Itu benar, Paduka! Unit pertahanan desa akan bertindak sebagai garda depan!” Dudung berikutnya.


Hanya Mayor Wirama yang berkata dengan nada enggan, "Paduka, unit kavaleri akan menjadi tombakmu!"


Heru Cokro menggelengkan kepalanya dan menjawab Wirama. “Kali ini, ekspedisi akan berada di dekat gunung dan jauh di dalam hutan. Medannya tidak menguntungkan bagi kavaleri berkuda. Tinggallah untuk menjaga dan melindungi wilayah. Unit kavaleri akan mengambil alih tugas unit pertahanan desa. Kami telah memusnahkan para perampok dan bandit. Sehingga kebencian antara mereka dan kita hanya bisa terhapus dengan tetes darah terakhir, baik itu darah mereka atau darah kita. Aku tidak ingin wilayah itu dijarah dan direbut oleh momok ini. Mayor Wirama, tanggung jawab besar ada padamu, tolong jangan lengah.”


Heru Cokro mengabaikan dua elang perang, Jenderal Giri dan Mayor Wirama. Sebaliknya, dia menoleh ke Divisi Intelijen Militer dan berkata, "Apakah Divisi Intelijen Militer memiliki informasi tentang Suku Seng?"


Ghozi berdiri dan menjawab. "Ya Paduka, sejak mereka menolak untuk bekerja sama dengan kami, Divisi Intelijen Militer mulai mengumpulkan informasi mengenai Suku Seng."


"Baiklah, kita semua mendengarkan!" Heru Cokro memuji divisi tersebut atas performa mereka.


Ghozi memulai laporannya. “Suku-suku biadab tersebar di seluruh wilayah yang terbagi menjadi dua, yaitu suku utara dan suku selatan. Setiap suku dipimpin oleh pemimpin suku yang terdiri dari 10.000 orang. Sedangkan yang kami temui sejauh ini semuanya adalah suku selatan."

__ADS_1


“Suku selatan terdiri dari 40 suku. Mereka sedikit lebih lemah dari suku utara. Suku pemimpinnya adalah Suku Panceng yang diikuti oleh empat suku besar berkekuatan 5.000-10.000, sepuluh suku berukuran sedang yang berkekuatan 3.000-5.000, dan 25 suku berkekuatan kurang dari 3.000. Oleh karena itu, sebagai salah satu dari 4 suku besar, wajar jika Suku Seng tidak mau mendengarkan Suku Gosari.


“Suku Seng memiliki sekitar 5.400 orang, menggunakan angin kencang sebagai totem suku mereka, dan Topan sebagai nama belakang mereka. Pemimpin mereka disebut Wahil Topan. Dia menjadi kepala suku belum lama ini, dan memiliki usia kurang dari 30 tahun. Pasukan tempur suku tersebut adalah para pemburu suku, berjumlah 800an. Menurut spekulasiku, merekalah yang menabrak Ladang Tambang Serigala Putih.”


Heru Cokro sangat puas dengan Divisi Intelijen Militer, karena mereka dapat melihat gambaran yang lebih besar, seta mendapatkan alasan di balik insiden di Ladang Tambang Serigala Putih. Itu benar-benar meyakinkan.


“Bagaimana kondisi geografis Suku Seng, dan sistem pertahanan suku mereka?” Raden Said secara alami lebih memperhatikan pertanyaan-pertanyaan ini.


Ghozi menganggukkan kepalanya dan berkata, “Suku Seng terletak 20 kilometer di sebelah timur Suku Gosari. Lokasi suku tersebut berada di medan yang mirip lembah. Ini memiliki 3 dinding pegunungan, dengan hanya sebuah pintu masuk di sisi barat di mana Suku Seng telah membangun tembok pertahanan. Oleh karena itu, kita harus menjatuhkannya untuk menyerang suku itu.”


Raden Said langsung mengerutkan kening. Karena medan seperti itu, sulit diserang. Kemudian dia bertanya lagi. “Seberapa tinggi gunung-gunung itu? Bisakah kita memanjatnya?”


Ghozi menggelengkan kepalanya, mengatakan dengan pasti, “Itu tidak mungkin. Meski tidak setinggi milik kita, tingginya masih lima, enam ratus meter. Selain itu, gunung-gunung dipenuhi dengan semak-semak dan pepohonan, sehingga sulit untuk dilalui, apalagi dipanjat.”


“Kalau begitu, kita hanya punya satu pilihan tersisa, yatu serangan langsung. Selama kita meruntuhkan tembok pertahanan, suku itu akan seperti kura-kura dalam toples, boneka mainan kita.” Heru Cokro tiba-tiba membuka mulutnya.


Raden Said mengangguk dan bertanya, "Paduka, dalam ekspedisi ini, siapa yang akan terlibat di dalamnya?" Segera, setiap divisi melirik Heru Cokro dengan cemas.


Heru Cokro tidak mengecewakan mereka. Dia berkata dengan lantang, “Ekspedisi akan dipimpin oleh unit infanteri dan unit pertahanan desa, dibantu oleh unit Tentara Serigala Putih. Pasukan garnisun Kebonagung dan Batih Ageng akan tetap tinggal dan melindungi wilayah.”

__ADS_1


Jenderal Giri dan Dudung dipenuhi dengan kegembiraan yang luar biasa, sementara hanya Wirama yang merasa kecewa.


__ADS_2