Metaverse World

Metaverse World
Akademi Kadewaguruan


__ADS_3

Heru Cokro melanjutkan dengan mengatakan: “Mari kita diskusikan perihal harga properti. Menurut karakteristik teritori, Jawa Dwipa akan memiliki berbagai jenis properti dengan skala besar di masa mendatang. Ini melibatkan sejumlah besar real estat dan berbagai jenis bangunan pertokoan. Oleh karena itu, sebelum menetapkan harga, harus didasarkan pada kebijakan yang cukup fleksibel atas hak-hak properti ini. Selain itu, penduduk Jawa Dwipa hanya menerima hak untuk menggunakan dan pendapatan atas peropertinya. Tanah itu sendiri masih menjadi milik teritori.”


“Saat teritori memerlukan properti ini, pemilik real estat atapun toko harus mematuhi pengaturan teritori tanpa syarat dan menerima pemindahan propertinya. Sebagai kompensasi, teritori akan menggantinya dengan ukuran yang sama. Hal ini, ada catatan penting yang harus diperhatikan, kecuali untuk kepentingan pengembangan Jawa Dwipa atau hal terkait lainnya. Bahkan saya sendiri tidak boleh dengan sewenang-wenang untuk mengambil alih properti tersebut” Jawab Heru Cokro dengan tegas.


“Pada tahap ini, kita tidak boleh menghitung biaya penggunaan lahan saat mengevaluasi harga real estat ataupun toko. Misalnya, toko penjahit dasar yang memerlukan 40 unit kayu dan 20 unit batu dalam pembangunannya, tambahkan juga tenaga yang dikonsumsi selama proses konstruksi berlangsung. Biaya yang dibayarkan adalah jumlah dari semua biaya konstruksi. Sedangkan patokan harga bahan, harus sesuai dengan yang ada di pasar, satu unit kayu berharga 20 koin tembaga, satu unit batu seharga 30koin tembaga. Maka, biaya bahan pembangunan toko penjahit dasar adalah 1400 koin tembaga. Untuk biaya tenaga kerja akan didasarkan pada tingkat upah yang telah ditetapkan oleh Biro Administrasi.”


“Saran saya adalah bahwa harga properti dibanderol 1,5 kali lipat dari biaya konstruksi, harga toko dibanderol dua kali lipat dari biaya konstruksi. Sedangkan untuk sewa, ambil 10 % dari harga jual properti itu. Misalkan, harga jual toko penjahit adalah 3000 koin tembaga, maka biaya yang dibayarkan penyewa dalam setiap bulan adalah 25 koin tembaga. Ini sudah termasuk biaya perawatan. Rumusnya adalah 10 % harga jual properti, kemudian dibagi lagi 12. Angka dua belas ini adalah jumlah bulan dalam setahun.”


Ketika Heru Cokro selesai berbicara, Laxmi spontan menyela: “Kakak, anda benar-benar seperti rentenir, tega menagih dengan dua kali harga!”


Heru Cokro terkejut, lanjut menjelaskan: “Semua orang yang berada disini mungkin bertanya-tanya, mengapa mereka tidak diberikan harga yang sesuai dengan biaya konstruksi? Satu, kita harus menghormati hukum pasar. Jika tidak mengambil keuntungan tertentu, mudah untuk mengganggu sirkulasi pasar. Kedua, adalah untuk menjaga keseimbangan pasokan, jika penetapan harga sesuai dengan biaya konstruksi, ini dapat menyebabkan harga menjadi terlalu rendah dan jumlah pembeli membesar. Konsep dasar supply and demand harus dijaga keseimbangannya.”


“Misalnya, penghuni rumah kayu sederhana bisa ditempati oleh 20 orang. Jika harganya terlalu rendah, keluarga dengan tiga anak mampu membelinya secara terpisah, maka akan ada situasi dimana perumahan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ini akan menjadi momok yang dapat menghancurkan ekonomi teritori. Selain itu setelah privatisasi, kondisi hidup warga Jawa Dwipa pasti akan meningkat tajam. Oleh karena itu, Divisi Konstruksi harus segera dapat beradaptasi dengan undang-undang pasar dan secara fleksibel mengatur skala pembangunan rumah kayu sederhana berdasarkan kebutuhan warga.”


Buminegoro segera bangkit dan berkata: “Mengerti!”


“Harga rumah tangga dan ritel serta penjualan lanjutan akan ditangani oleh Biro Administrasi. Hasilnya ditransfer sebagai pendapatan fiskal teritori dan disimpan dalam Bank Nusantara.”

__ADS_1


Pada titik ini, diskusi perihal privatisasi teritori telah berakhir. Selanjutnya, kita perlu melakukan semua pekerjaan dengan baik.


Kawis Guwa dan Siti Fatimah datang ke kantor. Heru Cokro berkata: “Menurut kalian, apa yang paling kurang dari teritori saat ini?”


Kawis Guwa berpikir sejenak. “Saya pikir yang paling kurang adalah orang-orang dengan talenta khusus dalam pejabat pemerintah. Untuk mempertahankan operasi efektif dari setiap departemen, selain pejabat inti, kita memerlukan sejumlah besar petugas pelaksana.”


Heru Cokro bertepuk tangan, mengangguk, dan memberi isyarat kepada Siti Fatimah untuk mendengar idenya.


Siti Fatimah berpikir sejenak dan berkata: “Saya juga setuju dengan Tuan Kawis Guwa. Saya pikir kita masih kekurangan orang dengan talenta spesial yang mengerti akan keuangan dan perpajakan. Bahkan pejabat inti dalam Divisi Finansial sendiri masih awam.”


“Secara umum, sistem birokrasi kami masih lemah, seperti pohon tua yang telanjang, hanya memiliki cabang tanpa busana dedaunan. Pada tahap ini, kita mungkin masih bisa mempertahan operasi setiap departemen dengan normal. Namun ketika, Jawa Dwipa telah berada pada tingkat Dusun, kekurangan ini dapat membuat teritori benar-benar tercekik. Sedangkan pembentukan orang dengan talenta spesial sendiri merupakan proses jangka panjang yang tidak dapat dicapai dalam semalam. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita dengan segera mulai mengembangkan pendidikan di teritori. Sebagai salah satu upaya, saya sendiri telah mengikuti kelas literasi di sekolah swasta.”


Pemain individu hampir mustahil untuk bersaing dengan mereka. Bahkan reinkarnator seperti Heru Cokro harus selangkah demi selangkah, itupun hanya sedikit peluang untuk menang.


Kawis Guwa mengangguk. “Yang Mulia. Untuk membentuk orang dengan talenta khusus, perlu menetapkan fondasi pendidikan yang kokoh dan menerapkan sistem pemeriksaan standar Jawa Dwipa. Tentu jika melihat kondisi saat ini, masih terlalu dini untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Maka pada tahap ini, fondasi pendidikan harus segera diberlakukan. Sayangnya, teritori sekarang hanya memiliki satu sekolah swasta dan satu jenis pendidikan. Hal ini sangat jauh dalam memenuhi permintaan.”


“Ya, ide saya adalah untuk membuka sekolah yang bersifat komprehensif di teritori. Sekolah akan membuka kelas dasar, kelas menengah dan kelas lanjutan. Kelas dasar adalah kelas literasi yang telah didirikan sebelumnya. Kelas menengah akan secara khusus mendidik untuk dipersiapkan sebagai anggota pemerintahan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Terakhir, kelas lanjutan difungsikan sebagai tempat untuk menyiapkan pejabat inti pemerintahan.” Jawab Heru Cokro.

__ADS_1


Kawis Guwa bertepuk tangan, “Brillian! Menurut gagasan Yang Mulia, kita dapat dengan cepat menumbuhkan orang dengan talenta khusus. Saya sangat setuju.”


Siti Fatimah bingung dan berkata: “Gagasan kakak sangat bagus. Namun, ke mana kita pergi untuk menemukan guru ini? teritori sekarang hanya memiliki Ki Hajar Dewantara?”


Heru Cokro tersenyum misterius. “Itu telah ada dan sangat dekat.”


Siti Fatimah membelalakkan mata dan berkata: “Kakak, maksud anda yang akan menjadi guru adalah kami bertiga?”


“Kenapa tidak? Fatimah, kamu bisa mengajar kalkulus dasar di kelas, Tuan Kawis Guwa akan mengajar politik, dan saya sendiri akan mengajarkan yudisial di dalam kelas,” Heru Cokro berkata dengan tenang.


Siti Fatimah menghela nafas, merasa stres. Kawis Guwa sangat tenang, karena sebelumnya ia pernah mengajar di akademi.


“Nama sekolah ini akan disebut sebagai Akademi Kadewaguruan. Meskipun baru saja dimulai, saya harap Akademi Kadewaguruan bisa menjadi tempat lahirnya para pejabat sipil yang kompeten. Pada saat yang sama, saya menunjuk Tuan Kawis Guwa menjadi Kepala Sekolah Akademi Kadewaguruan ini.”


Kawis Guwa bangkit dan memberi hormat, “Yang Mulia, saya bersedia menerima pengaturannya, namun saya memiliki satu permintaan. Dengan segala hormat, saya harap penguasa dapat menjadi Kepala Sekolah Kehormatan atau Komite Sekolah sebagai simbol ortodoksi.”


Heru Cokro tersenyum dan berkata, “Tentu saja saya bersedia. Pekerjaan ini akan menjadi tanggung jawab Biro Administrasi dan Divisi Finansial.”

__ADS_1


Setelah membahas detailnya secara terperinci, ketiga orang itu membubarkan diri.


Heru Cokro kemudian pergi ke pasar. Kali ini, dengan dana yang cukup melimpah, ia tidak hanya akan membeli semua jenis cetak biru arsitektur, melainkan juga untuk melihat apakah ia dapat menemukan hal-hal baik.


__ADS_2