
“Aku harus mengatakan sebelum semuanya dimulai bahwa tujuan reorganisasi kekuatan adalah untuk membentuk kohesi dan menghadapi pertempuran terakhir bersama. Sepanjang proses, jika kamu perlu menyelesaikan misi satu persatu, aliansi tidak akan memiliki batasan apa pun. Tidak hanya itu, jika kamu membutuhkan bantuan, kami juga dapat mengirimkan cadangan.” Heru Cokro menjelaskan.
Semua orang egois. Sebagai pemimpin aliansi, jika dia tidak bisa memberikan respon yang baik untuk menyelesaikan sisi egois mereka dan membuat semua orang mengorbankan keuntungan pribadi mereka untuk tim, ini hanya akan menyebabkan aliansi terpecah-belah. Hanya dengan membangun aliansi berdasarkan keuntungan bersama dan menunjukkan kepada mereka bahwa bekerja sama adalah satu-satunya cara untuk menang, aliansi akan dapat bertahan lama.
Maria Bhakti dan yang lainnya mengangguk untuk menyatakan bahwa mereka mengerti, mereka juga tampak sangat senang dengan pengaturan tersebut.
Hesty Purwadinata bertanya, "Jendra, lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Itu benar, meskipun kita bukan jenderal dan prajurit, kita harus melakukan sesuatu untuk membantu." Maria Bhakti menambahkan.
Dari lima penguasa, Heru Cokro dan Genkpocker memiliki pekerjaan sampingan sebagai jenderal, Maya Estianti sebagai penjahit, Hesty Purwadinata sebagai dokter, dan Maria Bhakti sebagai seorang ksatria.
“Sedangkan untuk kita semua, kita juga akan membagi pekerjaan. Aku akan bertanggung jawab untuk menghubungi Hastinapura dan mencari tahu informasi lebih jelas. Hesty Purwadinata dan Maria Bhakti akan bertugas untuk menghubungi pemain lain dan memilih pemain terbaik, tidak termasuk yang sombong atau yang berniat buruk. Adapun yang lainnya, selama mereka menerima organisasi pasukan kami, mereka dapat bergabung. Adapun Maya Estianti, kamu akan bertanggung jawab atas koordinasi dan menghubungi setiap dari kami.” Heru Cokro berpikir sejenak sebelum berkata.
__ADS_1
Hesty Purwadinata dan Maria Bhakti keduanya adalah penguasa wanita dengan banyak pengaruh.
Dari semua pemain profesional, Hesty Purwadinata memegang otoritas tertinggi, mengetahui banyak tentang setiap penguasa. Di sisi berlawanan, Maria Bhakti bermain untuk pertama kalinya dan tidak tahu banyak tentang pemain profesional, tetapi tentang berbagai pemimpin dari setiap kekuatan, dia tahu lebih banyak daripada Hesty Purwadinata. Dengan keduanya bekerja sama, mereka bisa menutupi kelemahan mereka masing-masing. Menambahkan pesona pribadi mereka, membuat mereka berdua bertugas menghubungi pemain lain terlalu sempurna.
Pada jam 2 siang, Heru Cokro membawa Mahesa Boma dan meninggalkan kamp menuju Hastinapura.
Dalam Serat Pustakaraja Purwa, Raden Ngabehi Ranggawarsita menggunakan tulisan sederhana namun deskriptif untuk menggambarkan kehidupan dan kematian Prabu Pandu Dewanata untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami dan raja yang baik.
Selain permasalahan dengan Kerajaan Pringgadani, Prabu Pandu juga sedang pusing memikirkan istrinya, Dewi Madrim yang sedang mengandung lima bulan. Akhir-akhir ini, Dewi Madrim sering merengek meminta hal yang sangat aneh, bahwa dia ingin bertamasya bersama Prabu Pandu dengan mengendarai Lembu Andini. Padahal, semua orang tahu bahwa Lembu Andini adalah sapi kahyangan, kendaraan pribadi dari sang raja dewa yang dikenal sebagai Batara Guru.
Oleh karena itu, Prabu Pandu merasa bingung untuk mengatasi masalah ini. Pada saat Kerajaan Hastinapura sedang sibuk menghadapi perselisihan dengan Kerajaan Pringgadani, tiba-tiba saja Dewi Madrim meminta hal yang aneh seperti itu. Sehingga membuat Prabu Pandu bimbang mana yang lebih baik dan yang harus diprioritaskan.
Dewi Gandari tiba-tiba menyela pembicaraan. Kemudian dia mengatakan bahwa Dewi Madrim kali ini sedang mengidam. Sehingga sebagai sesama perempuan, dia dapat merasakan betapa sedihnya apabila seorang suami tidak dapat mewujudkan apa yang diidamkan istri yang sedang hamil.
__ADS_1
Sebenarnya istri yang mengidam itu bukan menginginkan suami merasakan kesusahan, melainkan ingin lebih diperhatikan. Mungkin selama ini Prabu Pandu terlalu sibuk memikirkan urusan negara, sehingga lupa memerhatikan istrinya, Dewi Madrim. Bagaimanapun juga, istrinya sedang mengandung calon penerus Kerajaan Hastina. Maka dari itu, tidak ada salahnya apabila Prabu Pandu meluangkan waktu untuk mewujudkan permintaan Dewi Madrim yang aneh, sebagai bukti tanda cinta suami terhadap istrinya.
Adipati Dretarastra membenarkan ucapan istrinya tersebut dan menyarankan Prabu Pandu agar segera naik ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk meminjam Lembu Andini sehari kepada Batara Guru. Adipati Dretarastra berusaha meyakinkan bahwa di masa kecilnya dulu, Prabu Pandu pernah berjasa terhadap para dewa untul menumpas Prabu Nagapaya yang menyerang kahyangan. Apabila Prabu Pandu meminjam Lembu Andini, hanya dalam kurun waktu sehari, tentu saja Batara Guru akan meminjamkannya dengan suka rela.
Namun Prabu Pandu masih ragu-ragu, karena takut Batara Guru akan murka. Lantas, bagaimana dengan permasalahan menghadapi Kerajaan Pringgadani? Bukankah ini sama artinya menghindari urusan negara dan lebih mementingkan urusan keluarganya? Sebagai raja yang bijaksana, tentunya lebih baik Prabu Pandu memprioritaskan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Apalagi golongan!
Patih Sangkuni pun ikut andil bicara dan berusaha meyakinkan bahwa apa gunanya seorang raja mengangkat para menteri dan punggawa jika mereka tidak bisa menangani persoalan negara. Maka, sudah sewajarnya apabila seorang raja menugasi bawahannya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Urusan menghadapi Kerajaan Pringgadani cukup diserahkan kepada dirinya dan para punggawa, sedangkan urusan Dewi Madrim yang sedang mengidam hanya bisa dipenuhi oleh Prabu Pandu saja. Bagaimanapun juga, Prabu Pandu adalah suami, maka tidak mungkin urusan mewujudkan apa yang diidamkan istri diserahkan kepada orang lain.
Mendengar pernyataan Patih Sangkuni, Prabu Pandu terdiam. Dia merasa Adipati Dretarastra, Dewi Gandari, dan Patih Sangkuni sudah bersekongkol untuk menyarankan dirinya agar mengutamakan permintaan Dewi Madrim. Sebenarnya, Prabu Pandu ingin meminta pendapat lain sebagai penyeimbang, tetapi yang ada di situ hanya Resi Krepa yang merupakan kepala pendeta pendiam dan jarang bicara. Raden Yamawidura yang bijaksana juga saat ini masih berada di Padepokan Arga Kumelun, sedangkan Resiwara Bisma yang merupakan sesepuh kerajaan masih bertapa di Padepokan Talkanda.
Akhirnya, Prabu Pandu memantapkan hatinya untuk menerima saran dari mereka bertiga. Kemudian dia memohon restu kepada sang kakak Dretarastra agar berhasil meminjam Lembu Andini dari Batara Guru. Sedangkan, urusan menghadapi Kerajaan Pringgadani sepenuhnya diserahkan kepada Patih Sangkuni. Bagaimanapun juga, Patih Sangkuni harusnya bisa mengusahakan perdamaian. Namun, jika pihak Pringgadani masih juga bersikeras ingin berperang, maka pasukan Hastina sama sekali tidak pernah gentar.
Karena prajurit Prabu Temboko datang dari jauh, mereka harus membangun kota Prabu Temboko sendiri. Sehingga benteng Prabu Temboko terdiri dari 3 benteng yang terhubung dan berjarak kurang dari 10 kilometer dari Hastinapura.
__ADS_1