
Mereka berlari kencang dan mengaum dari waktu ke waktu. Kedua monster Nian Shou ini seharusnya adalah pasangan, yang lebih besar adalah jantan, sedangkan yang lebih kecil adalah betina.
Heru Cokro memerintahkan Wirama untuk menembakkan sinyal kembang api dan memeriksa statistik monster Nian Shou pada saat yang bersamaan.
[Nama]: Monster Nian Shou (binatang roh)
[Level]: 40
[Skil]: Mesin pembunuh (meningkatkan nilai pembunuhan sebesar 80%)\, pendendam (meningkatkan kekuatan serangan sebesar 60% poin)
[Evaluasi]: Binatang mitos\, legenda mengatakan bahwa setiap akhir tahun imlek\, monster Nian Shou akan menyerang wilayah.
Wilayah mana pun yang didatangi oleh monster Nian Shou akan dibantai dengan brutal. Tanduk di kepalanya adalah senjata pembunuh alami. Selain itu, monster Nian Shou juga suka memakan kepala orang.
Dia benar-benar beruntung kali ini karena dia tidak hanya mendapatkan dua monster Nian Shou biasa, melainkan level mereka juga melebihi rata-rata. Heru Cokro merasa sangat senang, karena gulungan kontrak menengah yang telah dibeli dengan harga mahal, sepadan dengan keberadaan dua monster Nian Shou ini.
Di bawah instruksi Wirama, prajurit kavaleri dengan cepat membentuk lingkaran dan berlari searah jarum jam untuk menjebak dua monster Nian Shou di tengah. Tentu saja, sebelum prajurit infanteri tiba, mereka tidak akan dengan mudah terlibat dalam pertempuran jarak dekat dengan monster Nian Shou.
Terjebak dan dikelilingi oleh prajurit kavaleri, kedua monster Nian Shou itu marah. Mereka terus mencoba menyerang untuk menghancurkan formasi para prajurit kavaleri. Sayangnya, pasukan tersebut telah berpengalaman dan telah melewati banyak medan perang. Jadi, setiap kali monster Nian Shou bergerak, formasi juga bergerak mengikuti irama mereka dan menahan kedua monster tersebut di tempat yang sama, persis di tengah.
Untuk meningkatkan kemungkinan menjinakkan mereka, Heru Cokro memerintahkan pasukan untuk melukai mereka dengan menembakkan panah kepada dua monster tersebut. Asalkan mereka tidak menembak mata atau area vital lainnya, hal ini dapat menurunkan ancaman dan agresi monster Nian Shou. Karena bagaimanapun, mereka masih binatang buas.
Setelah sekian lama menekan Nian Shou, kuda-kuda kavaleri mulai merasa lelah dan mulai terlihat jelas kurang bisa mengimbangi irama serangan mereka. Sehingga dalam beberapa waktu membuat binatang buas tersebut hampir lolos. Syukurlah, saat ini pasukan Jenderal Giri dari gerbang barat dan tentara di bawah pimpinan Dudung serta Agus Bhakti bergegas ke sini, tepat setelah menerima sinyal.
Dalam perang berikutnya, pasukan infanteri melawan Nian Shou di garis depan, sedangkan kavaleri menyerang dari garis belakang. Sehingga dalam waktu sekitar sembilan menit, kedua binatang itu kalah dalam pertarungan dan jatuh terjungkal ke tanah.
Heru Cokro memberi isyarat kepada pasukan untuk menghentikan serangan mereka dan berjalan menuju binatang jantan. Kemudian dia mengeluarkan gulungan kontrak menengah dan secara perlahan membukanya. Gulungan itu berubah menjadi cahaya warna-warni dan membungkus monster Nian Shou di dalamnya. Tak lama setelah itu, pemberitahuan sistem muncul di benaknya. Jika itu gulungan kontrak dasar, tentu akan membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan tidak berhasil mengontraknya.
__ADS_1
"Pemberitahuan sistem: Selamat kepada pemain Jendra telah berhasil menjinakkan monster Nian Shou, monster Nian Shou ini akan menjadi danyang atau danyang Jawa Dwipa, hadiah 500 poin prestise!"
Di bawah pengaruh gulungan kontrak menengah, binatang jantan itu benar-benar sembuh. Itu menganggukkan kepalanya ke arah Heru Cokro sebagai tanda kesetiaannya. Dia kemudian menoleh ke binatang betina yang berbaring di sampingnya dan memohon saat melihat pemiliknya.
Heru Cokro mengerti maksudnya, menganggukkan kepalanya dan berkata, “Tenang, aku akan menyembuhkannya.”
Monster Nian Shou adalah binatang yang sangat pintar, terutama setelah kontrak dibuat, dia mengerti semua yang dikatakan pemiliknya, sehingga dengan senang hati menganggukkan kepalanya.
Heru Cokro memerintahkan Wirama untuk mengatur tandu dan membawa binatang betina tersebut ke Puskesmas. Adapun tentara lainnya, mereka harus kembali ke perkemahan tentara. Kemudian dalam perjalanan pulang, Heru Cokro mengambil kesempatan untuk melihat bagaimana statistik monster Nian Shou jantan berubah setelah menjadi danyang Jawa Dwipa.
[Nama]: Monster Nian Shou (binatang roh)
[Kesetiaan]: Danyang Jawa Dwipa
[Level]: 40
[Skil]: Mesin pembunuh (meningkatkan nilai pembunuhan sebesar 80%)\, pendendam (meningkatkan kekuatan serangan sebesar 60% poin)
[Spesialisasi]: Pamomong (meningkatkan hukum dan ketertiban wilayah sebesar 20%\, serta meningkatkan pertahanan wilayah sebesar 60%)
[Evaluasi]: Binatang mitos yang jahat. Legenda mengatakan bahwa itu adalah keturunan dari naga dan qilin. Memiliki kepribadian yang brutal. Sebagai danyang\, dapat merangsang garis keturunan qilin dan dapat berevolusi.
Heru Cokro menganggukkan kepalanya dengan gembira. Ini hal yang pantas untuk menjadi danyang Jawa Dwipa. Spesialisasnya sangat berguna dan yang terpenting lagi adalah dapat berevolusi menjadi qilin. Sayangny Heru Cokro tidak mengetahui kondisi evolusi dalam kehidupan sebelumnya. Jadi dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mencari tahu.
Esok hari, pada jam 10 pagi. Dokter Dharmawan selesai merawat luka-luka monster betina Nian Shou. Karena Heru Cokro masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan dalam kehidupan nyata, dia tidak tinggal lebih lama lagi setelah mendapatkan dua monster Nian Shou tersebut. Jadi dia terpaksa keluar dari permainan.
Di dunia nyata, itu sudah hari pertama tahun baru. Kemarin malam, suara kembang api tak henti-hentinya menggelegar.
__ADS_1
Ketika Heru Cokro keluar dari kamarnya, Rama sudah bangun dari tempat tidur, bermain dengan Hanoman di ruang tamu. Ketika dia melihat kakaknya, dia tersenyum dan berkata, "Kakak adalah pengangguran malas, Rama bangun lebih awal darimu."
"Pengangguran malas, pengangguran malas!" Hanoman menyalin kata-katanya.
Heru Cokro tersenyum kaku. Beberapa hari terakhir, dia sangat sibuk. Sehingga di mata Laxmi dan Rama, dia telah menjadi pengaguran malas, dia benar-benar merasa otaknya telah terguling.
Setelah mandi, dia kembali ke ruang tamu dan tersenyum kepadanya, “Rama, hari ini aku akan mengajakmu berbelanja. Apakah kamu mau?”
“Mau, aku mau ikut!” Bisa keluar dan bermain, tentu saja Rama sangat senang.
“Jika keluar, kita tidak bisa mengajak Hanoman, karena di luar terlalu ramai dan tidak aman." Heru Cokro menjelaskan.
“Haahh? Bagaimana kita bisa meninggalkannya sendirian? Rama juga tidak ingin berpisah dari Hanoman.” Bocah kecil itu menggerutu.
Hanoman meloncat ke atas kepala Rama dengan sedih, menjambak rambutnya, enggan untuk ditinggalkan. "Tidak! Tidak!"
“Kalau begitu, biarkan Hanoman tetap di pokeball. Jangan panggil dia keluar.” Melihat pasangan yang tak terpisahkan itu, Heru Cokro hanya bisa mundur selangkah.
"Heem!" Ini bisa diterima oleh Rama, kemudian dia mengeluarkan pokeball dan Hanoman juga dengan patuh kembali kedalamnya.
Setelah mereka meninggalkan rumah, mereka pergi ke festival tahun baru yang berada di komplek pecinan. Di sana terdapat banyak pertunjukan budaya dan pameran barang-barang khas imlek, serta berbagai makanan khas juga.
Para pengunjung bisa melihat pertunjukan seperti opera, akrobat, sulap, barong sau, dan lain sebagainya. Mereka berjalan-jalan di tengah semarak festival imlek, banyak orang keluar masuk seperti lautan manusia. Selain itu, para pengunjung di sini bisa menikmati berbagai makan dan minum, bahkan terdapat tempat bermain, bersenang-senang, berbelanja, dan tempat hiburan.
Ketika Rama berbelanja, dia membelikan hadiah untuk orang-orang disekitarnya. Dia menggunakan uangnya sendiri untuk membelikan Hanoman sebuah busana kecil kera sakti yang dibuat dengan sangat indah dan keren. Bahkan ada mahkotanya juga, persis seperti yang ada dalam karakter kera sakti Cina.
Sedangkan Heru Cokro mendapatkan topeng badut, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bocah kecil itu benar-benar pandai menggodanya.
__ADS_1