
''Sabar Bi.. biar nanti Alif dan Almira yang berbicara padanya.'' Ucap Alif menenangkan Abi Madan.
Sedangkan dari atas tangga sana, Maura mendengar kan semua ucapan mereka. Tadi selesai makan, ia ingin meminta izin pada kedua orang tuanya.
Namun kedua orangtuanya sibuk dengan menantu baru mereka dan mengabaikan Maura yang sedang terluka.
Mereka bisa tertawa dan bergurau bersama diatas luka yang sedang Maura rasakan akibat ulah keempat orang itu.
Maura turun ke bawah dan tiba di dekat mereka, Maura pun angkat bicara.
''Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saat ini! Semuanya sudah jelas! Mulai hari ini, aku tidak akan tinggal disini lagi! Aku tinggal di pondok tempatku mengajar.'' imbuh Maura dengan bibir bergetar.
''Saking senangnya kalian mendapatkan menantu baru, kalian melupakan keadaanku! Bahkan kalian semua mengabaikan ku!'' ucap Maura disertai air mata yang mengalir.
Keempat orang tua itu terkejut. Terlebih lagi Abi Madan. Ia bangkit dan mendekati Maura. ''Stop Abi! Cukup! Sudah cukup selama ini aku menahan diri, tapi sekarang tidak lagi! Dan kau kak Almira! Jika memang kemarin, kau menginginkan pernikahan ini, kenapa kau tidak berkata kepada Abi? Kenapa harus aku dulu yang terluka baru setelah nya kau mengakuinya?!''
Deg!
''Dek... bu-bukan seperti itu..'' Almira mencoba membujuk Maura. Ia mendekati Maura untuk mencoba memegangi tangan nya.
''Berhenti Almira Putri Kartika!! Karena kau! dan suami mu itu, aku harus menanggung sakit yang tiada tara! Tega kau Kak! Tega kau sama aku! Dari dulu kau selalu begini! Tidak pernah berubah! Jika bukan karena bang Lana yang menyuruhku tetap bertahan dirumah ini, sudah sedari dulu aku pergi dari rumah ini Almira Putri Kartika!!''
__ADS_1
Ddddduuuaaarrrr...
Almira oleng. Kakinya lemas tak bertulang. Ternyata kejadian dimasa kanak-kanak dulu masih di ingat oleh Maura.
''Sayang!'' pekik Alif melihat Almira jatuh terduduk.
Maura tersenyum kecut. ''Cih! Baru satu hari menikah, panggilanmu telah berubah ya bang Alif? Kenapa tidak dari kemarin kau mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orang tuamu, bahwa yang kau inginkan itu Almira! Bukan aku!''
Deg!
Jantung Alif bergemuruh hebat. Ia tak menyangka gadis manis dan lembut ini bisa berkata seperti ini padanya.
''Maafkan Abang Maura..'' lirih Alif masih dengan memeluk yang terus tersedu.
Wajah pucat itu terus saja mengalirkan air mata dengan derasnya. Ummi Aini tak mampu membujuk Maura jika sudah seperti ini.
Hanya satu orang yang bisa membujuk nya.
''Nak.. kami tau kami bersalah.. tapi tolong jangan pergi dari rumah ini, ya?'' pinta Abi Madan dengan beruraian air mata.
Maura menoleh pada Abi Madan. ''Abi tidak bersalah dalam hal ini. Akulah yang bersalah disini. Aku yang jadi pengacau di dalam kehidupan kalian berdua! Maaf jika karena kelahiran ku, Abi dan ummi selalu bertengkar. Maaf.. jika aku boleh meminta, aku juga tidak ingin dilahirkan hanya untuk membuat orang lain bertikai. Maaf.. karena kelahiran ku, aku selalu merebut apa yang menjadi hak milik putri pertama kalian.''
__ADS_1
Ddduaarr..
Lagi, petir itu menyambar hati setiap yang ada di ruangan itu. Almira tak kuasa menahan tangisnya.
Maura menatap datar pada ke dua pasangan itu. Alif yang biasanya begitu tegar, tapi tidak dengan hari ini.
Hari ini air mata itu mengalir dari sudut matanya. Karena ucapan Maura yang benar-benar menampar hati nya saat ini.
''Maafkan semua kesalahan ku yang pernah ku perbuat kepada kalian semua. Untukmu kakak ku tersayang.. selamat atas pernikahan mu. Semoga sakinah mawadah warohmah. Aku harus mengubur impianku demi kalian semua. Demi kalian, aku rela terluka berulang kali.. hiks.. bang Lana.. hiks.. Aku pergi! Assalamualaikum!''
Deg!
Deg!
''Tunggu Dek! Jangan pergi! Jangan tinggalin Kakak, Dek! Maafkan semua kesalahan Kakak. Kakak minta maaf sudah membuatmu seperti ini.. hiks..''
''Aku sudah memaafkan kakak sedari dulu. Sejak hari itu, aku selalu berusaha memaafkan mu. Walau berulang kali kau menyakiti ku! Aku sabar dengan dua kelakuan mu! Jaga istrimu bang, agar tidak berulah lagi dalam mengganggu hubungan ku dan bang Lana nantinya. Maaf jika perkataan ku menyakiti kalian semua. Tapi inilah aku dengan segala kekurangan ku! Abi.. ummi.. aku pergi! Titip salam untuk Faiz dan Faizah. Katakan padanya agar tidak mengikuti jejak ku yang selalu lemah dalam bersikap! Assalamualaikum!'' imbuh Maura panjang lebar.
Ia segera menyalami kedua orang tuanya dan pergi meninggalkan kedua pasangan yang semakin tersedu karena kepergian nya.
''Aku pergi untuk kembali! Aku akan menuntut hakku pada kalian! Hak yang sudah kalian ambil secara paksa dariku! Tunggu dua tahun lagi! Aku akan kembali menemui kalian semua.''
__ADS_1
💕💕💕💕💕