Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Berita mengejutkan untuk Ustad Mahmud


__ADS_3

Maura, Malda dan Mbak Sus baru saja tiba di pesantren tempat ia mengajar sebelum ia berangkat ke Bandung setelah ia gagal menikah dengan Alif. Suami Almira yang menyebabkan Lana jadi salah paham padanya.


Saat ini mereka bertiga sedang berhadapan dengan pemilik pesantren yaitu Ustadz Mahmud dan Ummi Khadijah.


''Assalamu'alaikum Ustadz.. Ummi... senang sekali bisa bertemu dengan kalian. Terakhir dua Minggu yang lalu. Dan itu pun saat acara pernikahan ku!'' Kata Maura pada Ummi Khadijah yang sedang memeluknya saat ini.


Ummi Khadijah tersenyum, ''Waalaikum salam Nak.. Ummi juga senang bisa bertemu dengan mu. Ayo masuk. Eh ini?'' Ummi Khadijah menunjuk Malda Mbak Sus.


Maura tersenyum, ''Kenalkan Ummi. Ini Mbak Tia. Dan ini.. putri kami. Maldalya. Salim dulu sayang sama Nenek??''


Malda menurut. Ia mencium tangan Ummi Khadijah dengan takzim. ''Mami.. mau eek!'' kata Malda pada Maura.


Mbak Sus membulatkan matanya. ''Nona kecil sama Mbak aja ya? Ayo, kita bersihin dulu pupnya.''


''Ndak mau! Adek mau cama Mami! Mamiiii.. ndong! Mau eek!'' katanya


Maura tertawa. ''Baiklah, baiklah.. ayo kita ke kamar mandi di ujung sana saja. Ummi, aku tinggal dulu ya? Mau buang pup Malda dulu.'' imbuh Maura dan diangguki oleh ummi Khadijah.


Wajah itu masih kebingungan. Mbak Sus terkekeh, ''Nona Malda itu putri angkat Pak Maulana. Putri yang ia adopsi saat bertugas di perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Putri dari seorang kerajaan Malaysia, Ummi. Datok Amirullah Syam!''


Deg!

__ADS_1


Deg!


''Apa?! Da-datok A-amirullah Syam???'' seru Ummi Khadijah yang begitu terkejut mendengar ucapan Pengasuh Malda.


''Benar! Jadi saya harap, ummi bisa menjaga rahasia ini sampai waktu yang di tentukan. Kalau tidak, seluruh kelurahan besar tuan Gilang Bhaskara akan dalam bahaya!''


Deg!


''Apa?!'' seru Ustadzah Mahmud.


''Abi!''


''Ustadz!'' Seru mereka berdua


Ustadz Mahmud tersenyum. Ia meriung raut wajahnya menjadi tersenyum kembali. ''Ya, Nak. Selamat datang kembali di pesantren ini. Ummi, bawa Maura masuk dan mulai tunjukkan pekerjaan nya seperti biasa. Dan Tamu kita ini, bawa masuk ke dalam rumah. Jangan diluar!'' tegas ustadz Mahmud


Maura jadi keheranan. ''Ayo Nak??'' ajak Ummi Khadijah


Maura tetap mengikuti Ummi Khadijah, walau wajah mereka bertiga begitu tegang saat ini. Maura di tuntun untuk mengajar kembali di kelas yang sama.


Bedanya, hanya santri nya saja yang berubah. Maura mulia melakukan tugasnya kembali seperti dua tahun yang lalu. Sementara Mbak Sus dan Ummi Khadijah duduk di saung di belakang pesantren bersama Ustad Mahmud.

__ADS_1


''Bagaimana mungkin jika penerus Datok Syam ada bersama Lana. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?'' tanya Ustadz Mahmud pada Tia. Pengasuh Malda.


''Saya tidak tau banyak tentang hal itu. Tapi saya dengar dari Nyonya Alisa, bahwa puan Maharani yang ternyata sahabat karib Ibu Maura di Kejar oleh Paman Datok Syam untuk di bunuh keturunannya. Mereka kabur melalui perbatasan Indonesia. Jalur legal. Namun karena ada sedikit slaah paham, mereka di buru. Dan kebetulan Pak Lana yang bertugas disana. Beliaulah yang menyelamatkan Malda tapi puan Maharani tidak. Puan Maharani meninggal di tempat karena di bunuh oleh suruhan Paman Datok Syam. Adik ayah Datok Syam yang haus akan kekuasan yang dimilikinya. Oleh karena nya mereka sengaja melenyapkan Datok Syam dan penerus kerajaan nya. Malang sekali nasib Nona Malda, Ummi..'' jelas Tia pengasuh Malda.


''Astaghfirullah ya Allah.. malang sekali nasib mu, Nak..'' ucap ummi Khadijah.


Sementara Ustad Mahmud begitu shock mendengar kenyataan yang didapat oleh keluarga Lana terutama Maura. Murid serta guru terbaik selama ia mengajar dan menuntut ilmu disana.


''Sungguh, ini berita mengejutkan untukku. Karena selama kepergian Maura ke Bandung, tidak pernah ia sekalipun mengatakan hal ini kepada kami selaku orang yang dekat dengannya. Ya Allah.. semoga Engkau melindungi keluarga Maura dari segala mara bahaya..'' lirih ustadz Mahmud.


''Amiin...'' ucap ummi Khadijah dan Tia bersamaan.


Ia tak menyangka saja, ternyata kepergian Maura dan Lana ke Bandung, begitu juga dengan pembatalan pertama mereka, ternyata semua itu sudah menjadi goresan takdir untuk Maura dan Lana.


Ustad Mahmud menatap Malda. Ada sesuatu yang istimewa dari gadis kecil ini. Ustad Mahmud bisa merasakan nya.


Beliau tersenyum dan mengelus kepala yatim piatu itu. ''Kakek tau, jika kamu merupakan bidadari yang di turunkan dari langit untuk membawa perdamaian diantara keluargamu dan kedua orang tua angkat mu. Salah satunya, Maura dan Lana kembali bersatu setelah banyak halangan nya. Dan ternyata semesta lah yang mengirimkan Malda untuk mereka berdua. Semoga kamu menjadi anak yang Sholehah nak . dan juga pembawa kedamaian di muka bumi ini. Kakek yakin, kamu adalah yang terpilih.''


''Sempat terkejut tadi. Tapi setelah kakek menyentuh kepala mu. Ada sesuatu yang akan terjadi di kehidupan Lana dan Maura. Ada yang pergi tapi bahagia. Inilah yang akan terjadi. Semoga Maura dan Lana sanggup menghadapi nya.''


''Amiiin... Semoga saja Malda adalah pembawa kedamaian di seluruh dunia kerajaan Melayu di selat Malaka. Ummi yakin, tidak mungkin sesuatu itu terjadi tanpa sebab. Malda adalah sebab terjadi nya pernikahan Lana dan Maura. Sang pembawa kedamaian!'' ucap ummi Khadijah sambil mengelus lembut kepala Malda.

__ADS_1


Malda menoleh dan tersenyum manis melihat Ummi Khadijah.


__ADS_2