Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Terpaksa menerima


__ADS_3

Lana mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan menatap Maura dengan wajah dinginnya. Maura tersentak melihatnya.


''A-abang...''


''Selesaikan urusan mu dengan tunanganmu. Jika sudah, baru kita bicara. Banyak hal yang terlewat selama aku pergi. Jika urusan mu dengan nya sudah selesai, maka katakan pada Ali. Aku akan menemui mu! Aku pulang. Jaga diri. Assalamualaikum!" Dengan segera Lana meninggalkan Maura yang mematung di tempat karena ucapan nya baru saja.


Melihat Lana menghilang ditikungan jalan, Maura tersadar.


"Tidaaaaakkk... Abang... tungguuuu .. tunggu Abang... adek ikuuutt... hiks.. bang Lana aaa...'' pekik Maura begitu histeris.

__ADS_1


Ali mendekati nya tapi di tahan oleh Arfan. ''Jangan dekati calon istriku! Siapa pemuda itu? Baru datang dia sudah membuat Maura menangis seperti itu?! Kamu kenal dia Ali?!'' ketus Arfan.


Ali menoleh padanya dengan wajah datar. ''Seharusnya, aku yang bertanya sama Abang. Untuk apa Abang mendekati calon istri orang dan mengaku-ngaku tunangan Abang?! Cih! tak tau malu!'' balas Ali lebih ketus lagi dari Arfan


Arfan terkejut. ''Apa maksudmu? Kenapa kau katakan jika aku merebut calon istri orang?!'' seru Arfan dengan suara naik satu oktaf.


Ali terkekeh, ''Seharusnya kau cari dulu dengan siapa kau berbicara bang Arfan! Kau salah memilih lawan! Pemuda itu calon suami Maura dua tahun lalu! Mereka terpisah karena suatu hal yang disebabkan oleh orang tau Maura. Mereka itu sepasang kekasih yang sudah di jodohkan sejak mereka kecil. Maulana untuk Maura. Maura cinta Maulana. Aku tau semuanya tentang mereka Bang! Kau salah telah merebut Maura darinya! Jika kau tidak percaya, dekati Maura sekarang juga! Aku ingin lihat, apakah ia memilihmu atau memilih Maulana cinta sejatinya sedari kecil.''


Ia semakin geram melihat tingkah Abang sepupunya ini. ''Baik! Akan ku buktikan! Kalau Maura lebih memilihku daripada pemuda itu!'' ketus Arfan tak suka Karena ucapan Ali yang begitu menyinggung nya.

__ADS_1


Ali mencibir Arfan. Ia mengejek kakak sepupunya itu dengan tersenyum sinis. ''Kita lihat! Aku takut, kamu akan kecewa nantinya bang Arfan! Kau akan kecewa! Aku sudah mengingatkan mu! Tapi kau tak dengar! Lihat saja!'' gumam Ali, ia melipat kedua tangannya di dada.


Arfan mendekati Maura dan duduk di sebelah gadis itu yang sedang tersedu meremas dadanya yang terasa sesak karena kepergian Lana.


''Dek-,''


''Pergi! Tinggalkan aku! Sudah ku katakan berulang kali padamu! Aku tidak ingin tunangan denganmu! Tapi kau!'' tunjuk Maura pada wajah Arfan. ''Kau memaksa Abi ku untuk menerima lamaran mu! Kau! Gara-gara kau! Abang ku pergi! Kau! penyebab dari semua ini! Dia salah paham padaku! Kalian tega! Memaksakan kehendak kalian kepada ku! Sementara aku tidak menginginkan nya sama sekali! Pergi! Aku tak ingin melihat mu lagi! Kau ingin minta ganti rugi karena cincin pemberian mu ini? Baik! Aku akan bilang pada Abang ku. Maulana! Dia yang akan membayarkannya untukku! Dia tak pernah menolak permintaan ku sedari dulu! Aku akan bilang padanya! Aku lebih memilihnya yang sudah lebih dulu masuk kedalam hatiku dibandingkan kau yang baru saja singgah sekejap di dalam hidupku! Hadir tanpa di undang dan memaksakan kehendak! Ini! Ku kembalikan cincin mu! Aku terpaksa menerima mu! Karena kau memaksa Abi ku! Aku lebih memilih Bang Lana dibandingkan dengan mu! Maaf! Dan permisi! assalamualaikum!''


Ddddduuuaaarrrr..

__ADS_1


Tubuh Arfan mendadak limbung ke belakang mendengar ucapan Maura. Gadis itu dengan segera berlalu meninggalkan Arfan dan Ali yang mematung Karena ucapan nya.


__ADS_2