
''Pergi! Dan jangan pernah kembali! Sampai Maura kembali lagi kerumah ini, sampai saat itu juga kalian bertiga aku haramkan untuk menginjakkan kaki kalian dirumah ini! Aku sudah cukup bersabar selama ini kepada kau Almira! Dan kau Aini! Aku tak menyangka, sifat dan kelakuan mu tidak pernah berubah! Kau selalu lebih mengutamakan putri tertua mu, daripada putrimu yang lain!'
''Kau tau Aini? Kelakuanmu yang seperti inilah yang selalu membuat Maura tertekan! Maura selalu menangis di setiap malamnya. Setiap kali kau menolak keinginan nya, dia pasti akan mengurung diri di kamar! Apa kau tau Aini? Selama ini Maulana lah yang selalu berusaha membujuk nya untuk tetap bertahan dirumah ini, sampai putra Alisa itu datang untuk mengambil dan membawanya darimu! Sampai saat itu tiba, Maura tetap bertahan. Walau harus setiap hari tersiksa karena kelakuan kalian berdua!''
Deg!
''Hiks.. Abi .. kakak tidak seperti itu..'' Isak Almira.
Abi Madan menatap menatap datar pada Maura dan juga Alif. ''Kau tidak tau rasanya selalu diabaikan Almira. Karena selama ini aku selalu adil terhadap kalian berdua. Tapi tidak dengan ummi mu. Wanita yang telah tega selalu membandingkan dirimu dan Maura. Padahal jika dibandingkan, Maura lah yang lebih pintar dari mu! Semua hasil ujian yang selama ini kau dapatkan itu milik Maura, Almira Putri Kartika!''
''Apa?!'' pekik Almira begitu terkejut.
''Kenapa? Terkejut? Demi kasih sayang seorang adik kepada Kakak nya, Putri kedua ku rela bergadang hingga pukul tiga pagi untuk nilai mata kuliah mu!''
Deg!
''Nggak! Itu nggak mungkin Abi!'' bantah Almira, masih dengan wajah penuh dengan Air mata.
__ADS_1
''Kau perlu bukti? Bagaiman Alif? Apakah aku berbohong?''
Deg!
Alif terkejut. Alif menggeleng, ''Ti-tidak! Abi tidak berbohong sama sekali. Karena aku sendiri yang telah mengujinya sebelum kami dipertemukan. Pada saat itu aku ditugaskan untuk memberi motivasi dan arahan pada kampus milik Almira dan Maura. Aku masuk dalam ruangan Maura. Dan saat aku menguji semua mahasiswa tentang kuis, hanya Maura lah yang mampu menjawabnya. Sedangkan Almira... ia.. hanya mampu menjawab separuh nya saja...'' lirih Alif dengan menundukkan kepalanya dihadapan Almira.
Almira terkejut bukan main. Ia pikir selama ini semua nilai yang ia dapatkan murni karena usahanya.
Ternyata, Almira salah. Semua itu karena Maura. '''Hiks.. itu nggak mungkin Abi. Pasti itu bukan Maura. Itu punyaku!'' bantahnya lagi.
Lagi dan lagi, Almira selalu keras kepala. ''Hah! Inilah yang ku sesalkan dari didikan ku! Aku tidak berhasil mendidik putriku menjadi gadis yang bertanggung jawab dan tidak keras kepala sepeti ini! Semua ini sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi Bubur! Maura ku telah pergi meninggalkan ku seorang diri di rumah ini. Ingin berharap pada istri, tapi kelakuan istri sama seperti putri pertama nya! Pergi kalian semua! Aku tidak ingin melihat kalian lagi! Pergi!!!'' sentak Abi Madan.
Niat hati ingin melihat Maura, malah pemandangan yang tidak enak dipandang mata terlihat oleh mereka.
''Apa yang kau lakukan Madan!'' sentak Pakde Bram pada Abi Madan
Abi Madan menoleh dengan wajah datar. Ia masih mencekal lengan Almira, membuat putri sulungnya itu semakin menangis karena tidak ingin di usir dari rumah itu.
__ADS_1
Rumah masa kecilnya.
''Hoo.. sudah datang rupanya! Baiklah! Sekarang bawa pergi putramu dan menantumu dari rumahku! Aku tidak sudi menerima orang yang telah menghancurkan putriku yang lain! Karena putramu, putriku pergi dari rumah ini! Kau harus bertanggung jawab Bramantyo Gunawan! Karena keegoisan mu dan putra mu, putriku pergi dari rumah ini! Jika saja putramu mengatakan yang sebenarnya pada ku, pastilah aku tiddak mengijinkan putra mu menikahi Putri ku! Bawa putri kedua ku kembali kerumah ini! Jika kalian tidak bisa, Maka jangan pernah menginjakkan kaki kalian dirumah ini lagi! Bawa serta keponakan mu itu. Aku sudah berpisah dengan nya!''
''Aku tidak mau menerima istri yang tidak pernah mau berubah dan menuruti kata suami! Pergi kalian dari rumah ini! Selagi Maura ku tidak kembali ke rumah ini, maka pernikahan Putramu dan anak ini, aku tidak akan pernah merestuinya! Menyesal aku pernah menikahi perempuan dari keluarga Gunawan yang selalu keras kepala! Pergi dan jangan pernah kembali! Kita berpisah disini!'' tegas Abi Madan dengan menatap tajam Almira, Alif dan kedua besannya.
Kedua orang paruh baya itu membeku di tempat. Mereka tidak tau harus menjawab apa sekarang.
Ummi Aini dengan langkah gontai menarik kopernya dan koper anak dan menantunya. Ia keluar dari rumah itu tanpa melihat Abi Madan yang membelakangi nya.
''Aku pergi Abi.. sampaikan maaf ku jika Maura nanti kembali. Katakan padanya, jika aku sangat menyayangi nya. Tak ada maksudku untuk membedakan nya.. Aku hanya sedang mendidik nya menjadi wanita tegas seperti Mbak Alisa..''
''Tak perlu kau bawa-bawa nama Alisa disini! Pergi! Cukup sudah! Aku yang lebih tau seperti apa kelakuan mu selama kita tinggal serumah Aini! Bawa pergi putri tersayang mu! Aku tidak ingin melihat nya lagi. Kita berpisah sampai disini! Aku tidak akan mengubah keputusan ku untuk tidak merestui putri mu itu. Selagi Maura belum kembali, maka pernikahan Putri mu, tidak akan pernah bahagia!!!''
Ddddduuuaaarrrr...
Almira dan Alif membeku di tempat. Begitu juga dengan Tiga orang paruh baya itu. Mereka menatap nanar pada Abi Madan yang berlalu masuk ke dalam dan meninggalkan mereka berlima disana dengan wajah piasnya.
__ADS_1
TBC