Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Tertembak


__ADS_3

Sementara Maulan disana sedang bertugas mengejar penyelundup ilegal di jalur darat.emasuki kawasan hutan lebat rimbun di Kalimantan barat.


''Tembaakkk!!'' pekik komandan, atasan Lana.


Dor


Dor


Suara tembakan bergemuruh di dalam hutan lebat itu. Sekawanan burung lari berterbangan entah kemana.


''Disiniiii!! Lanaaaa dibelakang muuuu!!'' pekik rekan Lana.


Dor!


''Aaarrgghhtt... ya Allah.... sssstttt...'' pekik Lana saat meradakan timah panas masuk kedalam tubuh Lana bagian lengan sebelah kiri.


''Astaghfirullah!! Bang lanaaa... maaaf!!!'' pekik Ali rekan Lana, yang dulu pernah dulu menyusulnya di tepi hutan ketika ia sedang membaca status Maura.


''Ali! Apa yang kau lakukan!'' pekik komandan Kevin.


''Ma-maaf komandan! Pe-penyelundup itu bersembunyi di belakang bang Lana.'' jawab nya dengan sedikit tergagap.


''Itu dia! kejar! Tembak!'' pekik rekan yang lain.


Lana yang masih menahan sakit di lengan kirinya, ia menelisik sekitar. Dari kejauhan terlihat ada sekelabat bayangan.


Dengan cepat Lana mengarahkan senapan miliknya ke dalam rimbunnya semak di depan mereka semua.


Dor!!!


''Aaarrgghhtt...'' pekik seseorang di sebalik rimbunan semak.


Lana kembali meringis setelah berhasil menembak seseorang dibalik semak itu. Sementara komandan Kevin terkejut melihat pergerakan tangan Lana yang begitu cepat menembak sesuatu dibalik rimbun semak itu.


Ia tertegun sejenak. Kemudian berlari ke dalam semak itu. Dan tepat sekali. Seorang penyelundup ilegal sedang merintih menahan sakit di kaki kanannya.

__ADS_1


Lagi, komandan Kevin terkejut bukan main. Dari mana Lana tau jika yang dituju olehnya adalah kaki?


Bisa saja kan ia menembak penyelundup itu di bagian dada atau tubuh yang lain? Bagaimana bisa Lana tau? Sementara semak itu begitu rimbun. Tidak tau dimana kaki dan kepala penyelundup itu bersembunyi? Pikirnya.


Lamunan komandan Kevin buyar saat Ali rekan Lana memanggilnya untuk segera membawa penyelundup itu ke markas.


''Komandan Kevin! Rekan kita, Maulana semakin kesakitan saat ini. Biar nanti saja kita mencari sisanya. Sebaiknya kita pulang ke markas dulu. Kita bawa sekalian penyelundup ini!'' tunjuk Ali pada komandan Kevin.


Komandan Kevin mengangguk. ''Baiklah! Kamu bawa Lana pulang ke markas. Sedang saya dan yang lainnya akan membawa penyelundup ini.'' sahutnya.


Dengan segera ia membawa penyelundup itu ke markas. Tiba di markas dua orang yang tertembak itu segera ditangani oleh seorang dokter wanita berhijab yang ditugaskan untuk mengobati para tentara yang bertugas dari sana.


Dokter cantik ini terkejut saat melihat lengan Lana yang terluka. ''Loh? Kok bisa?!'' pekiknya terkejut.


Lana diam saja. Wajahnya datar. Rasa sakit yang mendera tangan nya saat ini, seperti sudah mati rasa. Begitu sakit.


Dengan segera dokter cantik berhijab keturunan Aceh Jawa itu membuka lengan baju Lana.


Karena lengan baju itu sangat sempit di bagian lengan yang tertembak, dokter cantik itu ingin membuka baju Lana.


''Ali! Gunting!'' titahnya tanpa menatap gadis cantik yang sedang mematung di depannya saat ini.


Dengan segera Ali membil gunung dan mulia menggunting lengan Lana yang terluka. Wajah itu tidakenu julukan rasa sakit sama sekali di depan dokter cantik itu.


Ali sampai bergidik ngeri saat merasakan ngilu nya gunting masuk kedalam lengan bajunya dan ketika ia mencoba untuk mengambil peluri itu atas perintah dari Lana.


''Bang?''


''Lakukan Ali!''


''Tapi saya bukan dokter Bang! tapi dia! Dokter Mutia!''


''Lakukan sekarang! Ini perintah Ali! Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!'' tegas Lana dengan suara beratnya.


Membuat Ali terkesiap. Dengan cepat ia mencoba mengeluarkan peluru itu atas arahan dari dokter Mutia.

__ADS_1


Ting!


Suara peluru itu jatuh ke dalam mangkuk stenlis khusus. Suara itu membuyarkan lagi lamunan komandan Kevin terhadap Lana.


Bukan sekali dua kali Lana mengalami hal seperti ini. Selama enam bulan disini, ia berungkali melakukan hal yang sama.


Cepat dan tanggap dalam situasi genting seperti tadi. Hanya saja, kali ini naas Lana karena tertembak.


Setelah luka di lengan Lana dibersihkan, luka itu dibalut dengan perban setelah disuntik dengan antibiotik dan cairan pencegah infeksi lainnya yang di suntik oleh dokter Mutia.


''Bagaimana kamu bisa menebak penyelundup itu, sementara kamu tidak melihatnya Lana?''tanya komandan Kevin.


Lana menghela nafasnya. ''Sidah saya katakan berulang kali komandan! Saya melihat disaat kalian tidak melihatnya! Apakah anda masih ingat dua bulan yang lalu, saat anda hampir saja menembak seorang anak berumur tiga tahun? Anda lupa komandan Kevin?''


Deg!


Jantung komandan Kevin berdegup kencang. Bagaimana Lana bisa tau? gumam nya dalam hati.


Wajahnya begitu pias saat ini. ''Saya tau semua apa yang anda lakukan dan rekan saya yang lain Komandan Kevin! Jangan selalu menyudutkan saat dengan hal yang selalu bisa saya atasi tapi tidak bisa anda atasi! Saya disini bekerja! Bukan untuk adu nyali ataupun adu bakat dengan Anda! Jika Anda beranggapan seperti itu, itu terserah anda!'' ucap Lana.


Dengan segera ia pergi meninggalkan Komandan Kevin yang membeku di tempat karena ucapannya baru saja.


Sementara Lana terus saja berjalan kearah tempat seseorang yang baru saja ia tembak. Ia masuk ke tenda itu dan melihat seorang bapak-bapak sedang menangis menahan sakit, hingga air mata mengalir di pipi nya.


''Loh, Maulana? Ngapain kamu kesini?'' tanya komandan Sikram. Lana hanya mengangguk sekilas, kemudian ia menatap Bapak-bapak itu.


Bapak-bapak itu melihat Lana dengan wajah sendu. Lana berlutut dihadapan kakinya. Ia menatap Bapak-bapak itu dengan wajah teduh.


''Maafkan saya, karena saya menembak kaki Bapak. Apakah sangat sakit?'' tanya Lana begitu lembut.


Bapak itu terus saja menangis ketika melihat Lana. Tadi saat ia berlari ke arah semak itu, atas perintah Lana.


''Tolong cari istri saya, Nak.. dia pasti ketakutan saat ini di dalam hutan sendirian. Belum lagi ia bawa seorang bayi. Kami terpaksa kabur dari Malaysia karena kami akan dibungkus jika kami bertahan disana.'' lirih Bapak-bapak itu.


Lana tersenyum lembut menyapa Bapak-bapak itu. ''Tentu saja. Saya akan menyelamatkan istri Bapak. Kalau boleh saya tau, kenapa bapak nekat masuk hutan sementara bapak bisa berjalan melewati jalan raya? Ya.. walau resikonya harus kami tahan.''

__ADS_1


Bapak itu menunduk. ''Saya menawarkan kabur seorang anak nak Datok terkenal di Malaysia. Wanita malang itu sangat tertekan di dalam rumahnya saat ia sedang hamil besar. Saya terpaksa melakukan semua ini demi menyelamatkan bayi itu. Dan seminggu yang lalu bayi itu telah lahir. Namun keluarga Datok ayah si gadis akan membunuhnya. Saya tidak tau pasti tentang masalah apa. Istri saya yang lebih tau. Saya terpaksa menikahinya saat hamil, karena kasihan melihatnya yang terus dipaksa untuk menggugurkan bayi itu.''


__ADS_2