
Mak Alisa melepaskan pelukannya dari Lana. Dan membiarkan putra nya itu pergi walau dengan berat hati.
''Abang pergi, Mak.. Papi.. jaga Mak buat Abang sampai Abang kembali nanti.''
Papi Gilang memeluk putra sambungnya itu dan mengecup dahinya sekilas. Masih sama saat ia masih kecil dulu.
Papi Gilang tersenyum lembut, ''Pergilah! Dia kami selalu menyertai mu, Nak.. jangan khawatir Mak mu. Dia akan aman bersama Papi. Papi kan pawangnya? Itu kan yang kamu bilang dulu?'' imbuh Papi Gilang dengan senyum jenaka nya menggoda Mak Alisa.
Lana tertawa. ''Hahaha.. benar sekali! Abang pamit Mak, Papi .. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam sayang..'' sahut Mak Alisa dan Papi Gilang.
Melihat Lana pergi, wajah Mak Alisa yang tadi tersenyum kini berubah menjadi sendu. Papi Gilang menghela nafasnya.
''Ayo kita masuk! Olahraga pagi, yuk?'' ajak Papi Gilang dengan menaikkan turunkan alisnya.
Plak.
''Ih, mesum!'' cebik Mak Alisa, dengan segera ia berlalu masuk kedalam dan meninggalkan Pali Gilang yang tertawa puas.
''Sayang .. ditungguin ih!''
''Nggak mau!'' sahut Mak Alisa. Ia berlari naik ke atas menuju kamar mereka. Tiba disana, tak tau lagi apa yang terjadi.
Pukul dua siang.
Ting, tong...
__ADS_1
''Ada tamu? Siapa?'' tanya Papi Gilang pada Mak Alisa.
''Entah! Kita kan baru aja bangun tidur?'' sahut Mak Alisa dengan mencebik bibirnya.
Papi Gilang terkekeh. ''Mau lagi?'' goda Papi Gilang.
Mak Alisa melengos. ''Yang tadi aja masih kerasa, malah minta lagi!'' ketusnya.
Dengan segera ia turun kebawah dan berlalu meninggalkan Papi Gilang yang sedang tertawa ngakak.
Ia sangat puas jika sudah menggoda Mak Alisa. Dasar! Kelakuan Papi dan anak sama saja!
''Assalamualaikum..''
Deg!
''Kak Madan?'' bisik Mak Alisa. Dengan berat ia menyahuti dalam dari Abi Madan dan membuka pintunya.
Dengan segera ia memutar kunci rumah dan membuka pintu dengan lebar. Dan bersamaan dengan Papi Gilang turun untuk menemui Mak Alisa.
''Siapa yang datang, sayang?''
Abi Madan membeku di tempat saat melihat raut wajah Mak Alisa berubah menjadi datar. ''Ada apa, kak Madan kemari?'' tanya nya dengan dingin.
Papi Gilang mengernyitkan dahinya. ''Kak Madan? Buat apa dia kemari?'' gumam Papi Gilang juga.
Dengan segera ia turun ke lantai bawah dan menemui Mak Alisa. ''Mari masuk! Banyak yang harus saya katakan pada anda kak Madan!'' seru Papua Gilang dari dalam.
__ADS_1
Mak Alisa menoleh, ia menghela nafas panjang. ''Silahkan masuk!'' ajaknya pada Abi Madan.
Dengan segera Abi Madan masuk dan berdiri dihadapan Papi Gilang. ''Silahkan duduk, Kak Madan. Sayang, buatkan minum.'' titah Papi Gilang pada Mak Alisa.
Mak Alisa hanya mengangguk patuh. Ia berlalu kedapur yang hanya bersekat ruang Tivi saja.
''Katakan!'' titah Papi Gilang, membuat Abi Madan yang tadinya menunduk, kini meoleh padanya.
''Aku ingin berbicara pada kalian berdua dan juga... Lana.'' lirih Abi Madan begitu pelan.
''Abang sudah tidak dirumah ini lagi! Dia baru saja pergi untuk bertugas! Jika kakak ingin menemuinya, tunggulah dua tahun lagi!
Deg!
''Apa? Bertugas? Dua tahun lagi?'' Ucap Abi Madan begitu terkejut.
''Ya,'' sahut Papi Gilang.
Abi Madan menunduk, bahunya berguncang. Mak Alisa dan Papi Gilang saling pandang. ''Apakah Lana bisa pulang sebentar saja? Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Aku juga ingin minta maaf atas kejadian yang menimpanya kemarin ..''
''Minta maaf??''
''Ya..''
''Buat apa? Untuk menyakiti nya kembali setelah kamu minta maaf? Sudah tidak ada gunanya lagi! Sekarang putraku telah pergi, karena putrimu Kak Madan!''
''Putriku juga pergi dari rumah tadi pagi Alisa!''
__ADS_1
Deg!
''Apa?!''