
Lana tersenyum lembut menyapa Bapak-bapak itu. ''Tentu saja. Saya akan menyelamatkan istri Bapak. Kalau boleh saya tau, kenapa bapak nekat masuk hutan sementara bapak bisa berjalan melewati jalan raya? Ya.. walau resikonya harus kami tahan.'' tanya Lana sembari memegangi tangan Bapak itu.
Bapak itu menunduk. ''Saya membawa kabur seorang anak Datok terkenal di Malaysia. Wanita malang itu sangat tertekan di dalam rumahnya saat ia sedang hamil besar. Saya terpaksa melakukan semua ini demi menyelamatkan bayi itu. Dan seminggu yang lalu bayi itu telah lahir. Namun keluarga Datok ayah si gadis akan membunuhnya. Saya tidak tau pasti tentang masalah apa. Istri saya yang lebih tau. Saya terpaksa menikahinya saat hamil, karena kasihan melihatnya yang terus dipaksa untuk menggugurkan bayi itu.'' jelas Bapak-bapak itu.
''Astaghfirullahal 'adzim.. baiklah, hari ini juga saya akan mencari keberadaan istri Bapak sampai ketemu. Tapi Bapak tetap disini ya? Apa Bapak punya fotonya? Siapa namanya?''
''Saya punya fotonya, tapi di ponsel saya. Ponsel itu terbawa olehnya saat kami tadi berlari. Tolong Nak.. selamatkan istri saya. Kasihan dia. Baru seminggu ini melahirkan..''
''Ya, tentu. Saya akan berusaha sekuat mungkin. Baiklah kalau begitu, saya akan pergi sekarang!'' tegas Lana.
Membuat komandan Sikram melotot melihat Lana. ''Kamu jangan gila Lana! Ini sudah malam. Bagaiman jika nanti kamu tertembak lagi?'' sindir komandan Sikram pada Ali.
Ali menunduk. ''Saya tidak peduli. Jika anda dan tim anda tidak mau menyelamatkan, itu terserah anda. Tapi saya seorang manusia. Tugas saya adalah untuk menolong orang yang sedang kesusahan. Jika kalian semua tidak mau, tidak masalah. Saya bisa pergi sendiri!'' tegas Lana.
Ia berdiri dan menatap lbut pada Bapak-bapak itu. ''Siapa nama bapak?''
''Nama saya Samsul, Nak. Sedang istri saya namanya Puan Maharani.'' jawab Pak Samsul.
''Oke. Saya pergi dulu. Bapak istirahat saja ya? Ali! Berikan selimut saya padanya. Saya harus sholat dulu sebelum pergi.'' imbuh Lana dengan segera ia berlalu meninggalkan Ali dan komandan Sikram yang tertegun.
''Lah? Bang Lana! Saya ikut Abang!'' pekik Ali. Dengan segera ia berlari meninggalkan Pak Samsul bersama yang lain.
Ali berlari menuju markas kamar mereka. Dengan segera ia memberikan selimut Lana pada Pak Samsul.
''Di jaga ya Pak selimut ini. Selimut ini begitu berarti bagi bang Lana. Dengan dia memberikan selimut ini pada bapak, berarti bapak sekarang menjadi tanggung jawabnya. Bang Lana berbeda dari rekan saya yang lain. Maka dari itu saya lebih memilih satu grup dengan nya dari pada dengan yang lain. Bang Lana istimewa Pak.'' lirih Ali begitu pelan.
Pak Samsul tertegun sesaat. Teringat bagaimana aksi penyelamatan Lana sebelum yang lainnya tau.
Saat itu, ia berlari dengan kencang menuju ke dalam hutan saat para rekan Lana melihat mereka.
Saking kencangnya ia berlari, ia sampai menubruk tubuh Lana.
Brruukk..
''Astaghfirullah!! Ma-maafkan saya, Pak!'' pekik Pak Samsul.
Lana berbalik dan melihatnya. ''Loh? Bukannya anda yang sedang kami kejar? Kenapa anda bisa kesini? Ini sudah keluar dari jalur!''
''Ma-maaf nak. Saya tersesat dan sedang mencari istri saya dan bayinya. Tolong jangan bunuh saya nak. Saya mohon..'' pintanya dengan memelas.
''Bang Lana di belakang mu!'' pekik Ali.
Dor!
__ADS_1
Suara tembakan itu bergema disana. Pak Samsul me oleh Lana yang sedang menghalangi tubuhnya.
Agar tidak terkena tembakan oleh senapan Ali. ''Pergilah sembunyi di semak itu. Bapak berdiri dan jangan duduk.'' pinta Lana dengan suara begitu lirih.
Pak Samsul berlari ke arah semak itu. Dan akhirnya Lana memekik keras untuk menghilangkan jejak pak Samsul.
''Pak? Pak Samsul!'' panggil Ali.
''Hah? I-iya Nak! Saya pasti akan menjaga selimut ini sampai ia kembali. Terimakasih sebelumnya..''
''Saya yang harus berterima kasih kepada bapak, jika bukan karena bang Lana menghalangi Bapak tadi, pastilah saya akan menyesal saat ini jika sampai saya menembak bapak. Saya harus berterima kasih pada Bang Lana.''
''Ya, tentu. Saya pun begitu.''
''Saya pergi dulu ya, Pak. Bang Lana pasti udah di jalan saat ini. Pemuda itu begitu nekat walau selalu dilarang oleh komandan lain.''
Pak Samsul hanya tersenyum saja. Namun ia tetap gelisah memikirkan istrinya yang masih didalam hutan saat ini.
Ali mengikuti Lana yang sudah masuk ke hutan terlebih dahulu. Ia mengikuti cahaya lampu yang dibawa oleh Lana.
Setelah meliakht lam sedang berjongkok di depan sebuah pohon, Ali berlari mendekati nya.
''Bang!''
''Saya ingin menjaga Abang! Saya akan bertanggung jawab atas perlakuan saya tadi pada Abang.'' sahut Ali dengan menatap dalam pada Lana.
Lana menghela nafasnya. ''Pulang lah! Saya bisa sendiri. Jika kamu ikut, nanti yang ada komandan Kevin akan marah pada saya.''
''Nggak akan! Mereka juga sedang menuju kesini. Itu mereka!'' tunjuk Ali pada komandan Kevin yang sedang berjalan mengikuti cahaya lampu senter milik Lana.
Lagi, Lana menghela nafasnya. ''Dasar keras kepala!'' cibir komandan Kevin.
Lana tak peduli. Ia mengambil sebuah bungkusan kain yang jatuh di akar pohon Pinus yang menjulang tinggi ke atas.
Ia membuka bungkusan itu dan melihat isinya. ''Baju bayi? Ponsel?'' gumam Lana.
Dengan segera ia membuka ponsel itu. Beruntungnya tidak di kunci. Terlihat disana, seorang perempuan muda sedang memangku bayi yang baru lahir.
''Puan Maharani.''
Dor!
Dor!
__ADS_1
''Astaghfirullah! Siapa itu yang ditembak? Sedang kita semua disini?'' pekik Ali, membuat mereka semua berlari kearah suara.
Begitu juga dengan Lana. Ia berlari dengan membawa bungkusan itu. Ia semakin jauh masuk kedalam hutan melewati banyak pohon tinggi dan semak belukar.
Lana berbelok dari arah yang dikejar oleh rekannya yang lain. Ali mengikuti Lana dari belakang.
Entah kenapa, firasat Lana mengatakan jika disana di sudut tebing itu ada sesuatu yang menarik perhatian nya.
Samar-samar terdengar suara lirih bayi menangis. Lana semakin mempercepat derap kakinya di dalam semak itu.
Dor!
Dor!
Dor!
Terdengar lagi suara tembakan sahut menyahut dari arah kanan Lana saat ini. Ia tak peduli. Yang jadi fokus nya sekarang adalah suara bayi menangis begitu lirih.
Semakin dekat Lana berlari semakin jelas suara bayi itu. Tiba disana, Lana tertegun melihat seorang wanita muda sebaya Maura sedang merintih menahan sakit.
Lana semakin mendekat. Ia menyorot senternya ke wajah wanita itu. Lana terkejut melihat jika seseorang itu adalah seseorang yang sedang dicarinya.
''Puan Maharani!!'' panggil Lana.
Deg!
''Pergi! jangan ambil bayi saye!''
''Puan..'' lirih Lana. Hatinya begitu sakit melihat seorang ibu sedang melindungi bayinya.
Bayi itu tubuh nya mulai membiru dan suaranya pun terdengar lirih sekali. Lana menangis melihat itu.
''Puan.. saya datang untuk menyelematkan anda atas permintaan Pak Samsul!''
Puan Maharani mendongak. ''Iyeke??''
Lana mengangguk namun air mata itu semakin beruraian di wajahnya. ''Berikan padaku bayi itu, agar bisa ku hangatkan dengan tubuhku! Ali! Gendong puan Maharani!''
''Baik!'' sahut Ali.
Dengan segera Ali menggendong puan Maharani, sementara Lana membuka seluruh bajunya dan membawa bayi itu ke tubuh nya untuk dihangatkan.
Ali dan puan Maharani terbengong melihatnya.
__ADS_1