
Keesokan harinya.
Selama dalam perjalanan menuju ke mesjid hingga pulang ke mesjid ada yang aneh dengan Lana. Ali menatap Abang iparnya itu dengan raut wajah kebingungan.
Ingin bertanya tapi tidak berani. Takut terkena semprot komandan Lana. Lana memang lah ramah orangnya. Tapi jika salah satu anggota sudah melakukan kesalahan, Lana pasti bertindak tegas pada setiap bawahannya.
Teguran untuk mereka pun tidak main-main. Ali menjadi bingung sendiri dengan sikap Lana yang menjadi pendiam. Bahkan saat tadi mereka berdua menuju ke camp, Lana tetap terdiam seribu bahasa.
Sampai saat inipun, Lana masih berdiam diri. Tidak mau membuka suaranya pada Ali. Ali yang dibuat seperti ini oleh Lana, merasa ada yang janggal dengan komandan sekaligus Abang iparnya ini.
Dengan sedikit menahan rasa takut di semprot, Ali berusaha untuk mencairkan suasana. ''Ehem, Abang kenapa?? Ada masalah Sama Kak Maura??'' tanya Ali hati-hati
Jantung nya saat ini berdegup tak beraturan. Ia sesekali menoleh pada Lana yang masih berwajah datar tanpa ekspresi.
Ali menghela nafasnya. ''Abang kenapa? Apakah aku ada salah Sama Abang? Sampai Abang abaikan seperti ini?? Kalau memang aku ada salah, tolong katakan. Biar aku bisa memperbaiki nya..'' lirih Ali dengan wajah sendunya.
Entah kenapa, tiap kali Lana berdiam diri dan tidak mau berbicara padanya ada rasa tidak menyenangkan dihatinya. Ia lebih menyukai Lana yang terlihat sangar dan marah-marah padanya dibanding kan dengan berdiam diri seperti ini.
__ADS_1
Lana menoleh sekilas pada Ali kemudian menghela nafasnya. ''Abang tidak marah sama kamu Ali.. hanya sedang merasa kecewa dengan naseb!'' kesal Lana pada Ali.
Ali menoleh sekilas, saat ini ia sedang menyetir mobil Pajero milik Lana dan baru saja mereka pulang dari camp karena komandan Kevin memanggil mereka semua untuk hadir disana.
''Eh? Naseb?? Naseb kenapa?? ada apa rupanya dengan naseb Abang? Eh?'' tanya Ali dengan lidah sedikit keseleo di bibirnya.
Lana terkekeh, Ali pun tersenyum. ''Hah! Nanti kamu akan tau. Tidak perlu Abang jelaskan padamu. Suatu saat kamu pasti akan tau. Lebih baik bicarakan hal yang lain saja. Hem??''
Ali tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mau tau tentang pribadi Lana lebih dalam. Walaupun ia begitu akrab dengan Lana, tapi untuk hal privasi Ali tidak berani bertanya lebih banyak padanya.
Ali sadar akan batasan antara dirinya dan Lana. Dan Lana pun sangat mengenal Ali. Maka dari itu, ia betah jika berada disamping Ali sebagai rekan nya.
Makanya hanya Maura saja yang menyambut mereka berdua. Maura menyambut uluran tangan Lana dan di kecup nya dengan takzim. Ali terkekeh, Nara pun juga begitu jika Ali sedang keluar.
Mengingat istri kecilnya itu, Ali tersenyum-senyum sendiri saat mengingat tadi malam sang istri begitu polos. Namun tidak sepolos yang ia duga.
Ternyata Nara tau semuanya tentang hukum dan adab berjimak. Ali sampai takjub dibuatnya. Ketika ditanya, siapa yang mengajari?
__ADS_1
Jawabannya, Mami dan Papi. Mereka berdua mengajari Nara sebelum Nara menikah dengan Ali seminggu yang lalu.
Nara menceritakan pada Ali saat Papi dan Maminya berbicara hal tentang Nina ninu itu, yang membuat Mami dan Papi saling timpuk satu sama lain.
Bukannya belajar, Nara malah jadi malu sendiri saat kedua orang tuanya mengajarinya tentang adab berjimak.
Nara menjadi malu pada Ali. Ali meminta Nara untuk mempraktekkan satu saja padanya. Dengan polosnya, Nara memberikan apa yang Ali minta.
Hingga membuat Ali semakin tergila-gila pada istri kecilnya itu. Wajahnya saja polos bin lugu. Tapi otaknya itu begitu pintar saat mencerna semua arahan yang Ali berikan padanya.
Hampir saja mereka kebobolan jika tidak mengingat pesan dari Papi Gilang dan Mak Alisa jika Ali harus bersabar. Jadilah Ali merasa urung uringan sendiri karena tidak bisa menuntaskan hasrat yang sudah on fire itu.
Mengingat tentang itu, Ali terkekeh kecil. Semua itu tidak luput dari perhatian Lana dan Maura. Mereka saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.
Ternyata Lana dan Ali senaseb! Hadeuuhh.. kasihan...
💕💕💕💕
__ADS_1
Done!