
''Bang??''
''Kamu nggak akan kebanjiran lagi kan sayang, seperti waktu itu??'' tanya Lana, ia menatap Maura dengan raut wajah datar.
''Hah??'' Maura terkejut dengan pertanyaan Lana.
Mulutnya menganga, Lana masih menatap nya dengan menuntut jawaban. Sadar, jika Lana takut gagal untuk yang kedua kalinya, Maura tertawa terbahak.
Lana melotot. ''Sayang! Abang beneran nanya loh.. masa' kamu tertawa sih?'' sungut Lana pada Maura.
''Hahaha .. mana mungkin kebanjiran lagi Abang! Kalau palang merahnya udah berhenti, nggak akan kembali lagi atuh.. ayo ih! Buruan! Itu kayu laut kamu sudah on fire! siap tempur! Mau mundur???'' goda Maura pada Lana.
Maura memainkan kedua alis nya dengan wajah menggoda Lana. Lana tertawa. ''Sudah berani nakal ya sama Abang?? hem?? Jangan nantangin Abang sayang! Kamu tanggung sendiri resikonya jika berani nakal sama Abang! Cup!'' Lana kembali memaguut putik merah jambu itu dengan lembut.
Sengaja untuk memancing ha srat yang sudah terbang gara-gara pasal kebanjiran tadi.
Lana semakin kuat memaguut putik ranum yang semakin membengkak itu. Dengan tangan semakin bergerak lincah tak karuan membuat tubuh Maura melengkung seperti busur panah walau masih di cum bui oleh Lana.
Hingga tiba pada tanggul nirwana milik Maura, Lana menempatkan pada posisi yang strategis. Dengan segera ia melesakkan benda lunak tak bertulang itu ke dalam tanggul Maura yang tertutupi dengan hutan lebat.
Berulang kali mencoba, tapi gagal.
Lagi, gagal lagi.
Coba lagi, masih gagal juga.
Lagi dan lagi, masih tetap sama.
Maura meringis menahan sakit. Lana berhenti. ''Maaf.. tidak usah dilanjutkan ya? Daripada kamu sakit?'' ucap Lana begitu khawatir.
Maura menggeleng. ''Coba aja lagi. Abang pasti bisa! Maklumin aja jika tanggulnya susah. Kan masih di segel?? Abang harus berusaha lebih kuat lagi untuk membuka gemboknya agar Abang bisa membobol tanggul milikku dengan sempurna?'' kata Maura, masih mencoba menggoda Lana.
Lana tertawa. ''Oke! Kita coba lagi! Ingat sayang, sekali masuk Abang tidak akan bisa keluar lagi. Sekali Abang merasakan nya, Abang tidak akan berhenti! Cup!''
Kecupan lembut ia labuhkan lagi, hingga dengan Sekali dorong, pusaka itu masuk dengan sempurna. Maura memekik tertahan.
Suaranya hanya menggumam di dalam mulut Lana. Lana berhenti sejenak untuk mendiamkan sesuatu yang sakit itu.
Buliran bening mengalir di sudut mata Maura. Lana mengusap nya. ''Maaf.. maafkan Abang sayang.. maaf..'' bisik Lana di telinga Maura.
Maura mengangguk dan tersenyum. ''Lanjutkan! Aku milikmu!''
Lana tersenyum senang. ''Yes! Akhirnya tanggulnya jebol! uhuuyy!!''
__ADS_1
Maura tertawa. Lana pun ikut tertawa. Akhirnya penantian selama ini berhasil juga. Tidak sia-sia usahanya selama ini.
Mereka berpacu bersama untuk menuju puncak nirwana dalam balutan selimut hangat. Sekali merasakan maka tidak ingin berhenti.
Lana menggempur Maura habis habisan. Terkesan seperti balas dendam. Tapi inilah yang ia rasakan. Sulit untuk berhenti.
Mereka berhenti saat ayam berkokok di tengah malam pertama. Lana dan Maura terkekeh bersama.
''Terimakasih sayang, cup. Ini pengalaman berharga Abang dalam membobol tanggul bersegel!'' kata Lana pada Maura yang ada dalam pelukannya.
Maura terkekeh. ''Hemm.. namanya saja perawan ting ting! Kalau jebol mah.. janda atuh..''
Mereka tertawa bersama.
Setelah pasangan baru yang baru saja menyatu itu terlelap. Setelah tadi mereka selesai dengan tugas perang mereka. Mulai hari ini, mereka akan sering melakukan tugas ini.
Tugas dalam mencetak anggota komandan untuk Lana di masa depan. Dan juga Bu ustadzah untuk masa depan mereka berdua.
*
*
*
Lana mengerjabkan matanya saat matahari menerobos jendela kamar mereka. Ia mengerjab-ngerjab lucu untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar mereka melalui ventilasi jendela.
Maura menggeliat kan tubuhnya, ia semakin erat memeluk tubuh Lana. Lana tersenyum, ia membelai surai hitam Maura yang tergerai dan menutupi wajahnya sebagian.
Lana melirik ke dinding, ''Astaghfirullah! Kami kesiangan! hehehe.. maklum! baru pertama kali begadang mendapatkan pahala! Sayang.. bangun. Subuh kita udah kesiangan, udah jam delapan pagi. Cup,'' Lana melabuhkan kecupan ringan di pipi dan bibir Maura.
Maura mengerjab. Mata itu terbuka sempurna. Maura tersenyum menatap Lana. ''Pagi Abang.. hooaamm..''
Lana terkekeh. ''Pagi juga sayang.. ayo bangun. Kita sudah kesiangan. Subuh kita kelewatan. Udah jam delapan lewat loh..''
''Hah? Astaghfirullah! Subuh kesiangan?! Waduh!!'' ucap Maura begitu panik.
Ia bergegas bangkit dan berjalan. Baru selangkah ia berjalan ia meringis menahan sakit.
''Auuuccchh.. sssstttt...''
Lana segera menyibak selimut dan memakai sarung. Ia mendekati Maura yang terduduk kembali di ranjang. ''Ayo, Abang gendong aja ya? Kita mandi bersama. Bukankah Rasulullah juga pernah mandi bersama istrinya saat setelah mereka melakukan penyatuan?'' kata Lana sembari mengangkat tubuh Maura yang tertutup kain tipis.
Maura mengangguk. ''Benar sekali! Semua itu Sunnah kita lakukan!''
__ADS_1
''Ya, ayo kita mandi. Setelah ini, Abang akan siapkan sarapan pagi kita.''
''Oke,'' sahut Maura. Lana tersenyum.
Mereka berdua mandi bersama. Saling siram dan menyabuni tubuh masing-masing. Begitu juga dengan kepala. Lana memijat lembut kepala Maura saat sudah di bubuhi shampo.
Mereka mandi saling bersenda gurau. Dasar Lana, sangat suka menggoda sang istri. Maura hanya bisa tersipu malu.
Dua puluh menit cukup mandi bersama. Mereka lanjutkan dengan sholat subuh kesiangan dan juga sholat Dhuha.
Setelah nya baru Lana membawa turun Maura dengan di gendong lagi untuk menuju ke dapur.
Lana hanya memanaskan makanan sisa mereka tadi malam yang masih banyak. Sedang nasinya sudah dimasak sejak tadi malam oleh Lana.
Jangan tanya Lana mengapa bisa pintar masak. Lana sedari kecil sudah terbiasa masak makanan. Ia senang sekali membantu Mak Alisa dan juga Kak Ira.
Dan juga saat di camp, mereka terkadang sering kali masak-masak bersama setelah tugas mereka selesai.
Mereka sarapan dalam senda gurau lagi. Lana tidak menyukai jika Maura hanya diam saja. Ia sangat suka membuat Maura kesal sekaligus tertawa.
Itulah keusilan Lana sedari kecil. Saat bertemu Maura kecil dulu saja, ia sudah usil pada Maura. Keusilan Lana itu berlanjut hingga mereka beranjak dewasa.
Rasa sedari kecil memang sudah tumbuh, tinggal di pupuk saja agar bertambah. Ya, mereka sudah saling menyukai sedari kecil. Entah apa istimewanya Maura, Lana pun tak tau.
Yang jelas, ia sangat menyukai Maura kecil dulu.
Selesai sarapan pagi yang kesiangan, mereka kini duduk bersama di ruang tivi. Tak ada yang bersuara, hanya terdengar suara tivi yang mengalun di telinga mereka.
Tapi tidak dengan Lana, tangannya sudah sibuk menyentuh seluruh yang membuatnya ketagihan. Lagi dan lagi Maura tidak bisa menolak.
Padahal baru saja tadi malam, tapi pagi ini mereka melakukan nya lagi diruang tamu rumah mereka.
Rumah yang masih dalam keadaan penuh dengan bunga mawar berserakan dilantai. Disanalah mereka melakukan penyatuan untuk kedua kalinya.
Maklumin saja pengantin baru. Masih hangat-hangat nya. Sedangkan pengantin usang Ira dan Ragata saja tidak mau berhenti jika menyangkut hal yang satu ini.
Kebutuhan mutlak bagi sepasang suami istri.
💕💕💕💕
Hehehe.. othor tak Pandai buat yang hot hot pop! makin gaya makin ngepop! eh?
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1