Muara Cinta Maulana

Muara Cinta Maulana
Ke rumah sakit


__ADS_3

Setelah berurusan dengan para pembunuh bayaran suruhan keluarga Malda, kini mereka semua sedang menuju ke rumah sakit utuk mengobati luka Maura karena tertembak saat menyelamatkan Lana tadi.


Di sepanjang perjalanan Lana mengomel tidak jelas. "Kamu gimana sih Dek? Bisa-bisanya kamu nekad kayak gitu! Kamu kan tau jika Abang melarang mu untuk keluar dari mobil?! Gimana sih?!" omel Lana di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit.


Maura terkekeh, "Adek tak apa Abang... Ini cuma hal kecil saja. Udah ih!" ucap Maura sambil terkekeh kecil.


Papi Gilang pun ikut terkekeh. "Kamu dapat dari mana nak, ilmu totok urat saraf itu?"


Maura tersenyum pada Papi Gilang. "Kakak belajar saat di bandung duli, Pi. Semua itu diajarkan oleh abah Hasan. Beliau mengatakan jika kakak butuh ilmu ini. Suatu saat nanti pasti akan berguna. Gitu katanya. Dan benar saja apa yang beliau katakan dulu. Bahwa seseorang seperti Bang Lana ini akan banyak cobaan nya!" sindir Maura sembari melirik Lana.


Ali terkekeh. "Benar sekali itu Kak! Abah juga pernah mengajari ku tentang ilmu totok ini. Dan benar sekali jika Bang Lana ini banyak sekali musuh diluar sana. Terutama tentang Malda. Putri angkat kalian berdua." Ucap Ali pada Maura.


Semua yang ada dsana tertegun mendengar ucapan Ali. Apalagi Lana. Ia yang paling merasa bersalah dengan hal ini. Karena melalui dirinyalah semua itu terjadi.


Melihat Lana terdiam, Maura memegang tangan kekar Lana yang sedang bertutan dengan jari tangannya.


Lana menoleh pada Maura. "Maafkan Abang sayang.. Karena Abang kamu yang menanggung semua ini.." lirih Lana merasa bersalah.


Maura tersenyum lembut menatap Lana. "Tak apa Bang. Inilah resikonya memiliki suami orang berpangkat!" seloroh Maura sembari nyengir kuda pada Lana.


Saat ini mereka semua menaiki mobil Lana, mobil Papi Gilang di supiri oleh supir keluarga mereka.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit yang tidak jauh dari lokasi mereka.


Tiba disana langsung saja menggendong Maura ala bridal style. Ia masuk kedalam rumah sakit dengen tergesa.


"Tolong istri saya dokter!" pekik Lana sembari berlari dengan menggendong Maura. Seorang perawat berlari mengikuti Lana.


"Baringkan di bangkar tuan!" kata pearwat itu.


Dengan segera Lana membaringkan Maura disana. Perawat itu dengan sigap menolong Maura. Ia membuka lengan baju Maura yang begitu banyak mengeluarkan banyak darah.


"Ini luka tembak Tuan?" tanya perawat itu.


Lana mengangguk, "Ya, itu luka tembak. Cepat keluarkan pelurunya!" ucap Lana semakin panik saat melihat Maura yang sudah terpejam.


Lana semakin panik. "Bagaiamana itu suster?! Kenapa istri saya jadi diam sperti itu?!" seru Lana semakin panik saja.


Perawat itu trekekeh. "Sabar atuh tuan! Istri anda tidak apa-apa. Ia hanya sedang lelah saja saat ini. Istri anda sedang tidur tuan!" ucap suster itu sambil terus terkekeh-kekeh melihat tingkah Lana.


Papi Gilang yang berada diluar pun ikut terkekeh. "Ada-ada saja tingkah Lana! Bukan nya tenang, malah semakin panik saja. Walaupun ia sudah besar, tapi Lana tetaplah kecil di mata kami para orangtua. Papi bangga padanya," imbuh Papi Gilang dengan kekehan kecil keluar dari bibirnya.


Semua yang ada disana terkekeh bersama melihat kelakuan Lana yang begitu lucu. Sudah besar tapi tetap saja seperti anak-anak.

__ADS_1


Seorang dokter masuk dengan tergesa. "Maaf, saya terlambat!" ucanya pada Lana yang berdiri mematung disana melihat luka Maura.


Dengan cepat dokter itu membersihkan luka Maura. Ia terkejut saat tau jika itu luka tembak.


Namun, tidak berani bertanya karena melihat wajah Lana yang begitu khawatir saat ini. Peluru iutu berhsil di keluarkan dari tangan Maura.


Setelahnya, ia bersihkan dengan cairan anti septik. Baru kemudian bekas luka itu dibalut dengan perban yang di sediakan oleh suster itu.


"Sudah selesai! Jangan lupa obatnya di tebus di apotik ya? Saya permisi. Tidak perlu menginap. Sebaiknya dibawa pulang saja, bukankah anda oengantin baru?" goda dokter yang ternyata kenalan Maura itu.


Lana memutar bola mata malas. "Damlah Bryan!" ketus Lana membuat dokter Bryan terkekeh.


"Janagn marah bang. Apa yang aku katakan ini benar adanya bukan? Saya baru saja menghadiri pesta kalian loh.." godanya nlagi.


Semakin membuat Lna merasa jengah dengan sahabat Maura itu. "Keluar sana! Nngapain masih disitu!" ketusnya lagi


Dokter Bryan tergelak keras, hingga suaranya itu sampai terdengar keluar ruangan. Papi Gilang dan kedua anaknya itu saling pandang.


Setelahnya terkekeh bersama. Mereka merasa lucu dengan tingkah Lana ini. Bukan Papi Gilang tidak tau siapa Dokter Bryan itu. Serorang Dokter yang terkenal karena leluconnya.


💕💕💕💕

__ADS_1


Maaf ye, terlambat othor update. 😁✌️


__ADS_2